
"Untuk urusan perusahaan secara langsung saya tidak akan mengaitkannya dengan Mahardika, tapi masalah Daniel saya harap kalian juga tidak campur tangan, mulai dari penangkapan sampai dengan proses hukumnya nanti" ucap Dean dengan suara dingin.
Dika menarik nafas berat, "Tuan, pihak perusahaan PT.Mahardika memang sudah memutuskan untuk tidak ikut campur dalam proses hukum Daniel, tapi sebagai keluarga dari Daniel, saya tidak bisa melepaskan begitu saja. Mohon maafkan saya, Tuan Dean, tapi saya rasa Anda juga bisa mengerti posisi saya, di saat satu satunya orang yang bisa diharapkan oleh Daniel saat ini hanya saya" sahut Dika.
Dean menatap Dika dengan tajam, "Bukankah kamu sendiri yang mengatakan bahwa kamu akan melindungi istriku, lalu mengapa sekarang kamu malah berusaha menyelamatkan orang yang sudah mencelakai istriku, bahkan berulang kali" ucapnya dengan suara dingin.
"Hah, Anda benar, Tuan Dean, saya memang ingin melindungi Nyonya Qiandra. Tapi sangat mustahil bagiku juga tidak menolong saudara saya sendiri bukan?. Walaupun saya tahu bahwa apa yang dilakukan Daniel benar benar salah, tapi semua itu dilakukan oleh Daniel karena rasa cintanya yang begitu besar. Saya rasa Anda juga akan mengerti bagaimana memiliki rasa seperti itu, Tuan Dean" ucap Dika dengan sedikit mengulas senyum yang sangat tipis.
Dika tidak akan lupa pada perjuangan seorang Dean untuk mencari tahu keberadaan Qiandra. Persaingan Dean dan Daniel adalah hal yang umum bagi masyarakat luas, namun alasan dari persaingan itu, hanya orang orang terdekat saja yang mengetahuinya. Dan sedikit banyak Dika berharap, Dean akan mengerti bagaimana perasaan Daniel saat ini.
"Apa maksudmu desis Dean, Jangan harap aku akan menerima sikap baji*gan itu, karena sebesar apapun rasa cintanya pada Qiandra, dia harus bisa menerima kalau wanita itu sudah bukan wanita lajang lagi, Qiandra sudah menjadi istriku, dan hal itu harusnya bisa diterima olehnya dengan lapang dada" sarkas Dean lagi.
"Bagaimana jika Anda berada pada posisi Daniel, Tuan Dean, apakah sikap yang akan Anda ambil, apa Anda bisa dengan sukarela melepaskan wanita yang begitu Anda cintai" tanya Dika dengan nada rendah. "Terkadang kita perlu menempatkan diri pada posisi orang lain, agar kita bisa melihat sudut pandang yang berbeda. Karena jika hanya melihat dari sudut pandang kita maka segala sesuatunya hanya akan benar dan salah menurut persepsi kita sendiri. Padahal penilaian kita terhadap suatu masalah belum tentu sama dengan penilaian orang lain" ucap Dika sedikit bijak.
Setelah mengucapkan kata kata itu, laki laki yang baru sehari menjabat sebagai presidir itu berdiri. "Apapun keputusan Anda, Tuan Dean, saya yakin Anda cukup bijak untuk mempertimbangkan segala sesuatunya. Jangan lupa, Daniel pernah kehilangan wanita yang sangat dicintainya yang berpaling pada Anda, dan saat itu, Daniel mengalah. Tapi untuk saat ini, untuk kasus Nyonya Qiandra, kondisinya sudah pasti jauh berbeda, walaupun masih ada alasan yang sama dalam setiap sikap yang dilakukan oleh Daniel" ucap Dika.
"Kalau memang tidak ada lagi yang ingin ditanyakan pada saya, saya pamit dulu, Tuan Dean" lanjut Dika lagi seraya mengulurkan tangannya pada Dean. Dean yang termenung mendengar kata kata laki laki itu, tersentak kaget lalu segera berdiri dan menerima uluran tangan Dika.
"Baik, terima kasih untuk waktu Anda, Tuan Dika, dan terima kasih untuk semua informasi yang sudah Anda berikan" sahut Dean. "Dan untuk perusahaan, saya tidak akan mencampur adukkan masalah pribadi dengan masalah perusahaan, tetapi saya juga tidak bisa mencegah pihak lain jika punya pemikiran yang berbeda dalam menilai masalah yang sedang menimpa mantan presidir PT.Mahardika" lanjutnya lagi dengan nada tegas.
“Bukan masalah besar, Tuan Dean, dan terima kasih atas kebijaksanaan Anda dalam menyikapi masalah ini. Saya sangat menghargai keputusan Anda untuk tidak mencampur aduk masalah pribadi dan masalah perusahaan dan saya doakan semoga Anda segera menemukan titik terang keberadaan Nyonya Qiandra. Satu hal yang perlu Anda ingat, Daniel tidak akan melukai apalagi menyakiti Nyonya Qiandra, dan dia tidak akan mengulangi kesalahan yang telah lalu" ucap Dika.
Dika menundukkan kepalanya sedikit pada Dean sebagai bentuk saling mengharagai yang disambut Dean dengan anggukan kepala juga. Setelah itu laki laki muda itu segera melangkah pergi meninggalkan Dean yang kembali termangu. Beberapa kali Dean menghembuskan nafas berat, kedua jemarinya tertaut di hadapan wajahnya.
"Vian, apa kamu percaya pada semua ucapan laki laki itu" desis Dean setelah asisten Vian mengantar Dika dan pintu sudah tertutup rapat.
"Maafkan saya Tuan, tapi saya rasa tidak ada alasan Tuan Dika untuk berbohong" sahut asisten Vian dengan yakin.
"Kenapa kamu berpikir demikian, Vian" tanya Dean lagi.
“Saya hanya menyimpulkan dari semua yang dikatakan oleh Tuan Dika. Tuan Dika bahkan tetap dengan tegas mengatakan kalau dia tetap akan membela atau membantu mantan bosnya itu, padahal bisa saja dia mengatakan bahwa dia tidak akan membantunya hanya untuk menyenangkan hati Anda. Toh, dia bisa melakukannya dengan diam diam, tapi buktinya dia tetap mengatakan hal yang sebaliknya. Bahwa dia akan tetap membantu Daniel sebagai saudara angkatnya" ucap asisten Vian mencoba memberikan pendapatnya.
"Hmmm, kamu benar Vian, dia jujur untuk hal itu. Tapi aku masih tidak bisa mengerti mengapa dia begitu ingin melindungi Qiqi, padahal tidak ada hubungan apa apa diantara mereka berdua selain sebagai rekan kerja. Lalu mengapa dia begitu ingin melindungi Qiqi, bahkan dia bersedia mengkhianati Daniel hanya untuk melindungi istriku" desis Dean dengan kebingungan yang masih terlihat jelas di wajahnya.
__ADS_1
"Untuk hal itu, saya mohon maaf, Tuan, karena saya sendiri tidak bisa mengerti, entahlah, tapi kalau memang tidak ada perasaan apa apa diantara keduanya, ada kemugkinan hal itu karena ......" asisten Vian ragu untuk meneruskan kata katanya.
"Karena apa, Vian, sampaikan saja" desis Dean lagi.
"Maafkan saya, Tuan, tapi ini hanya pikiran yang belum bisa dibuktikan sama sekali" jawab asisten Vian masih ragu untuk mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.
"Katakan saja" ucap Dean.
"Ada kemungkinan hal itu karena hubungan darah yang bahkan tidak disadari oleh keduanya" ucap asisten Vian dengan suara perlahan.
Dean tersentak mendengar ucapan asisten Vian, "Bagaimana bisa kamu berpikir demikian, Vian, secara kamu tahu keduanya sudah bersama cukup lama, bagaimana bisa mereka tidak tahu kalau mereka mempunyai hubungan darah" seru Dean yang cukup terkejut dengan pemikiran asisten Vian.
"Maafkan saya, Tuan, sekali lagi ini hanya dugaan saja, Nyonya Muda adalah wanita yang dibesarkan di panti asuhan, dan tidak ada yang tahu asal usulnya, sedangkan Tuan Dika hanyalah saudara angkat dari Daniel, dan sampai sekarang tidak ada yang tahu asal usul Tuan Dika. Bahkan dia tidak punya nama belakang sebagai identitas aslinya. Banyak yang menduga kalau dia adalah anak yang tidak diinginkan, karena itu dia tidak menyematkan nama keluarga di belakang namanya. Tapi Tuan Dika juga tidak pernah mau menggunakan nama Mahardika, padahal dari yang saya dengar Tuan Putra Mahardika sudah berulangkali menawarkan hal itu padanya" asisten Vian mencoba memberi penjelasan yang masuk akal untuk Dean.
"Lalu mengapa dia tidak mau menggunakan nama Mahardika" tanya Dean yang cukup penasaran.
"Itulah yang masih menjadi tanda tanya bagi publik saat ini, bahkan saat Tuan Dika resmi menjadi presidir PT.Mahardika, beliau tetap tidak menggunakan nama Mahardika" sahut asisten Vian.
"Mohon maaf, Tuan, selain alasan keduanya sama sama punya asal usul yang tidak jelas, juga karena ini, mohon Tuan memperhatikan wajah Tuan Dika dan Nyonya Muda" ucap asisten Vian seraya menyalakan layar monitor besar yang ada di hadapan Dean.
Asisten Vian mengutak atik keyboard yang ada di tangannya dan tidak lama terlihat wajah Qiandra dan Dika dalam dua bingkai yang berbeda namun di sejajarkan. Saat memperhatikan itu, Dean benar benar terkejut,
"Astaga, jika dibandingkan seperti ini, garis wajah keduanya benar benar mirip. Bahkan senyum keduanya hampir sama" seru Dean saat melihat wajah Qiandra dan Dika yang sama sama tersenyum.
"Benar, Tuan, dan saat melakukan analisa terhadap kemiripan wajah keduanya maka hasilnya mencapai sembilan puluh persen, yang artinya mereka berdua benar benar mirip hanya dalam versi pria dan wanita. Hanya saja hal ini tidak terlalu terlihat karena Tuan Dika yang selalu tampil dengan wajah dingin dan kaku, sementara Nyonya Muda selalu tampil dengan wajah ceria dan penuh senyuman. Jadi, jika hanya sepintas, maka orang tidak akan menyadari hal itu" sahut asisten Vian menjelaskan mengapa selama ini tidak pernah ada yang membandingkan wajah keduanya.
"Jadi, jika mereka punya hubungan kekeluargaan, dan selama ini mereka berdua sama sama bekerja di PT.Mahardika, jangan bilang kamu menduga Qiqi bersekongkol dengan Dika untuk menggulingkan Daniel" seru Dean dengan keras pada asisten Vian, membuat laki laki itu terkejut bukan main.
"Tidak, itu sama sekali tidak ada dalam pemikiran saya, Tuan, setelah apa yang dijalani Nyonya Muda selama bekerja di perusahaan itu, termasuk jebakan yang dirancang oleh Tuan Dika sendiri. Adalah hal yang mustahil jika mereka berdua bekerja sama, kemungkinan terbesar adalah mereka tidak tahu hubungan antara keduanya. Hanya saja, ada pepatah mengatakan kalau darah lebih kental dari air, jadi sekalipun mereka berdua tidak saling mengenal sebagai keluarga, tapi ikatan batin keduanya membuat Tuan Dika bersikap selalu ingin melindungi Nyonya Muda" asisten Vian menjelaskan pemikirannya dengan panjang lebar.
"Masuk akal, kita akan menyelidiki ini lebih lanjut nanti saat Qiandra sudah ditemukan" ucap Dean dengan lebih tenang. "Lalu bagaimana kelanjutan pencarian Qiqi" tanyanya lagi pada asisten Vian.
"Sampai saat ini belum ada perkembangan yang berarti, Tuan, pihak berwajib masih berusaha menekan Tuan Aldo dan Tuan Ronaldo Ballini. Tapi mereka tetap tutup mulut, rupanya mereka benar benar sudah punya perjanjian yang cukup kuat dengan Daniel" sahut asisten Vian.
__ADS_1
"Hmmm, jika begitu, segera selidiki kehidupan keduanya, cari titik kelemahan mereka yang bisa menjadi celah bagi kita untuk menekan mereka. Aku yakin ada sesuatu dibalik perjanjian mereka sehingga mereka begitu teguh dengan pendiriannya bahkan menentang aparat hukum" desis Dean.
"Baik, Tuan" sahut asisten Vian yang segera memberikan perintah kepada anak buahnya.
"Vian, aku ingin ke rumah sakit dulu untuk melihat keadaan Daddy" ucap Dean seraya berdiri dan melangkah menuju pintu ruangan.
"Baik, Tuan" sahut asisten Vian segera mengikuti langkah Dean.
"Kamu tetaplah disini, pantau semuanya, dan pastikan tidak ada informasi yang terlewat" ucap Dean membuat langkah asisten Vian terhenti.
"Tapi, Tuan ....." ucap asisten Vian yang ingin mengajukan protes, karena merasa kalau segala sesuatunya bisa tetap dia pantau sekalipun dia tetap bersama Dean. Namun, kata katanya terputus saat Dean mengangkat tangan dan berbalik seraya menepuk pundaknya dengan tegas.
"Tetaplah disini, dan jika memungkinkan istirahatlah, aku juga tidak ingin kamu sampai sakit, kamu tahu kalian berdua adalah orang yang paling ku harapkan dukungan dan bantuannya saat ini" ucap Dean dengan suara rendah.
"Itu sudah kewajiban kami berdua Albert, Tuan, tidak perlu Tuan ragukan" sahut asisten Vian.
"Hah, Vian, ini perintah, kamu harus ambil waktu untuk istirahat, atau aku harus mengirimkan kamu ke tempat lain agar kamu bisa beristirahat" seru Dean yang memang sedang malas berbicara panjang lebar untuk membujuk asisten sekaligus sahabatnya itu agar mau beristirahat.
"Baik, Tuan, saya akan melaksanakan perintah Anda" sahut asisten Vian yang segera mengerti kalau Dean sedang tidak ingin dibantah olehnya.
"Hmmmm, ....." sahut Dean menanggapi asisten Vian, setidaknya Dean merasa lega karena sahabatnya itu tidak terus membantah ucapannya. Walaupun Dean tahu kalau asisten Vian mengkhawatirkan dirinya, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan kondisi sang asisten yang terlihat sangat acak acakan dan kurang istirahat.
Dean segera berbalik dan melangkah meninggalkan bangunan megah itu. Sementara asisten Vian segera memerintahkan beberapa bodyguard terbaik untuk menjaga sang Tuan Muda. Karena sebenarnya asisten Vian sangat mengkhawatirkan keselamatan Dean yang saat ini berstatus sebagai penguasa keluarga kerajaan Zacharias.
Asisten Vian menyadari kalau Dean sama sekali tidak memperdulikan hal itu. Namun, sebagai orang yang sangat memahami seluk beluk keluarga Zacharias, asisten Vian sangat tahu kalau ada banyak orang yang ingin mencelakai Dean saat ini. Apalagi kondisi Daddy Walt yang masih buruk, sehingga secara otomatis menjadikan Dean sebagai pemegang tampuk kekuasaan Keluarga Zacharias.
"Hah, semoga semuanya baik baik saja" desah asisten Vian menatap kepergian Dean yang sudah menghilang dibalik pintu. Lalu asisten Vian segera melangkah kembali menuju ruang kendali informasi, disana dia melihat Rio yang masih sibuk mengutak atik keyboard di hadapannya.
"Apa ada info terbaru" tanya asisten Vian pada Rio.
"Belum, Tuan, saat ini tim kita masih berusaha meretas data base milik Aldo dan Ronaldo Ballini. Namun ternyata keduanya punya sistem keamanan yang cukup kuat sehinga kita masih berusaha meretasnya sampai saat ini" sahut Rio.
Yah, lanjutkan saja, aku akan beristirahat sejenak, jangan ragu membangunkan aku jika ada berita terbaru" ucap asisten Vian yang dijawab Rio dengan anggukan kepala.
__ADS_1