
Beberapa jam waktu yang berlalu tanpa kedua orang itu sadari. Tidak berapa lama Jossie bersama dengan dokter Jimmy juga Bik Sum datang ke ruangan itu. Dan sepertinya mereka memang sudah di pesankan oleh para penjaga di luar agar tidak bertanya dan membuat keributan. Sehingga ketiganya hanya datang dan langsung duduk di kursi tunggu dekat asisten Vian. Namun, mereka semua segera berdiri saat melihat dokter Albert keluar dengan wajah yang lesu.
Dean yang memang menunggu di depan pintu ruang gawat darurat segera berdiri dan menghadap dokter Albert. “Katakan, Al” desis laki laki itu dengan wajah pias. Kekahwatiran menyelinap di dalam hatinya saat melihat wajah sahabatnya yang terlihat begitu tidak bersemangat.
Dokter Albert mendesah sesaat sebelum menjawab keinginan Dean, “Keadaannya sangat lemah, namun sejauh ini Qiqi masih aman, kita akan terus memantau kondisi baby. Semoga saja ada mujizat sehingga baby bisa diselamatkan. Karena kondisinya saat ini sangat rentan, tekanan yang diterima Qiqi ditambah kondisi fisiknya yang lemah sangat mempengaruhi keadaan kandungannya. Aku rasa kamu sangat memahami keadaan ini” sahut dokter Albert.
Jawaban dokter Albert membuat tubuh Dean tiba tiba terhuyung ke belakang. Untungnya asisten Vian yang memang sudah bersiaga di belakang laki laki itu, segera menahan tubuh Dean. Dean segera tersadar dan berusaha menguatkan dirinya, “Apa aku bisa menemuinya” desisnya lagi.
“Qiqi akan segera dibawa ke ruang ICU khusus ibu hamil. Aku sudah memerintahkan mereka menyiapkan ruangan khusus dengan semua kelengkapan di sana, ruangannya akan di tempatkan berdampingan dengan ruang daddy Walt. Kita akan terus melakukan observasi terhadap baby, teruslah berdoa, Bro” ucap dokter Albert yang segera melangkah meninggalkan Dean yang masih termangu.
Jossie dan Bik Sum yang mendengar semua penjelasan dari dokter Albert hanya bisa menangis tersedu. “Bu, …..” desis Jossie seraya memeluk wanita tua itu dengan hati pilu. Sementara dokter Jimmy yang sangat memahami penjelasan dokter Albert tadi hanya bisa menepuk punggung Jossie dengan lembut untuk menenangkan wanita itu.
Bik Sum sendiri tidak tahu harus berkata apa, hanya air mata yang terus mengalir di pipi keriputnya. “Semoga saja bayi itu bisa di selamatkan, jangan sampai Qiqi kehilangan lagi. Aku tidak yakin dia akan mampu bertahan jika harus kehilangan lagi. Tuan Charles, tolong Qiqi, jangan biarkan sumber kebahagiaannya terenggut lagi, kecuali jika Tuan menginginkan Qiqi benar benar kehilangan jiwanya” bisik hati Bik Sum.
Tidak berselang lama pintu ruang gawat darurat itu terbuka diikuti dengan keluarnya brankar yang didorong oleh beberapa orang perawat. Dean segera menghampiri brankar itu dan meraih jemaari wanita yang begitu dikasihinya yang saat ini terbaring tak berdaya. Bik Sum, Jossie, Dokter Jimmy dan asisten Vian segera menyusul di belakang rombongan perawat.
Saat Qiqndra masuk dalam ruang ICU, para perawat mencegah rombongan Bik Sum untuk ikut masuk ke dalam. “Mohon maafkan kami, tapi demi ketenangan pasien, kami hanya bisa mengijinkan satu orang untuk ikut masuk ke dalam” ucap perawat itu dengan hati hati.
Perawat itu merasa harus berhati hati berbicara, karena dia tahu orang orang yang ada di hadapannya ini adalah keluarga Dean. Jadi, perawat itu tidak ingin ada masalah yang muncul jika dia salah dalam berbicara. Apalagi disana juga ada asisten Vian, membuat sang perawat itu sedikit gentar mengingat peristiwa tadi yang menimpa rekan kerjanya.
Bik Sum hanya mengangguk dan tersenyum lembut pada perawat itu, “Kami mengerti, Nak, dan terima kasih sudah memberitahukan hal itu pada kami” jawabnya dengan lemah lembut, membuat perawat itu bernafas lega. Bik Sum sendiri tidak tahu kalau perawat itu merasa segan pada mereka, dia hanya menjawab sesuai dengan apa yang dirasakannya saja.
Di dalam ruang ICU, Dean tidak bergeser sedikit pun dari sisi tempat tidur Qiandra. Bahkan tangannya seolah tidak bisa terlepas barang sekejap pun dari jemari sang istri yang bahkan tidak membalas genggamannya. Dean menatap wajah cantik wanita itu dengan sendu, dia membelai wajah pucat Qiandra dan merapikan beberapa helai rambut di wajah seputih kapas itu.
“Maafkan aku, Honey, maafkan aku yang telah membuatmu menderita, maafkan aku yang tidak bisa menepati janjiku untuk selalu membuatmu bahagia. Bangunlah, Honey, bukalah matamu, apa kamu tidak merindukan aku, tahukah kamu seberapa besar rinduku padamu. Ku mohon bukalah matamu, dan biarkan aku melihat manik mata indahmu” bisik Dean dengan lembut.
Dokter Albert yang masuk dalam ruangan itu hampir tidak tega mengganggu kedua insan itu. Namun, akhirnya dia tetap melangkah mendekati Dean dan menepuk punggung sahabatnya itu dengan pelan. “Teruslah panggil dia agar mau membuka matanya, aku merasa trauma dan rasa takut yang begitu besar membuatnya lebih memilih berdiam dalam alam bawah sadarnya. Mengetahui kehamilannya pada saat dia sedang berada dalam bahaya, tentu bukanlah hal yang mudah bagi Qiqi. Dan memilih untuk tetap berada dalam zona aman alam bawah sadarnya karena dia merasa begitu takut kehilangan lagi” ucapnya pada sang sahabat.
“Tapi, bukannya dia telah mampu menguasai trauma akan rasa kehilangan, lalu mengapa dia tetap mengalaminya” desis Dean. “Kamu sendiri yang memastikan bahwa dia sudah cukup mampu untuk mengatasi traumanya” lanjut Dean lagi sambil melirik dokter Albert sekilas.
__ADS_1
“Yah, memang benar dia sudah bisa mengatasi rasa trauma dan takut kehilangan dirimu dan itu saat dia merasa bahwa kamu akan baik baik saja. Berbeda saat dia mengetahui keberadaan kehidupan yang lain dalam kandungannya, trauma kehilangan anak untuk yang ketiga kali benar benar membuatnya lemah dan menyerah pada keadaan” jawab Dokter Albert.
“Menyerah pada keadaan?, apa maksudmu” tanya Dean dengan kening berkerut.
“Yah, menyerah pada keadaan dan merasa bahwa dirinya memang tidak punya kemampuan untuk melindungi bayi yang ada dalam rahimnya, bahkan lebih parah lagi, merasa bahwa dirinya memang tidak pantas untuk memiliki bayi lagi” sahut dokter Albert menjelaskan pada Dean.
“Wanita pembawa sial” desis Dean tanpa sadar saat dia teringat kata kata yang sering dilabeli pada Qiandra dan membuatnya merasa semakin rendah diri.
“Apa maksudmu” tanya dokter Albert mendengar ucapan Dean, “Jangan bilang kamu berpikir kalau Qiqi seperti itu” seru dokter Albert walau dengan suara pelan.
“Itu adalah kata kata yang sering diucapkan oleh keluarga suaminya dulu, dan itu sangat melekat dalam hati dan pikiran Qiqi. Aku telah berusaha meyakinkan dirinya kalau itu tidak benar. Tapi, jika mendengar penjelasanmu, sepertinya Qiqi masih menyimpan label itu dalam hatinya” desah Dean.
“Oooo, begitu rupanya, tapi keidupan Qiqi selama beberap tahun terakhir kan baik baik saja” tanya Dokter Albert. Karena memang selama dua tahun terakhir saat Qiandra berada di pelariannya, kehidupan wanita itu benar benar aman aman saja. Hanya insiden kecil yang menimpa adik angkatnya, Jossie, saja yang membuatnya sedikit panik.
“Itulah salah satu penyebabnya, yang membuat Qiqi merasa semakin buruk. Dia bisa hidup baik baik saja saat dia tidak bersama dengan seseorang yang mencintai dan dicintainya. Tapi saat dia memiliki orang yang dicintai dan mencintainya seperti Charles dan sekarang aku, berbagai hal buruk selalu terjadi padanya” desah Dean lagi.
“Tapi Qiqi tidak mencintai laki laki itu” tandas Dean dengan tajan dan sedikit mendelik pada Dokter Albert yang menyebut nama Daniel dengan mudahnya.
Dokter Albert yang menyadari kesalahannya hanya nyengir kuda sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Hah, untungnya Qiqi bukan wanita yang mudah jatuh cinta, coba kalau dia sering jatuh cinta apa mungkin dia akan semakin sering mengalami hal buruk seperti ini” cicit dokter Albert yang kembali mendapat tatapan tajam dari Dean.
“Istriku adalah tipe wanita setia, kalau kamu lupa fakta itu” desis Dean.
“Heh, memangnya kamu punya bukti kalau dia setia, mungkin saja karena dia menghindari hal buruk terjadi” ucap dokter Albert yang sengaja ingin memecah keseriusan di wajah Dean.
“Dia mencintai aku dan tetap setia di kejauhan sana hingga aku kembali datang padanya, apa menurutmu bukti itu masih kurang kuat” seru Dean dengan suara tertahan.
“Aku rasa itu bukan karena setia, tapi karena kamu satu satunya pria yang terus menempel dan tidak tahu malu, jadi mungkin saja Qiqi merasa kasihan padamu” sahut Dokter Albert masih dengan wajah sok serius.
“Kamu …...” Dean menunjuk wajah Dokter Albert dan berseru namun kata katanya tertahan saat melihat dokter Albert berdiri sambil mengangkat tangannya.
__ADS_1
“Maafkan saya, Tuan Dean, ini ruang ICU harap tidak membuat keributan disini, atau silahkan Anda menunggu di luar ruangan” ucap Dokter Albert seraya berlalu pergi. Dean yang semula sudah menyiapkan caci maki untuk sahabatnya itu hanya bisa mendesah dengan kesal saat melihat punggung dokter Albert meninggalkan ruangan itu.
“Dan jangan lupa, di luar juga ada keluarga Qiqi yang sangat berharap bisa mengunjungi wanita cantik ini, jangan terlalu egois” seru dokter Albert yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Namun, kata kata sang dokter itu membuat Dean tersadar bahwa dia memang belum memberi kesempatan bagi keluarga Qiqi untuk melihat keadaan wanita itu.
“Honey, aku keluar sebentar ya, ibu dan Jossie pasti sudah sangat tidak sabar ingin melihat keadaanmu” bisik Dean dengan lembut di telinga wanita itu. “Aku mohon, Qi, bukalah matamu, kasihani aku, hanya kamu, hanya kamu semangat hidupku” desisnya lagi dengan suara serak menahan rasa dalam hatinya.
Dean kemudian berdiri dengan perlahan dan hendak melepaskana genggaman tangannya pada jemari Qiandra. Namun, alangkah terkejutnya Dean saat merasakan kalau tangannya seolah tertahan meskipun sangat lemah. Dean menatap wajah Qiandra dengan seksama, mencari tanda tanda kalau kalau istrinya itu akan membuka matanya.
Dan betapa terkejunya Dean, saat melihat kelopak mata Qiandra bergerak dengan perlahan. “Qi, Qi, Honey, apa kamu mendengar aku, ku mohon bukalah matamu, Honey, ini aku, Dean, Honey” seru Dean sambil menepuk nepuk pipi Qiandra dengan penuh kasih.
Beberapa waktu sebelumnya, dalam alam bawah sadarnya, Qiandra sedang asyik bermain dengan seorang anak kecil. Seorang laki laki yang sangat tampan terlihat begitu bahagia menatap ke arah Qiandra dan anak kecil itu. Dia melambaikan tangannya ke arah Qiandra yang juga sedang menatap ke arahnya. Qiandra tersenyum dan segera membawa anak kecil yang bersamanya berjalan mendekati laki laki itu.
“Kak Charles, ini indah sekali, kamu tahu sudah berapa lama aku merindukan saat seperti ini. Aku merindukan kalian dengan sangat” seru Qiandra dengan wajah bahagia.
“Qiqi, sayangku, sekarang kamu tahu kan kalau kami bahagia disini, jadi jangan pernah mengkhawatirkan kami lagi. Aku akan menjaga anak kita dan akan mengembalikannya kepadamu jika memang kamu sudah siap” ucap laki laki yang tak lain dari Charles, suami Qiandra terdahulu.
Qiandra berpaling dan menatap wajah Charles dengan seksama, “Apa maksud kata katamu, Kak, kenapa aku merasa seolah kamu mengatakan bahwa aku tidak akan bersama kalian lagi” desis Qiandra dengan wajah yang tiba tiba menjadi sendu.
Charles tersenyum dan seperti biasa dia membelai rambut panjang wanita itu dan meraih kepala wanita itu agar bersandar di dadanya. Posisi seperti ini adalah posisi yang sangat disukai oleh Qiandra, bersandar di dada laki laki yang sangat dicintai olehnya. Qiandra bahkan langsung melingkarkan lengannya di pinggang Charles dengan erat.
Charles mengecup lembut kening wanita itu dengan penuh kasih, “Sayang, tugasmu masih belum selesai, masih banyak yang harus kamu selesaikan. Setiap masalah yang kamu hadapi, belajarlah untuk menghadapinya dengan tenang. Dan ingat, mengakhiri hidupmu tidak akan menyelesaikan masalah apapun, justru akan menjadi dosa bagimu yang akan menghalangi dirimu untuk bertemu dengan kami” ucap Charles dengan lembut sambil menatap anak kecil yang sedang asyik mengejar kupu kupu.
“Tapi sekarang aku sudah disini, Kak, dan aku tidak ingin pergi lagi, aku lelah menjalani semuanya di sana. Masalah yang tiada putusnya membuatku begitu lelah dan aku sungguh enggan untuk kembali lagi kesana, ku mohon, Kak, biarkan aku tetap berada disini” cicit Qiandra seraya mengeratkan pelukannya pada tubuh Charles.
“Apakah kamu juga tidak perduli padanya, laki laki yang benar benar tidak menghiraukan dunianya dan hanya memandang padamu. Apa kamu tega menghancurkan harapannya dan semangatnya yang begitu bertumpu padamu” tanya Charles sambil mengangkat wajah Qiandra dengan kedua jarinya.
“Maafkan aku, jika aku menduakan cintamu, Kak” desis Qiandra yang justru merasa bersalah dengan pertanyaan Charles.
Charles tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, “Tidak, Sayang, bukan itu masalahnya, aku justru merasa sangat bahagia melihatmu bisa menemukan cintamu lagi. Kita berbeda alam, dan sangat membahagiakan bagiku melihatmu bisa menjalani hidupmu dengan bahagia, dan memang aku sangat mengharapkan hal itu” ucap Charles dengan lembut. “Jadi, kembalilah ke duniamu, Qi, disini aku akan selalu menjagamu dan aku akan mengembalikan anak kita padamu” lanjutnya dengan lembut sambil menatap langsung manik mata Qiandra.
__ADS_1