
Daniel menggeliat sebentar, merenggangkan tubuhnya yang terasa penat. Perlahan laki-laki tampan itu membuka matanya, dan dia segera bangun dengan terkejut. Daniel berusaha mengingat hal terakhir yang dilakukannya, seingatnya terakhir dia berada di markasnya dan masih duduk di kursinya. Lalu bagaimana bisa dia sekarang sudah berada di dalam kamar yang sangat dikenalinya kalau itu berada
di apartemennya.
Daniel masih berusaha mengingat apa yang sudah terjadi dan terlewat olehnya, tapi dia masih tidak bisa mengingat apapun juga. Daniel perlahan menjulurkan kakinya, dia
ingin turun dari tempat tidur besar itu dan mencari tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, dan saat Daniel menoleh, dia semakin terkejut ketika melihat asisten Dika membawa nampan yang berisi makanan dan minuman untuknya. “Sebaiknya Tuan tidak turun dari tempat tidur, jika tidak ingin merasakan efek yang lebih
parah lagi” ucap asisten Dika seraya melangkah masuk ke dalam kamar Daniel.
Daniel hanya mendengus mendengar ucapan asisten Dika, dia bahkan mengacuhkan perkataan sang asisten. Daniel menyibak selimut tebal yang membungkus tubuhnya dan bangun dari tempat tidurnya. Daniel berusaha untuk berdiri, namun saat dia akan melangkahkan kakinya, laki-laki itu bisa merasakan kalau seluruh tubuhnya menjadi lemas. Dan tanpa sempat dia berpegang pada apapun, tubuhnya kekarnya limbung, sehingga hampir saja kepalanya membentur ujung nakas di samping tempat tidurnya.
Untungnya, sepasang tangan yang tegap segera menopang tubuh Daniel, sehingga tubuh tegap laki-laki itu tidak sampai ambruk ke lantai dan menghantam nakas yang ada di dekat tempat tidurnya. “Tuan, mengapa begitu sulit bagi Tuan untuk mendengarkan permintaan saya, apakah hal yang saya minta pernah membuat Tuan celaka” asisten Dika berbicara dengan sedikit gusar pada Daniel.
Asisten Dika menuntun tubuh Daniel dan mendudukkannya di atas tempat tidur besar yang ada di tengah ruangan mewah itu. Daniel hanya mendesah, dia tidak mampu berkata-kata apalagi membantah perkataan asisten Dika. Daniel hanya perlahan membaringkan tubuhnya kembali ke tempat tidur sambil tangannya memijit kepalanya yang kembali
terasa pening.
“Duduklah, Tuan, Anda harus segera makan, kemudian minum obat agar tubuh Anda kembali segar, tolong jangan bergerak dulu dari tempat tidur, jika ada yang Tuan butuhkan panggil saja saya, Tuan tahu kalau sangat
beresiko jika Tuan bergerak dalam kondisi seperti ini ” asisten Dika membawa meja kecil ke samping tempat tidur Daniel. Kemudian asisten Dika membantu Daniel untuk duduk, lalu meletakkan meja kecil itu di hadapan Daniel dan menempatkan nampan yang berisi makanan tadi di atas meja itu.
Daniel sebenarnya tidak mau bangun, dia merasa ingin tetap dalam posisi berbaring saja, namun tubuhnya benar-benar tidak mampu melawan saat asisten Dika membantunya untuk duduk. Perlahan Daniel memasukkan bubur yang sudah disiapkan oleh asisten Dika
ke dalam mulutnya. Walaupun dia sangat
tidak menyukai makanan itu, tapi Daniel tidak mau asisten Dika kembali mengomeli
dirinya. Baru beberapa sendok bubur itu
masuk ke dalam mulutnya, Daniel sudah merasa perutnya bergelora.
Dengan sigap asisten Dika menarik meja kecil di hadapan Daniel dan menggantinya dengan sebuah waskom kecil. Daniel merasakan perutnya benar-benar berputar, “Hoek….” akhirnya Daniel mengeluarkan isi perutnya. Asisten Dika memijit punggung Daniel dengan
perlahan, lalu dia menyerahkan sekotak tissue kepada Daniel.
Setelah melihat Daniel sudah cukup tenang, asisten Dika segera mengambil waskom itu dan mengantarnya ke kamar mandi. Kemudian, asisten Dika kembali mengangkat meja kecil tempat makanan Daniel tadi. “Makanlah kembali dengan perlahan Tuan, Anda tidak akan bisa minum obat jika tidak ada makanan yang masuk ke dalam tubuh Anda” ucap asisten Dika.
Daniel hanya bisa mendesah kasar, Daniel sangat tahu kalau dalam hal ini asisten Dika tidak akan bisa diajak kompromi. Asisten Dika adalah satu-satunya orang yang sangat mengetahui kondisi fisik Daniel, dia sangat tahu kalau presidir yang terkenal dingin dan kejam itu tidak tahan mengkonsumsi minuman beralkohol dalam jumlah berlebih. Daniel akan terbaring tak berdaya bahkan bisa jatuh sakit hingga berhari-hari, jika tidak segera diobati.
Jadi jika sudah terlanjur dalam kondisi seperti saat ini, Daniel tidak akan mau membantah apapun yang diperintahkan oleh asisten
Dika. Daniel tahu kalau asisten Dika pasti mempersiapkan dan memberikan yang terbaik dalam melayani dirinya. Karena itulah walaupun enggan melakukan perintah asisten Dika, Daniel tetap melakukannya dengan perlahan.
Lima belas menit kemudian bubur yang disiapkan oleh asisten Dika didalam mangkok sudah tandas dinikmati oleh Daniel. Karena walaupun Daniel tidak berselera, tapi rasa lapar di perutnya membuat presedir tampan itu mampu menghabiskan satu mangkok bubur yang disiapkan asistennya. Saat asisten Dika melihat Daniel telah meletakkan sendoknya, dia segera mengambil mangkok bubur itu, lalu meletakkan piring kecil berisi beberapa butir
tablet dan segelas air putih.
__ADS_1
Daniel segera mengambil tablet-tablet itu dan menelannya sekaligus, dan saat dia sudah selesai minum, asisten Dika segera mengangkat meja kecil di hadapan Daniel. Daniel perlahan membaringkan tubuh kekarnya kembali ke tempat tidur, dan dengan sigap
asisten Dika membantunya berbaring lalu merapikan selimut yang menutupi tubuh Daniel.
“Tidurlah, Tuan, saat Anda bangun nanti Anda akan merasa jauh lebih baik” ucap asisten Dika. Kemudian asisten Dika mengangkat meja kecil tadi dan membawanya keluar kamar Daniel. Namun sebelum dia keluar, terlebih dulu asisten Dika mematikan lampu kamar Daniel.
Daniel yang semula sudah memejamkan matanya, kembali membuka matanya dan menatap punggung asisten Dika. Sesaat Daniel mendesah perlahan, tangannya menyugar rambutnya dengan perlahan. “Hah, aku tidak tahu bagaimana aku tanpa dirimu, Dika, aku begitu banyak berhutang budi padamu. Tidak ada orang yang sesetia dirimu, dan inilah yang membuat aku tidak mampu mengungkap kebenaran yang selama ini hanya aku sendiri yang mengetahuinya. Maafkan aku, Dika, bukan aku tidak menghargai semua yang sudah kamu lakukan untukku, tapi aku tidak mampu kehilangan dirimu. Aku tidak bisa apa-apa tanpa kamu, maafkan aku” desis Daniel dalam hatinya.
Presidir tampan yang membuat banyak wanita tergila-gila padanya itu, perlahan kembali menutup matanya. Rasa lelah dan rasa pening yang masih tersisa di tubuh atletis laki-laki
itu membuatnya segera terhanyut dalam alam mimpi.
Saat Daniel membuka mata, dia melihat seorang laki-laki paruh baya terbaring dalam keadaan sekarat diatas sebuah brankar rumah
sakit. “Tuan, Tuan tolong anak-anakku,
selamatkan mereka” seru laki-laki itu sambil berusaha menggapai Daniel.
Daniel muda melangkah perlahan mendekati laki-laki paruh baya itu, dan saat dia telah berdiri di dekat laki-laki itu, tanggannya di raih
oleh laki-laki itu. Lalu laki-laki itu mengambil selembar foto dari bawah bantalnya dan meletakkannya di tangan Daniel dengan gemetar. Daniel menatap foto itu, terlihat dua orang anak yang sedang tersenyum bahagia sedang bermain ayunan.
“Tuan, to…..tolong pertemukan mereka, itu nama mereka dan ini, dalam liontin ini aku telah menyimpan sampel rambut dan darahku. Jika suatu saat diperlukan saat kamu mempertemukan mereka, ini akan membuktikan kalau mereka bersaudara. Tuan, aku mo…..hon….” ucap laki-laki paruh baya itu.
Dan belum sempat Daniel mengatakan apapun, tangan laki-laki itu jatuh terkulai, bahkan Daniel belum sempat meraih kalung beserta liontin
yang diberikan laki-lakin itu. Daniel terkejut saat mendengar kegaduhan di luar ruangan, dia segera meraih kedua barang yang diserahkan oleh laki-laki itu tanpa pikir panjang. Kemudian Daniel muda bergegas meninggalkan ruangan itu, sebelum suara gaduh diluar masuk ke dalam ruangan itu.
kekejaman terhadap Anda” ucap laki-laki itu dengan kejam dan dingin.
Perlahan tangan laki-laki itu terangkat, dan Daniel bisa melihat sebuah pistol yang digenggam laki-laki itu yang dengan perlahan
diarahkan padanya. “Tidak, tidak, tidak,
jangan lakukan itu, aku sungguh tidak bermaksud menyakiti dirimu, maafkan aku,
maafkan aku” seru Daniel dengan menangkupkan kedua telapak tangannya didepan dadanya.
“Hah, beri saya satu alasan yang bisa menjelaskan kalau perbuatan Anda itu bisa dibenarkan dan memang bukan untuk menyakiti saya, sebelum saya kehilangan kesabaran saya, saya masih memberi Anda kesempatan untuk menjelaskan, karena saya masih menghargai Anda” ucap laki-laki muda itu masih dengan pistol yang mengarah pada kepala Daniel.
Daniel merasakan kedua lututnya tiba-tiba menjadi goyah, bukan pistol itu yang membuatnya merasa lemah. Tapi pengakuan yang diminta oleh laki-laki itu, adalah hal terberat yang harus dilakukannya selama hidupnya. Daniel tersungkur tanpa mampu menyangga tubuhnya lagi, kedua lututnya
bersimpuh di lantai dengan kepala tertunduk lemah.
Daniel tidak mengeluarkan suara sedikitpun, dia hanya tertunduk diam dan pasrah. Daniel tidak tahu harus mengatakan apa pada laki-laki yang terus menatapnya dengan penuh
kemarahan. Buliran air bening perlahan mengalir di wajah tampan sang presidir yang biasanya selalu terlihat angkuh dan kejam itu.
“Cepat bicara, sebelum kesabaranku habis” desis laki-laki yang terus mengarahkan pistolnya pada Daniel dengan nada penuh kemarahan. Terlihat jelas kalau laki-laki itu sangat marah, wajahnya mengeras dan memerah. Tangannya yang menggenggam pistol dengan erat terlihat bergetar, seakan
__ADS_1
berusaha menahan agar benda berbahaya itu tidak meledak dengan sendirinya.
Daniel hanya terdiam, dia menundukkan kepalanya tanpa mampu menatap ke arah pistol yang hampir menempel di kepalanya. Daniel seakan tidak perduli kalau benda hitam
dan dingin itu bisa meledak kapan saja dan memecahkan kepalanya hingga mengakhiri hidupnya dalam sesaat saja. Dia tidak mampu membuka mulutnya untuk mengeluarkan satu kata saja untuk membela dirinya, dia hanya pasrah saja.
Beberapa saat mereka terdiam dalam sunyi hingga sebuah suara yang memekakkan telinga memecah keheningan itu.
Dorrrr…..
Daniel terkejut luar biasa dan dia bisa merasakan tubuhnya seakan teratarik ke dimensi lain, “Selamat tinggal dunia, mungkin ini akhir dari hidupku” desis Daniel dalam hati. Dia hanya terdiam menikmati perjalanan waktu
yang seakan mengarahkan dirinya ke tujuan tanpa arah yang jelas. Daniel seakan pasrah pada keadaannya saat ini, dia tidak menolak pada apapun yang akan terjadi pada dirinya.
Saat Daniel terlarut dan terhanyut dalam alam bawah sadarnya, tiba-tiba dia mendengar kegaduhan yang membuatnya terusik. Perlahan kesadaran mulai menyentuh jiwa presedir tampan itu, hingga dia mulai membuka kedua matanya saat mendengar keributan
di luar ruangannya.
Sejenak Daniel mengernyitkan keningnya, setahunya tidak ada yang akan berani mengganggu saat istirahatnya apalagi di saat-saat seperti ini. Asisten Dika pasti selalu bersiaga di luar kamarnya, bahkan dia akan membawa pekerjaannnya dan mengerjakannya di depan kamar Daniel. Asisten Dika pasti
tidak akan membiarkan siapapun masuk dan mengganggu dirinya. Asisten Dika akan menempatkan banyak bodyguard di luar jika dia terpaksa harus meninggalkan apartemen mewah ini.
Daniel berusaha menajamkan pendengarannya, untuk memperhatikan keributan apa yang terjadi di luar ruanggannya. Tangannya perlahan menggapai sebuah pistol yang tersembunyi di tempat khusus di samping tempat tidurnya. Kemudian dia menyembunyikan senjata itu di balik selimutnya dalam posisi siaga. Daniel tidak keluar dari selimutnya, dia tetap tenang namun matanya memperhatikan pintu kamarnya dengan waspada.
Daniel berusaha memperhatikan suara keributan di luar kamarnya itu, namun dia tidak bisa mendengar dengan baik karena memang pintu kamarnya cukup tebal. Daniel tetap
menunggu, karena dia yakin asisten Dika ada di luar kamarnya untuk mengatasi setiap masalah.
Tidak berapa lama kemudian pintu kamar Daniel terbuka dengan perlahan, dan Daniel bisa melihat kalau yang membukanya adalah asisten Dika. Daniel sedikit merasa tenang saat mengetahui kalau asisten Dika memang ada di luar kamarnya dan mengatasi masalah
yang terjadi. Namun, ketenangan itu
hanya sesaat saja, karena saat asisten Dika akan menutup pintu kamarnya ada tangan lain yang menahan pintu itu.
Nafas Daniel tercekat saat melihat orang yang berani menahan pintu kamarnya, karena setelah Daniel, satu-satunya orang yang paling berkuasa adalah asisten Dika. Jadi, jika ada
orang yang berani menghalangi tindakan asisten Dika, tentu orang itu sangat
berpengaruh. Dan Daniel benar-benar
terkejut saat mengetahui siapa orang itu.
“Hei, saya belum memberi Anda ijin untuk masuk, harap sadari batasan Anda” seru asisten Dika dengan suara berat pada orang yang perlahan masuk ke dalam kamar Daniel. “Tuan, maafkan saya, saya bersedia menerima hukuman dari Anda, saya……” asisten Dika
terlihat sangat gusar saat berbicara pada orang itu, dia sekaligus juga merasa bersalah pada Daniel.
“Kenapa Dika, apa kamu takut aku akan mencelakai Tuanmu ini, hmmmm, apakah kamu tidak khawatir kalau justru Tuanmu ini yang akan mencelakai aku” ucap orang itu memutuskan kata-kata asisten Dika. Dia bahkan perlahan melangkah mendekati
tempat tidur Daniel, tanpa memperdulikan asisten Dika yang berusaha mencegahnya.
__ADS_1
“Kamu…… mau apa kamu kesini” desis Daniel dengan suara dingin, matanya menatap tajam pada orang itu.