
“Jelaskan” ucap Dean sambil menatap ke arah pengacara kerajaan. Pengacara kerajaan sejenak membungkuk, lalu melirik sesaat ke arah dokter Albert dan asisten Vian. “Mereka
boleh mengetahui semuanya” ucap Dean lagi yang mengerti arti lirikan sang pengacara.
“Baiklah, Yang Mulia, penyelidikan terhadap kasus ini masih terus berjalan, mungkin dalam satu minggu lagi kita akan mulai gelar perkara untuk setiap kasus yang sudah siap
untuk disidangkan. Dari beberapa korban
yang sudah diselidiki, pihak kerajaan masih bersih dan tidak terlibat secara langsung, sehingga semua tanggung jawab sekarang berada di tangan orang orang yang telah melakukan eksekusi” ucap sang pengacara memberikan laporan.
“Apakah para korban memang benar benar bersalah dan melakukan pengkhianata” tanya Dean.
“Sementara ini, lebih dari lima puluh persen korban yang sudah diselidiki memang benar
melakukan pengkhianatan, Yang Mulia” sahut sang pengacara lagi.
“Hmmm, dan apakah keluarga korban bisa menerima hal itu” tanya Dean lagi.
“Sementara ini mereka belum memberikan reaksi, mungkin menunggu sampai sidang digelar” sahut sang pengacara lagi.
“Bagaimana dengan Kenrich Hamilton” tanya Dean lagi.
“Untuk Tuan Kenrich Hamilton masih dalam tahap pemeriksaan beberapa berkas karena masih ada yang belum selesai diselidiki” ucap sang pengacara.
“Bagaimana hasilnya sejauh ini” tanya Dean lagi. Sang pengacara mendesah sesaat, ini hal yang cukup berat untuk disampaikan olehnya, karena dia juga tahu kalau Kenrich Hamilton juga ayah mertua sang raja. “Katakan saja” ucap Dean dengan suara tegas.
“Maafkan saya, Yang Mulia, tapi sepertinya dari beberapa berkas yang sudah dibuka, kemungkinan Tuan Kenrich Hamilton memang melakukan pengkhianatan” ucap sang pengacara dengan suara perlahan.
Dean mendesah berat, dia terdiam seketika saat mendengar jawabab dari si pengacara. “Tapi semua ini masih belum final Yang Mulia,
masih ada beberapa berkas terakhir yang mungkin saja bisa mematahkan hasil ini”
sang pengacara kembali angkat bicara.
“Hmmmm, bagaimana peluangnya” tanya Dean lagi.
Sang pengacara mendesah sesaat, “ Lima puluh lima puluh, Yang Mulia” sahutnya dengan wajah menunduk.
“Baiklah, tolong pastikan segala sesuatunya berjalan sesuai dengan jalur yang seharusnya. Bantu juga keluarga Kenrich Hamilton, jangan sampai ada kesalahan” ucap Dean pada akhirnya setelah sesaat terdiam.
__ADS_1
“Baiklah, Yang Mulia, jika tidak ada lagi yang ingin Anda tanyakan, saya mohon undur diri”
ucap sang pengacara yang memang merasa sedikit tidak nyaman berada dalam
ruangan itu.
“Hmmmm” Dean tidak menjawab si pengacara, hanya menganggukkan kepalanya sekilas. Pengacara kerajaan segera membungkukkan badannya ke arah Dean lalu sedikit mengangguk ke arah asisten Vian dan dokter Albert sebelum melangkah meninggalkan ruangan itu.
Dokter Albert dan asisten Vian hanya berdiam diri, mereka tidak ingin membuka suara terlebih dahulu. Walau bagaimanapun, saat ini status Dean sudah berubah, mereka tidak bisa bersikap seenaknya seperti biasa. Lagi pula Dean belum menjelaskan apapun
tentang kasus yang sedang ramai diperbincangkan baik di dunia nyata maupun di jagat maya.
Dean menatap keduanya, “Kenapa kalian diam” tanyanya pada asisten Vian dan dokter Albert.
Asisten Vian menatap Dean sekilas lalu menundukkan kepalanya, “Maafkan kami Yang Mulia, kami ......” kata kata asisten Vian terhenti saat merasakan sebuah benda mengenai kepalanya. Asisten Vian seketika
mengangkat kepalanya dan cukup terkejut saat melihat sebuah ballpoint terjatuh
di hadapannya.
“Berhenti bersikap konyol, apa kalian berdua lupa hubungan diantara kita tidak akan
Kata kata Dean membuat asisten Vian mengerti kalau Dean lah yang sudah melempari dirinya. “Tapi Yang Mulia ......” asisten Vian kembali tidak bisa melanjutkan kata katanya.
“Jika kamu masih memanggilku seperti itu, maka aku akan meninggalkan kalian berdua dengan jubah itu” seru Dean lagi membuat kedua sahabatnya itu tersenyum simpul.
“Heh, kukira kamu akan berubah, kami berdua kan hanya takut saja, salah salah kami di hukum karena tidak menghormati raja” kekeh dokter Albert dan berakhir dengan timpukan
kertas di kepalanya. “Hei, apa kamu
sedang latihan basket, jangan buat kepala kami sebagai sasarannya” seru dokter
Albert dengan kesal.
“Maka berhentilah dengan segala omong kosongmu itu” seru Dean dengan kesal juga.
Asisten Vian hanya bisa mendesah melihat kelakuan absurb kedua orang itu, mereka memang selalu begitu. Tapi, asisten Vian juga tak pelak tersenyum karena kebersamaan seperti inilah yang memang menjadi ciri khas mereka bertiga. Sepertinya memang tidak ada berubah sekalipun ada begitu banyak masalah yang mereka hadapi.
“Sekarang, apa kamu merasa tidak ada yang ingin kamu jelaskan pada kami, jika tidak, aku akan segera kembali ke rumah sakit” lanjut dokter Albert.
__ADS_1
Dean mendesah sesaat, dia mengerti kalau kedua sahabatnya itu pasti menunggu penjelasan darinya. Dean sadar kalau apa yang akan disampaikannya nanti bisa saja membuat kedua sahabatnya itu salah tanggap dan merasa tersinggung. Dean menatap keduanya yang terlihat menunggunya untuk berbicara.
“Jangan memaksakan diri, jika memang belum bisa, kami bisa mengerti” ucap asisten Vian yang melihat keraguan di mata Dean.
“Bukan begitu, aku hanya khawatir kalian akan salah tanggap” desah Dean, dia berdiri lalu menghampiri meja rapat dan duduk di hadapan kedua sahabatnya itu. “Sebenarnya, aku rasa kalian sudah tahu masalah Qiandra dan Dika juga kasus kedua orang tuanya” ucap Dean sambil menatap intens kedua sahabatnya.
Asisten Vian dan dokter Albert hanya diam menunggu Dean melanjutkan pembicaraannya. “Pada awalnya, semua ini menjadi rahasia karena Dika meminta aku untuk merahasiakannya. Dia beralasan itu untuk keselamatn Qiandra, karena kami sama sekali tidak tahu banyangan apapun dari masalah ini. Yang kami tahu saat ini hanya sebatas tuduhan kalau ayah mereka telah
berkhianat kepada kerajaan dan berakhir dengan tragis. Aku sendiri sempat emosi karena aku ingat betul nama Kenrich Hamilton memang masuk dalam daftar para pengkhianat, dan aku rasa kalian juga tahu bagaimana keadaan keluargaku saat itu” lanjut Dean.
Asisten Vian dan dokter Albert masih diam, mereka berdua seketika mengingat bagaimana kesulitan keluarga Dean saat itu, hingga kehilangan nenek yang sangat dikasihinya. “Kami sama sama terguncang saat itu, kalian bisa bayangkan keadaannya saat orang yang kita cintai ternyata penyebab tragedi besar dalam kehidupan kita, bahkan hingga saat ini aku juga masih belum tahu
bagaimana bersikap atas apapun hasil yang akan keluar nanti. Kalaupun orang tua mereka terbukti bersalah maka mereka tentu akan merasa tidak nyaman, apalagi Qiandra, dia pasti akan merasa tidak layak. Demikian juga bila hasilnya orang tua mereka terbukti tidak bersalah, maka aku sendiri yang akan merasa sangat bersalah. Kalian bisa bayangkan seberapa banyak masalah yang sudah mereka jalani” ucap Dean seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
Dokter Albert dan asisten Vian masih terdiam, keduanya tampak turut memikirkan keadaan sang sahabat. Namun, beberapa saat kemudia dokter Albert membuka suara, “Jadi selama ini yang kamu rahasiakan adalah
masalah ini” tanyanya.
“Benar, Dika sungguh tidak ingin orang lain mengetahui masalah ini, karena saat itu kami
tidak tahu siapa yang pernah terlibat” sahut Dean dengan sedikit ragu.
“Jangan bilang kamu mencurigai kami juga terlibat” desis dokter Albert, dia bisa melihat
keragu raguan Dean.
“Tidak sama
sekali, tapi Dika memaksa bahkan memohon demi keselamatan Qiandra agar jangan
banyak orang yang tahu. Aku rasa semua
itu adalah bentuk kekhawatiran Dika terhadap nama baik keluarganya” sahut Dean
dengan tegas.
“Lalu mengapa
kamu memutuskan untuk membuka kasus ini untuk umum” tanya asisten Vian.
__ADS_1