PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS TUJUH PULUH SATU


__ADS_3

Selepas kepergian Dean dan  asisten Vian, benar benar Zanetta dan Delicia baru bisa bernafas lega.  “Huh, bertemu dengan suamimu itu, Kak, benar benar membuatku tekanan batin” sungut Delicia.  Delicia memang hampir tidak berani bergerak dan berbicara selama Dean ada di tengah tengah mereka.  Walaupun Qiandra telah berusaha mencairkan suasana tetap saja mereka merasa segan dengan keberadaan Dean.


“Memangnya kenapa sich kalian tegang banget, apa Dean memelototin kalian di belakangku” tanya Qiandra yang merasa heran dengan sikap saudara saudara angkatnya itu.


“Nggak usah dia melototin kita, keberadaannya aja sudah membuat kita merinding, auranya itu lho, …. astaga benar benar membuat aku panas dingin” sahut Delicia lagi, membuat kening Qiandra berkerut.


“Iya, aku juga nggak ngerti gimana Kak Qiqi bisa bertahan dengannya, memang dulu gimana sich saat bertemu dengan Dean, nggak merasa apa aura yang begitu dingin dan tegas darinya” tanya Zanetta yang malah penasaran dengan pertemuan pertama Qiandra dan Dean.


Qiandra tertawa mendengar pertanyaan Zanetta, “Ha ha ha, mana bisa aku merasakan auranya, lha saat pertama aku mengenalnya aku dalam keadaan pingsan diatas pusara Kak Charles.  Jadi, mana aku tahu aura dingin dan lain lainnya, yang ada dia selalu ada di saat tersulitku waktu itu” ucap Qiandra saat mengenang pertemuan pertamanya dengan Dean.


“Tapi beneran kakak nggak pernah merasa aura dingin dan apa ya, yang bikin kita merasa segan dan bahkan hampir tidak mampu bergerak gitu saat bersamanya” tanya Delicia lagi.


“Nggak tuh, bahkan kayanya malah dia yang takut kalo kakakmu ini sampai mengeluarkan tanduk” ucap Qiandra disertai senyuman saat kembali mengenang sang suami yang begitu khawatir kalau membuatnya marah.


“Ya iyalah dia bersikap seperti itu pada kakak, secara Kak Dean terlihat sangat mencintai kakak, bahkan seperti sangat memuja kakak” sahut Zanetta.  “Ah, entah bagaimana aku bisa mendapatkan suami seperti kak Qiqi” ucapnya lagi lebih pada sebuah keluhan.


“Ish, jangan menghayal bakal punya suami, lha pacar aja kak Zanet nggak punya” desis Delicia.


“Mengkhayal kan nggak masalah, bukan dosa juga kok, daripada kamu pacar nggak punya, sekalinya berharap, eh malah mengharapkan suami saudara sendiri” sahut Zanetta tak kalah sengit.


“Kak Zanettttt …..” seru Delicia yang mengerti siapa yang dimaksud kakaknya itu.


“Hush, kalian berdua ini kok malah ribut sendiri” Bu Sum segera melerai kedua anak gadisnya yang sepertinya akan mulai melakukan perdebatan lagi.  Sementara Qiandra hanya tersenyum melihat perdebatan keduanya, hati wanita hamil ini terasa menghangat saat merasakan kembali kebahagiaan keluarganya.


“Tapi, Kak Qiqi, punya resep atau ajian apa ya kok bisa dapatin yang segitu mantapnya” tanya Delicia tiba tiba kembali pada Qiandra.


“Haish, kamu kira kak Qiqi pakai pelet buat ngedapatin Kak Dean, dasar ngawur” seru Zanetta pada adiknya itu.


“Halah paling Kak Zanet juga bakalan nguping kalau kak Qiqi ngasih tahu aku caranya, kan Kak Zanet juga sedang ancang ancang buat menarik perhatian si asisten ganteng itu” sahut Delicia yang telak membuat wajah Zanetta merona.


“Hush, jangan asal ngomong kamu, kalau di dengar orangnya, habislah kakak” seru Zanetta sambil melihat ke sekelilingnya.


“Heleh, giliran si asisten aja wajah Kak Zanet seketika bersemu dan merona” kekeh Delicia yang benar benar bahagia berhasil membalas sang kakak.


“Astaga, Zanet, Deli, apa kalian tidak bisa berhenti berdebat sich” tegur Bu Sum yang melihat kedua anak gadisnya itu masih terus saling menggoda dan berdebat.


“Zanet, Deli apa kalian tidak ke resto sekarang, biar papah antar kalian sekalian papah juga mau ke resto” ucap Chris yang sejak tadi hanya berdiam diri.


“Oh, No, no, nggak boleh Paman, aku nggak ngijinin mereka pergi, pokoknya mereka harus menemani aku disini, setidaknya malam ini, ku mohon menginaplah disini Paman” ucap Qiandra dengan wajah memohon pada sang paman.


Chris terkejut mendengar permohonan Qiandra, karena mereka sama sekali tidak ada rencana untuk menginap.  “Tapi, Qi, ….” Chris ingin mengajukan protes.


“Qiqi mohon Paman, aku benar benar masih merindukan Zanet dan Delicia, setelah ini aku tidak tahu kapan lagi mereka bisa meluangkan waktu untuk menjenguk aku, anggap aja ini keinginan babyku” ucap Qiandra dengan wajah memohon pada Chris.

__ADS_1


“Astaga, gimana ini Mah” tanya Chris pada Bu Sum.


“Ya terserah papah sama Zanet dan Deli saja” sahut Bu Sum yang memang tidak ingin memaksakan keinginan Qiandra pada suami dan anak anaknya.  Bu Sum tahu kalau mereka semua pasti punya kesibukan masing masing.


Tapi kedua orang tua itu tidak berdaya saat kedua putrinya, Zanet dan Delicia justru ikut ikutan mengatupkan tangan di depan dada.  Seolah mereka juga ikut meminta iji pada kedua orang tuanya.  “Haish, baiklah, baiklah, kita akan menginap malam ini, tapi cuman malam ini saja, ini demi cucu papah” putus Chris akhirnya, membuat Zanetta dan Delicia bersorak kegirangan.


“Tapi, apa kamu sudah minta ijin pada Nak Dean, Nak, rasanya tidak etis jika kamu tidak minta ijin dulu pada suamimu, walaupun kami keluargamu” ucap Bu Sum pada Qiandra.


“Baik Bu, aku akan mengirim pesan untuknya, aku nggak mau menghubungi dia, takutnya dia lagi rapat” sahut Qiandra yang segera mengambil phonselnya dan mengirim pesan untuk Dean.  Namun, baru saja pesan itu terkirim, Dean langsung menghubungi Qiandra bahkan melakukan video call.


“Hei, Love, kok dihubungin langsung, bukannya kamu lagi rapat” tanya Qiandra yang merasa heran karena sang suami langsung menghubunginya.


“Memang” sahut Dean seraya mengarahkan kamera phonselnya kepada dewan direksi yang hanya bisa menunduk menanti tingkah absurd presidir mereka itu.


“Ya, ampun Love, ya sudah aku matikan aja ya, nanti kalau kamu sudah selesai baru kamu hubungin aku lagi” ucap Qiandra yang merasa malu sekaligus merasa bersalah karena mengganggu aktifitas sang suami.


“Eits, jangan di tutup, Honey, kalau menunggu waktu aku tidak ada rapat, maka jawabannya tidak ada waktu yang seperti itu.  Tapi, sudahlah, jangan dipikirkan lagi.  Oh ya masalah keluargamu yang kamu ajak menginap di rumah aku setuju sekali, bahkan aku sangat berharap mereka bisa menetap lebih lama di mansion” sahut Dean dengan santainya.


“Oh iya iya, baiklah, terima kasih Love” sahut Qiandra yang benar benar tidak ingin memperpanjang pembicaraan dengan Dean.


“Hei, Honey, kamu lupa ya konsekuensi dari ucapan terima kasih, apakah kamu sudah sangat menginginkannya” tanya Dean dengan mengedipkan matanya.


“Oh, astaga, Loveee, …..” seru Qiandra seraya buru buru memutuskan panggilan video itu.  Qiandra sungguh tidak habis pikir, bagaimana bisa sang suami menggoda dirinya saat Dean sedang memimpin rapat di perusahaannya.


Zanetta dan Delicia yang melihat wajah Qiandra merah bagai kepiting rebus, segera mendekati kakaknya.  “Memang apa konsekuensi kalau mengucapkan terima kasih, Kak Qiqi, apa dapat harta, rumah, mobil atau perhiasan” tanya Delicia penasaran.


“Maksudnya yang lebih ehm, gimana” tanya Delicia yang benar benar tidak mengerti maksud perkataan Zanetta.


“Ish, dasar anak kecil, yang kaya gitu aja nggak ngerti” sungut Zanetta.


“Ya ampun, kalian berdua ini, bisa nggak sich berhenti berdebat, kalau kalian begini terus bukannya membuat kakakmu sehat, malah membuatnya tambah pusing” seru Bu Sum yang lagi lagi menghentikan perdebatan kedua gadis cantik itu.


Zanetta dan Delicia segera menutup mulutnya saat mendengar Bu Sum benar benar kesal pada keduanya.  “Coba sekarang kalian bawa kakakmu ke kamarnya, sudah waktunya untuk Qiqi beristirahat, dia sudah terlalu banyak duduk sejak menunggu kita tadi.  Dan ingat jangan berdebat lagi, kasihan kakakmu” seru Bu Sum kepada kedua putrinya.


“Tapi, Bu, aku masih belum puas bercerita denga Zanetta dan Delicia” Qiandra ingin menolak keinginan Bu Sum, dia masih merasa belum puas bercengkrama dengan kedua saudaranya itu.


“Kamu harus istirahat dulu, Nak, nanti setelah makan siang kalian masih bisa kembali menghabiskan waktu bersama.  Jangan sampai kamu jatuh sakit hanya karena kehadiran kami, karena kalau sampai itu terjadi, ibu tidak akan membiarkan kedua gadis ini menjengukmu lagi” ucap Bu Sum dengan sedikit ancaman.


Qiandra akhirnya terpaksa mengalah, bukan karena ancaman Bu Sum, tapi sebenarnya dia juga merasa kalau tubuhnya memang sangat ingin berbaring saat ini.  Hanya saja dia terus memaksakan diri karena masih merindukan kedua saudaranya itu.


Zanetta dan Delicia segera meraih kursi roda Qiandra dan mendorongnya menuju lift yang tersedia di dekat ruangan itu.  “Di lantai berapa kamar Kak Qiqi” tanya Delicia saat mereka sudah berada di dalam lift.


“Di lantai dua” sahut Qiandra, “Terima kasih ya karena kalian mau menginap disini, aku bahagia sekali” lanjut Qiandra.

__ADS_1


“Justru kami yang berterima kasih pada Kakak karena sudah mengijinkan kami merasakan mansion mewah ini, kapan lagi bisa masuk istana megah seperti ini” sahut Delicia.


“Ha ha ha kamu bisa aja, Deli, tapi ngomong ngomong silahkan saja kalau kalian ingin berkeliling mansion ini juga menikmati semua fasilitas yang ada.  Aku akan meminta kepala pelayan untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk kalian” ucap Qiandra.


“Ah, nggak usah repot Kak, kami bisa minta tolong mamah aja nanti kalau memang ada yang kami perlukan” ucap Zanetta yang merasa tidak enak merepotkan Qiandra.


“Repot apanya, aku cuma ngasih tahu kepala pelayan saja kok” sahut Qiandra, “Ini kamarku” ucapnya lagi saat mereka tiba di sebuah kamar dengan pintu yang sangat besar.  Saat mereka masuk ke dalam kamar itu, Zanetta dan Delicia dibuat ternganga melihat fasilitas kamar yang bahkan melebih kemewahan kamar president suite di hotel bintang lima.


“Astaga, ini mewah banget, Kak” seru Delicia.  Qiandra hanya tersenyum melihat tingkah kedua adiknya itu, karena dia pun pada awalnya seperti itu saat baru melihat kamar mereka ini.


“Hais, kalau berlama lama disini aku jadi merasa berat keluar dari kamar ini” kekeh Zanetta.


“Kalau begitu kalian temani aku saja disini” sahut Qiandra yang tentu saja merasa senang kalau kedua gadis itu mau terus menemani dirinya.


“Iya, tapi tidak akan lama, kami akan diomelin mamah karena membuat kakak tidak bisa beristirahat” sahut Delicia yang disambut tawa ketiganya.


“Ya sudah, sebaiknya sekarang kakak segera beristirahat, kami berdua akan menemani Kakak sebentar” sahut Zanetta.


“Baiklah, tapi aku akan menghubungi kepala pelayan dulu” ucap Qiandra seraya menekan interkom di dekat tempat tidurnya dan memberikan perintah kepada kepala pelayan untuk melayani keluarganya itu.  “Beres, saat kalian keluar nanti, mereka pasti sudah menunggu kalian berdua di depan pintu” ucapnya pada Zanetta dan Delicia.


“Ya ampun, Kak, jangan gitu donk, kami kan tidak biasa dilayani, justru kami ini terbiasa melayani pembeli di resto” seru Zanetta.


“Ya sudah, terserah kalian saja, tapi dengan keberadaan mereka, kalian bisa meminta mereka untuk menemani kalian melihat lihat mansion ini” ucap Qiandra tidak ingin berdebat dengan keduanya.   Saat membaringkan tubuhnya di tempat tidur empuk yang berukuran big size itu, Qiandra baru merasa kalau dirinya benar benar lelah.


Zanetta yang melihat mata Qiandra sangat berat memberikan kode pada Delicia untuk tenang, agar Qiandra bisa segera beristirahat.  Tidak lama berselang, mereka melihat nafas Qiandra sudah teratur dan matanya terpejam rapat.  Lalu Zanetta kembali memberikan kode pada Delicia untuk meninggalkan ruangan itu dengan perlahan agar tidak mengganggu istirahat Qiandra.


Sesampainya di luar kamar Qiandra, Zanetta dan Delicia terkejut mendapati dua orang pelayan wanita yang sudah menunggu mereka.  “Eh, kalian sudah lama disini” tanya Delicia.


“Baru saja, Nona” sahut salah satu pelayan itu.


“Haish jangan memanggilku seperti itu, panggil namaku saja” ucap Delicia yang merasa tidak nyaman dipanggil dengan resmi seperti itu.


“Maafkan kami, Nona, sudah menjadi aturan disini” sahut pelayan itu lagi, membuat Zanetta segera memberika kode lagi pada Delicia agar tidak menyulitkan kedua pelayan itu.


“Baiklah, kalau begitu sekarang apa yang akan kita lakukan” tanya Zanetta kepada pelayan itu.


“Sementara Nyonya Muda beristirahat, Nona berdua bisa berjalan jalan atau menikmati fasilitas di mansion ini” kembali pelayan tadi menjawab Zanetta.


“Memangnya di mansion ini ada apa saja fasilitasnya” tanya Delicia yang penasaran karena sejak tadi Qiandra juga menawarkan mereka untuk menikmati fasilitas di mansion itu.


“Di sini ada kolam renang, fasilitas fitnes, beauty and spa, karaoke, bioskop mini, mini bar ang lounge, ….” belum selesai pelayan itu menyebutkan semua fasilitas mansion itu sudah dipotong oleh Zanetta.


“Aaaa, cukup, cukup, sekarang aku hanya ingin ke kamar saja, apa ada kamar untuk kami beristirahat” tanya Zanetta membuat kedua pelayan itu melongo sesaat.  Mereka menduga kalau kedua gadis cantik itu pasti ingin mencoba berbagai fasilitas mewah di mansion itu, tidak menyangka kalau Zanetta justru hanya menanyakan kamar untuknya beristirahat.

__ADS_1


“Iya, kamar untuk kami beristirahat, jangan bilang kalian tidak punya kamar tamu yang kosong karena sudah menjadi tempat berbagai fasilitas tadi” ucap Delicia menyetujui keinginan kakaknya.


“Tentu saja ada, Nona, mari kami antar Anda berdua ke kamar Anda” sahut pelayan itu seraya menunjukkan jalan untuk Delicia dan Zanetta.


__ADS_2