PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS DUA


__ADS_3

“Dean, apa apaan ini, aku kira kamu sungguh


sungguh mencintai Qiqi dan akan menjaga dia dengan nyawamu.  Tapi apa ini, bagaimana bisa kamu menempatkan dan membiarkan dia menghadapi bahaya yang sudah sangat jelas akan mengancam keselamatan Qiqi.  Kalau kamu sudah tidak mencintai Qiqi, katakan padaku, kamu tahu kalau aku sangat mengagumi dia dan aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padanya” seorang laki-laki tampan yang masih memakai jas putih khas seorang dokter tiba tiba masuk ke dalam ruang tempat Dean sedang di siapkan untuk pestanya.


Dean segera berbalik dan menatap laki-laki


itu dengan tatapan garang, “Jaga kata-katamu, Al, kamu tahu aku tidak akan mengijinkan seorang pun menyakiti Qiqiku” desisnya dengan tajam pada laki laki yang juga sahabat terbaiknya itu.


“Hah, tidak mengijinkan siapapun menyakiti


Qiqi, lalu apa ini, jelas-jelas kamu tahu kalau keselamatan Qiqi sedang terancam dan kamu tetap meneruskan pesta ini,  apa maumu sebenarnya, apa kamu sengaja ingin membuat dia menderita lagi, atau kamu sengaja ingin mengujinya, aku tidak akan membiarkanmu” seru dokter Albert dengan sengit.


Dean mengangkat tangannya dan menyuruh


semua pelayan yang membantu dirinya untuk keluar dari ruangan itu.  Setelah mereka semua keluar, Dean tiba tiba berbalik dan meraih krah jas dokter yang dipakai oleh dokter Albert.  “Aku sudah peringatkan kamu, jaga kata-katamu, kamu tahu kalau aku sangat, sangat mencintai Qiqi, dan aku akan menjaganya dengan nyawaku sebagai taruhannya.  Jadi, jika aku membiarkan semua ini aku pasti punya alasan yang kuat” desis Dean seraya menghempaskan tubuh sahabatnya itu.


Untunglah, dokter Albert punya kemampuan


bela diri, sehinga hempasan keras sang presidir itu tidak membuatnya sampai terjungkal.  Dia hanya sedikit bergeser dari tempatnya berdiri dan segera memperbaiki posisinya dan krah bajunya.


“Katakan apa alasanmu, sebab semua ini


sungguh tidak masuk akal bagiku, seperti sebuah omong kosong saja.  Bagaimana bisa seorang dengan cinta yang begitu besar sanggup menempatkan orang yang sangat dicintainya dalam bahaya yang mengancam nyawa orang itu” desis dokter Albert masih dengan emosi.


“Ini keinginan Qiqi, semuanya adalah atas


rencananya” sahut Dean dengan lemah, dia berdiri menghadap jendela yang ditutupi oleh kaca bening.


“Keinginan Qiqi?, lalu kamu menerimanya


begitu saja, kamu lemah atau memang kamu bodoh” seru dokter Albert dengan kesal.


“Aku sudah berusaha menolaknya, Al, tidak


hanya sekali, bahkan berulang kali, tapi Qiqi tetap teguh pada pendiriannya.  Dia tidak mau menunda pesta ini ataupun membatalkannya” sahut Dean masih dengan suara lemah.


“Oke, oke, jika dia tidak mau, tapi kamu bisa kan menggagalkan semua rencana busuk mereka, toh kamu sudah bisa membaca rencana mereka, lalu mengapa justru kamu biarkan” ucap dokter Albert lagi masih tetap dengan nada sengit pada sahabatnya itu.


“Qiqi sudah bertekad menghadapi mereka, Al,


dia tidak mau berlari dan menghindar lagi.  Dia tidak ingin kehidupan rumah tangga kami selalu dibayang-bayangi oleh bahaya yang mengancam justru dari dalam keluarga sendiri.  Aku sudah berulang kali memintanya untuk


membatalkan acara ini atau menggagalkan rencana mereka.  Tapi Qiqi melarangku, katanya jika digagalkan maka mereka akan menyusun rencana baru lagi, yang mungkin saja tidak bisa kita prediksi lagi.  Dan kurasa, Qiqi ada benarnya juga, mereka memang tidak akan pernah berhenti berusaha menghancurkan


pernikahan kami” jelas Dean dengan panjang lebar pada dokter Albert.


“Dan kamu menyetujuinya begitu saja” seru


dokter Albert lagi.


Dean mendesah sesaat, lalu berbalik menatap


sahabatnya itu, “Lalu aku bisa apa, Al, semua yang dikatakan Qiqi benar adanya.  Aku juga tidak ingin anak-anakku kelak selalu berada dalam ancaman bahaya jika masalah ini dibiarkan berlarut-larut.   Kita sendiri selalu


merasa khawatir jika membiarkan Qiqi hamil, takut kejadian yang sama terulang lagi kan” sahut Dean seraya melangkah dan duduk di salah satu sofa mewah di ruangan itu.


“Shit, ini seperti kita dengan sukarela


menyerahkan Qiqi masuk dalam kandang serigala, Dean” desis dokter Albert dengan


penuh kemarahan.


“Aku sudah meminta Vian memperketat


penjagaan, bahkan memasang beberapa kamera pengintai untuk berjaga-jaga jika


CCTV di hack oleh mereka.  Vian sudah


menempatkan beberapa lapis orang kita untuk menjaga keselamatan Qiqi” sahut Dean lagi.


“Apa tidak ada rencana lain, seperti serangan balik” tanya dokter Albert lagi dengan suara sedikit melemah.


“Sampai saat ini semua rencana masih dalam


komando Qiqi, dia sendiri yang memutuskan akan menghadapi ular itu.  Kita hanya bisa menjaga jika ular itu mulai menggunakan baji*gan itu untuk membuat kekacauan.  Dan melihat kemampuan Qiqi, aku yakin dia akan mampu mengalahkan iblis betina itu” sahut Dean dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


“Jadi baji*gan itu juga diundang, astaga kalian benar benar memanggil dan menantang semua bahaya rupanya” desis dokter Albert.  Dokter tampan ini sungguh tidak mengerti bagaimana bisa Dean dan Qiandra sampai mengundang Daniel hadir di pesta mereka.  Kehadiran Risty saja sudah cukup membuat mereka panik, apalagi bila ditambah dengan Daniel.


“Tidak, kami tidak mengundangnya, tapi entah bagaimana nantinya, yang pasti iblis betina itu memang bekerjasama dengan baji*gan itu” sahut Dean, terlihat jelas percik kemarahan di matanya saat harus menyebutkan dua orang yang paling dibencinya itu.


“Jadi, kita semua hanya menyerahkan semuanya pada Qiqi” tanya dokter Albert lagi kembali memastikan, walaupun sudah dijelaskan oleh Dean.


Dean hanya menggangguk perlahan, terlihat


sekali kalau semua ini merupakan keputusan yang berat baginya.  Dia yang terbiasa selalu menyusun rencana dengan matang dan menjadi pusat serta pimpinan dari setiap rencana.  Tapi sekarang, dia hanya bisa mengikuti keinginan sang istri, walaupun sebenarnya tidaklah masalah bagi Dean.


Dean tidak mempermasalahkan kalau dirinya


hanya menjadi pengikut dari rencana seorang Qiandra.  Hal yang membuatnya berat hati adalah kenyataan bahwa dia harus menempatkan istrinya itu dalam bahaya.   Bahkan kedua sahabatnya sendiri sangat sulit


menerima keputusan ini, apalagi dirinya.


Dean sangat tahu kalau kedua sahabatnya itu


sangat menyayangi Qiandra sebagai istrinya.  Dean sama sekali tidak merasa cemburu pada keduanya, justri dia merasa bangga atas perhatian keduanya kepada Qiandra.  Kekhawatiran mereka pada keselamatan Qiandra sama seperti rasa khawatir mereka pada keselamatan Dean.


Dokter Albert akhirnya mengikuti Dean duduk


di salah satu sofa mewah yang berhadapan dengan Dean.  “Baiklah, tapi kita tidak bisa hanya mengikuti saja semua rencana Qiqi, kita juga harus mempersiapkan rencana cadangan,


seagai antisipasi jika Qiqi gagal dengan rencananya” ucap dokter Albert.


“Apa kamu punya ide, jujur aku saat ini sangat sulit untuk berfikir, rasa khawatirku pada keselamatan Qiqi membuat otakku benar-benar buntu” keluh Dean dengan suara lemah.


“Kamu harus tetap bersama dengan Qiqi,


apapun alasannya, jangan pernah meninggalkan dia.  Seandainya bisa kalian berdua benar-benar harus diikat agar tidak berpisah walau hanya sekejap” ucap dokter Albert.


“Bagaimana jika Qiqi yang memintaku pergi,


entah untuk apa” sahut Dean.


“Buatlah kesepakatan dengannya, kamu siap


mengikuti semua rencananya, tapi kamu tidak akan beranjak selangkah pun menjauh


“Lalu, apa selanjutnya” tanya Dean lagi dengan penasaran pada rencana sahabatnya itu.


“Aku dan Vian mungkin tidak akan berada di


sekitar kalian, kami akan memantau semuanya baik dalam maupun luar ruangan.  Kita akan menjebak para baji*gan ini sebelum mereka melakukan aksinya” sahut dokter Albert.


“Tidak, jangan lakukan seperti itu, karena jika begitu sama saja kita menggagalkan rencana mereka” sahut Dean.


“Hmmm, baiklah, kita akan biarkan mereka


melakukan aksinya, tapi kita tidak akan membiarkan mereka menyelesaikannya”


sahut dokter Albert.


“Apa maksudmu, Al” tanya Dean lagi.


“Haish, otakmu ternyata benar-benar beku,


sudahlah, serahkan semuanya padaku dan Vian.  Kamu cukup laksanakan tugasmu untuk tetap berada di sisi Qiqi, apapun yang terjadi” ucap dokter Albert yang merasa cukup kesal karena Dean terus menerus bertanya.


“Hei, tidak bisa begitu, aku juga harus tahu bagaimana detil rencanamu” seru Dean dengan kesal pada sahabatnya itu.


“Ish, sudahlah, nikmati saja semua alur pestamu ini, jangan sampai kehilangan momen indah ini.  Percayakan saja pada kami, kamu tahu bagaimana aku dan Vian pasti akan berjuang untuk kebahagiaanmu dan pasanganmu, karena kami juga tidak ingin menjadi bujangan seumur hidup kami” sahut dokter Albert.  Dokter tampan itu berdiri dan


melangkah meninggalkan Dean yang masih menatapnya.


“Hah, sudah kuduga, pasti itu alasannya, dasar dokter gadungan, selalu saja punya motif terselubung” ucap Dean seraya melemparkan bantalan sofa pada punggung sahabatnya itu.


Dokter Albert yang sudah menduga akan


menerima timpukan bantal sofa, dengan sigap menangkap bantal itu.  “Ha ha ha, kamu kira aku akan membiarkan hidupku ini merana tanpa sentuhan wanita seumur hidupku, sementara antrian wanita di luar sana sudah seperti antrian minyak goreng saja” seru dokter


Albert dengan tawa mebahana.


“Ish, jelas saja karena kamu memang minyak

__ADS_1


goreng bekas, maka akan banyak juga yang bekas yang akan mengantri” sahut Dean


dengan santai.


“Hei, jangan menghina yang bekas ya,


bukankah kamu juga merasakan kalau yang bekas tapi berkualitas itu jauh lebih memikat” sahut dokter Albert seraya berlari menuju pintu kamar mewah itu.


“Albert……” seru Dean dengan suara menggelegar, sayangnya orang yang dipanggilnya sudah tidak terlihat lagi dibalik pintu kamar itu.  Dean hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan senyum kecil tersungging di bibirnya.


Dean sangat memahami sifat sahabatnya yang


satu ini, walau seringkali mereka berdua bertengkar untuk hal-hal yang tidak penting.  Dean sangat percaya kepada keduanya baik asisten Vian maupun dokter Albert.  Dia tahu bahwa bukan karena alasan yang diucapkan oleh dokter Albert tadi yang membuat mereka menjaga Qiqi dengan ketat.


Walaupun memang hal itu juga bisa menjadi


alasan mereka, tapi Dean sangat yakin kalau kebahagiaan dirinyalah yang menjadi prioritas kedua sahabatnya itu.  Dan sama seperti Dean, mereka berdua juga selalu menjaga agar kehormatan keluarga Zacharias tidak sampai jatuh.


Dean tidak akan bisa lupa bagaimana kedua


sahabatnya itu selalu siap menjadi tumbal dan korban dari kenakalan dirinya di masa muda dulu.  Sehingga seorang Dean Walt Zacharias tidak pernah disebutkan sekalipun terlibat dalam berbagai kenakalan anak muda, selalu asisten Vian atau dokter Albert yang disebutkan.


Bahkan dulu sempat pihak istana mengkritik


persahabatan ketiganya, karena dianggap asisten Vian dan dokter Albert memberikan dampak negatif bagi Dean.  Namun, Daddy Walt, ayah Dean, sangat mengetahui yang sebenarnya terjadi, karena bagaimanapun, dia selalu memantau perilaku putranya itu.


Daddy Walt tidak pernah membela asisten


Vian atau dokter Albert yang sudah berkorban untuk putranya.  Dia juga tidak pernah ikut campur dalam berbagai masalah yang dihadapi ketiga pemuda itu.  Daddy Walt membiarkan mereka bertiga tumbuh dan belajar dari semua pengalaman mereka tanpa campur tangan pihak istana.


Didikan Daddy Walt ternyata berhasil memupuk rasa kebersamaan dan rasa persaudaraan yang kuat diantara ketiganya.  Sehingga Dean yang awalnya suka membuat kekacauan, akhirnya bisa sadar dengan sendirinya saat melihat kedua sahabatnya menanggung akibat perbuatannya.  Walaupun sebenarnya Dean tidak mengijinkan mereka berkorban untuknya, tapi keduanya tidak pernah mau mendengarkan Dean.


Oleh sebab itu, Dean pada akhirnya mulai


belajar untuk menjadi labih baik lagi dan tidak membuat kekacauan lagi.  Dia tidak ingin melihat kedua sahabatnya itu terus menerus menanggung hukuman atas kesalahannya.  Asisten Vian dan dokter Albert memang tidak


pernah mengeluh apalagi menyalahkan Dean, tapi Dean sendiri merasa malu pada keduanya.


Dan pengorbanan mereka yang sangat luar


biasa bagi Dean, adalah kesediaan mereka untuk tidak mencari pasangan hidup sebelum Dean menemukan pasangannya dan hidup bahagia.  Janji itu bukan hanya isapan jempol belaka, asisten Vian dan dokter Albert benar benar menepati janjinya.


Bahkan setelah Dean menikah dengan Qiandra


pun, keduanya masih belum mencari pasangan.  Karena menurut mereka, Dean belum sepenuhnya bahagia.  Oleh sebab itu, mereka tetap setia pada janjinya.


“Tuan Muda, maafkan kami, tapi sekarang


saatnya Tuan Muda untuk segera mengenakan pakaian Tuan Muda” suara salah satu pelayan itu mengejutkan Dean dan menariknya dari lamunan akan masa lalunya.


“Oh, iya, baiklah, mari kita lanjutkan” ucap Dean lalu segera berdiri dan kembali pada posisinya tadi saat dokter Albert masuk ke ruangan itu.


Tiga puluh menit kemudian, Dean sudah siap


dengan pakaian kebesaran kerajaannya.  Diatas kepala laki-laki tampan itu terlihat sebuah mahkota yang menunjukkan posisinya sebagai seorang putra mahkota.


Dean melangkah dengan mantap keluar dari


ruangan tempat dia dipersiapkan.  Aura


seorang pemimpin dengan ketampanan yang paripurna benar benar terlihat di wajah


seorang Dean Walt Zacharias saat ini.  Dia melangkah dengan tegap menuju ke tangga untuk menantikan sang mempelai wanita di ruang tamu pentha house mewah itu.


Sepanjang jalan yang dilalui oleh Dean, semua pelayan dan bodyguard membungkukkan badan mereka.  Tidak ada satu pun yang berani mengangkat wajah untuk menatap langsung wajah sang pangeran ini.


Bahkan di pintu masuk, dokter Albert yang


biasanya selalu bercanda dengan Dean juga terlihat membungkukkan badannya.  Karena memang demikianlah seharusnya, saat Dean sudah menggunakan pakaian kebesaran lengkap dengan mahkotanya.


Semua orang baru boleh mengangkat kepala


saat Dean mengijinkannya.  Dean sendiri


tidak mengajukan protes pada sikap sahabatnya itu.  Dia justru merasa kagum pada sahabatnya yang terkenal dengan sikap konyolnya itu, ternyata bisa juga bersikap serius.

__ADS_1


__ADS_2