
Qiandra tidak memperdulikan tatapan sinis semua orang, dia tetap melangkah masuk ke dalam loby kator mewah itu. Saat Qiandra berdiri didepan sebuah lift karyawan, menunggu lift itu terbuka, sebuah tangan kekar, tiba-tiba menarik Qiandra tanpa sempat dia menolaknya.
Tangan kekar itu langsung membawa Qiandra masuk ke dalam lift khusus presidir, “Ada apa denganmu, Qiandra, mengapa tiba-tiba kamu berpenampilan seperti ini” ucap orang yang menarik Qiandra, yang tak lain dari sang presidir, Daniel Putra Mahardika.
Qiandra hanya berdiam diri, dia tidak mengucapkan satu katapun, mulutnya seperti terkunci saat dia melihat siapa orang yang sudah menarik dirinya. “Qiandra, bicaralah, apa dia sudah mengusirmu, mengapa phonselmu tidak bisa dihubungi, aku ingin menjemputmu” ucap Daniel lagi.
Qiandra menatap Daniel dengan tajam, “Maaf, Tuan Daniel, saya rasa saya tidak perlu melaporkan dimana dan apa yang saya lakukan diluar jam kantor, dan masalah penampilan saya, kalau memang Anda merasa keberatan
sekertaris Anda berpenampilan seperti ini, saya siap mengundurkan diri, silahkan Anda mencari sekertaris yang punya penampilan sesuai kriteria Anda” sahutnya dengan tegas dan dingin.
“Qiandra, bukan begitu maksudku, tapi coba kamu lihat, bagaimana bisa kamu menggunakan pakaian seperti ini” Daniel berbicara dengan pelan, walaupun dia sedikit kesal mendengar jawaban Qiandra. “Sekarang, pergilah ke butik depan dan belilah semua keperluanmu, gunakan kartu ini” lanjutnya lagi seraya menyerahkan sebuah black card untuk Qiandra.
“Maaf, Tuan Daniel yang terhormat, saya merasa lebih nyaman memakai pakaian seperti ini daripada saya memakai pakaian mewah dari hasil menjual diri” sinis kata-kata Qiandra membuat Daniel benar-benar terkejut.
Belum sempat Daniel berkata-kata, Qiandra telah keluar dari lift dan melangkah menuju meja kerjanya. Qiandra langsung melaksanakan rutinitasnya seperti biasa, “Qiandra, temui aku di ruanganku” desis Daniel saat melewati meja kerja Qiandra.
Qiandra menghembuskan nafas berat, dia tahu, dia akan menghadapi ini, walaupun sudah mempersiapkan diri, tetap saja Qiandra merasa berat. Qiandra membawa beberapa berkas dan juga jadual kegiatan Daniel, dia memastikan tidak ada yang tertinggal agar dia tidak harus bolak-balik ke ruangan Daniel.
Qiandra mengetuk pintu ruangan Daniel, “Masuk” jawab suara bariton di dalam ruangan Daniel. Qiandra membuka pintu, lalu masuk ke ruangan itu, kemudian Qiandra meletakkan semua berkas yang dibawanya dan merapikannya diatas meja Daniel.
“Ini berkas-berkas yang harus ditanda tangani, Tuan, dan ini jadual kegiatan Anda hari ini, ada rapat dengan dewan direksi pagi ini, selanjutnya ada beberapa pertemuan dengan klien dimulai dari jam makan siang nanti” Qiandra berbicara tanpa menatap Daniel.
Sementara Daniel, menatap intens wajah Qiandra yang terlihat sedikit pucat, “Apa kamu baik-baik saja, Qiandra” tanya Daniel mengabaikan semua pekerjaan yang dilaporkan Qiandra.
“Saya tetap bisa bekerja, Tuan, sekalipun saya harus merangkak, karena saya harus tetap hidup” sahut Qiandra dingin.
“Qiandra, kumohon maafkan aku, jangan bersikap seperti ini, kamu benar-benar membuat dadaku terasa sakit. Aku tak mampu melihatmu seperti ini, Qiandra” ucap Daniel, dia berdiri dan berusaha meraih tangan Qiandra untuk menggenggamnya.
__ADS_1
“Maaf, Tuan, jika saya membuat Anda sakit hati, tapi saya harap sakit hati Anda tidak separah yang saya rasakan, dan saya harap Tuan Daniel yang terhormat bisa menjaga kredibilitas Anda, dengan tidak menyentuh seorang ja*ang” ucap Qiandra dengan nada sinis, “Saya permisi, Tuan” lanjutnya lagi.
“Qiandra…” seru Daniel dengan penekanan, karena dia sedang berusaha menahan kekesalannya. Kata-kata sinis dan tajam dari mulut Qiandra sejak di dalam lift tadi, benar-benar menohok langsung ke dalam dada Daniel.
Namun, wanita yang dipanggilnya itu, sama sekali tidak menghiraukan panggilannya. Qiandra terus melangkah meninggalkan ruang kerja Daniel. Sekalipun memendam kemarahan yang sangat besar pada presidirnya itu, namun Qiandra berusaha tetap bersikap professional dalam bekerja.
Saat Qiandra telah duduk di kursinya, asisten Dika datang menghampirinya. “Nona Qiandra, apa Anda baik-baik saja” tanya asisten Dika yang sempat melihat Qiandra menyeka matanya.
“Aku baik-baik saja, Tuan Dika, terima kasih atas semua rencana luar biasa yang sudah Anda rancang untuk mengahancurkan harga diri seorang wanita kemaren. Anda memang asisten yang luar biasa” sahut Qiandra dengan suara dingin pada asisten Dika.
“Nona, maafkan saya, saya….” asisten Dika belum menyelesaikan kata-katanya.
“Saya hanya melaksanakan tugas, betulkan Tuan Dika, Anda beruntung mendapatkan tugas hanya merancang, bisa Anda bayangkan bagaimana tugas yang harus seorang sekertaris lakukan dalam rancangan Anda itu, saya harap Anda bisa merasa puas sekarang karena Anda sudah sangat sukses” sindiran Qiandra benar-benar membuat asisten Dika tidak berdaya.
“Nona….” kembali asisten Dika tidak sempat menyelesaikan ucapannya.
Asisten Dika tidak bisa berkata-kata lagi, akhirnya dia kembali masuk ke ruanggannya dan meninggalkan Qiandra yang sudah menenggelamkan dirinya dalam pekerjaannya. Tidak lama berselang, Daniel keluar untuk menuju ke ruang rapat, “Qiandra, apa kamu bisa mendampingi aku” tanya Daniel lembut.
“Sudah tugas saya, Tuan” sahut Qiandra, dia segera berdiri dan mengambil berkas-berkas yang sudah dipersiapkannya untuk Daniel.
Daniel menatap penampilan Qiandra yang benar-benar sangat sederhana sekali, “Qi…” Daniel ingin mengemukakan keberatannya, tapi dia tidak tahu harus berkata apa.
“Jika Tuan merasa keberatan dengan penampilan saya, saya bisa menyerahkan tugas ini pada sekertaris Tuan Dika, saya yakin dia jauh lebih cocok untuk mendampingi Tuan” ucap Qiandra tegas, dia tahu Daniel menginginkan penampilan yang sempurna, apalagi dari sekertarisnya sendiri.
Daniel hanya bisa menghembuskan nafas dengan berat, dia sadar Qiandra berpenampilan seperti itu pasti dengan niat agar dia tidak membawa Qiandra dalam berbagai pertemuan. “Ayo kita menuju ruang rapat” ucap Daniel pada akhirnya.
Daniel melangkah lebih dulu, dia melirik Qiandra yang masih belum melangkah disisinya seperti biasanya. Akhirnya, asisten Dika mengambil inisiatif untuk mengikuti Daniel, dan dibelakang mereka barulah Qiandra melangkah pelan, sedikit menjaga jarak dengan kedua laki-laki tampan itu.
__ADS_1
Daniel hanya bisa menghembuskan nafasnya berat, mereka masuk ke ruang rapat dimana semua dewan direksi sudah menanti kehadiran mereka. Qiandra yang mengikuti kedua laki-laki tampan dalam balutan jas mewah itu, menjadi pusat perhatian dewan direksi. Namun, tidak ada yang berani berkomentar, semua orang tahu, Qiandra adalah sekertaris kesayangan presidir.
Qiandra tidak memperdulikan tatapan sinis semua orang, dia tetap bekerja dengan profesional seperti biasanya. Bahkan Qiandra mampu menyampaikan paparan dengan sangat sempurna, membuat semua orang berdecak kagum dengan kemampuan sekertaris cantik itu. Balutan pakaian sederhana tidak membuat Qiandra merasa rendah diri.
Sementara Daniel benar-benar tidak bisa berkonsentrasi pada rapat itu, dia hanya menyetujui saja semua yang dipaparkan oleh Qiandra. Sehingga rapat hari itu berjalan dengan cukup cepat, karena semua dewan direksi pun tidak berani bicara banyak, mereka melihat sang presidir yang menatap sekertarisnya dengan intens.
Qiandra menutup rapat pagi itu dengan membuat kesimpulan yang mampu merangkum semua masukan yang disampaikan oleh dewan direksi. Setelah rapat selesai, Daniel segera melangkah meninggalkan ruang rapat tanpa berkata sepatah kata pun. Dan semua orang tahu, jika Daniel bersikap seperti itu berarti suasana hatinya sedang tidak baik.
Qiandra tidak segera mengikuti Daniel seperti biasanya, dia malah menghampiri salah satu sahabatnya di perusahaan itu yang menjabat sebagai kepala bagian keuangan. “Tari, boleh aku bicara sebentar” Qiandra meraih tangan sahabatnya itu.
“Qi, kamu kenapa sich, kok jadi kaya gini” Tari malah bertanya tentang penampilan Qiandra.
“Sudahlah, jangan membahas masalah yang nggak penting, aku nggak bisa lama, nanti bisa ditegur bos, aku cuman mau bilang aku mau ambil lembur selama dua minggu kedepan, setiap hari yang full time” ucap Qiandra.
“Qi, kamu apaan sich, kalau ambil yang full time, semua juga tahu kalau kita hanya mampu melakukannya paling juga dua kali seminggu. Walaupun bayarannya besar, tapi kan nggak berguna juga kalau bikin kita ambruk” ceramah Tari yang merasa heran dengan keinginan Qiandra.
“Pokonya, kamu atur aja ya, aku akan mulai dari hari ini” sahut Qiandra.
“Qi, kamu jangan nekat, kamu kan tahu kalau siang kamu tuh nggak bakalan punya waktu istirahat, gimana kamu bisa kerja sampai dua puluh jam, selama dua minggu, kamu bukan robot, Qi” seru Tari.
“Pokoknya, aku sudah ngasih tahu kamu, kamu siapkan aja bayaranku di akhir bulan nanti, oh ya besok aku kasih rekeningku yang baru ya, rekeningku yang lama bermasalah, jadi nggak bisa dipakai lagi” ucap Qiandra tanpa memperdulikan seruan sahabatnya itu.
“Qi…” Tari kembali ingin mengajukan protesnya.
“Udah dulu ya, aku kembali ke mejaku dulu” ucap Qiandra seraya berlalu dari hadapan Tari. Tari hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia sungguh tidak mengerti untuk apa Qiandra melakukan hal itu. Tari mengetahui, gaji bulanan Qiandra adalah yang terbesar ketiga dibawah presidir dan asisten Dika. Bahkan jika ditambah dengan berbagai bonus bulanan, gaji Qiandra pasti melebihi gaji dan penghasilan asisten Dika.
Oleh sebab itu Tari merasa heran, mengapa Qiandra harus mengambil lembur bahkan yang full time. Dan tidak tanggung-tanggung dia ingin mengambilnya selama dua minggu, “Entah bagaimana kamu bisa melakukannya, Qiandra, kuharap kamu akan tetap baik-baik saja” desah Tari dalam hatinya.
__ADS_1