
“Kak Charles……”
Suara Qiandra mengejutkan ketiga laki-laki tampan yang
sedang tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Dean ingin membangunkan Qiandra, presidir
tampan ini segera berdiri ingin melangkah mendekati QIandra. Namun belum sempat dia melangkah, langkahnya
telah dicegah oleh dokter Albert, Dean
ingin protes kepada sahabtnya itu tapi akhirnya dia terdiam saat melihat reaksi Qiandra.
“Kak, Kak Charles kenapa kepalamu berdarah, astaga, Kak awassssss…..aaaaaa” teriakan Qiandra membuat
Dean benar-benar panik dan segera mendekati istrinya. Dia tidak lagi menghiraukan larangan dokter
Albert, rasa cemas membuatnya tergesa
mendekati Qiandra.
“Honey, honey….. sadar honey, aku disini” Dean menepuk nepuk pipi
Qiandra dengan lembut. Dia begitu
khawatir saat mendengar teriakan histeris istrinya itu. Qiandra perlahan membuka matanya dan wajah
pertama yang ditemuinya adalah wajah tampan suaminya.
“Loveeee….” seru Qiandra, dia langsung bangun dan memeluk
Dean dengan erat, Dean bisa merasakan tubuh istrinya yang bergetar bahkan Dean
merasakan kalau dadanya basah karena air mata Qiandra.
“Hei, tenanglah, Honey, aku disini, kita sudah di kamar
kita, jangan takut lagi” bisik Dean dengan lembut, dia membelai punggung
istrinya dengan penuh kasih. Dean
berusaha membeikan ketenangan pada wanita yang sangat dikasihinya itu, dia
yakin Qiandra telah bermimpi sangat buruk. Entah apa itu, tapi Dean benar-benar khawatir pada keadaan Qiandra saat
ini.
“Aku……aku takut, suara itu……” Qiandra mendesah ketakutan
sambil menggelengkan kepalanya seolah berusaha membuang apa yang ada dalam
pikirannya.
“Tenanglah, tidak ada apa-apa, kita baik-baik saja, disini
juga sudah ada Vian dan Al, sekarang berbaringlah, biar Al memeriksa keadaanmu
dulu” bujuk Dean pada Qiandra saat dia merasa wanita itu sudah mulai tenang.
“Kak Al, Kak Vian, kalian disini juga” Qiandra terkejut saat
menyadari kehadiran kedua sahabat suaminya yang memandang dirinya dengan
intens. Kekhawatiran tergambar jelas di
mata kedua pemuda tampan itu.
“Tentu saja kami disini, Qiandra, suamimu ini sudah seperti
orang kesurupan saat melihat kamu tidak sadarkan diri” kekeh dokter Albert
berusaha mencairkan suasana yang terasa sedikit tegang bagi ketiga pria itu.
“Tentu saja aku panik melihat istriku sendiri tidak sadarkan
diri” Dean berusaha membela diri, namun dia tidak marah pada dokter Albert. Dean tahu maksud sahabatnya itu yang ingin
menghilangkan keadaan tegang yang tercipta saat itu.
“Ah, maafkan kami yang selalu membuat kalian repot” ucap
Qiandra, dia kembali berbaring dengan dibantu oleh suaminya. Dokter Albert segera mendekat dan kembali
mengambil peralatannya, setelah melihat Dean berdiri dan memberikan kode agar
dia segera memeriksa Qiandra.
“Aku akan memeriksamu kembali, Qi” ucap dokter Albert, lalu
dia mulai melakukan pemeriksaan terhadap Qiandra. Beberapa saat kemudian, setelah dia selesai,
dokter Albert memasukkan kembali semua peralatannya dalam tas.
“Istirahatlah, Qi, jangan terlalu diforsir ya, usir saja
kalau dia terus menerus meminta jatah” ucap dokter Albert sambil mengedipkan
matanya. Namun, betapa terkejutnya
dokter Albert saat merasakan punggungnya di pukul dengan keras dari
belakangnya.
“Jangan coba mengajari istriku” desis Dean, bukannya marah, dokter
Albert malah tertawa melihat tingkah sahabatnya itu. Sementara Qiandra hanya bisa menggelengkan
kepalanya, wajahnya merona menahan malu. Qiandra sangat mengerti apa yang dimaksud denagn ‘jatah’ oleh dokter
Albert.
“Dan kalau kamu sudah sehat, kamu bisa segera memeriksakan
kondisi babymu ke rumah sakit” lanjut dokter Albert setelah tawanya reda.
“Ba….baby?, maksu Kak Al apa” tanya Qiandra dengan kening
berkerut.
“Menurut dokte sableng ini, kamu sedang mengandung, Honey,
semoga saja dia tidak salah prediksi, kalau sampai salah, lihat saja, akan
kucabut lisensinya” Dean yang menjawab pertanyaan Qiandra. Wajah laki-laki itu terlihat berbinar dan
penuh dengan kebahagiaan yang benar-benar tidak bisa disembunyikannya.
“Benarkah Kak Al” tanya Qiandra lagi, wanita ini cukup
terkejut dan bahkan agak ragu dengan hasil pemeriksaan dokter Albert.
“Sebaikya dipastikan di klinik saja, Qi, aga kamu bisa
mengetahui dengan jelas dan daripada suamimu ini berdecak dan mengancam aku”
kekeh dokter Albert, membuat Dean kembali mendelik kesal menatap sahabatnya
itu.
__ADS_1
“Jika kalian tidak ada kepentingan lagi, lebih baik kalian
keluar sekarang” desis Dean yang benar-benar kesal pada keusilan sahabatnya
itu. Asisten Vian segera menarik dokter
Albert yang masih ingin menggoda Dean lagi.
“Kami permisi dulu, Tuan, Nyonya, kami akan menyiapkan makan
malam, apakah ada yang ingin dipesan secara khusus” asisten Vian bertanya
dengan nada sopan.
“Honey, apakah ada sesuatu yang ingin kamu makan” tanya Dean
pada Qiandra.
“Tidak ada, Love, aku bahkan masih merasa kenyang” sahut
Qiandra menatap suaminya dengan senyum bahagia.
“Tapi kamu harus tetap makan, Honey” sahut Dean, “Antarkan
saja nanti kalau sudah siap” lanjutnya lagi tapi kepada asisten Vian dan dokter
Albert. Kedua orang sahabatnya itu
mengangguk dan segera keluar meninggalkan Dean dan Qiandra.
“Love, apa benar yang dikatakan oleh Kak Al” tanya Qiandra
pada suaminya setelah mereka hanya tinggal berdua. Dean tersenyum mendengar pertanyaan istrinya
itu, dia bahagia karena Qiandra tetap meminta kepastian padanya. Bagi Dean, hal itu berarti Qiandra sangat
mempercayai dirinya.
“Sekalipun dia bercanda, tapi dia tidak akan berani bercanda
untuk hal seperti ini, Honey, apa yang dikatakan Al memang benar tapi dia masih
sangat kecil, masih belum terlalu terdeteksi. Al sudah cukup senior, sehingga dengan meraba denyut nadimu saja dia
sudah tahu kalau kamu sedang hamil. Jika
kamu sudah sehat, besok kita bisa ke rumah sakit untuk melakukan cek lengkap
sehingga bisa diketahui kepastiannya” sahut Dean dengan lembut.
“Ah syukurlah, semoga saja harapan kita jadi kenyataan”
desah Qiandra dengan wajah berbinar, senyumnya merekah karena kebahagiaan yang
dirasakannya. Namun, hanya sekejap wajah
bahagianya terlihat, karena sesaat kemudian, wajah wanita itu berubah menjadi
beku, matanya menyorotkan ketakutan yang besar. Qiandra bahkan tanpa sadar menggenggam tangan suaminya dengan erat.
Dean terkejut melihat perubahan wajah istrinya, “Honey, ada
apa” tanya Dean dengan khawatir. Qiandra
menggelengkan kepalanya dengan kuat dan air mata perlahan mengalir di pipinya.
“Tidak, tidak, Love, aku tidak akan keluar, aku takut,
aku….aku….” Qiandra tiba-tiba kembali mengigil dan tubuhnya bergetar
hebat. Dean yang melihat kondisi
Vian ada di dapurnya, tapi Dean tidak tega meniggalkan Qiandra sendirian.
“Cepat kemari” seru Dean saat dokter Albert mengangkat
panggilannya. Tidak berselang lama,
asisten Vian dan dokter Albert menerobos masuk ke dalam kamar Dean dengan wajah
khawatir. Dan betapa terkejutnya mereka
saat melihat wajah Qiandra yang terlihat pias dengan mata memancarkan ketakutan
yang besar. Wanita itu bahkan tidak bisa
berbicara, bibirnya bergerak tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Dokter Albert segera mengambil tas kerjanya lalu dia
mengeluarkan jarum suntik dan memberikan suntikan pada Qiandra. Tak lama kemudian, wanita itu terlihat
kembali tenang dan matanya perlahan menutup. Dean membaringkan kembali tubuh istrinya dengan perlahan-lahan lalu
menyelimutinya.
“Sebenarnya apa yang terjadi” tanya dokter Albert pada Dean,
Dean hanya bisamenggeleng bingung.
“Kami hanya membicarakan tentang kehamilannya dan rencana
untuk besok memeriksakan kehamilannya kalau dia sudah sehat. Qiqi terlihat sangat bahagia, tapi sesaat
kemudian dia menjadi histeris dan mengatakan tidak mau keluar, dia takut, dan
setelah itu dia jadi seperti tadi” sahut Dean dengan wajah penuh kebingungan.
“Hmmm, bukankah saat kecelakaan itu, Nyonya juga sedang
hamil muda” asisten Vian tiba-tiba bicara, dia teringat peristiwa yang
merenggut nyawa suami Qiandra yang terdahulu.
“Ya, dia memang sedang hamil muda, karena itu dia mengalami
keguguran, jangan bilang…” Dean tiba-tiba terdiam saat dia menyadari apa yang
terjadi pada istrinya.
“Qiandra mengalami trauma berat, namun baru muncul saat dia mengetahui
kalau dia kembali hamil, kejadian itu kembali menghantuinya. Kejadian itu selalu tersembunyi dalam alam
bawah sadarnya” dokter Albert melanjutkan kata-kata Dean, “Hanya kamu yang bisa
mengembalikan keberaniannya, Dean, entah bagaimana caranya, kamu harus
meyakinkan Qiandra bahwa semuanya akan baik-baik saja. Walaupun kejadian hari ini membawa dampak
buruk baginya dan memperparah traumanya” lanjutnya lagi.
Dean terdiam mendengar penjelasan dokter Albert, dia sedang
berusaha mengingat kejadian yang menimpa Qiandra dan Charles, “Tapi, bukankah
Charles meninggal karena kecelakaan mobil, lalu apa hubugannya dengan suara
__ADS_1
tembakan” tanya Dean dengan kening berkerut.
“Kepala yang berdarah, kamu ingat kan apa yang diucapkan
Qiandra dalam mimpinya tadi, apa mungkin….” dokter Albert terdiam saat
memikirkan kemungkinan yang ada dalam pikirannya.
“Apa mungkin Charles ditembak, dan hal itu yang menyebabkan
mereka mengalami kecelakaan” ucap Dean, wajahnya tiba-tiba berubah jadi dingin,
“Vian, coba kamu selidiki kembali, kurasa tidak akan sulit untuk melacaknya,
peristiwa itu baru terjadi lima tahun yang lalu. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh
seseorang, entah dengan tujuan apa, aku khawatir itu akan mengancam Qiqi lagi”
lanjutnya dengan tegas.
“Baik, Tuan” sahut asisten Vian, dia sendiri merasa sangat
penasaran dengan kondisi Qiandra saat ini. Ketiga orang itu kembali terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing.
“Baiklah, kami akan melanjutkan pekerjaan kami tadi, untuk
sementara, Qiandra akan terlelap, tapi tidak lama. Jangan tinggalkan dia, aku khawatir mimpi
yang sama kembali menghantuinya. Dan
jika dia kembali mengigau, cobalah tetap tenang dan perhatikan apa yang
dikatakannya, karena dia akan mengatakan apa yang terjadi, dan terekam di alam
bawah sadarnya. Kalau bisa aktifkan
kamera, sehingga kita bisa menganalisanya lebih lanjut. Kamu harus bisa menahan diri, agar kita bisa
membantu Qiandra” ucap dokter Albert.
Dean hanya mengangguk mendengar saran sahabatnya, dia
sendiri tidak yakin bisa membiarkan Qiandra histeris seperti tadi. Tapi, Dean berjanji dalam hatinya untuk
menguatkan dirinya demi mencari penyebab trauma yang dialami Qiandra.
Setelah kedua sahabatnya meninggalkan kamar utama, Dean
membelai rambut panjang istrinya dengan penuh kasih. “Honey,
sebenarnya apa yang terjadi, aku tidak menyangka kamu menyimpan trauma yang
begitu besar. Kamu menanggung segala
sesuatunya sendirian dan menutupi semua lukamu. Hah, begitu berat jalan hidupmu, tapi kamu tidak pernah mengeluh, justru
akulah yang selalu mengeluh padamu hanya karena masalah kecilku. Maafkan aku, Honey, aku terlalu egois, mulai
sekarang, aku akan selalu memperhatikanmu, bahkan hal-hal kecil yang biosa kamu
sembunyikan sendiri, aku akan membantumu menanggungnya” bisik hati Dean.
Dean menyalakan CCTV dalam kamarnya, dengan menggunakan
remote control, dia juga memfokuskan kamera itu pada Qiandra. Saat Dean sedang mengatur kamera dan
memperhatikan hasilnya pada layar monitor, tiba-tiba dia merasakan tangannya dicengkam dengan erat oleh
Qiandra.
“Kak, Kak Charles kenapa kepalamu berdarah, astaga, Kak
awassssss…..aaaaaa” Qiandra kembali berteriak persis seperti mimpinya
tadi. Tapi kali ini, Dean berusaha menahan
dirinya utuk tidak membangunkan wanita itu. Dean membiarkan Qiandra mencengkram tangannya dengan erat, ada sedikit
perih yang dirasakannya saat kuku tajam Qiandra menancap di lengannya.
“Kak, Kak Charles, tolong….tolong aku, aku tidak bisa
keluar” Qiandra kembali berteriak, tangannya yang satu berusaha menggapai-gapai
sesuatu. Dean masih diam dan berusaha
menahan hatinya yang remuk saat melihat wanita yang sangat dicintainya itu
terlihat sangat kesakitan juga ketakutan.
“Kak, cepat pergi dari situ, kenapa….kenapa kamu berbaring
disitu…..Kak Charlesssss……aaaaaaa” Qiandra berteriak histeris, lalu kemudian
dia terkulai lemas, namun airmata mengalir dipipinya.
Teriakan Qiandra cukup keras hingga terdengar ke lantai
bawah, karena memang pintu kamar utama itu tidak ditutup. Asisten Vian dan dokter Albert segera
meninggalkan pekerjaannya dan berlari masuk ke kamar Dean. Mereka menatap Qiandra yang terlihat masih
terlelap, namun, dokter Albert melihat lengan Dean yang berdarah.
Dokter Albert segera mengambil peralatannya, lalu menarik
lengan Dean, membuat laki-laki itu tersentak. Dean ternyata baru menyadari kalau kedua sahabatnya ada di dalam kamar
itu. Dia membiarkan dokter Albert
mengobati lukanya, karena dia sendiri tidak menyadari kalau tangannya berdarah
akibat cengkraman Qiandra.
“Dia mengigau lagi, Al, apa yang harus aku lakukan” desis
Dean dengan suara berat, wajahnya terlihat sangat khawatir dengan keadaan
Qiandra.
“Kita harus segera mengatasi ini, Qiandra harus bisa
mengatasi traumanya, ini tidak baik untuk kandungannya. Dia tidak bisa beristirahat dengan baik,
bahkan dibawah pengaruh obat pun dia tetap mengigau” sahut dokter Albert dengan tegas. “Sebaiknya
dia segera dibawa ke psikiater untuk mengatasi traumanya” lanjutnya lagi.
Dean hanya terdiam, dia menatap wajah istrinya lalu perlahan
dia mengusap air mata di pipi wanita itu. Ada perih yang terasa dalam hatinya saat melihat penderitaan wanita yang
sangat dicintainya itu. “Cari psikiater
terbaik, tapi rahasiakan semuaya, bawa dia kemari agar dia bisa memeriksa Qiqi,
jangan sampai ada yang tahu, aku mengkhawatirkan keselamatan Qiqi” akhirnya
__ADS_1
Dean menyetujui saran dokter Albert.
“Besok aku akan membawanya” sahut dokter Albert.