PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS TUJUH BELAS


__ADS_3

Daniel mendesah sesaat, dia berbalik menatap


Qiandra yang sudah kembali menutup matanya.  Daniel tahu Qiandra belum tidur, dia hanya menghindari pembahasan lebih


panjang tentang hubungannya dan Dean.  Daniel tidak mau memaksa Qiandra, dia tahu Qiandra memang memerlukan


waktu untuk berpikir.


Selain itu, Daniel juga tidak ingin memaksa


Qiandra pada saat kondisinya masih belum begitu sehat.  Akhirnya, Daniel kembali menghampiri Qiandra,


lalu memperbaiki selimut yang menutupi tubuh wanita itu.  Daniel juga menghubungi pelayan agar segera


membersihkan sisa makanan setelah Qiandra makan siang.


Setelah pelayan yang membersihkan semua bekas


makan siang Qiandra meninggalkan kamar itu, barulah Daniel kembali duduk di


kursi di samping Qiandra.  “Maafkan aku,


Qi, aku harap kamu mengerti bahwa semua yang aku lakukan, semua yang aku


katakan, semuanya atas dasar cintaku yang begitu besar padamu” desis Daniel


dengan suara rendah.


Daniel tahu Qiandra masih bisa mendengarkan


dirinya berbicara, karena Qiandra memang belum tidur.  Daniel menatap wajah wanita itu dengan rasa


sedih, “Mengapa, Qi, mengapa kamu begitu menutup hatimu untukku, kamu bisa


begitu mudah memaafkan dia, tetapi mengapa begitu sulit bagimu menerima aku,


mengapa Qi” tanya Daniel dalam kebisuan Qiandra.


“Tidurlah, Qi, kamu harus menenangkan dirimu,


aku harap kamu bisa memikirkan semua yang sudah kita bicarakan” ucap Daniel


pada akhirnya.  Kemudian Daniel beranjak


meninggalkan Qiandra dan melangkah menuju ke arah balkon.  Daniel memutuskan untuk duduk disana, namun


dia memilih posisi dimana dia masih bisa melihat keberadaan Qiandra.


Qiandra yang menyadari kalau Daniel sudah


tidak berada di dekatnya perlahan membuka sedikit matanya.  Saat dia benar benar tidak menemukan sosok


Daniel, dia perlahan bangun dan melihat ke sekeliling kamar itu.  Qiandra terkejut saat melihat sosok Daniel


ada di balkon, namun dia juga terpana melihat wajah tampan dengan latar


belakang cerahnya pantai itu.


Sosok Daniel tampak seperti sebuah lukisan


yang begitu sempurna, wajah tampan dengan rahang kokoh dan tubuh tinggi


tegap.  Benar benar sebuah pemandangan


yang sulit untuk ditolak oleh wanita manapun, termasuk Qiandra.  Daniel berdiri dengan posisi menyamping dengan


tatapan jauh ke arah laut lepas, sehingga Qiandra bisa melihat sebagian wajah


tampan itu.


Namun Qiandra segera menyadarkna dirinya,


“Haish, apa apaan kamu Qi, seperti tidak pernah melihat laki laki tampan saja,


kalau ketahuan pasti akan sangat memalukan” desis Qiandra dalam hatinya.


Qiandra kembali membaringkan tubuhnya, walaupun


sebenarnya dia merasa penat terus berbaring.  Namun, saat ini dia memang sedang menghindar untuk berdebat dengan


Daniel.  Karena hampir semua yang


dikatakan oleh Daniel, baik tentang Qiandra, Dean maupun tentang Daniel sendiri


adalah kenyataan yang sebenarnya.  Dan


Qiandra masih berusaha menolak semua itu.


Qiandra tahu keputusannya untuk menikah dengan


Dean memang terkesan sangat terburu buru.  Tapi dia tidak bisa berbuat apa apa saat itu, Dean datang dengan tiba


tiba dan langsung melamarnya.  Qiandra juga


tidak bisa menolak karana dia memang benar benar masih mencintai laki laki itu,


sekalipun dia pernah di sakiti dan sudah berpisah selama dua tahun.


Qiandra bahkan rela meninggalkan kehidupannya


yang tenang hanya untuk mengikuti Dean dan mendampingi laki laki itu.  Walaupun Dean sebenarnya tidak menolak untuk


mengikuti Qiandra, namun sebagai wanita Qiandra juga tetap menghargai suaminya


sendiri.  Tidak pernah Qiandra bayangkan


kalau masuk dalam keluarga Dean akan menghadapi masalah serumit ini.


Dan saat ini, Qiandra berada dalam situsi


seperti sekarang, tidak serta merta membuat Qiandra bisa menyalahkan Dean.  Karena memang sejak awal, Dean sudah menolak


semua rencana Qiandra ini.  Namun,


Qiandra juga tidak ingin terus menerus hidup dalam ketakutan dan ancaman.


“Kak Charles, apa yang harus aku lakukan


sekarang, mengapa kamu biarkan semua ini terjadi padaku, mengapa kamu tidak


pernah mau membawaku pergi bersamamu, seharusnya akulah yang pergi bersama anak


kita bukan kamu, dengan begitu aku tidak akan merasakan semua derita ini dan


kamu pun pasti akan bisa melanjutkan kehidupanmu dan bahagia bersama wanita


lain yang jauh lebih baik dari diriku” desis Qiandra dalam hatinya.


Air mata kembali mengalir di pipinya saat ini,


Qiandra tiba tiba merasakan kerinduan yang begitu besar pada Charles.  Cinta pertamanya, laki laki yang selalu ada


bersama dengan dirinya dalam berbagai keadaan tersulit dalam hidupnya.


Tanpa sadar tangan Qiandra mengelus perut


datarnya, “Anak, apakah mungkin disini telah tumbuh kembali, hah, jika memang


benar maka aku akan mempertahankannya dengan nyawaku, aku tidak akan


membiarkannya lepas lagi dari hidupku.  Ayo, Qi, be smart, kamu pasti bisa menghadapi semua ini, tetap tenang


dan hadapi Daniel dengan sabar hingga Dean menjemputmu” kembali Qiandra


berdialog dalam hatinya untuk memberi motivasi bagi dirinya sendiri.

__ADS_1


Qiandra begitu asyik dengan alam pikirannya,


hingga dia tidak menyadari saat seseorang telah berdiri di sampingnya.  “Qi, apa kamu sudah bangun, hmmm, bagaimana


keadaanmu” tanya Daniel dengan suara begitu lembut.  Dia duduk di kursi yang ada di samping


Qiandra.


Qiandra  sedikit tersentak, karena dia memang tidak


memejamkan matanya, tentu saja dia tidak bisa lagi mengelak.  “Hmmm, aku sudah merasa jauh lebih baik


sekarang” sahut Qiandra.


“Apa kamu mau jalan jalan sebentar untuk


menghilangkan kejenuhanmu” tanya Daniel lagi dengan lembut.


“Aku .... aku masih belum siap kembali ke


pantai” desis Qiandra.


“Bukan ke pantai, Qi, lagipula hari sudah


terlalu sore, angin pantai sangat tidak baik untukmu.  Jika kamu mau, disini ada taman yang lumayan


cantik, kita bisa bersantai disana” ucap Daniel lagi.


“Hmm, baiklah” sahut Qiandra yang juga merasa


bosan karena terus berbaring sedari tadi.  Saat Qiandra bangun dia baru menyadari pakaian yang di gunakannya. “Eh,


aku mau berganti pakaian dulu, kurasa baju ini tidak cocok untukku” ucapnya


dengan wajah merona saat melihat betapa tipisnya gaun tidur yang dipakainya.


“Terserah kamu saja, Qi, tapi untukku, apapun


yang kamu kenakan tidak akan mengurangi kecantikanmu” sahut Daniel dengan


senyum menggoda pada Qiandra, membuat wanita itu seketika menjadi gugup.


“Ah, eh, iya, eh tidak, maksduku aku permisi


dulu mengganti pakaianku” ucap Qiandra dengan terbata karena salah tingkah


mendapat godaan dari Daniel.  Qiandra


segera berlalu dengan cepat menuju ke walk in closet untuk mengganti


pakaiannya.


Daniel hanya terkekeh geli melihat wanita itu


salah tingkah, “Qi, Qi, mengapa kamu terus menerus berusaha menolakku, aku tahu


kamu juga mengagumi diriku” gumam Daniel sambil menggelengkan kepalanya merasa


tidak mengerti dengan sikap Qiandra.


Sementara Qiandra kembali kebingungan saat


melihat pakaian yang tersedia untuknya di semua lemari besar di walk in


closet.  Semua pakaian itu terlihat


begitu cantik dan sesuai dengan tubuh Qiandra.  Tapi memakai pakaian pakaian itu pasti akan membuat Daniel kesulitan


menahan godaan terhadap Qiandra.


Akhirnya, setelah cukup lama memilih, Qiandra


mengambil sebuah mini dress dengan motif bunga.  Bagian bawahnya cukup lebar dengan bagian atas melekat pas di tubuh


terbuka sehingga memperlihatkan bahu putih wanita cantik itu.  Qiandra juga mengambil sepasang sneakers


bermotif bunga dan memakainya.


Saat Qiandra keluar dari ruang walk in closet,


dia melihat Daniel yang sedang duduk menunggu dirinya sambil bermain


phonselnya.  “Maaf, membuatmu lama


menunggu” ucap Qiandra sekedar menyapa Daniel.


Daniel mengangkat wajahnya, dan senyum lebar


kembali menghias wajah tampan itu, “Astaga, Qi, jika kita berjalan di luar


sana, bisa bisa orang menganggap aku sebagai sugar daddymu, kamu benar benar


terlihat cantik seperti anak abg saja” ucap Daniel yang begitu terpesona dengan


penampilan Qiandra.


“Haish, jangan terus menggodaku, Tuan, karena


aku tahu tidak begitu kenyataannya” sahut Qiandra.  “Apa kita bisa berangkat sekarang” tanya


Qiandra lagi.


“Tentu saja, Qi, kapan pun kamu mau dan siap


aku akan sedia mengantarmu” ucap Daniel seraya mengulurkan tangannya pada


Qiandra.  Namun Qiandra dengan santai


melewati tangan laki laki itu tanpa mau menyambut uluran tangan Daniel.


Daniel hanya tersenyum dan setelah menarik


nafas sebentar untuk membuang kekecawaanya, Daniel segera melangkah mengikuti


Qiandra yang sudah lebih dulu melangkah menuju pintu kamar mereka.  Daniel segera membuka pintu kamar untuk


Qiandra, dan Qiandra kembali tertegun karena ternyata di luar kamar mereka


sudah ada dua orang pengawal.


Kedua pengawal itu segera membuka pintu lift


untuk Qiandra dan Daniel menggunakan sandi khusus.  “Astaga, bagaimana bisa aku kabur dari kamar


ini jika keluar pintu saja sudah ada penjaga dengan lift yang hanya bisa dibuka


dengan sandi” bisik Qiandra dalam hati.


Daniel mempersilahkan Qiandra masuk terlebih


dulu ke dalam lift, baru kemudian dia menyusul di belakang wanita itu.  Daniel tidak berdiri berdampingan dengan


Qiandra, dia malah menempatkan dirinya menghadap Qiandra.  Daniel tidak berbicara atau berbuat apapun,


dia hanya metap Qiandra dengan penuh cinta dan senyum tulus yang menghias wajah


tampannya.


Qiandra benar benar salah tingkah mendapat


tatapan seperti itu dari seorang Daniel Putra Mahardika.  Saat dia ingi memprotes sikap Daniel, pintu


lift sudah terbuka.  Dengan sigap Daniel


memberikan jalan untuk Qiandra dan mempersilahkan wanita itu melangkah keluar

__ADS_1


dari lift lebih dulu.


Qiandra keluar dari lift itu, dan dia kembali


tertegun saat melihat dimana kini mereka berada.  Mereka berdiri di sebuah ruangan yang sangat


luas yang Qiandra yakini sebagai ruang tamu dengan berbagai furniture mewah di


dalamnya.  Mulai dari sofa mewah hingga


berbagai pernak pernik lainnyayang mengisi ruangan itu semuanya terlihat mewah


dan elegan.  Dan satu hal yang membuat


Qiandra terkesima, semua yang ada dalam ruangan itu adalah warna dan model yang


disukai oleh Qiandra.


“Daniel, bagaimana bisa .....” Qiandra tidak


tahu harus berkata apa, dia ragu apa memang benar semua ini sesuai dengan


keinginannya atau hanya sekedar kebetulan saja.


“Sudah ku bilang tidak ada satu hal pun yang


tidak aku ketahui tentang dirimu, Qi, semua yang kamu sukai, semua yang kamu


harapkan dan semua impianmu, aku tahu, Qi, dan aku akan memenuhi semuanya


untukmu” sahut Daniel seolah meyakinkan Qiandra bahwa semua itu memang


dipersiapkan untuk dirinya.


Qiandra hanya menggeleng lemah masih tidak


percaya, bagaimana bisa seorang Daniel mempersiapkan segala sesuatu hingga se


detail ini untuk dirinya.  “Apa ini semua


juga ada campur tangan asisten Dika” tanya Qiandra dengan ragu.


“Tidak, Qi, Dika sekalipun tidak tahu, tidak


ada yang tahu kecuali orang orang yang ada dalam villa ini” sahut Daniel.


Qiandra kehabisan kata kata, dia tidak bisa


berbicara lagi saking kagumnya dia pada semua yang ada di ruangan mewah


itu.  Qiandra berusaha mengingat darimana


Daniel bisa mengetahui semua itu, karena sepengetahuan Qiandra dia tidak pernah


membicarakan semua itu dengan siapa pun.  Kecuali .....


“Majalah interior dan eksterior itu” gumam


Qiandra tanpa sadar saat mengingat bahwa semua yang ada ini sama persis dengan


apa yang dilihatnya di majalah yang ada di ruangan Daniel.


“Kenapa, Qi, kamu baru mengingatnya ya, benar


sekali, Qi, saat itu aku benar benar memperhatikan dirimu yang begitu kagum


pada gambar di majalah itu.  Mungkin kamu


tidak sadar kalau kamu sampai membelai gambar itu seolah ingin meraba semua


yang terlihat di gambar itu” kekeh Daniel.


“Astaga, Daniel, wajar kan jika aku


mengaguminya karena memang terlihat sangat indah dan berkelas.  Aku tahu aku hanya bisa mengaguminya saja,


aku bahkan tidak berani berkhayal bisa memilikinya” kekeh Qiandra yang ingat


kepolosannya waktu itu.


“Sekarang semua ini menjadi milikmu, Qi, aku


sudah mempersiapkan semuanya untukmu” sahut Daniel dengan bersungguh sungguh.


“Heh, iya kalu aku bersedia menjadi istrimu,


tapi itukan tidak akan pernah terjadi” sahut Qiandra dengan yakin.


“Aku tidak perduli kamu bisa jadi milikku atau


tidak, Qi, villa dan pulau ini sudah kubuat atas namamu.  Jadi, apapun akhir dari kisah kita, semua ini


tetap menjadi milikmu” sahut Daniel.


“What ...., kamu gila Daniel, bagaimana bisa


kamu memberikan semua kemewahan ini untukku, sementara aku bukanlah siapa


siapamu” pekik Qiandra.


“Aku yang masih belum menjadi siapa siapa


untukmu, Qi, tapi kamu, kamu adalah segalanya bagiku” sahut Daniel dengan


lembut seraya menatap wanita yang masih kebingungan di hadapannya itu.  “Dan, yah, jika dibilang gila, aku memang


gila, Qi, aku telah lama tergila gila padamu” lanjutnya lagi.


Wajah Qiandra kembali bersemu merah


mendapatkan kata kata manis dari Daniel.  Walaupun Qiandra berusaha sekuat tenaga menolak pesona seorang Daniel,


tapi respon tubuhnya tak bisa diajak berkompromi.  Tanpa sadar Qiandra selalu tersipu malu saat


Daniel menggoda dan memuji dirinya, membuat wajahnya semakin cantik di mata


Daniel.


“Haish, laki laki mengapa begitu manis, hufff,


sadar Qi, sadar, kamu sudah bersuami, jangan mudah tergoyah dengan semua


kebaikan dan pujian semu” keluh Qiandra dalam hati seraya berusaha menyadarkan


dirinya dan mengembalikan pada mode normal.


Daniel kembali tersenyum puas saat melihat


rona merah muda di wajah cantik wanita yang berdiri dengan salah tingkah di


hadapannya itu.  “Baiklah, Qi, apa kamu


ingin terus menjelajah ruangan ini atau kamu mau langsung menuju ke taman”


tanya Dean dengan lembut pada Qiandra.


Yah, selama Qiandra berada di villa ini, tidak


pernah sekalipun Daniel bersikap kasar padanya.  Jangankan berbuat kasar, bahkan berbicara dengan kasar pun tidak


pernah.  Bahkan saat Daniel sedang emosi


saat mendengar nama Dean pun Daniel tetap bisa tenang dan berbicara dengan


lembut pada Qiandra.

__ADS_1


__ADS_2