PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SEBELAS


__ADS_3

“Coba cek rekaman dari pagi tadi” perintah Daniel pada asisten Dika.  Asisten Dika mengikuti keinginan Daniel, dia membuka jejak rekaman CCTV dari kejadian sejak pagi di  rumah Qiandra.


Daniel dan asisten Dika  terkejut setengah mati saat melihat Qiandra keluar dari sebuah mobil  mewah bersama dengan sorang laki-laki yang sangat mereka kenali.


“Dean?, apa yang dilakukannya dan Qiandra, sejak kapan mereka saling mengenal” desis Daniel, api kemarahan memancar di mata birunya.


Asisten Dika hanya terdiam, dia sangat menyadari kalau Daniel sangat membenci Dean, dan bahkan semua orangnya yang berani berhubungan dengan Dean, tidak akan pernah diampuninya.  Dan sekarang, wanita yang sudah membuat Daniel uring-uringan sejak tadi pagi, ternyata sedang bersama dengan Dean.


Asisten Dika tahu kalau Daniel sedang marah besar, jadi dia tidak berani bicara sama sekali.  “Ikuti mereka” ucap Daniel dengan nada dingin dan kejam.


Asisten Dika mengikuti perintah Daniel, saat mereka melihat keadaan di ruang tamu, Daniel memerintahkan asisten Dika memperjelas suara dari rekaman itu.  Setelah mereka berdua  mendengar dengan jelas, asisten Dika bisa melihat wajah Daniel yang mengeras dan memerah.


“Ku*ang aj*r, berani sekali mereka melakukan hal itu pada Qiandra, bisa-bisanya mereka mengusir Qiandra bahkan dari rumah miliknya  sendiri, dasar keluarga tak tahu diri, sudah bertahun-tahun mereka dibiayai oleh Qiandra, malah seperti ini balasan mereka untuk Qiandra.  Awas saja mereka, aku akan membalas sakit hati Qiandra” sarkas Daniel dengan kemarahan yang meluap-luap.


Daniel dan asisten Dika kembali melihat adegan saat Qiandra diusir dari rumahnya, dan yang membuat Daniel terpekik adalah saat dia melihat Qiandra jatuh terkulai dan tak sadarkan diri.


Daniel berdiri seketika saat melihat keadaan Qiandra, “Apa yang terjadi padanya” seru Daniel dengan panik.  Daniel dan asisten Dika melihat Qiandra yang langsung digendong oleh Dean, disusul oleh Bik Sum, masuk kedalam mobil mewah, yang bisa dipatikan milik Dean.


Setelah mobil itu pergi, asisten Dika langsung mematikan layar monitor.  Daniel berjalan mondar mandir dengan gelisah, raut wajahnya terlihat berubah-ubah, terkadang dia terlihat sangat cemas, seketika berubah jadi kesal dan bahkan marah.


“Dik, selidiki bagaiamana Qiandra bisa mengenal Dean, setahuku dia sama sekali tidak mengenal Dean, dan dalam berbagai pertemuan, seingatku, Qiandra tidak pernah bertemu dengan Dean.  Selediki apa saja yang sudah terjadi sejak kemaren sore hingga tadi malam, jangan sampai ada yang terlewat.  Ikuti baik Qiandra maupun Dean, aku mau tahu  sebenarnya apa yang sudah terjadi” seru Daniel diantara semua perasaan yang sedang campur aduk dirasakannya.


Di satu sisi Daniel sangat kesal dan marah besar saat mengetahui Qiandra bersama dengan Dean.  namun, disisi lain Daniel sangat mengkhawatirkan keadaan Qiandra yang  dilihatnya sempat tak sadarkan diri.  “Satu hal lagi, Dik, lihat siap pemilik mansion tempat Qiandra berada sekarang, dan kirim seseorang untuk memantau ke sana” lanjutnya lagi.


“Baik, Tuan” sahut asisten Dika, dia segera meninggalkan ruangan Daniel untuk melaksanakan perintah tuannya itu.


Sementara Daniel terlihat termenung didalam ruangannya, “Jangan bilang kalau aku harus kembali memperebutkan wanita yang sama dengan Dean, aku akan menghancurkannya kali ini.  Aku tidak akan melepaskan Qiandra untuknya, sudah bertahun-tahun aku menanti Qiandra siap membuka hatinya untukku” bisik Daniel dalam hatinya.


Daniel menatap jauh keluar jendela ruangannya, tangannya mengepal dengan erat.  Ada amarah yang begitu besar dalam hatinya, saat dia memikirkan bagaimana Dean menyentuh tubuh Qiandra.  Namun, kekhawatiran yang sangat besar juga menyelimuti hatinya, tentang keadaan Qiandra saat ini.  Daniel hanya berharap wanita yang sangat dipujanya itu baik-baik saja.

__ADS_1


************


Di mansion Dean…


Qiandra berlari mengejar sosok laki-laki yang begitu dirindukannya, “Kak, Kak, tunggu Qiqi, jangan tinggalkan Qiqi, Kak, Qiqi mohon, Qi nggak sanggup lagi menjalani semua ini tanpa Kakak” Qiandra terus berseru.  Dan saat dia berhasil mengejar langkah laki-laki itu, Qiandra langsung memeluknya penuh dengan kerinduan.


“Kak Charles, Qi mohon, kasihani Qi, jangan tinggalkan Qi lagi” Qiandra terisak di punggung laki-laki itu.  Qiandra perlahan mengurai pelukannya saat merasakan tubuh laki-laki itu berpaling kearahnya.


“Qiqi sayang, mengapa kamu masih mengejar Kakak, bukankah sudah berapa kali Kakak bilang, mulailah hidupmu, jangan menyiksa dirimu dengan sesuatu yang tidak mungkin terulang lagi.  Kita memang tidak ditakdirkan untuk selalu bersama, tapi kamu akan mendapatkan yang jauh lebih baik dari Kakak.  Bukalah hatimu, Qiqi sayang, biarkan cinta  menyentuhmu, saat itu kamu akan mengetahui mana yang terbaik untukmu” ucap laki-laki itu yang tak lain dari Charles Ethan Demetrius, suami Qiandra, dengan lembut.


“Tidak, Kak, Qi tidak mau, Qi hanya mau bersama Kakak, Qi mohon bawa Qi bersama dengan Kakak” seru Qiandra.  Charles mengangkat wajah Qiandra agar menatap wajahnya.


“Qiqi sayang, hati Kakak selalu bersama denganmu, tapi jika kamu tidak bisa melepaskan Kakak seperti ini, kamu


membuat langkah Kakak tersendat, Qi, kepedihanmu membuat Kakak tak mampu  melangkah menuju tempat dimana Kakak seharusnya berada.  Qiqi sayang, Kakak mohon, raihlah kebahagiaan dan cintamu, jangan menyiksa dirimu dan Kakak disini dengan cara seperti ini” ucap Charles dengan lembut.


Charles membelai rambut Qiandra dengan penuh kasih, membuat wanita itu semakin terisak didalam pelukannya, “Kak, Qi lelah menghadapi semuanya” isak Qiandra lagi.


“Tapi, Kak, derita dalam hidup Qi sepertinya tidak akan pernah berakhir, apa Qi memang terlahir untuk menderita, Kak, apa betul Qi pembawa sial” isak Qiandra semakin menjadi dalam pelukan Charles.


“Karena itu bukalah hatimu, Qi, bahagiamu yang sebenarnya telah dekat, jangan tutup hatimu apalagi  membiarkannya membeku.  Saat kamu membuka hatimu, kamu akan mengerti dan akan mengetahui apa yang sebenarnya telah  terjadi dalam hidupmu, dan ingatlah satu hal, disini aku Charles Ethan Demetrius akan selalu dan selalu mencintaimu Qiandra Zwetta Aldrich” ucap Charles.


Dan saat Charles sedang berbicara, tubuhnya bergerak semakin jauh dari Qiandra.  Qiandra terkejut merasakan pelukan Charles terlepas dari tubuhnya, dia membuka matanya dan kembali berlari mengejar Charles, “Kak, Kak, tunggu” seru Qiandra, airmata semakin mebanjiri wajah cantiknya.


“Qi, Qi, hei, bangun Qi, bangun” seseorang menepuk pipi Qiandra dengan lembut membuatnya seketika tersadar.


“Kak Charles” seru Qiandra seraya memeluk tubuh orang yang membangunkannya.  Orang itu hanya diam saja, dia bahkan membalas pelukan Qiandra dan menepuk bahu wanita itu lembut.


“Tenanglah, Qi, aku disini” bisik orang itu di telinga Qiandra, suara itu membuat Qiandra tersentak karena suara itu berbeda dengan suara Charles.  Qiandra segera mengurai pelukannya dan menatap orang yang telah

__ADS_1


memeluknya dengan erat.


“De-Dean, ma-maafkan aku, aku, aku…” Qiandra terbata, dia terkejut sekaligus merasa malu karena telah memeluk Dean dengan erat, karena dia masih terbawa alam mimpinya dan mengira orang yang menyadarkan dirinya adalah Charles, suaminya.


“Tidak apa-apa, Qi, sepertinya kamu telah bermimpi bertemu Charles ya” ucap Dean dengan senyum yang terlihat sangat dipaksakan.  Tak bisa dipungkiri, Dean merasa cemburu melihat bagaimana wanita yang dicintainya ini masih mencintai orang lain.  Walaupun orang itu sudah berada di alam yang berbeda dengan mereka.


“Dia satu-satunya orang yang mengajariku bagaimana merasakan bahagia, dia yang membawa kebahagiaan itu untukku, membuat aku punya semangat untuk menjalani hari-hariku.  Namun, hanya sempat beberapa saat aku menikmati kebahagian itu, dia merenggutnya dan membawa kebahagiaan itu jauh dariku.  Aku kehilangan dirinya, kehilangan kebahagiaanku, tujuan hidupku sudah tidak ada lagi” isak Qiandra.


Wanita itu menatap jauh ke laut lepas yang terhampar indah dijendela kamar tidurnya itu.  Dia seperti tenggelam dalam lamunannya sendiri, “Mengapa harus Kak Charles yang pergi, mengapa bukan aku, dia punya begitu


banyak tanggung jawab, sementara aku, aku hanya menjadi pembawa sial bagi orang-orang yang kukasihi” desahnya lagi.


Dean perlahan meraih tangan wanita itu, lalu menggenggamnya dengan erat, “Qi, setiap kita terlahir selalu dengan maksud dan rencana terbaik, tidak ada yang namanya manusia pembawa sial.  Semua yang terjadi dalam hidupmu adalah rintangan yang harus kamu jalani.  Berat memang, tapi yakinlah, Tuhan tidak pernah mencobai kita melebihi kekuatan kita, selama kita mau bangun dan berdiri serta mulai melangkah lagi.  Yakinlah, akan ada rencana indah yang menanti kita” Dean memberi nasehat panjang lebar untuk Qiandra.


Qiandra menghembuskan nafasnya dengan berat, dia membiarkan Dean menggenggam tangannya.   Qiandra merasakan ada kehangatan dan semangat yang mengalir lewat genggaman tangan Dean.  Dia bahkan merasa sedikit tenang saat Dean menyentuh dirinya, perasaan yang telah lama hilang dari hatinya, rasa tenang dan damai.


Qiandra menatap wajah Dean, “Mengapa aku merasa ada ketenangan dan kedamaian dalam genggaman tangannya, mengapa sentuhannya begitu menenangkan hatiku, ini hanya kurasakan saat Kak Charles menyentuhku, tapi mengapa sekarang aku merasakannya lagi dari laki-laki ini.  Tidak mungkin aku jatuh hati padanya, kami baru saja saling mengenali” bisik hati Qiandra.


“Ada apa, Qi, hmmmm, apa ada kata-kataku yang salah” tanya Dean dengan lembut saat dia melihat mata Qiandra yang menatapnya dengan intens.


“Ah, tidak, tidak apa-apa, aku, aku hanya kagum mendengar kata-katamu” ucap Qiandra berusaha menutupi perasaannya yang sesungguhnya.  Wanita ini menundukkan kepalanya dengan wajah merah merona karena malu.


“Hei, cantik, ada apa dengan wajahmu, hmmm” Dean mengangkat wajah Qiandra dengan jarinya.


“Ti-tidak, memangnya mengapa dengan wajahku, apa ada yang salah dengan wajahku” sahut Qiandra dengan malu-malu dan sedikit terbata.


“Ha ha ha, ya sudahlah, Qi, sekarang hari telah beranjak sore, kalau kamu ingin melihat matahari terbenam sebaiknya kamu bersiap sekarang” kekeh Dean masih dengan nada lembut.  Dean perlahan ingin melepaskan genggaman tangannya dari tangan Qiandra, namun, dia bisa merasakan wanita itu masih belum ingin melepaskan tangannya.


Dean menatap wajah cantik itu dengan penuh kasih, “Aku akan selalu ada bersamamu, Qi, aku janji aku tidak akan pernah meninggalkanmu” bisiknya lembut, dia menggenggam erat tangan Qiandra, untuk menyadarkan wanita itu.

__ADS_1


Qiandra terkejut saat merasakan genggaman erat tangan Dean, dia tersadar dari rasa yang menenggelamkan dirinya.  Qiandra segera melepaskan genggaman tangannya dari tangan Dean, “Maaf” desisnya dengan wajah yang semakin merona.


“Sudahlah, Qi, sekarang bersihkanlah dirimu, pakaianmu sudah diletakkan di walk in closet, kamu bisa memakainya, semua itu disiapkan untukmu” ucap Dean lembut.


__ADS_2