PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
DUA PULUH TIGA


__ADS_3

Qiandra terkejut saat ada tangan menepuk pundaknya dengan lembut, rasanya dia baru saja terlelap.  Saat Qiandra mengangkat kepalanya dia terkejut melihat Daniel telah  berdiri dihadapannya.  Qiandra segera berdiri, namun badannya agak terhuyung karena dia baru bangun dari tidurnya yang hanya sebentar.


Daniel segera menangkap tubuh Qiandra agar tidak sampai terjatuh, Qiandra secepatnya melepaskan diri dari pelukan Daniel.  “Qian….” desah Daniel dengan penuh rasa khawatir.


“Ma-maaf, Tuan, saya ketiduran” Qiandra melirik jam di mejanya, keningnya mengernyit melihat waktu baru menunjukkan pukul enam pagi, yang artinya Qiandra memang masih punya waktu beristirahat.


“Aku hanya ingin menyuruhmu beristirahat didalam saja, Qian, badanmu akan pegal jika kamu tidur seperti tadi terlalu lama, tidurlah di kamar istirahatku” ucap Daniel lembut.


“Terima kasih, Tuan, saya akan beritirahat di ruang rehat karyawan, saya permisi dulu” ucap Qiandra seraya berlalu dari hadapan Daniel.


“Qian…” Daniel menahan tangan Qiandra, namun saat dia melihat tatapan tajam Qiandra, Daniel segera melepaskan tangan Qiandra, “Aku hanya ingin mengajakmu sarapan bersama” ucap Daniel dengan lembut.


Qiandra tidak menolak ataupun mengiyakan tawaran Daniel, dia justru berbalik ke arah lemari barang pribadinya.   Qiandra mengambil satu paper bag yang berisi setelan kantor yang mewah, kemudian dia melangkah meninggalkan laki-laki itu menuju ke lift karyawan.


Qiandra mendesah berat, kepalanya sedikit pusing karena kurang istirahat, alih-alih pergi ke ruang rehat karyawan, Qiandra malah pergi ke ruang kesehatan.  Seorang perawat yang  sedang bertugas jaga terkejut melihat kehadiran Qiandra pada jam sepagi itu.


“Nona Qiandra, ada apa” tanya perawat itu.


“Mbak, bisa minta tolong cek tekanan darahku, terus minta suntik vitamin ya, sepertinya aku kelelahan, tadi malam aku lembur” ucap Qiandra.


“Ah, tentu saja, Nona, mari, Nona bisa beristirahat di ruang perawatan dulu, saya akan mempersiapkan peralatan dan vitamin untuk Nona” ucap perawat itu ramah.  Semua karyawan di kantor pusat PT.Mahardika memang mengenal Qiandra, dan mereka menyukai Qiandra karena dia tidak pernah sombong dan selalu ramah pada semua orang.


Qiandra masuk ke dalam salah satu ruang perawatan, lalu membaringkan tubuhnya yang terasa sangat lelah.  Perawat itu segera  menyusul Qiandra, dia memeriksa tekanan darah Qiandra, “Tekanan darah Anda sangat


rendah, Nona, Anda harus banyak beristirahat” ucapnya.


Qiandra hanya tersenyum getir, “Saya akan menyuntikkan vitamin untuk Anda, Nona, setelah itu Anda bisa beristirahat lagi” ucap perawat itu.  Kemudian dia mengambil vitamin dan menyuntikkan pada Qiandra.


“Terima kasih, Mbak, mungkin aku akan setiap hari minta suntikan vitamin, Mbak” ucap Qiandra.


“Tapi, itu tidak terlalu baik, Nona, istirahat dan mengkonsumsi makanan bergizi adalah cara terbaik untuk memulihkan stamina Anda” ucap perawat itu dengan ramah.

__ADS_1


“Aku memerlukannya untuk dua minggu ke depan, banyak hal yang harus aku kerjakan” ucap Qiandra.


“Baiklah, Nona, sekarang silahkan Anda beristirahat dulu” ucap perawat itu, lalu dia keluar dari ruangan itu.  Qiandra yang memang sangat mengantuk langsung memejamkan matanya, namun sebelum dia terhanyut, dia mengambil phonselnya dan memasang alarm.


Perawat yang memeriksa Qiandra terkejut saat keluar dari ruang perawatan, dia melihat Daniel sudah berdiri di depan ruangan itu.  “Tu-Tuan….”ucapnya terkejut, namun dia segera menutup mulutnya saat melihat Daniel meletakkan jari telunjuk di bibirnya.


“Bagaimana dia” tanya Daniel dengan suara pelan sambil melirik ke dalam ruang perawatan.


Perawat itu mengerti siapa yang ditanyakan oleh presidirnya itu, “Nona Qiandra hanya kelelahan, kurang istirahat, dan tadi saya sudah memberinya vitamin, tapi…” perawat itu ragu-ragu melanjutkan kata-katanya.


“Ada apa” tanya Daniel dengan kening berkerut, “Jangan coba menyembunyikan apapun” desisnya penuh ancaman.


“Maaf, Tuan, emmm, Nona Qiandra mengatakan akan meminta suntikan vitamin setiap hari, selama beberapa hari ke depan, katanya dia punya banyak pekerjaan” ucap perawat itu.


“Berapa lama” tanya Daniel lagi.


“Dua minggu kedepan, Tuan” ucap perawat itu.


Perlahan Daniel meraih tangan Qiandra, dia mengecupnya dengan lembut agar tidak membangunkan wanita itu.  “Sebenarnya ada apa denganmu, Qian, mengapa kamu bekerja sekeras ini, dan mengapa kamu tidak mau menerima bantuanku.  Ah, aku tidak tahu lagi bagaimana caranya meminta maaf padamu, aku sungguh menyesali semua yang telah terjadi.  Dengan cara apa aku harus menundukkan hatimu, Qian, cinta ini terlalu besar, dan aku merasa begitu sakit saat kamu selalu menentangku bahkan mengabaikan aku” keluh Daniel dalam hatinya.


Daniel menatap wajah cantik wanita yang begitu dicintainya itu, perlahan tangannya membelai wajah Qiandra dengan penuh kasih.  Daniel bahkan mengecup lembut kening Qiandra, hatinya bergetar hebat menahan keinginan mengecup bibir seksi wanita itu.


Tiba-tiba Qiandra bergumam, “Kak, Kak Charles, Qi mohon, bawa Qi, bawa Qi, Kak, mengapa Kak Charles membohongi Qi, Qi tidak bahagia, Kak, Qi malah semakin menderita, mengapa Kak” gumam Qiandra yang terdengar jelas oleh Daniel.


Daniel terkejut melihat airmata mengalir di sudut mata wanita itu, “Sebegitu menderitanya kamu, Qian, hingga dalam mimpimu pun kamu menangis, maafkanlah aku yang sudah menambah penderitaanmu” gumam Daniel pelan.


Daniel merasakan penyesalan yang teramat dalam saat melihat penderitaan yang disimpan Qiandra sendiri.  Dia sangat menyadari, jika dia juga menjadi salah satu penyebab penderitaan Qiandra.  Daniel menyadari untuk saat ini dia tidak bisa memaksa untuk mendekati Qiandra, mungkin dia memang harus mengalah dulu.


Daniel terkejut saat ada sebuah alarm berbunyi dari sebuah phonsel murahan, namun Daniel tidak sempat berpikir.  Dia secepatnya meninggalkan ruangan itu, saat dia melihat perawat tadi, Daniel menghampirinya, “Pesankan sarapan sehat untuknya, dan katakan itu bagian dari program kalian” ucapnya berpesan pada perawat itu.


“Baik, Tuan” sahut perawat itu.

__ADS_1


“Dan jangan bilang kalau aku ada datang kesini, ini hanya rahasia kita berdua, jika ada yang mengetahuinya, kamu tahu resikonya” ucap Daniel dengan tegas.


“Ba-baik, Tuan” ucap perawat itu.


“Berikan semua yang terbaik untuknya, aku akan memberi bonus yang besar untukmu, tapi mulai saat ini hingga dua minggu kedepan, aku mau kamu terus berjaga malam disini” ucap Daniel lagi.


“Terima kasih, Tuan, baik saya akan mengatur jadual jaga kami, Tuan” sahut perawat itu dengan penuh sukacita.


Daniel segera melangkah meninggalkan ruang perawatan itu dan kembali ke ruangannya.  Didalam ruangannya sudah ada asisten Dika menunggu dengan menu sarapan lengkap.  Daniel segera duduk di sofa dan mulai  menikmati sarapannya, “Makan saja, Vian, dia tidak akan mau makan bersamaku” ucap Daniel dengan getir.


“Dimana Nona Qiandra, Tuan” tanya asisten Dika.


“Dia di ruang perawatan, dia mengambil lembur full time, aku mengkhawatirkannya, aku takut tubuhnya tak cukup kuat” desah Daniel dengan  suara berat.  “Aku tidak tahu lagi bagaimana cara agar dia mau menerima bantuanku, dia ingin lembur hingga dua minggu kedepan” lanjutnya lagi.


“Dua minggu, bukankah itu waktu untuk gajian, Tuan” sahut asisten Dika.


“Ah, kamu benar, Dik, berarti Qiandra memang memerlukan uang untuk keperluan hidupnya dan mungkin juga tempat tinggalnya, apa dia ingin membeli apartemen, ya” tanya Daniel berusaha menebak apa yang diinginkan


Qiandra hingga mau bekerja keras seperti itu.


“Emmm, Tuan, bagaimana kalau kita merebut kembali rumah Nona Qiandra, kurasa itu akan sangat membantunya, dan mungkin akan bisa membuatnya memaafkan Anda” ucap asisten Dika memberikan saran pada Daniel.


“Kamu benar, Dik, segera urus segala sesuatunya, aku mau berkas rumah itu sudah atas nama Qiandra dalam dua hari kedepan” sahut Daniel, membuat asisten Dika merutuki idenya itu dalam hati.


“Astaga, masa cuman dua hari, memangnya membalik telapak tangan, heh, kenapa juga mulutku ini memberikan saran seperti itu tadi” keluh asisten Dika  dalam hati.  Karena waktu yang diberikan Daniel, membuat asisten Dika harus memutar otak untuk mencari cara cepat mendapatkan kembali rumah Qiandra itu.


“Jangan menggerutu, Dik, aku tahu kamu bisa melakukannya” ucap Daniel yang melihat asisten Dika terdiam setelah mendengar waktu yang diberikan Daniel.


“Akan saya usahakan, semampu saya, Tuan” sahut asisten Dika.


“Harus bisa, Dik, aku tidak ingin melihat Qiandra terus bekerja keras” ucap Daniel lagi.

__ADS_1


“Baik, Tuan” sahut asisten Dika walaupun dalam hati dia masih belum menemukan caranya.


__ADS_2