PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS EMPAT PULUH TIGA


__ADS_3

Lima belas menit kemudian mereka tiba di pulau kedua, dan sang pilot kembali memberikan kode seperti tadi. Dan saat melihat ke bawah mereka semua tahu kalau di pulau itu juga tidak ada villa yang bisa menjadi tempat persembunyian Qiandra. Walaupun Dean bisa melihat pemukiman di pulau itu, namun dia yakin anak buahnya sudah menyisir pulau itu sehingga mereka bisa memberikan kode kalau pulau itu aman.


“Tinggal pulau terakhir” desis Dean dengan ketegangan yang mulai menghampiri mereka kembali. Mereka sangat berharap ada hasil yang lebih baik di pulau terakhir ini, karena jika disini pun bersih, maka mereka harus mengulangdari awal lagi untuk menyusuri jejak Qiandra.


“Waspada” seru asisten Vian pada pilot yang ada di depannya, karena dia tahu kalau memang di pulau ini mereka bisa menemukan Daniel, maka dia yakin Daniel tidak akan berdiam diri. Asisten Vian sangat yakin kalau Daniel telah mengetahui kalau mereka telah melacak keberadaan dirinya saat ini. Yang asisten Vian khawatirkan, Daniel kembali pergi dan melarikan diri membawa Qiandra ke tempat yang lain lagi.


Dean memberikan kode agar mereka bisa memperhatikan dengan seksama keadaan di bawah mereka. Sama dengan asisten Vian, Dean juga merasa khawatir kalau Daniel akan pergi melarikan diri lagi. Lima belas menit kemudian, Dean dan semua yang ada dalam helikopter itu terpana, saat melihat sebuah villa megah yang berdiri di bibir pantai pulau terakhir itu.


Dari kejauhan, Dean bisa melihat dua helikopter terdahulu sudah mendarat, namun lagi lagi mereka tidak bisa melakukan komunikasi dengan tim yang sudah lebih dulu ini. Asisten Vian memberikan kode


kepada pilot untuk turun, dia sangat yakin kalau inilah tempat Daniel menyembunyikan Qiandra.


Helikopter itu mendarat tidak jauh dari kedua helikopter yang sudah lebih dulu berada di tempt itu. Dua orang bodyguard segera turun untuk melihat keadaan terlebih dulu. Tidak lama muncul dua orang bodyguard lain dari dalam hutan dan segera mendekati Dean yang baru turun dari helikopter itu.


Kedua bodyguard yang baru datang itu segera mengarahkan Dean dan timnya untuk masuk ke dalam hutan yang terlindung. Disana Dean melihat sekitar lima orang bodyguardnya bersama dengan beberapa orang lainnya yang diyakininya pasti petugas keamanan.


“Bagaimana keadaannya” tanya Dean pada mereka begitu suara helikopter sudah tidak terdengar lagi.


“Keadaan tenang sejak kami mendarat di sini, Tuan, tidak ada pergerakan sama sekali baik dari dalam villa maupun di luar villa. Kami juga telah menempatkan beberapa orang dan tersebar di sekeliling villa untuk berjaga jaga jika ada yang mencoba melarikan diri. Namun tampaknya semua benar benar sepi, seolah villa ini tidak berpenghuni” lapor salah satu bodyguardnya.


“Jadi kalian belum masuk ke dalam villa” tanya Dean lagi.


“Saya memang meminta mereka untuk tidak masuk ke dalam villa terlebih dulu, Tuan, saya mengkhawatirkan keadaan Nyonya Muda yang di sandera disana. Jika terjadi sesuatu dan lain hal yang membuat kita harus memilih, tentunya kehadiran Tuan disini bisa membuat keputusan yang tepat untuk bisa menyelamatkan Nyonya Muda” sahut asisten Vian.


Asisten Vian memang tidak ingin gegabah saat ini, walaupun keselamatan Dean tetaplah yang utama. Namun, dia juga tidak ingin anak buahnya mengambil keputusan yang salah dalam misi penyelamatan Nyonya Mudanya ini. Bagi asisten Vian, kehadiran Dean tentunya akan sangat membantu dalam membuat keputusan terbaik.


Bukannya asisten Vian tidak bisa melakukan misi ini sendiri. Namun, asisten Vian juga menghindari masalah dalam kesalahan pengamblan keputusan yang nantinya bisa membahayakan Qiandra.


Dean memahami maksud asisten Vian itu, “Baiklah, kalau begitu kita akan masuk sekarang juga, perintahkan semuanya masuk, cukup empat orang yang berjaga di luar untuk melihat kalau ada yang berusaha meninggalkan pulau ini” ucap Dean.


Mereka segera melangkah menuju ke pintu villa itu, pemimpin bodyguard Dean segera membuka pintu villa yang ternyata tidak dikunci sama sekali. Laki laki bertubuh tinggi besar itu menatap ke sekeliling ruangan besar dan merasakan keheningan yang sedikit mencurigakan. Asisten Vian segera mendekati dirinya dari samping, “Ada apa” tanya asisten Vian dengan berbisik.


“Ini terlalu mencurigakan” bisik sang pemimpin bodyguard itu tanpa menoleh ke arah asisten Vian.


“Masuk” desis Dean dengan tidak sabaran, entah mengapa naluri laki laki itu merasakan kalau istrinya memang ada di dalam villa ini.


Sang pemimpin bodyguard itu mengikuti perintah bos besarnya. Dia melangkah perlahan masuk ke dalam villa yang terlihat sangat sepi itu. Semua bodyguard masuk dan segera membentuk formasi melindungi Dean, asisten Vian dan dokter Albert di tengah tengah mereka. Mereka masih terus

__ADS_1


melangkah dengan perlahan dan dalam kewaspadaan tingkat tinggi.


“Sepertinya ini jebakan, Tu …....” ucap sang pemimpin bodyguard, namun belum sempat kalimatnya selesai, pintu villa itu tiba tiba tertutup dengan sendirinya. Dan sebelum mereka sempat bereaksi, mereka telah dikelilingi oleh puluhan bodyguard Daniel.


Beberapa cahaya merah tertuju tepat ke kepala Dean, asisten Vian dan dokter Albert, membuat suasana semakin mencekam.


“Angkat tangan !!!” seru sebuah suara yang entah dimana keberadaannya mengejutkan mereka semua.


Pemimpin bodyguard Dean bergerak ingin melindungi atasannya namun suara itu membuat langkahnya terhenti, “Bergerak satu langkah lagi, maka kepala mereka akan meledak” lagi suara tadi berseru penuh


ancaman, membuat pemimpin bodyguard itu menghentikan langkahnya.


“Lucuti senjata mereka” seru suara itu lagi. Beberapa orang lelaki bertubuh tinggi besar berjalan mendekati mereka dan mulai melucuti semua senjata yang ada di tubuh semua bodyguard Dean. Mereka juga melucuti semua senjata yang ada di tubuh Dean, asisten Vian dan juga dokter Albert.


Saat semua senjata telah terlepas dari tubuh mereka, tiba tiba Dean bergerak dengan sangat cepat,


“Sekarang!!!!!” seru presidir tampan itu seraya memukul salah satu bodyguard Daniel yang ada di dekatnya. Gerakan Dean yang cukup cepat membuat para musuh sempat terkejut dan saat mereka tersadar perkelahian sudah tidak bisa terelakkan lagi. Namun, semua senjata dari pihak Dean sudah sempat


dilempar jauh dari tempat itu. Sehingga terjadilah pertarungan dengan tangan kosong diantara para bodyguard Daniel dan bodyguard Dean.


“Ini ternyata cukup menyenangkan” seru dokter Albert yang sama sekali tidak ditanggapi oleh Dean maupun asisten Vian. Keahlian bela diri ketiga laki laki tampan itu ternyata tidk bisa diremehkan sama sekali. Mereka berhasil menghadapi para bodyguard yang menghalangi mereka bahkan tanpa bantuan dari para bodyguard Dean.


Tiba di lantai dua ternyata tidak ada apa apa sama sekali disana, walaupun terlihat ada beberapa pintu kamar. Saat asisten Vian dan dokter Albert akan menuju ke pintu kamar untuk memeriksa, Dean malah kembali berlari dan naik ke lantai tiga. Asisten Vian dan dokter Albert cukup terkejut melihat sikap Dean, namun mereka tidak mau berdebat dan langsung menyusul Dean dengan berlari.


Setibanya di lantai tiga, Dean menatap sebuah pintu besar yang tertutup rapat. Perlahan Dean melangkah mendekati pintu besar itu, dia menempelkan telinganya di pintu itu dan berusaha menajamkan pendengarannya. Namun, Dean sama sekali tidak mendengar apa pun dari dalam sana.


Tanpa sadar tubuh Dean yang menempel di pintu ruangan itu mendorong pintu besar yang ternyata tidak terkunci. Dean sempat terpaku melihat pemandangan dihadapannya, dia yang diliputi dengan kemarahan yang besar tertegun saat melihat apa yang terjadi di hadapannya.


Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Dean bisa mendengar Daniel berbicara pada Qiandra yang tampak masih menutup matanya. “Aku tahu resiko yang akan aku tanggung, Qiandra, aku mungkin akan mendekam di penjara seumur hidupku. Tapi jika itu bisa membuatmu memaafkan aku, maka aku akan menerimanya, aku siap mempertanggung jawabkan semua kesalahanku di masa lalu terhadap dirimu, Qiandra. Semoga kamu memaafkan keegoisan cintaku ini, cinta yang begitu besar padamu, hingga aku sendiri tidak bisa lagi menguasai hati dan pikiranku” lanjut Daniel lagi.


Kesedihan putra tunggal dari keluarga Mahardika itu, terlihat begitu nyata di mata seorang Dean. Air mata Daniel juga mengalir di pipinya tanpa ia sadari hingga membuat pundak kekarnya bergetar. “Maafkan aku, maafkan aku, Qiandraku, maafkan aku yang terlalu mencintaimu, maafkan aku yang telah


banyak membuatmu menderita karena cintaku. Semoga di kehidupan yang akan datang kita bisa bersatu” isak Daniel begitu tenggelam dalam luka hatinya.


Daniel bahkan tidak menyadari kalau di dalam ruangan itu tidak hanya dirinya dan Qiandra saja. Seorang laki laki lain yang datang dengan penuh kemarahan, tiba tiba menghentikan langkahnya saat melihat


keadaan Daniel. Dia terdiam beberapa saat dan membiarkan Daniel terus mengeluarkan isi hatinya.

__ADS_1


Namun, setelah lama Daniel terdiam barulah dia melangkah mendekati laki laki itu dengan sikap waspada. “Kembalikan dia padaku, Daniel, dia sudah menjadi milikku” desis Dean yang membuat Daniel tersentak sesaat. Namun, Daniel bahkan tidak berpaling ke arah Dean, bahkan dia tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Qiandra.


“Hmmmm, akhirnya kamu datang juga” sahut Daniel dengan acuh.


“Aku akan selalu datang dan menemukannya, dimana pun dia berada, karena dia belahan jiwaku. Jadi, kemana pun dia pergi, jiwaku akan tetap menemukannya” sahut Dean yang melangkah semakin dekat kepada Daniel dan Qiandra.


Daniel mengecup jemari Qiandra dengan lembut sebelum melepaskannya dengan perlahan, membuat Dean hampir saja meledak dan menyerang laki laki itu. Namun, kemarahan Dean tertahan saat mendengar kata kata Daniel.


“Aku mengembalikan dia padamu, Dean, bukan karena aku kalah darimu, aku rasa kamu sudah melihat bagaimana orang orangku menyambutmu. Aku mengembalikan dia, karena aku terlalu mencintainya, aku hanya ingin melihat dia bahagia. Walaupun bahagianya itu akan sangat menyakitkan bagiku, aku rela. Qiandra sudah mengajarkan banyak hal padaku, kesetiaanya dan keteguhan hatinya sudah menyadarkan aku, bahwa cinta memang tidak bisa dipaksakan. Jadi, aku harap kamu membahagiakan


dirinya dan tidak menyia nyiakan harapannya yang begitu besar padamu. Karena jika sekali saja aku dengar kamu melukai dan menyakiti hatinya, maka jangan harap aku akan bermurah hati dan membiarkan kamu menemukan keberadaannya lagi” ucap Daniel dengan panjang lebar.


Dean segera melangkah mendekati tempat tidur Qiandra saat Daniel sudah beridiri dan melangkah menjauh. Dean meraih tubuh lemah wanita itu, perlahan dia menepuk pipi istrinya dengan lembut, “Qi, Qi, bangun Honey, ini aku, buka matamu” bisik Dean dengan lembut. Sayangnya tidak ada reaksi sama sekali dari Qiandra. “Al …..” seru Dean yang tiba tiba merasa panik saat melihat Qiandra tidak juga membuka matanya.


Dokter Albert segera berlari mendekati tempat tidur mewah itu, dia meraih pergelangan tangan Qiandra. “Ada apa ….” tanya Dean dengan tidak sabar.


“Qiqi kehilangan kesadarannya, sepertinya dia mengalami dehidrasi dan kekurangan asupan makanan, kita harus membawanya secepatnya ke rumah sakit” seru dokter Albert yang terlihat cukup cemas.


Dean segera mengangkat tubuh lemah Qiandra, guncangan itu membuat mata Qiandra terbuka sesaat, “Dean, ….. Love, kamu kah ini” desis Qiandra dengan suara yang begitu lemah.


“Iya, Honey, ini aku, bertahanlah, kita akan segera pulang” ucap Dean yang segera melangkah membawa tubuh sang istri. “Jika terjadi sesuatu padanya, jangan harap kamu akan selamat” desis Dean saat melewati Daniel yang masih berdiri tegar sambil melipat tangan di depan dadanya.


“Dia sedang hamil, jaga dia lebih dari nyawamu, ingat pesanku” ucap Daniel tanpa memperdulikan ancaman Dean. Hati laki laki tampan itu kembali tergores saat melihat Qiandra segera merespon dan mengenali Dean sekalipun dalam keadaan sangat lemah. “Sebegitu besarnya arti dirinya bagimu, Qiandra, hah, semoga dia bisa memenuhi semua harapanmu” bisik hati Daniel.


Dean tidak memperdulikan kata kata Daniel, dia setengah berlari sambil menggendong tubuh istrinya. Sementara asisten Vian dan dokter Albert menyusul di belakanngnya sambil tetap berjaga jaga.


Sementara Daniel hanya berdiri tanpa menatap ke arah mereka lagi, laki laki tampan itu hanya menutup matanya dan mendesah berat.


Dean terus membawa tubuh Qiandra turun ke lantai dua dan langsung menuju ke lantai satu dimana tadi sedang terjadi pertarungan antara bodyguardnya dan para pengawal Daniel. Betapa terkejutnya mereka bertiga saat melihat semua bodyguardnya bertekuk lutut di tengah ruangan itu. Pemandangan


ini membuat Dean terpaksa melambatkan langkahnya saat melihat semua bodyguard Daniel menghalangi mereka.


Dean, asisten Vian dan dokter Albert menatap semua bodyguard itu dengan mata tajam. Walaupun mereka punya kemampuan bela diri yang mumpuni, namun jika harus menghadapi musuh sebanyak ini pasti tidak akan mudah. Belum lagi Dean yang tidak akan bisa bergerak sama sekali karena kadua tangannya masih menggendong tubuh Qiandra.


Semua bodyguard Daniel terlihat bersiaga penuh saat melihat ketiga orang itu turun dari lantai dua. Apalagi saat mereka melihat Dean yang sedang menggendong Qiandra, mereka mulai merapatkan barisan untuk menghalangi langkah ketiga laki laki itu. Mereka bahkan mulai bergerak maju dan melangkah mendekati Dean dan kedua sahabatnya.


“Biarkan mereka”

__ADS_1


__ADS_2