PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS DUA PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Asisten Dika kembali menghembuskan nafas dengan berat. Dia memang sudah berhasil membalaskan dendamnya dengan menghabisi seluruh keluarga Lee beserta orang orangnya. Namun, Dika masih belum menemukan informasi apapun terkait penguasa yang melindungi Lee. Oleh sebab itu, hingga saat ini Dika masih belum memunculkan dirinya sebagai keturunan Hamilton.


Dika masih harus melakukan penyelidikan lebih mendalam untuk mengetahui siapa yang menjadi pendukung Lee pada waktu itu. Dika tahu kalau orang itu punya kekuasaan yang besar dan memang menginginkan keluarganya musnah. Oleh sebab itu, dia tetap melindungi jati dirinya, selain menghindar dari bahaya, juga untuk memudahkan dirinya melakukan penyelidikan.


Dari semua peristiwa yang dihadapi oleh Dika, Dika tidak akan bisa lupa bagaimana Daniel dan Daddy Putra terus mendukung dan membantunya melakukan pembalasan. Bahkan Daniel sendiri ikut mendampingi Dika saat mereka menyerang kediaman Lee, dan membinasakan seluruh keluarga Lee persis sama seperti yang dilakukan Lee pada keluarganya.


Dan Daddy Putra lah yang telah berhasil bekerja di belakang layar. Sehingga sama seperti musibah yang menimpa diri Dika dan keluarganya yang tidak diberitakan. Demikian pula musibah yang menimpa Lee, juga lolos dari pemberitaan. Jika dulu, saat mansion keluarga Dika terbakar, masih sempat ada pemberitaan di pagi harinya. Tapi saat ini, Daddy Putra berhasil menutup semua akses berita tentang keluarga Lee.


Hal inilah yang membuat Asisten Dika benar benar berhutang nyawa, berhutang budi pada keluarga Mahardika. Sehingga Asisten Dika telah barjanji dalam hatinya untuk tetap mengabdikan diri pada keluarga Mahardika tanpa batas waktu. Itulah juga yang menjadi alasan Asisten Dika saat ini bergerak cepat dan bersedia menerima penyerahan yang dimandatkan oleh Daniel.


"Aku akan menjaga agar semuanya tetap baik baik saja, Bro, semoga saja kamu bisa menemukan jalan keluar terbaik untuk kisah cintamu" desis Dika dalam hati berjanji pada Daniel.


Dika tahu kalau Daniel saat ini sedang terlilit masalah besar. Penyerahan perusahaan dan juga saham yang begitu besar untuknya tidak membuat Dika lupa diri. Dia hanya beranggapan ini sebagai bentuk usaha Daniel untuk mempertahankan perusahaannya. Jadi, bagi Dika ini hanyalah sebuah titipan tugas yang diberikan sahabatnya itu, sementara Daniel menyelesaikan masalahnya.


Asisten Dika sebenarnya kecewa karena Daniel sama sekali tidak berdiskusi dengannya tentang rencana besar laki laki itu. Tapi Asisten Dika juga tahu kalau Daniel pasti bisa menduga kalau Asisten Dika tidak akan membiarkan rencana itu berjalan. Bukan hanya karena Asisten Dika tidak mau Daniel celaka, tetapi sesuatu dalam hati Asisten Dika tidak bisa membiarkan Qiandra terluka dan menderita lagi.


Perasaan yang tidak pernah bisa Asisten Dika pahami, yaitu perasaannya terhadap Qiandra. Dia tidak merasa kalau dia menginginkan Qiandra seperti keinginan seorang laki laki terhadap perempuan. Buktinya dia tidak merasa sakit hati saat mengetahui Qiandra menikah dengan Dean. Asisten Dika justru merasa lega sehingga dia tidak perlu terus menerus mengkhianati Daniel.


Ya, Asisten Dika merasa kalau dia mengkhianati sahabatnya itu, karena dia harus terus berpura pura tidak mengetahui keberadaan Qiandra. Padahal dia sebenarnya mengetahui dimana wanita itu berada. Tapi Asisten Dika terpaksa menyembunyikan hal tersebut agar Daniel tidak lagi memaksa dan menyakiti Qiandra. Tak pernah di duganya kalau Daniel sampai sanggup melakukan hal bersifat kriminal seperti yang terjadi saat ini, yang bahkan menghancurkan nama baik Daniel sendiri.


Asisten Dika sungguh tidak menyangka kalau Daniel memiliki cinta sampai sebesar itu pada Qiandra. Dia tidak mengira sebesar itu Daniel menginginkan Qiandra. Asisten Dika menduga Daniel akan menyerah seperti kejadian Risty dulu, dimana Daniel langsung menyerah begitu saja setelah wanita itu memilih Dean. Tapi sekarang Daniel tetap memaksa mendapatkan Qiandra, sekalipun wanita itu sudah resmi menjadi istri Dean.


Entahlah, Asisten Dika sendiri tidak mengerti pada perasaan Daniel, apa memang benar laki laki itu sungguh mencintai Qiandra. Sebesar apa cinta laki laki itu sampai rela kehilangan segalanya hanya untuk mendapatkan seorang wanita. Sementara Asisten Dika sangat tahu kalau ada ribuan wanita diluar sana yang sangat mengharapkan seorang Daniel Putra Mahardika.


Asisten Dika sendiri sangat tahu kelebihan dan kecantikan seorang Qiandra yang memang banyak digilai oleh banyak lelaki. Tapi, harusnya Daniel bisa merelakan saat Qiandra sudah memilih Dean, karena Daniel sudah cukup lama berusaha dan itu tidak menggoyahkan hati Qiandra. Sejak Qiandra masih sendiri saja wanita itu sudah menolak Daniel, apalagi sekarang setelah ada yang memiliki dirinya.


Tiba tiba Asisten Dika membayangkan wajah seorang Qiandra, wanita cantik yang sanggup menggoyahkan hati batu dua presidir tampan. Tiba tiba keningnya mengernyit, "Qiandra, wajah itu, kenapa terasa sangat familiar, ah, mungkin karena aku sudah terbiasa dengannya" desah Asisten Dika berusaha mengenyahkan wajah Qiandra.


Tapi, bayangan wajah itu semakin menggelitik hati dan pikiran seorang Asisten Dika. "Tidak, tidak, bukan karena aku terbiasa saat bekerja dengannya, tapi kenapa sekarang aku baru menyadari kalau wajahnya mengingatkan aku pada ah, entahlah" desah Asisten Dika lagi masih dalam hati.


Namun, apa daya, Asisten Dika tidak mampu menolak bayang bayang yang semakin melekat di mata dan pikirannya. Tanpa sadar dia terus membandingkan wajah Qiandra dengan wajah seseorang yang begitu melekat dalam hatinya dari masa lalu. Asisten Dika semakin menyadari kalau ada beberapa kesamaan yang membuat Qiandra benar benar mirip hanya dalam versi yang berbeda.


"Tidak, tidak mungkin, kalau memang dia masih selamat, siapa yang menyelamatkan, dan bukankah Qiandra dibesarkan di panti asuhan. Kalau memang ada yang menyelamatkannya, pasti orang itu akan membesarkan Qiandra" desah Asisten Dika masih bergumul dalam hatinya.

__ADS_1


Semakin membandingkan wajah keduanya, Asisten Dika semakin merasa kemiripan yang lebih banyak. Namun, saat dia semakin tenggelam dalam semua itu, tiba tiba pilot menyampaikan pemberitahuan kalau pesawat mereka akan segera mendarat. Hal itu menyebabkan khayalan Asisten Dika seketika terputus karena dia tahu masalah telah menanti dirinya saat dia sudah tiba.


Saat Asisten Dika turun dari pesawat, dia sudah melihat pengacara William sudah menunggunya bersama dengan beberapa mobil mewah yang sudah menanti kedatangan sang presidir yang baru. Asisten Dika sempat mengernyit melihat penyambutan yang sepertinya tidak biasa bagi dirinya. Penyambutan seperti ini biasanya dilakukan saat dia bersama dengan Daniel.


"Will ......" desis Asisten Dika yang ingin bertanya dengan pengacara William.


"Selamat datang Presidir Dika" kata kata Asisten Dika dipotong dengan ucapan penyambutan dari pengacara Wiliiam bersama dengan beberapa orang bodyguard yang sudah menunggunya.


Sempat membuat asisten Dika menghentikan langkahnya dan menatap semua orang yang masih menunduk dan belum berani mengangkat mukanya. Melihat sikap mereka, asisten Dika memutuskan untuk langsung masuk ke dalam mobil yang sudah dibuka oleh Pengacara William. Asisten Dika memutuskan untuk mencari tahu setelah dia masuk di dalam mobil.


"Will, ikut aku" ucap asisten Dika, saat pengacara William ingin menutup pintu mobilnya.


"Baik, Tuan" sahut pengacara William, lalu membuka pintu depan dan duduk di samping sopir.


Perlahan barisan mobil mewah itu bergerak meninggalkan landasan pacu. Di kejauhan, asisten Dika bisa melihat rombongan pemburu berita yang sedang berusaha mendekati iring iringan mobil mereka. Namun, para bodyguard terus berusaha menahan para wartawan ini, sampai iring iringan mobil mewah yang membawa asisten Dika meninggalkan bandara.


"Apa sudah semakin kacau, Will" tanya asisten Dika setelah mereka meninggalkan bandara. Dia tahu jika para wartawan sampai sebanyak dan seantusias itu, sudah bisa dipastikan ada berita yang sangat besar.


"Sangat kacau, Tuan, Dewan Komisaris meminta agar Tuan bertemu mereka dulu sebelum menghadapi pers" sahut pengacara William.


"Saat ini semua sudah berkumpul, Tuan, hanya menunggu kedatangan Anda. Perusahaan benar benar goyah saat ini, hanya surat itu saja yang membuat kami bisa bertahan saat ini. Dan aku rasa itu pun tidak akan lama, nilai saham kita menurun drastis. Jika keadaan tidak bisa segera dikendalikan, maka tidak menutup kemungkinan perusahaan akan kolaps" ucap pengacara William menjelaskan dengan panjang lebar.


Asisten Dika tahu surat yang dimaksud adalah surat yang dibuat oleh Daniel yang menyatakan penyerahan perusahaan bahkan tiga puluh persen saham untuk asisten Dika.


"Shitt ....." desis asisten Dika membayangkan kondisi perusahaan saat ini.


Kembali asisten Dika merasa geram sendiri, bagaimana bisa Daniel melakukan hal segila ini. Daniel mengejar cintanya dan merelakan segala yang dimilikinya hancur lebur. Asisten Dika benar benar tidak habis pikir dengan sikap Daniel yang dianggapnya sudah di luar akal sehat itu. Namun, asisten Dika juga menyadari, menyalahkan Daniel tidak akan menyelesaikan masalah.


"Bagaimana Tuan Daniel, apa benar benar tidak ada beritanya" tanya asisten Dika lagi.


"Beliau benar benar menghilang bagai di telan bumi, Tuan, bahkan phonsel beliau saja ditinggalkan di kantor. Sehingga kita tidak bisa mengetahui dimana keberadaan beliau saat ini, bahkan orang tuanya juga tidak tahu dimana Tuan Daniel saat ini" sahut pengacara William.


Asisten Dika menghembuskan nafas berat, lagi lagi dia tidak habis pikir dengan sikap Daniel. Namun, asisten Dika sangat menyadari, kalau dia tidak punya waktu untuk memikirkan alasan Daniel melakukan hal tersebut. Masih banyak hal yang harus dipikirkannya, menyelamatkan perusahaan harus menjadi prioritas utama bagi asisten Dika saat ini.

__ADS_1


Iring iringan mobil mewah itu perlahan memasuki wilayah perusahaan PT.Mahardika. Asisten Dika termenung menatap keluar jendela mobil, menatap beberapa gedung bertingkat yang ada di situ. Asisten Dika tahu semua itu adalah wilayah PT.Mahardika, dan apa mungkin dia membiarkan semua itu hilang begitu saja.


Asisten Dika kembali menghembuskan nafas berat, dia tahu saat dia keluar dari mobil, saat itulah semuanya sudah harus dimulai. Semua kemampuan yang dia miliki dalam mengelola perusahaan, harus dikeluarkannya dan digunakannya untuk menyelamatkan PT.Mahardika. Asisten Dika tahu, kalau hanya dirinyalah saat ini yang menjadi tumpuan harapan perusahaan ini.


Dan seperti yang dipikirkan oleh asisten Dika, saat mobil mereka tiba di depan loby perusahaan, sekertaris Daniel sudah menunggunya dengan wajah cemas. "Tuan Dika, semua sudah menunggu Anda di ruang rapat, termasuk Tuan Putra Mahardika" ucapnya dengan sedikiit getar di bibirnya.


"What? jadi Daddy Putra juga sudah datang, Risha" seru asisten Dika dengan terkejut. Asisten Dika semakin menyadari kalau perusahaan benar benar dalam masalah besar, karena daddy Putra yang tidak pernah mau lagi berhubungan dengan perusahaan sampai harus datang sendiri.


Asisten Dika segera berjalan bergegas menuju ke pintu lift dimana pengacara William sudah menunggunya. "Kalian berdua ikut ke ruang rapat" titah asisten Dika, membuat pengacara William dan Risha segera mengikuti asisten Dika masuk ke dalam lift khusus presidir itu.


"Jelaskan keadaannya dengan cepat Risha" ucap asisten Dika lagi saat pintu lift tertutup.


"Masalah utama saat ini adalah kepercayaan masyarakat terhadap kredibilitas perusahaan, persoalan selanjutnya adalah PT.Zacharias, Tuan" sahut Risha sang sekertaris.


"Apa Zacharias sudah mulai bertindak" tanya asisten Dika lagi.


"Secara langsung belum, Tuan, tapi pergerakannya sudah mengarah ke sana, kemungkinan karena presidir PT.Zacharias masih konsen pada kesembuhan Tuan Walt yang tertembak kemaren" sahut Risha lagi.


"Shittt ....." desis asisten Dika dalam hati. Saat itu pintu lift juga terbuka, mereka bertiga segera melangkah dengan cepat menuju ke ruang rapat, dimana para petinggi PT.Mahardika sudah menunggu.


Saat pintu ruang rapat dibuka, asisten Dika langsung merasakan aura mencekam yang begitu besar. Semua mata langsung tertuju padanya, namun asisten Dika mengabaikan semua itu. Risha menyediakan kursi presidir untuk asisten Dika, namun asisten Dika tidak serta merta duduk disitu.


Asisten Dika lebih memilih tetap duduk di kursi yang biasa ditempatinya sebagai asisten Daniel. Meski bingung, Risha tidak berani juga mengajukan protes. Risha segera mengambil berkas yang sudah disiapkannya di hadapan kursi presidir dan meletakkannya di hadapan asisten Dika.


Setelah duduk, asisten Dika baru memperhatikan kalau semua orang dalam ruangan itu masih berdiri menatap ke arahnya, "Maaf, silahkan duduk" ucapnya dengan nada datar. Asisten Dika tahu, walau dia belum menerima jabatan presidir tapi semua orang disitu menghormati dirinya. Sehingga mereka semua tidak akan duduk sebelum asisten Dika mempersilahkan mereka duduk.


Asisten Dika segera membuka rapat malam itu, "Maafkan saya membuat Anda semua menunggu, dan saya harap kita bisa saling mendukung menghadapi dan menyelesaikan semua masalah perusahaan saat ini" ucap asisten Dika.


"Dika, kami semua disini siap membantu dan mendukung penyelesaian masalah ini, tapi kita semua harus memperjelas dulu siapa yang akan memimpin perusahaan ini sementara waktu" Daddy Putra lebih dulu menanggapi kata kata asisten Dika.


"Maaf, Tuan Putra, saya rasa untuk kempemimpinan, saya berharap dan memohon dengan hormat kiranya Anda berkenan untuk kembali dulu ke perusahaan" ucap asisten Dika dengan penuh hormat pada Daddy Putra.


"Tapi, Daniel sudah membuat surat pendelegasian jabatan presidir padamu, Dika, jadi jabatan presidir menjadi hak kamu sepenuhnya" sahut Daddy Putra lagi.

__ADS_1


"Benar, Tuan, tapi jika Anda berkenan, maka Anda jauh lebih berhak daripada saya" ucap asisten Dika masih berusaha menolak jabatan itu.


"Aku datang ke sini bukan untuk kembali ke perusahaan, Dika, tapi aku datang ke sini untuk memastikan kamu menerima tanggung jawab yang dibebankan oleh Daniel padamu. Jadi, jangan pernah berkelit dari tugas dan tanggung jawab yang sudah dimandatkan padamu" ucap Daddy Putra dengan tegas.


__ADS_2