PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS DUA PULUH


__ADS_3

Qiandra beranjak meninggalkan Daniel, kata


kata Daniel membuatnya benar benar merasa letih.  Yah, Qiandra tidak merasa bahagia seperti wanita lain saat diberikan rayuan seperti itu.  Qiandra justru merasa lelah, karena semua ucapan dan kata kata Daniel selalu saja membujuknya untuk menerima cinta laki laki itu.


“Qi, .....” seru Daniel sambil berusaha


mengejar Qiandra, dan langkah panjangnya berhasil menyusul langkah Qiandra.  Daniel meraih lengan Qiandra dan menahan langkah wanita itu dengan berdiri di hadapan Qiandra.


“Daniel, cukup, aku sudah berusaha menghargai semua sikapmu, aku tidak ingin melukai hatimu lagi.  Tapi mengapa kamu sama sekali tidak mau mengerti diriku, sudah berulang kali aku katakan kalau aku tidak akan bisa mengubah hatiku.  Aku mencintai Dean, suamiku, aku memberimu kesempatan bukan karena aku memberimu peluang untuk


mendapatkan hatiku.  Sudah berulang kali


aku katakan, aku tidak bisa, Daniel, please, tolong jangan terus menyakiti dirimu dengan harapan yang sia sia” seru Qiandra seraya menarik tangannya dari genggaman Daniel.


“Tapi, Qi, aku kan sudah bilang ....” kata kata Daniel terputus saat Qiandra berbalik menatap ke arahnya.


“Cukup, Daniel, cukup, aku lelah, tolong, bisakah kamu membiarkan aku sendiri saja,


jika kamu terus seperti ini, terus ada di sekitar aku, terus memperlakukan aku seperti ini, kamu akan membuat aku benar benar frustasi” seru Qiandra dengan nada sedikit tinggi.


Daniel tersentak mendengar kata kata Qiandra, terlebih saat wanita itu berkata dengan suara sedikit keras.  “Tapi, tapi mengapa, Qi, mengapa kamu frustasi” tanya Daniel dengan sedikit linglung.  Semua wanita pasti akan bahagia bisa mendapatkan semua perlakuan manis dari seorang Daniel Putra Mahardika.  Tapi mengapa Qiandra justru frustasi.


Qiandra menghembuskan nafasnya dengan kasar, “Kamu bilang kamu mengenal aku dengan baik, Daniel, aku kira kamu benar benar mengenal aku.  Tapi sekarang aku sadar ternyata kamu sama sekali tidak mengenal aku, pribadiku yang sebenarnya” sahutnya dengan suara sedikit melunak.


“Apa maksudmu, Qi, tentu saja aku sangat mengenal dirimu” sahut Daniel semakin kebingungan.


“Tidak, kamu tidak mengenal aku, jika kamu benar benar mengenal aku, kamu tidak akan berbuat seperti ini padaku”  sahut Qiandra lagi.


Daniel semakin tidak mengerti dengan perkataan Qiandra, “Maksudmu bagaimana, Qi” tanya Daniel.


“Daniel, jika kamu mengenal aku, maka kamu tahu bahwa semua perlakuan manismu, juga kata kata romantismu itu menyakiti aku, membuat aku benar benar merasa menjadi orang yang sangat bersalah dan berdosa padamu.  Dan itu sangat menyiksaku dengan rasa bersalah” sahut Qiandra.


“Tapi, Qi ….” Daniel tidak sempat menyelesaikan kata katanya saat Qiandra langsung memotong perkataannya.


“Apa kamu tahu bagaimana hatiku, Daniel, apa menurutmu aku orang yang baik hati” tanya Qiandra.


“Tentu saja, Qi, kamu adalah wanita yang teramat baik hati” sahut Daniel dengan ragu dan masih tidak mengerti arah pembicaraan Qiandra.


“Jika begitu, apakah menurutmu aku bisa mengabaikan saja semua perlakuanmu dan kata kata manismu, atau apa aku bisa baik baik saja saat aku tidak bisa membalas semua itu” tanya Qiandra lagi.


“Qi ….” desis Daniel  yang mulai mengerti arah


pembicaraan Qiandra.


“Aku sedih, Daniel, aku merasa sangat bersalah padamu.  Dan semakin kamu memperlakukan aku dengan istimewa dan semua kata kata manismu itu, maka aku akan semakin merasa bersalah padamu.  Dan itu sungguh menyakitkan bagiku.  Aku berhutang budi padamu untuk semua yang telah kamu lakukan di masa lalu, dan aku tidak bisa membalasnya.  Dan sekarang kamu lagi lagi membuat aku merasa tidak berdaya dan sangat bersalah karena tidak bisa membalas semua cinta dan kebaikanmu” ucap Qiandra.


“Tapi Qi, semua yang aku lakukan di masa lalu, aku tulus melakukannya” sahut Daniel.


“Benar, kamu tulus melakukannya, aku sangat tahu itu, tapi semua itu karena kamu punya harapan padaku, karena kamu menginginkan aku.  Dan saat ini, aku tidak bisa membalas semua itu, baik bantuanmu berupa materi dan dukungan lainnya di masa lalu, juga semua cintamu.  Jika materi aku tidak bisa membalasnya karena aku tidak punya, tapi cinta, aku punya, tapi aku tidak bisa memberikannya padamu.  Dan itu sangat menyakitkan bagiku, saat aku tidak bisa memenuhi keinginan orang yang begitu baik padaku” ucap Qiandra dengan sendu.

__ADS_1


Wanita itu memalingkan wajahnya dari Daniel, karena dia hampir tidak mampu menahan air matanya.  Qiandra merasa benar benar lelah dengan rasa bersalah yang terus memenuhi hatinya akibat semua kebaikan Daniel.  “Aku benar benar merasa lelah, Daniel” ucapnya dengan sedikit terisak.


“Qi, aku ….., ah, maafkan aku, Qi, kumohon jangan menangis” ucap Daniel serba salah.  Dia merasa panik saat melihat Qiandra kembali meneteskan air mata.


“Maaf Daniel, aku hanya merasa ini sangat berat untukku, aku menghargaimu, aku menghormatimu dan aku berhutang budi padamu.  Tapi cintamu yang begitu besar dan begitu tulus sungguh membuatku merasa sangat bersalah padamu” ucap Qiandra.


Qiandra lalu perlahan berpaling dan melangkah dengan pelan meninggalkan Daniel yang masih tidak tahu harus berbuat apa.  “Qi, ….” seru Daniel tertahan, namun Qiandra tetap terus melangkah menuju pintu lift yang akan mengantarnya menuju ke kamar yang mereka tempati berdua.


Qiandra tidak bisa masuk ke dalam ke dalam lift itu, karana memang semuanya di password.  Dia hanya berdiri saja di depan pintu lift tanpa berkata kata.  Pengawal Daniel yang menjaga pintu lift juga kebingungan, apa mereka harus membuka pintu lift itu atau tidak.


Namun, hal itu tidak berlangsung lama, karena ternyata Daniel dengan cepat sudah berada di samping Qiandra.  Pengawal Daniel segera membuka pintu lift saat sudah menerima perintah dari Daniel melalui anggukan kepalanya.  Saat pintu lift terbuka, Qiandra langsung melangkah masuk ke dalamnya dan segera diikuti oleh Daniel.


“Qi, ….” desis Daniel saat melihat mata sembab wanita itu.  Bahkan air mata masih mengalir pelan di pipinya.


Qiandra tidak berkata sepatah kata pun, dia malah menatap Daniel dengan sendu.  Qiandra juga membiarkan air mata mengalir di pipinya tanpa berusaha menghapusnya.  Daniel semakin kebingungan dibuat Qiandra, dia ingin menyeka air mata wanita itu, tapi dia juga ragu, takut Qiandra semakin marah padanya.


“Jika ku hapus air matanya, dia bisa semakin marah, tapi jika aku biarkan saja, maka aku seolah tidak perduli padanya” desah Daniel dalam hati dengan perasaan bimbang.  Tampaknya seorang setangguh dan sekelas


Daniel Putra Mahardika juga harus mengalami kebingungan saat menghadapi seorang wanita yang katanya tidak pernah salah.


Saat mereka telah tiba dan pintu lift itu terbuka, Daniel masih tidak tahu harus berbuat apa apa.  Qiandra sendiri hanya berdiam diri saja dan tidak mengeluarkan sepatah katapun.  Dalam hati wanita itu sangat ingin sekali berlari ke dalam kamar lalu membanting pintu di hadapan Daniel dan menguncinya.


Namun apa daya, semua yang ada di rumah itu menggunakan password, termasuk pintu kamar mereka.  Qiandra lagi lagi terpaksa menunggu sesaat hingga Daniel datang menyusul dirinya dan membuka pintu kamar mereka.  “Aku benar benar hanyalah tahanan di dalam villa mewah ini, hah, semoga saja semua ini bisa cepat berakhir” desah Qiandra


dengan kepasrahan.


Qiandra langsung melangkah menuju walk in closet dan mengambil baju tidur.  Setelah itu, dia keluar dan langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Beberapa saat kemudian, Qiandra keluar dari kamar mandi lalu membaringkan dirinya di tempat tidur sambil menarik selimutnya.


padahal Daniel terus menatap dan memperhatikan dirinya.  Qiandra menutup dirinya dengan selimut dan berbaring dengan posisi membelakangi Daniel.


Daniel hanya mendesah berat melihat tingkah wanita itu, “Istirahatlah, Qi, semoga besok hari hati dan pikiranmu bisa lebih tenang.  Maafkan aku untuk semua yang sudah terjadi hari ini” ucap Daniel dengan lembut saat dia berdiri di samping tempat tidur.


Daniel menghembuskan nafas dengan berat saat dia melihat Qiandra sama sekali tidak bergeming.  Akhirnya, laki laki itu melangkah menuju ke arah balkon kamar mewah itu.  Hembusan udara dingin segera menyeruak masuk ke dalam kamar seiring dengan bunyi deburan ombak saat pintu balkon terbuka.


Qiandra mendengar suara ombak yang begitu keras malam itu, yang menunjukkan keadaan laut sedang tidak baik baik saja.  Bahkan udara dingin yang masuk ke dalam kamr itu, membuat Qiandra semakin mengeratkan


selimutnya.  Sesaat Qiandra tertegun saat


menyadari kalau Daniel sedang berada di balkon saat ini.


“Astaga, bagaimana bisa dia keluar dan bertahan di balkon, saat keadaan cuaca seperti ini.  Aku yang berada dalam selimut saja merasa kedinginan, lalu bagaimana dengan dirinya, tidak mungkin dia tidak merasa kedinginan” bisik Qiandra dalam hati dengan perasaan tidak menentu.


Akhirnya, didorong oleh rasa keingin tahuannya yang begitu besar, Qiandra perlahan membalik posisi berbaringnya.  Dan akhirnya Qiandra bisa melihat Daniel yang memang berada di balkon dengan hanya menggunakan baju hem tipis yang bahkan sebagian besar kancingnya terbuka.


Angin laut yang cukup kencang membuat baju Daniel berkibar seolah berusaha meninggalkan tubuh kekar itu dalam kedinginan.  Qiandra berusaha membaca raut wajah laki laki itu, namun dia kesulitan.  Karena gelap malam membuat sebagian besar wajah Daniel tidak terlihat jelas, hanya punggungnya yang disinari cahaya lampu


yang terlihat oleh Qiandra.


Kali ini berbalik Qiandra lah yang merasa serba salah.  Dia merasa kasihan pada Daniel yang harus merasakan dingin yang begitu menggigit itu.  Qiandra ingin menyuruh Daniel untuk segera masuk dan menghangatkan tubuhnya di dalam kamar.  Tapi Qiandra tidak berani melakukannya.

__ADS_1


Qiandra tidak ingin Daniel salah duga terhadap perhatiannya.  Qiandra takut Daniel akan mengganggapnya perduli dan mengkhawatirkan laki laki itu.  Tapi Qiandra juga tidak akan bisa mengabaikan keadaan Daniel saat itu, karena dia sangat tahu kalau


Daniel seperti itu karena dirinya.


“Haish, apa yang harus aku lakukan, aku sedang tidak ingin bicara dengannya.  Tapi aku juga tidak akan bisa tidur karena


mengkhawatirkan dirinya.  Lalu, aku harus


bagaimana” desis Qiandra sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Dan pada akhirnya, kebaikan hati wanita itu, membuatnya kembali harus pasrah pada rasa iba.  Qiandra perlahan menyibakkan selimut tebal yang membungkius tubuhnya, lalu turun dari tempat tidur besar itu.  Qiandra mengambil selimut cadangan lainnya dan membawanya keluar menuju ke arah balkon.


Dengan perlahan Qiandra menutupi punggung Daniel menggunakan selimut tebal itu.  Daniel yang sedang tenggelam dalam lamunannya, tersentak dengan perlakuan lembut Qiandra.  Dia berpaling dan menatap ke arah Qiandra,


“Qi, mengapa kamu bangun dan keluar dengan keadaan udara sedingin ini” serunya


yang malah mengkhawatirkan keadaan Qiandra.


Qiandra tetap menutup mulutnya dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia kembali masuk ke dalam kamar dan langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.  Qiandra dengan cepat menutup tubuhnya dengan selimut tebal, karena rasa dingin yang membuat tubuhnya menggigil.


Sementara Daniel hanya bisa menatap Qiandra dengan tatapan nanar.  Sungguh, perhatian kecil wanita itu benar benar membuat hatinya merasa hangat.  Bahkan jauh lebih hangat daripada selimut tebal yang diberi Qiandra untuknya.


Daniel tersenyum simpul saat menyadari kalau Qiandra masih perduli padanya.  Pikiran Daniel akhirnya bisa lebih tenang, setelah tadi dia merasa cemas dan takut.  Daniel merasa cemas  dan takut kalau kalau Qiandra tidak perduli lagi padanya.


Daniel akhirnya kembali melangkah masuk ke dalam kamar dan langsung menutup pintu balkon.  Kemudian setelah membersihkan diri, Daniel membuka sebuah sofa bed untuk tempatnya beristirahat.  “Terima kasih, Qi, dan selamat malam” serunya masih dengan suara lembut.


Qiandra tidak bergeming. namun Daniel sangat yakin kalau wanita itu masih belum tidur.  Daniel bahkan tersenyum menatap punggung Qiandra yang memang sengaja membelakangi dirinya.  Daniel mengambil selimut yang diberikan oleh Qiandra tadi lalu membungkus tubuhnya dengan selimut itu.


“Kehangatan cinta dan perhatianmu, membuat selimut ini terasa sangat nyaman, Qi.  Walaupun aku tidak bisa tidur bersama denganmu, tapi keberadaanmu dalam kamar ini sudah mampu memberikan rasa tenang untukku” bisik Daniel dalam hati.


Sebenarnya Daniel sangat ingin mengucapkan kata kata itu untuk Qiandra.  Namun, Daniel tidak mau membuat Qiandra


kembali merasa tidak nyaman.  “Cukuplah


perjuanganku untuk hari ini, aku akan mencoba lagi besok untuk mencari cara


meluluhkan kerasnya hatimu, Qiandra” kembali Daniel berdialog dalam hatinya.


Rasa damai dan bahagia serta rasa lelah setelah menjalani semua kejadian hari ini bercampur aduk dalam diri seorang Daniel.  Hingga akhirnya, tidak berapa lama, Daniel sudah jatuh terlelap dalam tidurnya dengan senyum bahagia masih menghias wajah tampannya.  Daniel benar benar tidak mengalami kesulitan untuk tidur saat bersama dengan Qiandra.


Sementara Qiandra, walaupun merasa lelah, dia tetap kesulitan memejamkan matanya.  Pikiran Qiandra dipenuhi dengan berbagai


kemungkinan yang harus dihadapinya besok.  Yah, benda yang diberikan oleh dokter Mita tadi membuat Qiandra merasa sangat gelisah.


Beberapa kali Qiandra membalikkan tubuhnya berusaha mencari posisi yang nyaman agar dia bisa terlelap.  Namun, dia justru semakin


kesulitan menutup matanya.  Bahkan hingga


terdengan dengkuran halus dari Daniel yang sudah tenggelam dalam mimpinya, Qiandra masih belum bisa terpejam.

__ADS_1


“Astaga, bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan jika ketakutanku ini menjadi kenyataan.  Aku benar benar harus lebih berhati hati menghadapi Daniel, jangan sampai dia mengetahuinya” desis Qiandra dalam kegelisahaannya.


__ADS_2