PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
EMPAT PULUH SATU


__ADS_3

Sebuah mobil mewah lainnya datang dan mendekati Dean dan Qiandra, seorang laki-laki muda keluar dari mobil itu dengan tergesa-gesa,  “Tuan Dean, maafkan keterlambatan saya” ucapnya sambil membungkukkan badannya penuh permohonan maaf.


“Hmmm, ayo kita berangkat” sahut Dean tidak memperdulikan permintaan maaf laki-laki muda itu.  Laki-laki muda itu segera kembali ke mobilnya dan setelah Dean dan Qiandra masuk, dia memacu mobilnya menyusul ambulan yang sudah berangkat terlebih dulu bersama dengan Bik Sum dan dokter Albert.


“Tuan, apa kita langsung ke rumah sakit, atau Tuan ingin beristirahat dulu, hotel tempat Tuan berada tepat di samping rumah sakit yang akan kita tuju” ucap laki-laki muda itu.


“Hmmm, bagaimana, honey” tanya Dean pada Qiandra, karena kalau mengikuti keinginan hatinya, Dean memang ingin membawa Qiandra ke kamar hotel saja, dan menghabiskan waktu bersama dengan wanita itu.


“Ya, ke rumah sakit dulu, donk, aku harus tahu bagaimana keadaan Jossie, kita ke rumah sakit aja ya Pak…” Qiandra lupa menanyakan nama  laki-laki muda yang menjadi sopir mereka.


“Bryan, Nona, panggil saja saya Bryan, saya yang akan mengantar Tuan dan Nona selama berada di kota ini” ucap laki-laki muda itu  dengan penuh hormat.


“Oh, baiklah, Bryan, terima kasih ya, kita ke rumah sakit saja dulu” ucap Qiandra dengan ramah.


“Baiklah kalau begitu, Nona” sahut Bryan, pemuda itu segera mengarahkan mobil mewah itu mengikuti ambulance yang mulai memasuki area parkir rumah sakit terbesar dan terlengkap di kota itu.  Para petugas yang memang sudah dihubungi, sudah bersiap menanti kedatangan Jossie.


“Siapa petugas yang mendampingi pasien” tanya seorang dokter pada dokter Albert dan Bik Sum.


“Saya, Dok” sahut dokter Albert.


“Siapa Anda, saya merasa belum pernah melihat Anda, apa Anda perawat baru di kota kecil itu” tanya dokter itu dengan nada sedikit angkuh.


Dokter Albert hanya tersenyum samar, “Saya, dokter Albert, dokter pribadi keluarga Zacharias, dan kebetulan Nona Jossie ini adalah sekertaris dari calon istri Tuan Dean Walt Zacharias, oleh sebab itu saya ditugaskan untuk mendampingi Nona Jossie” ucap dokter Albert memperkenalkan diri dengan ramah.


Wajah dokter muda yang telihat sedikit angkuh tadi tiba-tiba menjadi pias, saat mendengar siapa orang yang sempat direndahkannya tadi,  “Dok-dokter Albert, ma-maafkan saya, saya tidak menyangka Anda bisa datang dan


mendampingi pasien dari sebuah kota kecil” ucapnya dengan terbata.


“Tidak perduli dari mana asal pasien kita, dan bagaimana pun keadaannya, sepanjang kita ada dan bisa membantunya, bukankah sudah menjadi panggilan kita untuk membantu sesama manusia, tanpa harus memikirkan kemampuan dan apalagi status sosial pasien kita, bukankah begitu, Dok” ucap dokter Albert yang semakin membuat dokter muda itu merasa malu.


“Ba-baiklah, Dok, kita bisa langsung menuju ke ruang pemeriksaan sekarang, apakah dokter akan melakukan pemeriksaan sendiri” tanya  dokter muda itu lagi dangan ragu-ragu.

__ADS_1


“Ini wilayah Anda, Dok, silahkan Anda melaksanakan tugas Anda, saya hanya akan mendampingi pasien saya saja” sahut dokter Albert.


“Ba-baiklah kalau begitu, Dok, mohon jangan sungkan untuk menyampaikan pendapat Anda jika ada hal yang Anda rasa kurang tepat” ucap  dokter muda itu lagi.  Dia merasa sangat gugup harus melakukan pemeriksaan secara langsung dihadapan seorang dokter sekaliber dokter Albert.


Para petugas segera membawa brankar Jossie masuk ke dalam ruang pemeriksaan, sementara dokter Albert terus mendampingi Jossie.  Bik Sum, Qiandra dan Dean, hanya duduk menunggu di luar ruang pemerikasaan.  Sejak dari bandara hingga mereka duduk di ruang tunggu menanti hasil pemeriksaan Jossie, tak sekalipun Dean melepaskan genggaman tangan Qiandra.


Bahkan di ruang tunggu itu, Dean merengkuh bahu wanita itu dan membawanya bersandar di dada bidangnya.  Pada awalnya, Qiandra merasa risih dengan perlakuan Dean pada dirinya, namun setelah beberapa saat, Qiandra menyadari kalau semua itu dilakukan oleh Dean karena dia terlalu takut kehilangan Qiandra lagi.


Setelah beberapa saat berlalu, dokter Albert keluar dari ruang pemeriksaan dan menghampiri ketiga orang yang menanti di ruang tunggu.  “Bagaimana keadaannya, Tuan Al” tanya Qiandra dengan wajah cemas.


“Tangan kiri dan kaki kirinya mengalami keretakan, dan ada penggumpalan darah di kepalanya yang menyebabkan dia kehilangan kesadarannya” ucap dokter Albert.


“Lalu, apa dia bisa disembuhkan” tanya Qiandra lagi.


“Sangat bisa, Nona, kita akan segera melakukan serangkaian operasi untuk Nona Jossie” sahut dokter Albert.


“Tuan, aku mohon, lakukan apapun, tolong selamatkan adikku” ucap Qiandra seraya menangkupkan telapak tangan didepan dadanya.


“Jangan khawatir, honey, percayakan saja pada tim dokter yang ada disini, adikmu pasti akan baik-baik saja” ucap Dean berusaha menenangkan Qiandra.


“Terima kasih, love, aku hanya merasa sangat khawatir dan merasa bertanggung jawab atas kecelakaan ini” sahut Qiandra.


“Hmmm, sebenarnya, apa yang sudah terjadi, honey, bagaimana bisa seorang wanita menguji sebuah arena balapan dan mengapa kamu memanggil wanita itu sebagai adikmu” tanya Dean yang memang sudah sangat penasaran sejak tadi.


“Love, nama gadis itu Jossie, dia pelayan pertama yang aku rekrut untuk membantu ibu, saat aku tiba dikota ini” Qiandra mulai menjelaskan pada Dean.


“Ibu, ibu yang mana yang kamu maksud, honey” tanya Dean dengan kening berkerut, karena sepengetahuan Dean, kedua orang tua Qianda sudah meninggal dunia.


“Sejak aku meninggalkan mansionmu, aku telah meminta Bik Sum untuk menjadi ibuku, love” sahut Qiandra, dan Dean membulatkan mulutnya membentuk huruf O.


“Lalu bagaimana bisa pelayanmu menjadi sekertarismu bahkan menjadi adikmu” tanya Dean lagi.

__ADS_1


“Jossie menjadi yatim piatu saat dia hampir menyelesaikan studynya, orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan di laut, karena itulah dia bekerja menjadi pelayan.  Dan saat aku mengetahui hal itu, aku membantu membiayai pendidikan Jossie hingga selesai  dan akhirnya menjadikan dia sekertarisku.  Karena Jossie sudah tidak punya siapa-siapa lagi, akhirnya aku mengambil dia menjadi adik angkatku” jelas Qiandra dan membuat Dean manggut-manggut memahami penjelasan sang kekasih.


“Lalu bagaimana ceritanya dia sampai celaka dalam sebuah uji coba arena balap, dia kan wanita, honey” tanya Dean lagi.


“Jossie memang wanita yang sangat menykai olah raga ekstrim, beberapa kali dia meminta ijin untuk mengikuti berbagai kegiatan ekstrim yang menantang bahaya, selalu aku tidak memberinya ijin.  Dan kemarin aku akhirnya mengijinkan Jossie, dengan pertimbangan di arena itu sudah ada tim khusus yang memang ditugaskan untuk menguji arena itu.  Namun, jiwa muda Jossie merasa tertantang saat mengetahui ada jalur yang belum diujicoba,


sehingga dia tidak memperdulikan peringatan dari pengawas yang melarangnya menempuh jalur itu, hingga terjadilah kecalakaan ini” Qiandra bercerita dengan panjang lebar.


“Hmmm, begitu rupanya” ucap Dean yang baru memahami kejadian yang menimpa Jossie.  “Sebenarnya ada berapa banyak usaha yang kamu geluti, honey” tanya Dean yang penasaran dengan bisnis yang digeluti oleh Qiandra.


“Hanya bisnis kecil-kecilan untuk menyambung hidup saja, love, sama sekali tidak bisa  dibandingkan dengan bisnismu” kekeh Qiandra.


“Hei, aku bukan ingin membandingkan, honey,  aku cuma ingin tahu” ucap Dean menegaskan pada Qiandra.


“Hmmm, aku hanya membuka beberapa butik, fitness center, dan beberapa tempat wisata, dan arena balap ini merupakan proyek pertama kami, sesuai dengan usulan Jossie” sahut Qiandra pada akhirnya.


“Wow, itu luar biasa sekali, honey, tapi mengapa aku belum pernah sekalipun mendengar  perusahaanmu” tanya Dean lagi.


“Awalnya hanya sebuah CV lalu sekarang berkembang menjadi PT, tepatnya PT. Chaenqi, aku memang membatasi pengembangan usahaku hanya dalam kota kecil itu saja, aku selalu menolak tawaran untuk membuka cabang di luar kota” sahut Qiandra.


“Yah, dan itu membuatmu benar-benar tersembunyi di kota itu, honey” ucap Dean, “Kalau bukan karena kecelakaan ini yang sempat disiarkan secara langsung, sudah pasti sampai saat ini aku tidak akan menemukanmu” sahut Dean.


“Siaran langsung?, jadi maksudmu kamu mengetahui keberadaanku karena kecelakaan ini disiarkan secara langsung” tanya Qiandra.


“Betul sekali, honey, Vian yang lebih dulu mengenalimu” sahut Dean dengan jujur.


“Astaga, aku pasti sangat khawatir saat itu sehingga tidak menyadari ada kamera, karena bisanya aku pasti akan menghindari kamera” ucap Qiandra seraya menggelengkan kepalanya.


“Sebegitu besarnyakah niatmu menghindari aku, honey” desah Dean menatap intens wajah  Qiandra.


“Tidak hanya kamu, love” sahut Qiandra dengan nada sendu, “Kamu tahu semuanya kan” lanjutnya lagi dengan suara getir dan airmata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

__ADS_1


“Ya, sudah, jangan dipikirkan lagi, honey, yang terpenting saat ini aku sudah menemukanmu” ucap Dean lembut, dia kembali merengkuh bahu Qiandra dan memeluknya dengan penuh kasih.


__ADS_2