
Daniel mendesah sesaat, dia berbalik menatap
Qiandra yang sudah kembali menutup matanya. Daniel tahu Qiandra belum tidur, dia hanya menghindari pembahasan lebih
panjang tentang hubungannya dan Dean. Daniel tidak mau memaksa Qiandra, dia tahu Qiandra memang memerlukan
waktu untuk berpikir.
Selain itu, Daniel juga tidak ingin memaksa
Qiandra pada saat kondisinya masih belum begitu sehat. Akhirnya, Daniel kembali menghampiri Qiandra,
lalu memperbaiki selimut yang menutupi tubuh wanita itu. Daniel juga menghubungi pelayan agar segera
membersihkan sisa makanan setelah Qiandra makan siang.
Setelah pelayan yang membersihkan semua bekas
makan siang Qiandra meninggalkan kamar itu, barulah Daniel kembali duduk di
kursi di samping Qiandra. “Maafkan aku,
Qi, aku harap kamu mengerti bahwa semua yang aku lakukan, semua yang aku
katakan, semuanya atas dasar cintaku yang begitu besar padamu” desis Daniel
dengan suara rendah.
Daniel tahu Qiandra masih bisa mendengarkan
dirinya berbicara, karena Qiandra memang belum tidur. Daniel menatap wajah wanita itu dengan rasa
sedih, “Mengapa, Qi, mengapa kamu begitu menutup hatimu untukku, kamu bisa
begitu mudah memaafkan dia, tetapi mengapa begitu sulit bagimu menerima aku,
mengapa Qi” tanya Daniel dalam kebisuan Qiandra.
“Tidurlah, Qi, kamu harus menenangkan dirimu,
aku harap kamu bisa memikirkan semua yang sudah kita bicarakan” ucap Daniel
pada akhirnya. Kemudian Daniel beranjak
meninggalkan Qiandra dan melangkah menuju ke arah balkon. Daniel memutuskan untuk duduk disana, namun
dia memilih posisi dimana dia masih bisa melihat keberadaan Qiandra.
Qiandra yang menyadari kalau Daniel sudah
tidak berada di dekatnya perlahan membuka sedikit matanya. Saat dia benar benar tidak menemukan sosok
Daniel, dia perlahan bangun dan melihat ke sekeliling kamar itu. Qiandra terkejut saat melihat sosok Daniel
ada di balkon, namun dia juga terpana melihat wajah tampan dengan latar
belakang cerahnya pantai itu.
Sosok Daniel tampak seperti sebuah lukisan
yang begitu sempurna, wajah tampan dengan rahang kokoh dan tubuh tinggi
tegap. Benar benar sebuah pemandangan
yang sulit untuk ditolak oleh wanita manapun, termasuk Qiandra. Daniel berdiri dengan posisi menyamping dengan
tatapan jauh ke arah laut lepas, sehingga Qiandra bisa melihat sebagian wajah
tampan itu.
Namun Qiandra segera menyadarkna dirinya,
“Haish, apa apaan kamu Qi, seperti tidak pernah melihat laki laki tampan saja,
kalau ketahuan pasti akan sangat memalukan” desis Qiandra dalam hatinya.
Qiandra kembali membaringkan tubuhnya, walaupun
sebenarnya dia merasa penat terus berbaring. Namun, saat ini dia memang sedang menghindar untuk berdebat dengan
Daniel. Karena hampir semua yang
dikatakan oleh Daniel, baik tentang Qiandra, Dean maupun tentang Daniel sendiri
adalah kenyataan yang sebenarnya. Dan
Qiandra masih berusaha menolak semua itu.
Qiandra tahu keputusannya untuk menikah dengan
Dean memang terkesan sangat terburu buru. Tapi dia tidak bisa berbuat apa apa saat itu, Dean datang dengan tiba
tiba dan langsung melamarnya. Qiandra juga
tidak bisa menolak karana dia memang benar benar masih mencintai laki laki itu,
sekalipun dia pernah di sakiti dan sudah berpisah selama dua tahun.
Qiandra bahkan rela meninggalkan kehidupannya
yang tenang hanya untuk mengikuti Dean dan mendampingi laki laki itu. Walaupun Dean sebenarnya tidak menolak untuk
mengikuti Qiandra, namun sebagai wanita Qiandra juga tetap menghargai suaminya
sendiri. Tidak pernah Qiandra bayangkan
kalau masuk dalam keluarga Dean akan menghadapi masalah serumit ini.
Dan saat ini, Qiandra berada dalam situsi
seperti sekarang, tidak serta merta membuat Qiandra bisa menyalahkan Dean. Karena memang sejak awal, Dean sudah menolak
semua rencana Qiandra ini. Namun,
Qiandra juga tidak ingin terus menerus hidup dalam ketakutan dan ancaman.
“Kak Charles, apa yang harus aku lakukan
sekarang, mengapa kamu biarkan semua ini terjadi padaku, mengapa kamu tidak
pernah mau membawaku pergi bersamamu, seharusnya akulah yang pergi bersama anak
kita bukan kamu, dengan begitu aku tidak akan merasakan semua derita ini dan
kamu pun pasti akan bisa melanjutkan kehidupanmu dan bahagia bersama wanita
lain yang jauh lebih baik dari diriku” desis Qiandra dalam hatinya.
Air mata kembali mengalir di pipinya saat ini,
Qiandra tiba tiba merasakan kerinduan yang begitu besar pada Charles. Cinta pertamanya, laki laki yang selalu ada
bersama dengan dirinya dalam berbagai keadaan tersulit dalam hidupnya.
Tanpa sadar tangan Qiandra mengelus perut
datarnya, “Anak, apakah mungkin disini telah tumbuh kembali, hah, jika memang
benar maka aku akan mempertahankannya dengan nyawaku, aku tidak akan
membiarkannya lepas lagi dari hidupku. Ayo, Qi, be smart, kamu pasti bisa menghadapi semua ini, tetap tenang
dan hadapi Daniel dengan sabar hingga Dean menjemputmu” kembali Qiandra
berdialog dalam hatinya untuk memberi motivasi bagi dirinya sendiri.
__ADS_1
Qiandra begitu asyik dengan alam pikirannya,
hingga dia tidak menyadari saat seseorang telah berdiri di sampingnya. “Qi, apa kamu sudah bangun, hmmm, bagaimana
keadaanmu” tanya Daniel dengan suara begitu lembut. Dia duduk di kursi yang ada di samping
Qiandra.
Qiandra sedikit tersentak, karena dia memang tidak
memejamkan matanya, tentu saja dia tidak bisa lagi mengelak. “Hmmm, aku sudah merasa jauh lebih baik
sekarang” sahut Qiandra.
“Apa kamu mau jalan jalan sebentar untuk
menghilangkan kejenuhanmu” tanya Daniel lagi dengan lembut.
“Aku .... aku masih belum siap kembali ke
pantai” desis Qiandra.
“Bukan ke pantai, Qi, lagipula hari sudah
terlalu sore, angin pantai sangat tidak baik untukmu. Jika kamu mau, disini ada taman yang lumayan
cantik, kita bisa bersantai disana” ucap Daniel lagi.
“Hmm, baiklah” sahut Qiandra yang juga merasa
bosan karena terus berbaring sedari tadi. Saat Qiandra bangun dia baru menyadari pakaian yang di gunakannya. “Eh,
aku mau berganti pakaian dulu, kurasa baju ini tidak cocok untukku” ucapnya
dengan wajah merona saat melihat betapa tipisnya gaun tidur yang dipakainya.
“Terserah kamu saja, Qi, tapi untukku, apapun
yang kamu kenakan tidak akan mengurangi kecantikanmu” sahut Daniel dengan
senyum menggoda pada Qiandra, membuat wanita itu seketika menjadi gugup.
“Ah, eh, iya, eh tidak, maksduku aku permisi
dulu mengganti pakaianku” ucap Qiandra dengan terbata karena salah tingkah
mendapat godaan dari Daniel. Qiandra
segera berlalu dengan cepat menuju ke walk in closet untuk mengganti
pakaiannya.
Daniel hanya terkekeh geli melihat wanita itu
salah tingkah, “Qi, Qi, mengapa kamu terus menerus berusaha menolakku, aku tahu
kamu juga mengagumi diriku” gumam Daniel sambil menggelengkan kepalanya merasa
tidak mengerti dengan sikap Qiandra.
Sementara Qiandra kembali kebingungan saat
melihat pakaian yang tersedia untuknya di semua lemari besar di walk in
closet. Semua pakaian itu terlihat
begitu cantik dan sesuai dengan tubuh Qiandra. Tapi memakai pakaian pakaian itu pasti akan membuat Daniel kesulitan
menahan godaan terhadap Qiandra.
Akhirnya, setelah cukup lama memilih, Qiandra
mengambil sebuah mini dress dengan motif bunga. Bagian bawahnya cukup lebar dengan bagian atas melekat pas di tubuh
terbuka sehingga memperlihatkan bahu putih wanita cantik itu. Qiandra juga mengambil sepasang sneakers
bermotif bunga dan memakainya.
Saat Qiandra keluar dari ruang walk in closet,
dia melihat Daniel yang sedang duduk menunggu dirinya sambil bermain
phonselnya. “Maaf, membuatmu lama
menunggu” ucap Qiandra sekedar menyapa Daniel.
Daniel mengangkat wajahnya, dan senyum lebar
kembali menghias wajah tampan itu, “Astaga, Qi, jika kita berjalan di luar
sana, bisa bisa orang menganggap aku sebagai sugar daddymu, kamu benar benar
terlihat cantik seperti anak abg saja” ucap Daniel yang begitu terpesona dengan
penampilan Qiandra.
“Haish, jangan terus menggodaku, Tuan, karena
aku tahu tidak begitu kenyataannya” sahut Qiandra. “Apa kita bisa berangkat sekarang” tanya
Qiandra lagi.
“Tentu saja, Qi, kapan pun kamu mau dan siap
aku akan sedia mengantarmu” ucap Daniel seraya mengulurkan tangannya pada
Qiandra. Namun Qiandra dengan santai
melewati tangan laki laki itu tanpa mau menyambut uluran tangan Daniel.
Daniel hanya tersenyum dan setelah menarik
nafas sebentar untuk membuang kekecawaanya, Daniel segera melangkah mengikuti
Qiandra yang sudah lebih dulu melangkah menuju pintu kamar mereka. Daniel segera membuka pintu kamar untuk
Qiandra, dan Qiandra kembali tertegun karena ternyata di luar kamar mereka
sudah ada dua orang pengawal.
Kedua pengawal itu segera membuka pintu lift
untuk Qiandra dan Daniel menggunakan sandi khusus. “Astaga, bagaimana bisa aku kabur dari kamar
ini jika keluar pintu saja sudah ada penjaga dengan lift yang hanya bisa dibuka
dengan sandi” bisik Qiandra dalam hati.
Daniel mempersilahkan Qiandra masuk terlebih
dulu ke dalam lift, baru kemudian dia menyusul di belakang wanita itu. Daniel tidak berdiri berdampingan dengan
Qiandra, dia malah menempatkan dirinya menghadap Qiandra. Daniel tidak berbicara atau berbuat apapun,
dia hanya metap Qiandra dengan penuh cinta dan senyum tulus yang menghias wajah
tampannya.
Qiandra benar benar salah tingkah mendapat
tatapan seperti itu dari seorang Daniel Putra Mahardika. Saat dia ingi memprotes sikap Daniel, pintu
lift sudah terbuka. Dengan sigap Daniel
memberikan jalan untuk Qiandra dan mempersilahkan wanita itu melangkah keluar
__ADS_1
dari lift lebih dulu.
Qiandra keluar dari lift itu, dan dia kembali
tertegun saat melihat dimana kini mereka berada. Mereka berdiri di sebuah ruangan yang sangat
luas yang Qiandra yakini sebagai ruang tamu dengan berbagai furniture mewah di
dalamnya. Mulai dari sofa mewah hingga
berbagai pernak pernik lainnyayang mengisi ruangan itu semuanya terlihat mewah
dan elegan. Dan satu hal yang membuat
Qiandra terkesima, semua yang ada dalam ruangan itu adalah warna dan model yang
disukai oleh Qiandra.
“Daniel, bagaimana bisa .....” Qiandra tidak
tahu harus berkata apa, dia ragu apa memang benar semua ini sesuai dengan
keinginannya atau hanya sekedar kebetulan saja.
“Sudah ku bilang tidak ada satu hal pun yang
tidak aku ketahui tentang dirimu, Qi, semua yang kamu sukai, semua yang kamu
harapkan dan semua impianmu, aku tahu, Qi, dan aku akan memenuhi semuanya
untukmu” sahut Daniel seolah meyakinkan Qiandra bahwa semua itu memang
dipersiapkan untuk dirinya.
Qiandra hanya menggeleng lemah masih tidak
percaya, bagaimana bisa seorang Daniel mempersiapkan segala sesuatu hingga se
detail ini untuk dirinya. “Apa ini semua
juga ada campur tangan asisten Dika” tanya Qiandra dengan ragu.
“Tidak, Qi, Dika sekalipun tidak tahu, tidak
ada yang tahu kecuali orang orang yang ada dalam villa ini” sahut Daniel.
Qiandra kehabisan kata kata, dia tidak bisa
berbicara lagi saking kagumnya dia pada semua yang ada di ruangan mewah
itu. Qiandra berusaha mengingat darimana
Daniel bisa mengetahui semua itu, karena sepengetahuan Qiandra dia tidak pernah
membicarakan semua itu dengan siapa pun. Kecuali .....
“Majalah interior dan eksterior itu” gumam
Qiandra tanpa sadar saat mengingat bahwa semua yang ada ini sama persis dengan
apa yang dilihatnya di majalah yang ada di ruangan Daniel.
“Kenapa, Qi, kamu baru mengingatnya ya, benar
sekali, Qi, saat itu aku benar benar memperhatikan dirimu yang begitu kagum
pada gambar di majalah itu. Mungkin kamu
tidak sadar kalau kamu sampai membelai gambar itu seolah ingin meraba semua
yang terlihat di gambar itu” kekeh Daniel.
“Astaga, Daniel, wajar kan jika aku
mengaguminya karena memang terlihat sangat indah dan berkelas. Aku tahu aku hanya bisa mengaguminya saja,
aku bahkan tidak berani berkhayal bisa memilikinya” kekeh Qiandra yang ingat
kepolosannya waktu itu.
“Sekarang semua ini menjadi milikmu, Qi, aku
sudah mempersiapkan semuanya untukmu” sahut Daniel dengan bersungguh sungguh.
“Heh, iya kalu aku bersedia menjadi istrimu,
tapi itukan tidak akan pernah terjadi” sahut Qiandra dengan yakin.
“Aku tidak perduli kamu bisa jadi milikku atau
tidak, Qi, villa dan pulau ini sudah kubuat atas namamu. Jadi, apapun akhir dari kisah kita, semua ini
tetap menjadi milikmu” sahut Daniel.
“What ...., kamu gila Daniel, bagaimana bisa
kamu memberikan semua kemewahan ini untukku, sementara aku bukanlah siapa
siapamu” pekik Qiandra.
“Aku yang masih belum menjadi siapa siapa
untukmu, Qi, tapi kamu, kamu adalah segalanya bagiku” sahut Daniel dengan
lembut seraya menatap wanita yang masih kebingungan di hadapannya itu. “Dan, yah, jika dibilang gila, aku memang
gila, Qi, aku telah lama tergila gila padamu” lanjutnya lagi.
Wajah Qiandra kembali bersemu merah
mendapatkan kata kata manis dari Daniel. Walaupun Qiandra berusaha sekuat tenaga menolak pesona seorang Daniel,
tapi respon tubuhnya tak bisa diajak berkompromi. Tanpa sadar Qiandra selalu tersipu malu saat
Daniel menggoda dan memuji dirinya, membuat wajahnya semakin cantik di mata
Daniel.
“Haish, laki laki mengapa begitu manis, hufff,
sadar Qi, sadar, kamu sudah bersuami, jangan mudah tergoyah dengan semua
kebaikan dan pujian semu” keluh Qiandra dalam hati seraya berusaha menyadarkan
dirinya dan mengembalikan pada mode normal.
Daniel kembali tersenyum puas saat melihat
rona merah muda di wajah cantik wanita yang berdiri dengan salah tingkah di
hadapannya itu. “Baiklah, Qi, apa kamu
ingin terus menjelajah ruangan ini atau kamu mau langsung menuju ke taman”
tanya Dean dengan lembut pada Qiandra.
Yah, selama Qiandra berada di villa ini, tidak
pernah sekalipun Daniel bersikap kasar padanya. Jangankan berbuat kasar, bahkan berbicara dengan kasar pun tidak
pernah. Bahkan saat Daniel sedang emosi
saat mendengar nama Dean pun Daniel tetap bisa tenang dan berbicara dengan
lembut pada Qiandra.
__ADS_1