
Dika akhirnya memutuskan untuk meninggalkan penjara itu dan melangkah menuju ke mobil mewahnya yang terparkir di depan kantor polisi. Sementara Daniel yang melihat kepergian Dika hanya tersenyum sendu. “Kamu masih belum mengenalku, Dika, kamu masih begitu polos dan mudah tertipu. Hah, hanya orang bodoh yang mengatakan kalau hidup di penjara itu baik baik saja. Tapi aku berharap kamu bisa membuat keputusan terbaik setelah melihatku dalam keadaan seperti ini. Satu hal yang sangat aku inginkan adalah kamu mau memaafkan diriku yang sudah berulang kali melukai adikmu” desis Daniel dalam hatinya.
Daniel melangkah menuju ke ruang tahanannya yang memang disediakan khusus hanya untuk satu orang. Yah, walaupun tidak bisa bebas dari penjara, tapi setidaknya orang tetap memperlakukan Daniel dengan hormat. Lagipula kesalahan yang dilakukan oleh Daniel hanya karena dia begitu mencintai seorang wanita yang sayangnya sudah menjadi milik orang lain.
Jadi, Daniel hanya dikategorikan sebagai narapidana biasa. Lagipula semua orang tahu siapa Daniel Putra Mahardika, semua orang sudah menduga kalau dia tidak akan lama mendekam di sana. Jadi, bukannya menyiksa Daniel, sebagian sipir malah berebut untuk menarik perhatian Daniel.
Sementara Daniela sendiri, masih seperti sikapnya biasanya, dingin dan arogan. Dia tidak perduli dengan semua sikap orang orang itu, dia bahkan tidak berbicara apa apa kepada siapa pun. Jadi, jika tadi dia bersikap sangat bahagia, hal itu hanyalah dilakukannya di hadapan Dika. Daniel benar benar tidak ingin membuat Dika merasa terbeban dan harus segera mengeluarkan dirinya. Daniel sangat tahu resiko yang harus dihadapi, apalagi berhubungan dengan keluarga Zacharias.
Oleh sebab itu, Daniel ingin Dika berpikir bahwa Daniel baik baik saja selama berada dalam penjara. Dan Daniel sendiri memang ingin menenangkan dirinya, dia tahu jika dia berada di luar maka akan banyak pertanyaan yang mengejar dirinya. Setidaknya untuk beberapa saat Daniel ingin mengasingkan diri dulu. Lagi pula penjara ini ternyata tidak begitu buruk, Daniel merasa ini sudah cikup baik untuknya.
Daniel lebih banyak menghabiskan waktunya untuk merenung ulang dan memikirkan kembali semua perjalanan hidupnya. Terutama bagaimana setiap kisah cintanya yang selalu berakhir tragis. Daniel berusaha memikirkan mengapa dia tidak bisa mendapatkan cinta sejati, dimana letak kekurangan dan kesalahannya.
Daniel merasa dia telah berjuang dengan sangat keras untuk meraih cinta sejatinya. Mulai dari Resti yang berakhir dengan pengkhianatan wanita itu. Lalu Qiandra, wanita yang diyakini Daniel akan sangat setia dan tidak akan mengkhianati dirinya. Namun, pada kenyataannya, setelah bertahun tahun bersama dengan Qiandra, Daniel tetap tidak bisa meluluhkan hati wanita itu.
Dua kali Daniel nekat mengambil jalan pintas untuk bisa mendapatkan Qiandra. Namun semuanya berakhir dengan kehilangan Qiandra, bahkan semakin jauh lagi. Hingga saat ini, Daniel sudah benar benar pasrah dan menyerah untuk memperjuangkan cinta wanita itu. Meski sulit, tapi Daniel tidak ingin lagi melukai dirinya sendiri dan Qiandra lagi.
Daniel menatap tembok yang menjadi dinding pembatas dirinya dengan dunia luar dalam kehampaan. Sungguh, saat ini Daniel benar benar merasa kehilangan arah dan tujuan hidupnya. Daniel memang sengaja ingin menyendiri diantara tembok penjara ini, karena jika dia mau, bukanlah hal sulit baginya untuk pergi dari penjara ini.
Daniel sedang berusaha memahami jalan hidupnya, dia juga ingin berusaha kembali menata kehidupannya. Daniel menyadari kalau dia telah kehilangan banyak tahun dalam hidupnya untuk mengejar cintanya. Namun, tidak bisa dipungkiri kalau cinta itu juga yang membuat dia begitu bersemangat. Daniel ingin benar benar menutup pintu hatinya, dan tidak lagi memikirkan tentang hati.
Kehilangan Qiandra untuk yang kesekian kalinya membuat trauma yang begitu besar dalam hati laki laki tampan itu. Daniel merasa tidak lagi mempunyai keinginan untuk memiliki seorang wanita dalam hidupnya. Mungkin sudah menjadi takdirnya untuk menjalani hidup sendiri tanpa ada pendamping dalam hidupnya.
Memikirkan semua itu, benar benar membuat hati dan pikiran Daniel menjadi lelah. Hingga dia akhirnya perlahan memejamkan matanya, dan berusaha mencari ketenangan dalam lelapnya. Daniel menikmati kesepian dan ketenangan yang ada disekelilingnya dan membiarkan pikirannya menemui sang kedamaian.
__ADS_1
Sementara itu, Dika yang begitu penasaran dengan kode yang diberikan oleh Daniel segera mengarahkan mobilnya menuju mansion mewah sang sahabat. Tanpa ada kesulitan, Dika bisa melewati penjagaan ketat di depan mansion mewah itu. Karena semua bodyguard yang ada di sana sangat mengenal Dika sebagai bayangan dari Daniel.
Saat masuk ke dalam mansion, Dika melihat hanya ada beberapa pelayan yang sedang melakukan tugasnya seperti biasanya. Dika tidak menghiraukan mereka, melainkan langsung menuju ke arah lift yang membawa dirinya ke lantai tiga mansion mewah itu, dimana kamar utama tempat Daniel berada.
Lagi lagi Dika tidak mengalami kesulitan baik untuk menggunakan lift dan memasuki kamar Daniel yang semuanya memang menggunakan password. Dika memang mempunyai akses penuh terhadap mansion Daniel, wewenangnya bahkan sama dengan sang pemilik mansion itu sendiri. Karena itu, Dika cukup terkejut saat ada tempat tersembunyi dalam ruang penyimpanan Daniel.
Karena ruang penyimpanan Daniel adalah hasil karya dan didesign oleh Dika sendiri. Dan seingat Dika, tidak ada sama sekali brankas seperti yang dikatakan oleh Daniel itu. Karena itu, Dika menjadi benar benar penasaran saat Daniel mengatakan keberadaan brankas itu.
Dika masuk ke dalam kamar Daniel dan langsung menuju ke ruang penyimpanan yang tersembunyi di belakang sebuah lemari buku besar di kamar itu. Hanya Dika dan Daniel yang mengetahui keberadaan ruangan itu berikut password untuk masuk ke dalam ruangan itu. Karena itu, Dika bisa langsung membuka ruang penyimpanan itu.
Setelah berada dalam ruang penyimpanan Dika memandang ke sekeliling ruangan yang dipenuhi dengan emas batangan dan surat surat berharga lainnya. Dika berusaha memperhatikan dimana letak brankas yang dimaksud oleh Daniel. Berbagai perhiasan mewah yang tersusun rapi dalam ruangan itu sama sekali tidak menjadi fokus seorang Dika.
Sudah cukup lama Dika menelisik seluruh ruangan itu, namun dia sama sekali tidak menemukan brankas yang dimaksud oleh Daniel. Hingga akhirnya matanya terpaku pada sebuah figura besar yang menampilkan seraut wajah cantik. “Qiandra, ….” desis Dika saat mengenali wanita cantik itu.
Dika segera menekan angka angka yang diberikan oleh Daniel tadi, dan setelah terdengar bunyi “klik” panel itu segera terbuka. Dika melihat sebuah lemari berkas saat panel itu sudah terbuka. Perlahan Dika menjulurkan tangannya dan mengambil semua berkas itu dengan hati hati. Setelah itu, Dika membawa semua berkas itu ke sebuah meja kerja yang tersedia di ruang penyimpanan milik Daniel.
Dika perlahan membuka berkas berkas itu satu per satu. Dimulai dari berkas kepemilikan Daniel pada sebuah kelompok mafia yang sebenarnya sudah diketahui oleh Dika. Namun, Dika cukup terkejut saat melihat seberapa banyak anggota kelompok mafia milik Daniel itu. Dika juga cukup terkejut saat melihat sejumlah asset milik Daniel yang tidak terdaftar atas nama Mahardika. Lebih terkejut lagi saat menemukan sebuah berkas kepemilikan sebuah pulau lengkap dengan villa mewah yang dibuat atas nama Qiandra Zwetta Aldrich atau Felicia Kenrich Hamilton.
Dika mempelajari berkas itu, dan dia baru menyadari kalau pulau dan villa yang dimaksud itu adalah pulau dan villa tempat Daniel membawa Qiandra kemaren. “Astaga, pantas saja aku sama sekali tidak mengetahui tentang pulau dan villa ini, jika Daniel sudah membuatnya atas nama Qiandra, bahkan dia melengkapi dengan nama asli Qiandra” desis Daniel.
Dika beralih pada berkas berikutnya yang berisi sebuah buku catatan. Saat membuka buku itu, Dika menemukan sebuah liontin. Dika mengernyitkan keningnya berusaha mengingat dimana dia pernah melihat liontin itu. Dika merasa sangat familiar dengan liontin yang dibuat dengan bentuk sangat unik itu. Namun, sayangnya Dika sama sekali tidak ingat dimana dia pernah melihat liontin itu.
Dika akhirnya memutuskan untuk mencari tahu dengan membuka buku catatan yang terlihat masih sangat rapi itu. Dika mulai membuka lembar demi lembar buku catatan itu, dan betapa terkejutnya dia saat mengetahui kalau liontin yang ada ditangannya saat ini adalah barang yang dititipkan daddynya pada Daniel, saat sang daddy meregang nyawa.
__ADS_1
Awalnya, Dika merasa marah dalam hatinya pada Daniel muda yang tidak berani berbuat apa apa saat itu. Namun, saat dia membuka dan membaca lebih lanjut, dia bisa mengerti kalau Daniel saat itu juga ketakutan dan untuk anak seusia Daniel, tentu saja dia masih belum bisa memutuskan apapun. Dika juga kembali teringat saat anak buah Lee mengatakan kalau ayahnya meninggal di rumah sakit Mahardika. Ingatan itu membuat Dika yakin kalau memang apa yang ditulis oleh Daniel itu memang kenyataan yang dihadapi Daniel kecil saat itu.
Sempat terbersit dalam pikiran Dika, bagaimana mungkin seorang laki laki seperti Daniel memiliki catatan yang terlihat seperti sebuah diary itu. Namun, Dika segera teringat kalau Daniel memang tidak punya siapapun dulu, sebelum ada dirinya. Sehingga, sepertinya Daniel muda hanya bisa berbagi cerita melalui goresan penanya saja.
Namun, alasan yang ada dalam otak Dika kembali terbantah, saat Dika menemukan Daniel masih terus mengisi catatannya dalam buku itu. Karena dalam buku itu juga Daniel menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Dika serta perasaannya yang benar benar menganggap Dika sebagai saudaranya. Bahkan Dika juga sempat tersenyum saat membaca kalau Daniel muda sempat meragukan dirinya.
“Aku sangat senang dengan keberadaan Dika disisiku, aku merasa sangat lengkap karena sudah memiliki saudara yang selalu ada dimanapun aku berada. Tapi, apa Dika juga menganggap aku sebagai saudaranya, ataukah semua ini dilakukannya hanya agar dia bisa bertahan hidup. Entahlah, tapi apapun alasannya aku tetap berharap Dika akan tetap menganggap aku saudaranya, bagaimana pun situasi yang akan kami hadapi kelak” tulis Daniel menutup kisah di lembaran itu.
Dika menghembuskan nafas berat, “Ternyata, sudah sejak awal dia selalu menyanyangi diriku. Sayangnya, saat itu tujuan hidupku memang hanya membalas dendam saja, dan sekarang pun, aku hidup hanya untuk membalas jasa keluarga Mahardika padaku. Aku sungguh tidak menyangka kalau Daniel sangat berharap aku benar benar menjadi saudaranya” desis Dika.
Dika terus membaca catatan itu, hingga pada kisah cinta Daniel dan Resti yang berakhir tragis dan membuat Daniel berjanji tidak akan mau mengenal wanita lagi. Dika mulai perlahan membaca saat Daniel mulai menceritakan pertemuannya dengan Qiandra.
“Wanita ini benar benar berbeda, aku dapat melihat dari matanya, dia satu satunya wanita yang tidak memperlihatkan mata terpesona saat bertemu denganku. Dia bahkan tidak menghiraukan sekelilingnya, sepertinya suaminya itu benar benar menjadi pusat diri dan hidupnya” tulis Daniel. Dika hanya tersenyum membaca tulisan itu, Daniel benar benar seperti anak remaja yang sedang dimabuk cinta pada pandangan pertama.
Mulai dari lembaran itu, Dika semakin banyak menemukan pujian untuk seorang Qiandra dari Daniel yang ternyata secara diam diam terus memantau kehidupan wanita itu. Mulai dari rasa kagum yang ditunjukkan Daniel dengan tulisannya, hingga semakin jauh sepertinya Daniel benar benar semakin terobsesi pada Qiandra yang sudah memiliki suami itu.
“Tidak akan ada wanita seperti Qiandra di dunia ini, dia benar benar wanita sempurna. Tapi mengapa dia harus menikah dengan Charles, sementara keluarga suaminya itu sangat membenci dirinya. Sepertinya aku harus menyelamatkan Qiandra, aku tidak akan membiarkannya menderita seumur hidupnya karena laki laki yang bahkan tidak bisa membela dirinya itu” tulis Daniel lagi.
“Astaga, mengapa dia sampai berpikir menyelamatkan Qiandra dari suaminya sendiri” desis Dika lagi. “Atau jangan jangan …....” rasa penasaran membuat Dika segera membalik halaman buku itu.
“Qiandra tidak akan pernah mau meninggalkan laki laki itu. Dia benar benar wanita yang patut diacungi jempol dalam hal kesetiaan. Bahkan kehadiranku sekali pun tidak menggoyahkan hatinya, dia benar benar tidak perduli pada laki laki lain selain suaminya. Jika demikian maka satu satunya cara aku untuk menyelamatkan Qiandra hanya dengan memisahkan dia dari suaminya, jika tidak bisa dalam keadaan hidup, maka kematian mungkin akan lebih mudah” tulis Daniel yang membuat Dika sedikit bergetar memegang buku catatan itu.
Dika perlahan kembali membuka lembaran dari buku catatan itu, keringat dingin membasahi dahi laki laki tampan itu. “Tidak, jangan, jangan, aku tidak mau hal itu terjadi” desis Dika dengan resah. Sebenarnya hatinya menolak untuk mengetahui lebih lanjut, namun rasa ingin tahunya membuat tangannya bergerak untuk tetap membuka lembaran buku catatan Daniel itu.
__ADS_1
“Maafkan aku, Qiandra, sebenarnya aku hanya ingin menghabisi Charles, tapi bayi dalam rahimmu akan membuat kamu tetap terikat pada bayang bayang suamimu. Aku berjanji akan memberikan anak anak yang jauh lebih lucu dari bayi kecilmu itu. Aku harap kamu bisa melupakan semua kejadian ini, aku akan selalu ada di sampingmu dan akan terus menjagamu, bagaimana pun keadaanmu dan berapa pun waktu yang kamu perlukan untuk melewati masa ini” tulis Daniel.