
Daniel menemani Qiandra makan siang, dia
mengambil semua yang diinginkan oleh Qiandra, mulai dari makanan, hingga
minuman untuk Qiandra. “Daniel, bukankah
kamu juga belum makan” tanya Qiandra pada laki laki itu.
“Jangan khawatirkan aku, melihatmu makan dengan lahap saja aku sudah merasa senang dan langsung merasa kenyang” ucap Daniel
sambil terkekeh geli melihat Qiandra yang makan seperti orang kelaparan.
“Haish, maafkan aku, aku sungguh merasa lapar dan semua makanan yang disajikan tadi adalah makanan favoritku, maaf jika aku
menjadi khilap” sahut Qiandra dengan wajah bersemu menahan malu akibat kelakuannya yang makan seperti orang yang sudah lama tidak bertemu makanan.
“Tidak masalah, Qi, dan tentang menu tadi, aku memang sengaja menyiapkannya khusus untukmu. Aku sudah sangat hapal dengan semua menu favoritmu, dan selama disini
aku akan berusaha memenuhi semua keinginanmu” sahut Daniel dengan senyum tulus yang menghiasi wajah tampannya.
“Kamu sengaja ya ingin membuatku menjadi
gemuk” ucap Qiandra sedikit bercanda untuk mencairkan ketegangan dirinya.
“Ha ha ha, aku sungguh penasaran melihat
seorang Qiandra memiliki tubuh gemuk, karena selama aku mengenalmu, tidak pernah sekalipun aku melihat berat badanmu itu berubah, jika kamu menjadi gemuk kamu pasti akan semakin cantik dan seksi” tawa Daniel membahana di dalam kamar itu. Terlihat sekali wajah bahagia laki laki itu yang tidak dibuat buat sama sekali.
“Haish, mana ada wanita gemuk itu cantik”
sahut Qiandra.
“Kalian para wanita memang terlalu didoktrin
dengan pikiran bahwa tubuh kurus kerempeng itu yang cantik, padahal kecantikan seorang wanita bukan hanya dari penampilannya saja. Kecantikan seorang wanita dari fisiknya akan cepat hilang, tapi kecantikan dari dalam dirinya bukankah jauh lebih indah dan tidak hilang dimakan waktu” sahut Daniel dengan bijak.
Qiandra menatap laki laki itu, seakan tidak
percaya kalau seorang Daniel Putra Mahardika mempunyai pemikiran seperti
itu. “Tapi, tetap saja kalian para lelaki lebih dulu melihat penampilan kan sebelum melihat hati” sahut Qiandra.
“Yah, dalam hal itu, kurasa kamu benar, Qi,
pertama yang dilihat oleh seorang lelaki pasti adalah fisik wanita, akan tetapi saat kami ingin mengenal lebih jauh, maka hati dan pribadi seorang wanita akan menjadi prioritas kami” sahut Daniel.
“Halah, itu cuma akal akalan ucapan laki laki
saja, pada dasarnya jika seorang wanita tidak cantik dengan tubuh gemuk, kalian pasti tidak akan mendekatinya, bahkan melirikpun tidak” sahut Qiandra yang tetap ngotot dengan pendapatnya.
“Ku rasa kamu benar juga dalam hal itu, Qi,
tapi tahukah kamu, kriteria cantik bagi kami para lelaki itu berbeda beda. Dan jika semua lelaki hanya mencari wanita cantik, lalu bagaimana menurutmu dengan para wanita yang tidak cantik diluar sana, bukankah mereka tetap memiliki pasangan hidup. Itu artinya, pasangan mereka, para lelaki itu
tidak semata mata mencari wanita cantik kan” sahut Daniel lagi.
“Yah, itu mungkin karena mereka tidak bisa
mendapatkan wanita cantik” sahut Qiandra dengan asal karena sudah merasa terpojok. Sebenarnya Qiandra tahu kalau semua yang
dikatakan oleh Daniel itu benar adanya, namun dia hanya ingin membuang jenuhnya
dengan sedikit berdebat santai dengan laki laki itu.
“Hei, kenapa menjawab seperti itu, kamu
seperti bukan Qiandra si jago debat, apa karena kamu berusaha berdiri di sisi yang kamu sendiri tahu itu salah, hmmm” seru Daniel dengan lembut. Dia sangat mengenal Qiandra dan semua kemampuan wanita itu dalam berdebat pun Daniel sangat tahu.
“Hah, tidak, aku hanya mengatakan kenyataannya saja” sahut Qiandra.
“Apapun itu, Qi, bagiku kamu adalah wanita
yang sempurna dengan kecantikan luar dan dalam, jadi sekalipun kamu menjadi gemuk, jelek atau bagaimanapun keadaan fisikmu, hatimu yang begitu baik akan selalu membuatku terus dan terus jatuh cinta padamu” ucap Daniel sambil menatap dan mengunci manik mata wanita itu.
__ADS_1
Mata biru yang begitu indah dengan tatapan
lembut penuh cinta membuat Qiandra benar benar terpaku. Qiandra bahkan tidak mampu menolak saat Daniel meraih dan menggenggam jemarinya dengan lembut. “Aku mencintaimu, Qiandra, apapun dan
bagaimana pun keadaanmu, kamu tetap wanita terbaik yang pernah aku kenal seumur
hidupku” ucap Daniel dengan lembut.
Sesaat Qiandra sempat terlena oleh kata kata
manis Daniel, namun dia segera menyadarkan dirinya. Dengan perlahan Qiandra menarik tangannya dari genggaman Daniel, namun Daniel menggenggam tangannya dengan erat. “Dan, kamu tahu aku tidak akan mungkin bisa membalas perasaanmu, ku mohon jangan siksa dirimu dengan terus mencintaiku, dan tolong jangan memaksaku untuk bisa mencintaimu. Aku tidak akan bisa membagi hatiku untukmu, dan hal itu akan membuatmu terluka, dan aku sungguh tidak ingin seperti itu” ucap Qiandra dengan lembut.
Yah, jika memang dengan kata kata penolakan yang tegas tidak membuat Daniel berhenti mencintai dirinya. Maka Qiandra akan berusaha dengan cara lembut menolak laki laki itu, sama seperti Daniel yang berusaha dengan cara lembut menarik hati Qiandra.
“Aku akan terus berusaha, Qi, hingga batas
akhir nanti, aku tidak akan menyerah. Kamu tahu berapa lama aku sudah menunggumu, berapa lama aku menantikan kamu memberi kesempatan untukku. Jadi, sekarang aku tidak akan membuang kesempatan ini, jadi, biarkan aku untuk terus berusaha mengetuk pintu hatimu” ucap Daniel dengan suara pelan dan sangat lembut.
Seandainya bukan Qiandra, maka tidak akan ada wanita yang sanggup bertahan menghadapi semua kata kata romantis seorang Daniel Putra Mahardika. Seorang presidir kaya raya, tampan dan rupawan, mengucapkan kata kata romantis dengan selembut ini.
“Lakukanlah, jika itu bisa membuatmu merasa
puas, Daniel, tapi aku pastikan kamu tidak akan bisa mendapatkan apapun selain
kekecewaan. Dan aku sungguh tidak ingin
kamu merasakan kecewa dan sakit hati, karena aku tidak akan memberikan harapan
semu untukmu” sahut Qiandra
“Tidak mengapa, Qi, aku tidak akan menyalahkan kamu atas apapun hasil akhir dari perjuanganku ini. Bagiku, asal kamu mau memberiku kesempatan, itu sudah jauh lebih dari cukup” ucap Daniel menolak untuk menyerah seperti harapan Qiandra.
Qiandra mendesah sesaat, sungguh dia tidak
habis pikir, bagaimana bisa seorang laki laki sempurna seperti Daniel, mau membuang waktu bertahun tahun hanya untuk menunggu dirinya. Qiandra sangat tahu kalau dia tidak akan bisa menghentikan keinginan seorang Daniel, tapi Qiandra juga tidak bisa membiarkan Daniel terus berharap.
“Daniel, aku memberimu kesempatan bukan sebuah harapan, karena harapan itu memang tidak ada dan tidak akan pernah ada. Karena bagiku setelah Kak Charles dan Dean, aku tidak akan lagi membuka hatiku untuk siapa pun. Jadi, sekalipun aku harus kehilangan Dean, aku tetap tidak akan bisa memberikan hatiku untukmu. Karena jika aku kehilangan Dean, maka saat itu juga aku akan kehilangan nyawaku. Aku sudah menyerahkan seluruh hatiku untuknya dan tidak ada lagi tempat
untuk cinta yang lain dalam hatiku” ucap Qiandra.
tempat tidur yang mengarah langsung ke pantai. Memang Daniel masih belum bisa mendengar mulut Qiandra menyebut nama
Dean, tapi dia merasa setidaknya saat ini emosinya tidak lagi meledak seperti biasa.
Beberapa kali Daniel menghela nafas pelan
untuk mengontrol emosinya, dia sungguh tidak ingin membuat Qiandra ketakutan lagi. Sementara Qiandra hanya bisa diam membeku, dia pasrah saja jika Daniel tiba tiba mengamuk karena mendengar Qiandra menyebut nama Dean. Qiandra sungguh
berharap Daniel mau mengerti bahwa sampai kapan pun Qiandra tidak akan bisa mencintai Daniel.
“Qi, katakan padaku, apa kelebihan laki laki
itu yang tidak ada padaku, sehingga kamu lebih memilih dirinya bahkan hanya dengan bertemu beberapa saat, kamu bisa langsung memutuskan mencintai dirinya” tanya Daniel tanpa menatap ke arah Qiandra.
Qiandra cukup terkejut dengan pertanyaan
Daniel, sejujurnya jika ditanya apa kekurangan Daniel jika dibandingkan dengan Dean, bisa dikatakan tidak ada sama sekali. Keduanya sama sama tampan dan menawan dalam versi yang berbeda. Mapan dan kaya raya sudah jelas tidak bisa di ragukan lagi. Perhatian dan kasih sayang yang diberikan keduanya pada Qiandra juga sama.
Qiandra terdiam sesaat mendengar pertanyaan Daniel yang sangat tidak disangkanya. “Tidak ada, Daniel, tidak ada yang kurang ataupun yang lebih diantara
kalian berdua. Kalian berdua sama sama
laki laki yang luar biasa, dambaan ribuan wanita di luar sana. Kalian bisa mendapatkan wanita mana saja yang
kalian inginkan” sahut Qiandra.
“Ya, kecuali kamu, Qi” sahut Daniel terdengar
begitu pilu.
“Ya, aku, aku bagi wanita di luar sana adalah
wanita yang sangat beruntung, karena mendapatkan cinta dari dua laki laki
__ADS_1
sempurna seperti kalian. Tapi tahukah
kamu, Daniel, jika bisa hatiku memilih, aku sungguh ingin mencari seorang laki laki yang sederhana, yang sepadan denganku. Karena aku tidak mencari laki laki yang sempurna, tapi aku mencari laki laki yang bisa membuatku bahagia bukan karena materi atau kesempurnaannya” sahut Qiandra.
“Apa kamu menganggap aku tidak bisa
membahagiakan dirimu, Qi, jika kamu mau kita hidup sederhana, aku bersedia, Qi,
aku akan melepaskan semua yang aku punya hanya agar aku bisa hidup denganmu” sahut Daniel.
“Yah, aku tahu kamu sangat dan sangat bisa
membahagiakan aku, dan kamu juga akan sanggup melakukan apapun untukku, demikian juga Dean. Tetapi, hatiku yang telah
memilih untuk mencintai siapa, bukan karena alasan apapun. Bertahun tahun aku bersama denganmu, mendampingimu sealalu sebagai sekertarismu, aku sudah mengenal dirimu, tapi hatiku tetap tidak bisa menerima dan mencintaimu, dan itu semua jauh sebelum
aku mengenal Dean. Dan Dean, seperti
katamu tadi, Daniel, aku baru mengenalnya sebentar dan aku tidak tahu bagaimana hatiku bisa langsung terbuka untuknya dan jatuh cinta padanya. Itu semua hal yang tidak bisa aku jelaskan” ucap Qiandra dengan panjang lebar.
Qiandra menjawab seperti itu karena dia tidak
ingin membuat Daniel berusaha menjadi seorang Dean. Karena ada begitu banyak kelebihan Dean dibandingkan dengan Daniel bagi seorang Qiandra. Namun, dia tidak ingin membuat Daniel terus berusaha mencari celah untuk membuat Qiandra jatuh cinta dengan berbuat seperti Dean.
Karena Qiandra sangat tahu kalau Daniel bisa
menjadi baik seperti Dean, tapi itu hanya akan bersifat sementara. Saat seseorang berusaha mengubah pribadinya menjadi seperti pribadi orang lain maka dia tidak akan bisa selamanya seperti itu. Hal itu pasti akan bersifat sementara saat dia menginginkan sesuatu, dan saat dia telah mendapatkan apa
yang diinginkannya maka dia akan kembali menjadi dirinya sendiri.
Daniel mendesah mendengar jawaban Qiandra, “Jangan memutar balik kata, Qi, aku sangat tahu bagaimana kamu. Sangat tidak mungkin kamu mencintai seseorang tanpa alasan yang jelas. Hanya saja aku tidak mengerti, bagaimana bisa kamu mencintai dia hanya dalam waktu sekejap saja. Apa kamu sungguh yakin mengenal dirinya dengan baik, bahkan di awal pertemuan kalian dia sudah menyakitimu. Sementara aku, tidak pernah sekali pun aku menyakitimu, kecuali saat itu, saat aku benar benar khilaf
dengan rasa takut kehilangan dirimu” ucap Daniel dengan berbagai perasaan berkecamuk di hatinya.
Qiandra terdiam, kembali kata kata Daniel
mengena di hatinya. Tidak bisa Qiandra
pungkiri kalau dia tidak mengenal Dean dengan begitu mendalam. Dan bahkan sampai saat inipun Qiandra belum banyak mengetahui bagaimana seorang Dean sebenarnya. Sangat sedikit hal yang diketahui oleh Qiandra tentang seorang Dean. Bahkan hingga mereka telah menikah,
pengetahuan dan pengenalan Qiandra tentang Dean hanya berdasarkan cerita laki laki itu saja.
Tentu berbeda dengan Daniel, Qiandra sudah
bersama dengan Daniel selama bertahun tahun. Dia sudah sangat mengenal Daniel sebagai seorang yang sombong, arogan
dan sangat emosional. Dan hanya bersama
dengan Qiandra, Daniel bisa sedikit lebih lembut dan sangat perhatian kepadanya.
Qiandra memang sudah tahu kalau keputusannya untuk menerima lamaran Dean terlalu cepat. Namun, Qiandra tidak bisa menolak saat itu, karena sekalipun sudah dua tahun berpisah dia tetap mencintai Dean. Rasa marah dalam hatinya akibat cacian Dean padanya dulu, sirna begitu saja karena
rindunya yang begitu besar.
“Mengapa kamu terdiam, Qi, kamu baru menyadari kalau kamu telah membuat keputusan yang terlalu terburu buru. Tapi tidak mengapa, Qi, aku akan tetap siap
menerima kamu apapun keadaan dirimu” ucap Daniel dengan sangat yakin.
Qiandra menghembuskan nafas berat, kata kata Daniel sama sekali tidak bisa dibantah olehnya. Tapi akhir kalimat Daniel benar benar membuat Qiandra terhenyak. Bagaimana bisa laki laki ini semudah itu
menerima dirinya yang sudah menjadi istri orang lain, bahkan untuk suami yang kedua.
“Daniel, mungkin semua yang kamu katakan itu benar adanya, aku memang tidak sepenuhnya mengenal Dean, aku terlalu terburu buru menerima lamaran dan menikah dengan Dean. Tapi itulah keadaan hati, sesuatu yang sulit diterima oleh logika. Mencintai tanpa sebuah alasan yang bisa
dijelaskan, menerima atas segala keadaan, kekurangan ataupun kelebihan” sahut
Qiandra.
“Itu hanya pembelaanmu terhadap kesalahan yang sudah kamu buat, Qi, mengapa kamu tidak jujur saja pada hatimu, bahwa kamu
memang telah terlalu terburu buru dengan keputusanmu. Setiap kita pasti pernah membuat kesalahan, jadi jangan ragu untuk mengakuinya” ucap Daniel masih berusaha mempengaruhi Qiandra.
Qiandra tersenyum menatap Daniel, “Semua yang kamu katakan itu benar, Daniel, tapi aku tetap menyangkal jika kamu menyebut aku membuat keputusan yang salah. Karena
__ADS_1
bagiku, apa yang sudah aku putuskan itu benar untukku, walaupun mungkin tidak untuk orang lain” sahut Qiandra dengan yakin.