PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS LIMA PULUH DELAPAN


__ADS_3

“Maafkan aku, Qiandra, sebenarnya aku hanya ingin menghabisi Charles, tapi bayi dalam rahimmu akan membuat kamu tetap terikat pada bayang bayang suamimu. Aku berjanji akan memberikan anak anak yang jauh lebih lucu dari bayi kecilmu itu. Aku harap kamu bisa melupakan semua kejadian ini, aku akan selalu ada di sampingmu dan akan terus menjagamu, bagaimana pun keadaanmu dan berapa pun waktu yang kamu perlukan untuk melewati masa ini” tulis Daniel.


Tangan Dika yang bergetar memegang buku catatan itu, tiba tiba kehilangan kekuatannya saat membaca pengakuan Daniel itu.  Buku itu langsung terjatuh dari genggamannya, Dika menggelengkan kepalanya tanpa sadar.  “Tidak, tidak, ini tidak mungkin, bagaimana Daniel bisa melakukan hal sekeji itu, tidak hanya Charles tetapi bayi dalam rahim Felicia juga dihabisinya” Dika hanya bisa menggelengkan kepalanya masih berusaha menolak mempercayai pengakuan Daniel itu.


Lama Dika termenung dan tenggelam dalam pikirannya sendiri,  Dika bisa mengerti kalau Daniel sangat terobsesi pada Qiandra.  Namun, sulit bagi Dika untuk menerima kenyataan kalau Daniel lah yang telah membunuh Charles bahkan menggugurkan janin Qiandra.  Dika kembali teringat betapa beratnya kehidupan Qiandra setelah kematian suaminya.


Secara materi bahkan pekerjaan memang Qiandra tidak mengalami kesulitan.  Daniel benar benar melaksanakan kata katanya.  Daniel langsung merekrut Qiandra menjadi pegawainya bahkan menempatkan wanita itu sebagai sekertaris Daniel.  Daniel dan juga Dika tahu kalau semua uang gaji Qiandra selalu diserahkan untuk keluarga mertuanya, termasuk semua bonus bonus yang diterima wanita itu.


Oleh sebab itu, Daniel dan Dika memenuhi semua keperluan Qiandra dengan membeli langsung semua kebutuhan wanita itu.  Mulai dari mobil perusahaan, pakaian, skin care, bahkan makanan dan minuman wanita itu selalu diperhatikan oleh Daniel.  Bahkan tidak jarang Daniel menyerahkan black card untuk Qiandra agar bisa membeli apa saja yang diinginkan oleh wanita itu.


Namun, Qiandra bukanlah wanita yang bisa memanfaatkan kebaikan orang lain dengan begitu mudah.  Qiandra tidak pernah mau menggunakan black card yang diberikan oleh Daniel.  Dia selalu mengatakan kalau semua kebutuhan hidupnya sudah dipenuhi oleh perusahaan sebagai fasilitas yang diberikan untuk seorang sekertaris.


Qiandra tidak tahu saja, kalau Dika harus mencari seorang konsultan wanita agar bisa memahami apa saja yang diperlukan oleh wanita itu.  Mereka menempatkan wanita itu di bagian keuangan agar bisa mengetahui kapan Qiandra memerlukan uang lebih.  Tari, kepala bagian keuangan yang menjadi sahabat dekat Qiandra, ternyata adalah konsultan khusus yang disewa oleh Dika untuk mengetahui semua yang diinginkan oleh Qiandra.


Dengan kedok fasilitas perusahaan, Daniel memenuhi semua kebutuhan Qiandra melalui informasi yang diberikan oleh Tari.  Bahkan tidak jarang Tari mengajak Qiandra berbelanja dengan alasan mentraktir Qiandra.  Padahal dia sengaja disuruh oleh Daniel dan diberi kartu khusus untuk digunakan sepuasnya baik untuk kebutuhan Qiandra juga kebutuhan Tari sendiri.  Tentunya dilakukan agar Qiandra tidak merasa curiga kalau Tari tidak membeli kebutuhannya juga.


Tari sendiri hampir saja di pecat oleh Daniel akibat keterlambatannya melaporkan perihal rekening Qiandra.  Namun, dengan berbagai alasan termasuk ketidak tahuaan Tari atas rencana Qiandra, membuat Dika berhasil membujuk Daniel untuk tidak memecat Tari.  Karena Tari memang punya kinerja yang cukup baik, selain sebagai konsultan pribadi untuk keperluan Qiandra.


Yah, Dika sangat tahu kalau Daniel memang tidak perduli pada seberapa banyak uang yang dihabiskannya untuk Qiandra.  Bukan hanya untuk Qiandra, tapi juga untuk keluarga mertuanya.  Dika sempat merasa heran, mengapa Daniel mau ikut memenuhi kebutuhan keluarga mertua Qiandra saat itu.  Namun, saat ini Dika mengerti kalau semua tu dilakukan Daniel sebagai bentuk tanggung jawab atas perbuatannya yang telah merenggut nyawa Charles.


“Hah, …..” Dika kembali menghembuskan nafas berat, “Mengapa Daniel, mengapa kamu melakukan semua ini, tanpa mengetahui semua ini pun Feli tidak pernah bisa mencintai dirimu, apalagi jika dia mengetahui hal ini, kamu hanya bisa bersyukur kalau Feli tidak sampai membencimu dan bahkan menuntutmu” Desis Dika sambil mengacak rambutnya dengan frustasi.


Dika kembali mengambil buku yang tergelatak jatuh diatas lantai kamar mewah itu.  Dia perlahan melanjutkan membaca buku itu setelah mendapatkan sedikit ketenangan.  Rasa penasaran kembali melanda Dika saat Daniel mulai menuliskan tentang dirinya dan Qiandra.

__ADS_1


“Entah mengapa aku merasa seperti ada sesuatu antara Dika dan Qiandra, tapi tidak mungkin kalau Dika mengkhianati aku.  Tapi, aku melihat seolah ada hubungan tidak kasat mata diantara mereka berdua.  Dan Dika juga selalu berusaha melindungi Qiandra, walaupun dia selalu beralasan menjaga Qiandra untukku.  Tapi aku merasa seperti ada yang berbeda dalam hubungan keduanya, apa mungkin Dika juga menyukai Qiandra.  Tapi, Dika tahu kalau aku sangat mencintai Qiandra, rasanya sangat tidak mungkin dia melakukan hal itu, kecuali jika dia memang berniat menghancurkan aku” tulis Daniel.


Dika hanya tersenyum tipis, “Jangankan dirimu, Daniel, aku sendiri tidak pernah bisa mengerti mengapa aku selalu ingin melindungi dan menjaga Qiandra.  Aku selalu merasa sedih saat melihatnya tertimpa masalah, dan aku turut merasa bahagia saat dia sudah bahagia bersama dengan Dean.  Sayangnya, semuanya berubah saat aku mengetahui siapa Qiandra dan siapa keluarga suaminya itu” desis Dika.


“Liontin ini, jangan jangan Qiandra ini adalah Felicia, adik kecil Dika.  Tapi bukankah Dika sendiri yang mengatakan kalau dia melihat tubuh adiknya yang sudah hangus di reruntuhan villa mereka.  Tapi, tidak ada penjelasan lain yang lebih masuk akal untuk menjawab sikap dan tingkah laku keduanya.  Aku harus membuktikan semua ini, jika memang tidak ada hubungan darah diantara mereka, berarti memang Dika benar benar menyimpan rasa pada Qiandra” kembali tulisan Daniel membuat Dika tersenyum sendiri.


Dika sama sekali tidak menyalahkan kalau Daniel mencurigai sikapnya itu, walaupun dia sedikit kecewa karena Daniel tidak menanyakan langsung padanya.  Tapi seandainya Daniel menanyakan langsung padanya, Dika juga tidak tahu harus menjawab apa.  Karena Dika sendiri bergumul cukup lama untuk memahami perasaannya pada Qiandra.


Dika kembali membuka lembaran buku itu, buku yang seolah membuka banyak misteri bagi hidup Dika dan Qiandra.  Daniel memang tidak menuliskan secara rinci setiap hal yang dilakukan atau dirasakannya.  Dia hanya menuangkan beberapa hal penting saja baik hasil pemikiran, dugaan maupun tindakannya.


Pada halaman berikutnya tulisan Daniel kembali membuat Dika termenung.  “Ternyata Qiandra memang adik Dika, ternyata dia adalah Felicia yang selama ini telah dianggap mati oleh Dika.  Aku ingin menyampaikan berita ini pada Dika, tapi apa dia akan tetap menerima aku nantinya.  Jika dia mengetahui apa saja yang telah aku lakukan terhadap Qiandra, jangan jangan dia akan membenci aku.  Aku bisa menghadapi Qiandra, tapi Dika, ah, aku sungguh tidak bisa kehilangan saudara dan sahabat baik seperti dirinya.  Selain itu, aku yakin Dika juga tidak akan mengijinkan aku lagi untuk melakukan rencana rencanaku yang dianggap bisa menyakiti Qiandra.  Sekarang saja dia selalu mencegahku, apalagi jika dia tahu Qiandra itu saudaranya.  Lebih baik aku sembunyikan saja dulu, hingga waktu yang tepat nanti saat Qiandra benar benar menjadi milikku”


“Hah, seandainya aku tahu sejak awal, Daniel, aku pasti akan mendukungmu, bahkan mungkin aku akan menggunakan gelar kakak itu untuk membantumu.  Apalagi jika aku tahu sejak awal siapa Dean yang menjadi suami Qiandra saat ini.  Sayangnya, aku baru mengetahui semua ini bukan setelah kamu memiliki Qiandra tapi saat kamu sudah benar benar kehilangan adikku” desis Dika seolah menjawab apa yang ditulis oleh Daniel.


“Mengapa kamu masih belum mempercayai aku sepenuhnya, Daniel, hingga kamu sanggup menyembunyikan hal sebesar ini dariku.  Aku harus bagaimana menghadapi dirimu, bahkan saat ini kamu sengaja berpura pura menikmati keberadaannmu di balik jeruji besi.  Tidak tahukah kamu kalau hati aku begitu sakit melihatmu seperti ini, aku sungguh merasa gagal melaksanakan pesan Daddy Putra yang telah mempercayakan dirimu padaku” desis Dika lagi.


Pada saat Dika sedang termenung, tiba tiba liontin yang ada dalam buku itu terjatuh.  Dika mengambil liontin berbentuk unik itu, yang ternyata sudah terbuka karena jatuh.  Dika menatap foto dua anak kecil yang ada dalam liontin itu, “Ah, aku ingat sekarang, ini liontin yang selalu dipakai Daddy dan disembunyikan dibalik bajunya” desah Dika sambil mengelus liontin itu dengan hati hancur.


Tak urung bayangan masa kecil dan masa bahagianya bersama dengan kedua orang tuanya kembali masuk dalam pikirannya.  Dan saat bayangan itu menghilang dan digantikan dengan bayangan saat sang mommy diseret paksa oleh Lee, membuat Dika kembali menggertakkan giginya hingga bergemeletuk.


Dika menggenggam liontin itu dengan erat, “Tidak, aku tidak bisa membiarkan Felicia hidup bahagia di tengah orang orang yang telah menghabisi kedua orang tua kami.  Felicia harus mengetahui hal ini, aku tidak ingin dia menyesal setelah nanti dia sudah memiliki keturunan dari laki laki itu.  Aku akan menyelamatkan adikku, jika keluarga Dean mengetahui siapa Felicia, tidak menutup kemungkinan mereka juga akan menghabisi Felicia” desis Dika lagi.


Dika kembali memperhatikan buku yang ditulis oleh Daniel itu, dia hanya membaca sepintas lalu saja peristiwa lainnya.  Matanya baru berhenti dan membaca dengan seksama saat melihat bagian akhir dari buku itu.

__ADS_1


“Hari ini aku akan merebut Qiandra dari tangan Dean, tidak ada yang bisa mencegahku, termasuk Dika.  Aku sudah cukup lama menunggu hari ini, hari dimana aku bisa membawa Qiandraku ke pulau miliknya sendiri.  Aku akan membahagiakan dia disana, dan untuk semua urusan disini, aku sudah mempersiapkan untuk menyerahkannya pada Dika.  Aku akan kembali bersama dengan Qiandra dan akan membuka semua rahasia ini.  Namun, jika aku gagal, maka aku akan menyerahkan buku ini pada Dika.  Aku percaya, sebagai sahabat terbaik dan satu satunya saudaraku, Dika akan bisa membuat keputusan terbaik untuk semua, baik untukku, untuk Qiandra maupun untuk dirinya sendiri” tulis Daniel mengakhiri buku tersebut.


Dika hanya tersenyum miris, “Hah, sebesar itu harapanmu padaku, Daniel, tidak tahukah kamu betapa aku sangat membenci semua hal yang baru aku ketahui ini.  Aku bahkan kebingungan untuk membuat keputusan, haruskan aku menyelamatkan kamu atau haruskah aku membiarkan kamu tetap mendekam dalam penjara” desis Dika dengan hati bimbang.


Dika kembali menatap liontin yang ada di genggaman tangannya, setelah lama terdiam akhirnya Dika mengambil sebuah keputusan.  “Aku harap ini keputusan terbaik untuk semua orang, Daniel, sebagai sahabat dan saudaramu sudah pasti aku akan menyelamatkan dirimu.  Tapi kesalahan yang kamu lakukan pada adikku cukup fatal, jadi aku akan menyerahkan semua keputusan di tangan Felicia” putus Dika dalam hati.


Dika segera mengumpulkan semua berkas yang menjadi bukti bukti semua yang dituliskan oleh Daniel.  Termasuk hasil pemerikasaan test DNa atas nama Dika dan Qiandra.  Dika mengembalikan semua berkas itu ke dalam laci tersembunyi yang ada di ruang penyimpanan milik Daniel.  Dan setelah meyakini kalau semuanya sudah tersimpan dengan rapi dan aman, Dika akhirnya melangkah meninggalkan ruangan itu.


Dika keluar dari ruang utama yang menjadi ruangan Daniel itu, kemudian dia meraih phonsel yang ada di saku celananya.  Sejenak Dika mengaktifkan phonselnya yang memang sengaja di non aktifkannya tadi.  Seketika berbagai pesan dan laporan panggilan masuk menyerbu phonselnya.


Namun, Dika sama sekali tidak memperdulikan semua notifikasi itu, dia hanya menekan sebuah nomor.  “Will, segera urus pembebasan bersyarat Daniel, berikan uang jaminan berapapun yang mereka minta” ucapnya dengan suara tegas.


“Tapi, Tuan …..” seru asisten William yang segera dipotong ole Dika.


“Abaikan semua yang lain, tugas utamamu saat ini adalah mengeluarkan Daniel dari penjara.  Aku tidak perduli bagaimana caranya, aku tidak akan memaafkan dirimu kalau sampai matahari terbenam Daniel masih di penjara” seru Dika tanpa mau perduli dengan alasan asisten William.


“Ba baik, Tuan, akan segera saya laksanakan, tapi bisakah Anda kembali ke kantor dulu sekarang ini, Tuan” tanya asisten William dengan sedikit ragu.


“Aku akan kembali sekarang, dan kamu


selesaikan saja apa yang sudah aku tugaskan, dan segera laporkan padaku semua perkembangannya” sahut Dika.


Sebenarnya Dika enggan untuk mengurus masalah perusahaan saat ini.  Yang dia inginkan saat ini adalah menemui Felicia atau Qiandra dan mengatakan tentang kebenaran hubungan mereka berdua.  Namun, lagi lagi Dika tertahan saat dia mengingat kalau sang adik saat ini kondisinya masih belum stabil.  Dika akan bertahan beberapa hari lagi sambil menunggu perkembangan keadaan Qiandra, barulah dia akan menemui wanita itu.

__ADS_1


Dika akhirnya keluar dari mansion mewah milik Daniel dan langsung menuju ke mobilnya.  semakin dipikirkan, Dika semakin yakin dengan keputusannya.  “Memang hanya Felicia lah yang bisa menentukan hukuman untukmu, Daniel, aku hanya perlu mencari waktu yang tepat untuk memberitahukan hal ini pada Felicia” desis Dika lagi.  Dika lalu segera mengendarai kendaraannya dan mengarahkannya menuju ke kantor pusat PT.Mahardika.  Dika yakin segudang pekerjaan sudah menunggunya saat ini.


__ADS_2