
Setelah membicarakan semua rencana pada Qiandra, Dean merasa sedikit lega karena
ternyata wanita hamil itu setuju dengan keinginannya. Walaupun Dika menyampaikan keberatan dan kekhawatirannya, Qiandra tetap memilih mengikuti keinginan sang suami.
Dalam perjalanan kembali ke mansion milik Dean, Dean dan Qiandra sengaja hanya memakai taksi saja setelah diantar oleh Dika ke jalan raya yang cukup ramai. Dean menjaga Qiandra seperti menjaga harta
yang sangat berharga, tangannya selalu berada di pinggang wanita cantik itu. Bahkan di dalam taksi, Dean tanpa ragu menarik Qiandra agar masuk dalam pelukannya.
Setibanya di mansion, asisten Vian dan dokter Albert terlihat tergesa menyongsong kedatangan Dean dan Qiandra. Mereka berdua cukup terkejut melihat Dean kembali ke mansion dengan membawa sang istri. Mereka sendiri cukup panik saat menyadari
Dean tidak ada di mansion saat pagi tadi, mereka sudah berusaha mencari kemana
mana tapi tidak menemukan keberadaan Dean. Namun, tiba tiba sore ini laki laki yang sempat membuat mereka panik itu, tiba tiba datang dengan membawa wanita yang sudah berhari hari mereka cari.
“Qi, kalian berdua berhutang penjelasan kepada kami” desis dokter Albert yang dibalas Qiandra dengan senyum manis
diwajahnya.
“Tentu, Kak Al, aku siap bercerita jika diijinkan” sahut Qiandra seraya melirik sang suami dengan manja.
Dean hanya mendengus lalu menuntun sang istri menuju ke kamar utama di mansion itu, “Aku tidak ingin diganggu” ucapnya seraya meninggalkan kedua sahabatnya yang hanya
bisa mendelik kesal. Bagaimana bisa
kepanikan dan kelelahan mereka seharian ini hanya mendapatkan jawaban seperti itu.
Namun, asisten Vian dan dokter Albert tidak bisa melayangkan protes saat sang presidir tampan itu sudah masuk ke dalam lift. “Haish, tahu begini lebih baik aku berada di rumah sakit bersama para dokter muda
__ADS_1
disana” ucap dokter Alber dengan sangat kesal.
Sementara asisten Vian jauh lebih tenang, dia sudah sangat biasa menghadapi sikap sang pressidir yang seperti itu. Asisten Vian justru
merasa bersyukur dan bisa bernafas lega karena Qiandra sudah kembali yang artinya dia bisa kembali fokus pada masalah perusahaan. Namun, baru saja dia merasa lega, tiba tiba phonselnya bergetar dan segera diangkatnya setelah melihat siapa yang memanggilnya.
“Tuan Vian, apa benar Tuan Dean mencabut semua tuntutan kepada Tuan Daniel” tanya suara di seberang sana. Asisten Vian terkejut
mendengar hal tersebut.
“Darimana kamu mendapatkan informasi itu” tanya asisten Vian.
“Tuan Dean sendiri yang baru saja menghubungi saya, saya sekarang sedang berhadapan dengan pengacara Tuan Daniel, saya hanya ingin memastikan sebelum lebih jauh bertindak” sahut suara itu yang ternyata adalah pengacara Dean.
“What the ......” seru dokter Albert yang juga mendengarkan percakapan itu, dia sungguh tidak percaya kalau Dean bisa melepaskan Daniel dengan begitu mudah.
“Maafkan saya, Tuan Vian, tapi Tuan Dean memerintahkan agar semuanya bisa selesai hari ini juga, dan sepertinya pengacara Tuan Daniel juga sudah mengetahui hal ini” sahut
pengacara tersebut.
Asisten Vian kembali terkejut mendengar informasi itu, dia menatap ke arah dokter Albert yang sudah menggumam dengan kesal. “Baiklah, kalau begitu lakukan sesuai perintah Tuan Dean” sahut asisten Vian pada akhirnya sebelum menutup panggilan telepon itu.
“Apa yang ada dalam otaknya, apa dia sudah tidak waras, atau apa dia berada di bawah ancaman, oh astaga kenapa juga kamu menyetujuinya, Vian, bukan tidak mungkin kalau saat itu Dean berada dalam ancaman sehingga dia harus menyetujui hal tersebut demi kebebasan Qiqi” seru dokter Albert dengan kesal.
Asisten Vian mendesah sesaat, “Jika memang dia berada di bawah ancaman, maka itu berarti dia sudah menjanjikan hal itu, tidak mungkin kita membatalkannya. Jika dia tidak berada di bawah ancaman maka itu berarti Dean punya alasan yang sangat kuat sehingga dia menyetujui bahkan memerintahkan hal tersebut dilakukan dengan cepat. Yang pasti, aku yakin dia melakukan itu dalam keadaan sadar karena tadi dia datang pun dalam keadaan baik baik saja” ucapnya.
“Tapi, ......, haish percuma saja bicara denganmu” keluh dokter Albert dengan kesal lalu segera berlalu keluar dari mansion itu.
__ADS_1
Asisten Vian hanya menatap kepergian dokter Albert tanpa berusaha menahan sahabatnya
itu. Setelah itu, asisten Vian memanggil
kepala pelayan dan memerintahkan untuk bersiap jika ada panggilan atau permintaan dari kamar utama. Dia juga mengatakan agar tidak mengganggu Dean dengan alasan apapun, setelah itu asisten Vian juga meninggalkan mansion mewah dan pergi ke kantor utama PT.Zacharias untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan yang sudah menumpuk selama ditinggalkan
olehnya dan Dean.
Sementara itu di dalam kamar, Dean dan Qiandra masih terlibat perdebatan kecil karena Dean yang tidak ingin bercerita kepada kedua sahabatnya itu. “Love, aku bukan sahabat mereka dan aku tidak
mengenal mereka terlalu jauh, tapi hati aku mengatakan kalau tidak mungkin Kak Vian dan Kak Albert menjadi bagian dari orang orang yang telah menghancurkan keluargaku. Bukankah kamu sangat tahu latar belakang mereka berdua, lalu apa ada kaitan antara keluarga mereka dengan keluarga kerajaan di masa lalu” tanya Qiandra.
“Aku sendiri juga tidak meragukan mereka, Honey, tapi Dika meminta aku untuk tetap waspada, kita benar benar tidak tahu apa apa tentang kejadian masa lalu ini, karena semuanya memang ditutup dengan sangat rapat. Bisa dikatakan ini adalah dosa kerajaan karena menyebabkan pemusnahan itu terjadi walaupun tidak secara langsung” desah Dean berusaha memberi pemahaman pada sang istri.
“Lalu, sampai kapan kita akan menyimpan semua ini dari mereka berdua, aku rasa mereka akan sangat kecewa jika tahu kamu tidak mempercayai mereka” lagi Qiandra berusaha mempengaruhi sang suami.
“Setidaknya sampai ada berita dari Dika, masalah Vian dan Albert, yah kamu benar Honey, mereka pasti kecewa, tapi aku akan berusaha memberi mereka pengertian jika
sudah tiba waktunya nanti” sahut Dean. “Sudahlah, sebaiknya sekarang kamu mandi dulu, atau kamu mau aku mandikan” tanya Dean menggoda sang istri serta mengakhiri pembahasan tentang kedua sahabatnya itu.
“Jangan macam macam, Love, sekarang saja rasanya tubuhku masih remuk akibat perbuatanmu semalam” desis Qiandra dengan tatapan horor pada sang suami.
“Hei, hei, aku hanya menawarkan untuk membantumu mandi, kenapa kamu malah berpikir yang lain lain, atau jangan bilang kalau sebenarnya kamu juga menginginkannya lagi, Honey, tentu saja aku siap melakukannya dengan senang hati” sahut Dean dengan wajah menggoda yang berakhir dengan lemparan bantal oleh sang istri.
“Dalam mimpimu, Tuan Dean, awas ya kalau kamu coba coba minta jatah lagi, kamu bakalan puasa sampai bayi kita lahir” ancam Qiandra yang seketika membuat Dean tegang dan segera berdiri dan menghampiri sang istri.
“Honey, jangan begitu donk, ancamanmu mengerikan sekali, iya, iya aku tidak akan minta jatah lagi hari ini, tapi besok bolehkan” ucapnya seraya memeluk sang istri. Saat Qiandra akan membalas ucapannya, Dean
__ADS_1
sudah menyambar bibir sang istri dengan penuh kelembutan. Ciuman hangat yang penuh dengan kasih itu membuat Qiandra kembali luluh dalam pelukan sang presidir tampan.