
“Nona Andra….” tiba tiba Qiandra mendengar suara memanggil dirinya, dia segera menoleh dan menyadari kalau Jossie sudah mulai sadar.
“Love, tolong panggil dokter” seru Qiandra, lalu dia bergegas mendekati Jossie, “Hai, gadis kecilku, selamat datang kembali” ucapnya dengan lembut seraya menggenggam tangan Jossie.
“Nona, maafkan aku, aku…..” Jossie tidak mampu melanjutkan kata-katanya.
“Shtttt, jangan banyak bicara, kamu baru saja bangun dari tidur panjangmu” ucap Qiandra dengan lembut. Dokter Albert dan dokter Jimmy segera masuk ke dalam ruangan itu dan mulai memeriksa keadaan Jossie. Setelah
beberapa saat, kedua dokter itu tersenyum puas.
“Sepertinya semuanya stabil, nona Jossie sudah melewati masa kritisnya, jadi sekarang hanya tinggal pemulihan saja” ucap dokter Jimmy dengan bahagia, sejujurnya dokter Jimmy sedikit merasa khawatir jika ada masalah lain dengan pasiennya kali ini. Karena dia menangani pasien ini di hadapan seorang dokter hebat dan juga seorang pesohor dunia.
Qiandra bernafas lega, “Syukurlah, kalau begitu, terima kasih banyak Dok” ucap Qiandra dengan wajah bahagia.
Jossie perlahan mulai menggerakkan kakinya, saat dia merasa ada yang tidak beres dengan kakinya, Jossie menatap ke arah Qiandra dan kedua dokter itu. Qiandra mengerti arti tatapan mata Jossie, dia mendekati gadis itu dan membelai rambutnya dengan lembut.
“Kakimu cidera, Joss, tapi hanya untuk sementara, asalkan kamu mau menjalani theraphy, maka semuanya akan baik-baik saja” ucap Qiandra dengan lembut, dia tidak ingin Jossie menjadi panik.
Jossie hanya menarik nafas berat, “Maafkan aku, Nona Andra, aku benar-benar merepotkan dan menambah beban Anda” ucapnya dengan suara sendu penuh rasa bersalah. Jossie tidak menyesali apa yang terjadi pada dirinya, dia sadar itu resiko dari hobby ekstrimnya. Tapi, Jossie merasa sangat tidak nyaman karena sudah membuat bos cantiknya itu kerepotan.
“Jangan pikirkan itu, Joss, lagipula musibah yang menimpamu sudah membuat aku menemukan calon kakak untukmu” ucap Qiandra dengan senyum penuh misteri, dia berusaha mengalihkan penyesalan dan kesedihan Jossie dengan menghibur gadis mungil itu.
“Maksudn Nona” tanya Jossie kebingungan dengan perkataan Qiandra. Qiandra berbalik dan melambaikan tangannya ke arah Dean yang sejak tadi hanya berdiam diri.
“Jossie, kenalkan ini…..” belum sempat Qiandra menyelesaikan kata-katanya, Jossie sudah berseru karena terkejut.
“Dean Walt Zacharias, astaga aku tidak sedang bermimpi kan Nona, bisa bertemu langsung dengan Tuan Dean, ya ampun, ini, ini….” Jossie terlihat sangat antusias.
“Hei, hei, tenanglah adik kecil, mulai sekarang saat kamu bersama dengan kakakmu ini, maka kamu juga akan selalu bersama denganku” ucap Dean dengan ramah, namun membuat Jossie kembali membualatkan matanya.
__ADS_1
“Ma-maksud Anda, Tuan..” tanya Jossie, namun sesaat kemudian matanya berbinar, “Apakah telah banyak kejadian yang aku lewatkan, Nona, oh, astaga aku harus segera bisa berjalan agar aku bisa menjadi bridal maidmu, Nona” serunya lagi penuh dengan kebahagiaan.
“Hush, masih jauh, Joss, ini juga baru ketemu, masa kamu sudah mikir bridal segala” kekeh Qiandra.
“Kurasa kamu benar, adik kecil, kamu harus giat berlatih, karena tidak lama lagi kamu memang harus menjadi bridal maid kakakmu ini, atau kamu mau jadi bridal maid di kursi roda saja” sahut Dean memberi semangat pada Jossie.
Qiandra membelalakkan matanya mendengar kata-kata Dean, yang secara tidak langsung mengatakan kalau mereka tidak lama lagi akan menikah. Jossie terlihat benar-benar sangat antusias, dia bersemangat sekali mendengar berita bahagia itu.
“Tentu saja, Tuan, bila perlu mulai besok, aku akan mulai melakukan theraphy” ucap Jossie penuh semangat.
“Maaf, Nona Jossie, tapi theraphy Anda baru bisa dimulai setidaknya tiga sampai empat minggu lagi, menunggu sampai kaki Anda benar-benar pulih” dokter Albert mengingatkan kondisi kaki Jossie.
Jossie menatap dokter Albert, keningnya berkerut dalam, “Sebentar, sebentar, bukankah Anda ini…. astaga, Anda dokter Albert kan, jadi Anda yang menangani saya, ya ampun, Nona Andra saya rasa musibah ini bukanlah sebuah musibah, tapi berkah” seru Jossie yang baru menyadari kehadiran dokter Albert.
Jossie merupakan salah satu wanita yang sangat mengidolakan Dean Walt Zacharias, dan segala hal yang berkaitan dengan laki-laki itu juga diketahuinya, termasuk dokter hebat yang selalu berada di sisi Dean, yaitu dokter Albert. Sesaat matanya terlihat menyapu semua wajah orang yang ada di ruangan itu, dia sedikit mengernyit saat melihat dokter Jimmy.
“Oh, iya, terima kasih banyak, Dok, maaf jadi merepotkan Anda” ucap Jossie penuh hormat.
Dokter Jimmy tersenyum lembut, “Jangan sungkan, Nona, sudah menjadi tugas kami” ucapnya dengan hangat, wajah cantik wanita yang menjadi pasiennya itu memang sudah membuat dokter muda ini merasa betah berlama-lama berada di ruang perawatan Jossie.
Mata Jossie masih terlihat mencari-cari diantara semua orang yang ada dalam ruangan itu. “Hei, kamu sedang mencari siapa?” tanya Qiandra yang menangkap gelagat tatapan mata mencari Jossie.
“Eh, itu, anu, apa asisten Tuan Dean juga ada” ucap Jossie dengan malu-malu.
“Ah, ha ha ha ternyata kamu mencari Vian, sepertinya kamu sangat mengenal kami bertiga adik kecil” kekeh Dean saat mendengar siapa yang dicari oleh Jossie. “Dia tidak ikut, karena harus menghandle pekerjaan kami disana, kenapa, Adik Kecil, apa kamu juga ngefans dengan Vian, hmmm” Dean menggoda gadis muda itu dengan mata jenaka.
Wajah Jossie seketika merah merona, “Bu-bukan begitu Tuan Dean, soalnya kan kalian bertiga itu selalu bersama, hampir tidak pernah aku melihat Anda bertiga terpisah, apalagi Anda dan asisten Vian, sudah seperti surat dan perangko saja” sahut Jossie berusaha menutupi rasa malunya.
“Ternyata kamu benar-benar mengikuti semua tentang aku, ya, hmmm apa ini perintah kakakmu yang cantik ini” tanya Dean seraya merangkul pinggang ramping Qiandra, membuat wanita itu terpekik.
__ADS_1
“Love…..” seru Qiandra yang terkejut karena Dean tiba-tiba merengkuh tubuhnya dihadapan semua orang yang ada di situ.
“Tentu saja tidak, Tuan, Nona Andra malah selalu mentertawakan aku jika aku menceritakan apapun tentang Anda dan juga tentang tuan Daniel” sahut Jossie dengan polosnya.
“Daniel?, jadi Nonamu ini juga membicarakan tentang Daniel” tanya Dean dengan kening berkerut.
“Eh, ti-tidak, Tuan, kan di pemberitaan selalu Anda dan Tuan Daniel yang bersaing dalam segala hal” sahut Jossie, dia segera menyadari kesalahannya yang telah menyebut nama Daniel di hadapan Dean.
“Begitu ya” desis Dean di telinga Qiandra, membuat wanita itu hanya bisa memutar bola matanya. Qiandra tahu, pasti laki-laki ini merasa cemburu kalau sampai tahu Qiandra membicarakan tentang Daniel dengan Jossie.
“Ya, sudah, sebaiknya kamu beristirahat saja dulu, Joss, kamu baru sadar tapi malah berbicara terus dari tadi, gimana bisa cepat sembuh” ucap Qiandra seraya memperbaiki selimut Jossie.
“Habisnya, saat membuka mata, kok aku disajikan dengan pemandangan yang luar biasa, Nona” sahut Jossie.
“Istirahat saja dulu, Adik Kecil, kamu akan terbiasa juga kok melihatnya nanti, karena setiap hari kamu pasti akan melihat semua ini” ucap Dean dengan senyum smirknya.
“Anda benar, Tuan, kalau Anda sudah menikah dengan Nona Andra, pastilah aku akan selalu bersama dengan kalian. Eh, tapi apa Nona Andra akan tetap berada di kota kecil itu kalau sudah menikah dengan Anda, jangan-jangan Anda malah membawa Nona Andra semakin jauh dariku” ucap Jossie dengan penasaran.
“Jossie, sudah, jangan kebanyakan pikiran, istirahat saja sekarang” ucap Qiandra dengan tegas, membuat gadis muda itu langsung segera membaringkan tubuhnya.
“Baiklah, Nona, selamat malam semuanya” ucap Jossie menuruti kata-kata Qiandra, lalu dia perlahan menutup matanya. Dokter Jimmy dan dokter Albert segera pamit undur diri dan meninggalkan ruang perawatan Jossie.
Dean menuntun Qiandra dan mengajaknya kembali duduk di sofa besar yang ada di ruangan perawatan itu. Sofa itu cukup besar sehingga cukup untuk tempat berbaring dua orang. “Istirahatlah, honey, biar aku yang menjaga Jossie” ucap Dean lembut.
“Terima kasih, love, aku baik-baik saja, kamu yang pasti lelah, pergilah beristirahat di hotel, disini bisa membuat badanmu pegal” ucap Qiandra lembut.
“Kamu pikir aku datang ke sini untuk bersantai, honey, aku datang kesini untuk menemanimu, mendampingimu, aku tidak akan meninggalkanmu, sudahlah, berbaringlah disini, aku akan menjagamu” ucap Dean. Dia meraih tubuh Qiandra, dan meletakkan kepala wanita itu di atas pangkuannya.
Dengan penuh kasih Dean membelai lembut rambut wanita itu, membuat Qiandra yang merasa lelah segera terlelap dan tenggelam dalam dunia mimpinya. Dean tersenyum bahagia melihat wanita yang sangat dicintainya itu, terlelap dengan damai di pangkuannya. Perlahan dikecupnya kening Qiandra dengan penuh kelembutan, “Selamat malam, honey, mimpikan aku ya” bisiknya di telinga Qiandra.
__ADS_1