
“Apakah ada khabar dari ruang operasi, love” tanya Qiandra pada Dean yang baru saja meletakkan phonselnya di meja. Qiandra baru selesai membereskan tempat makan mereka berdua.
Dean menarik tangan Qiandra dan membawa wanita itu duduk di pangkuannya, “Belum ada, honey, aku tadi hanya menghubungi Vian untuk menanyakan keadaan perusahaan” sahut Dean.
“Love, maafkan aku yang malah merepotkanmu, kamu bisa kembali pulang kalau dokter Albert nanti sudah selesai melaksanakan operasi” ucap Qiandra. Qiandra wanita yang terbiasa hidup mandiri, dan dia sangat tidak nyaman jika harus merepotkan orang lain karena urusan pribadinya.
“Honey, apa maksudmu, aku tidak akan meninggalkanmu disini sendirian lagi, aku akan kembali jika kamu sudah bersedia kembali bersamaku” ucap Dean dengan tegas, dia membelai rambut panjang Qiandra dengan penuh kasih.
“Love, aku belum siap untuk kembali, bertemu lagi dengan semua masa lalu itu, entahlah, aku merasa benar-benar belum siap” desah Qiandra dengan menundukkan kepalanya.
“Aku akan menunggu hingga kamu siap, honey, dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi walau hanya sesaat” ucap Dean, Qiandra hanya bisa menatap wajah tampan itu dengan sendu.
“Jangan bersikap seperti itu, love, kamu tahu aku tidak akan pergi kemanapun lagi, aku akan tetap selalu ada disini untukmu, kamu tahu kesetiaanku pada Kak Charles, dan saat ini aku kembali mengikat kesetiaanku padamu, jangan pernah ragukan itu” desah Qiandra, matanya menatap sendu ke dalam bola mata elang sang kekasih.
“Benarkah itu, honey, benarkah kamu tidak akan meninggalkan aku lagi dan akan tetap setia padaku” tanya Dean, laki-laki itu menatap lekat kedua bola mata Qiandra, berusaha mencari kesungguhan dan kejujuran disana. Ada bahagia yang perlahan menyeeuak dalam hatinya mendengar kata-kata wanita cantik di pangkuannya itu.
“Sepanjang kamu setia, maka aku akan tetap setia, love, kecuali jika kamu mulai berpaling dan memilih yang lain, maka aku akan melangkah pergi darimu” sahut Qiandra dengan penuh keyakinan.
“Aku tidak akan mungkin berpaling darimu, honey, kamu tahu itu, tapi aku juga seorang public figure, pasti akan ada banyak pemberitaan tentang diriku yang kadang tidak jelas asal usulnya, apakah kamu tetap akan mempercayai semua itu” tanya Dean. Dean memang mengkhawatirkan Qiandra akan cemburu buta jika mendengar dan melihat pemberitaan dan gossip-gosip tentang dirinya.
“Aku tidak sebodoh itu, love, aku tidak akan mudah percaya dengan berita kacangan seperti itu, aku hanya akan percaya pada apa yang aku lihat secara langsung dan tentunya dengan berbagai bukti yang akurat” sahut Qiandra dengan yakin. Qiandra sangat menyadari resiko menjadi kekasih seorang Dean Walt Zacharias. Belum apa-apa, hari ini saja kehidupannya sudah mulai diusik dengan kehadiran wartawan yang mengejar Dean.
__ADS_1
Dean tersenyum mendengar kata-kata Qiandra, dia cukup puas mendengar jawaban wanita yang sangat dicintainya itu. “Honey, terima kasih atas kepercayaanmu, aku janji akan menjaganya dengan nyawaku, peecayalah pasaku, bagiku, daripada aku kehilangan kepercayaanmu, maka aku lebih memilih kehilangan nya……” kata-kata Dean terputus karena Qiandra meletakkan jarinya di bibir laki-laki itu.
“Jangan pernah mengucapkan kata-kata seperti itu, love, kamu tahu deritaku mengalami hal itu” ucap Qiandra dengan suara sendu.
“Maafkan aku, honey” Dean tesentak saat mendengar suara sedih Qiandra, dia paham bahwa wanita itu pasti teringat pada rasa sakit yang dialaminya setelah kematian suaminya. Dean mengangkat wajah Qiandra yang tertunduk, dilihatnya kedua bola mata coklat itu mulai mengalirkan bulir bening.
Dean segera menghapus air mata yang mulai menetes di sudut mata Qiandra, “Jangan, jangan pernah bersedih lagi, honey, aku akan selalu ada bersamamu” ucapnya dengan suara lembut, ada penyesalan dalam hatinya karena telah membuat sang kekasih bersedih. Perlahan Dean mengecup bulir airmata yang mulai membasahi pipi Qiandra.
Kecupan Dean menyapu seluruh airmata Qiandra, dan perlahan mulai turun ke bibir seksi wanita itu. Dengan penuh kelembutan, Dean mulai ******* bibir merah muda alami yang selalu terlihat menggoda itu. Dan Dean
semakin bersemangat saat merasakan bibir basah sang kekasih mulai terbuka secara perlahan menerima sentuhan bibirnya.
Qiandra terhanyut dalam sentuhan bibir Dean, tangannya dikalungkan di leher laki-laki itu. Dalam posisi masih berada dalam pangkuan Dean, Qiandra perlahan membuka mulutnya dan menerima setiap sentuhan kelembutan yang diberikan oleh laki-laki itu. Lidah Dean bermain dengan sangat lincah didalam mulut Qiandra, membuat wanita itu tak tahan untuk tidak membalas permainan lidah sang kekasih.
Saat Dean sudah mulai membuka kancing gaun yang dikenakan Qiandra, Qiandra juga mulai membuka kancing kemeja Dean, tiba-tiba phonsel Dean berbunyi. Namun, Dean tidak memperdulikannya, dia benar-benar sedang terbakar gairah pada wanita yang saat ini pasrah berada di pangkuannya.
Namun, tak lama kemudian, phonsel Qiandra lah yang berbunyi, membuat wanita itu segera melapsakan diri dari Dean. “Shitt…..” umpat Dean dengan kesal, dua kali sudah harapannya digagalkan hari ini, dan ini benar-benar membuat Dean menggeram menahan segala rasanya.
“Maafkan aku, love” ucap Qiandra dengan sendu, lalu dia segera meraih phonselnya, “Ibu…” desisnya dan didengar oleh Dean, membuat laki-laki itu juga segera meraih phonselnya dan melihat bahwa tadi dokter Albert yang menghubungi dirinya.
“Halo, Ibu, ada apa Bu, maaf aku terlalu lama meninggalkan Ibu” ucap Qiandra dengan penuh rasa bersalah.
__ADS_1
“Tidak mengapa, Nak, ibu hanya ingin mengabarkan kalau operasinya sudah selesai dan berjalan dengan lancar” ucap Bik Sum denga suara bahagia.
“Oh, syukurlah kalau begitu, Bu, baiklah aku akan kembali ke ruangan sekarang juga” sahut Qiandra lalu dia memutuskan sambungan telepon itu. Saat dia menatap ke arah Dean, Qiandra melihat laki-laki itu sedang mengerutkan keningnya dengan wajah yang cukup serius.
“Ada apa, love” tanya Qiandra ragu-ragu setelah melihat Dean sudah menutup teleponnya.
“Apa kata Bik Sum” Dean balik bertanya pada Qiandra.
“Kata Ibu, operasinya sudah selesai dan semunya berjalan dengan lancar” sahut Qiandra, Dean hanya menarik nafas berat saat mendengar ucapan Qiandra. “Sebenarnya, ada apa, love” tanya Qiandra lagi.
“Operasinya memang berjalan lancar, honey, tapi ternyata cidera di kakinya lebih parah dari yang diperkirakan, kemungkinan dia akan lumpuh” sahut Dean dengan berat hati.
Qiandra terkejut mendengar perkataan Dean, lututnya terasa goyah dan membuatnya kembali duduk di sofa. “Apa, apa tidak ada cara untuk menolongnya” tanya Qiandra dengan suara bergetar.
“Entahlah, honey, sebaiknya kita bicarakan hal ini dengan Albert, semoga saja dia punya jalan keluarnya” sahut Dean, walau dia juga merasa ragu.
“Kalau begitu, kita segera kesana sekarang, love, aku harus segera berbicara dengan dokter Albert” seru Qiandra, dia segera berdiri dan mengambil tas tentengnya. Dean mengikuti Qiandra, lalu dia menyerahkan masker dan kacamata hitam Qiandra, sementara dia sendiri juga segera memakai masker dan topinya.
“Love, sebaiknya jangan membicarakan hal ini dihadapan Ibu dan Jossie, aku khawatir mereka akan bersedih dan putus asa, sebelum kita benar-benar bisa menemukan jalan keluarnya” ucap Qiandra pada Dean, saat mereka berdua melangkah meninggalkan kamar hotel itu.
“Baiklah, honey, tapi aku harap kamu harus bisa tetap tenang, percayalah, aku akan selalu membantumu dan akan mendukung apapun usaha yang bisa dilakukan untuk kesembuhan adikmu” ucap Dean dengan tulus, dia menggenggam tangan Qiandra, seakan memberi kekuatan pada wanita itu.
__ADS_1
“Terima kasih, love” sahut Qiandra, wanita ini memang merasa sangat bersyukur karena disaat berat seperti ini, ada yang mampu memberikannya dukungan dan semangat untuk menghadapi semuanya. Genggaman kuat laki-laki ini membuat Qiandra merasa aman dan tenang menghadapi masalah yang menanti di depannya.
Sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara itu, melangkah beriringan dengan terus berpegangan tangan. Tidak ada yang mengenali keduanya karena wajah mereka yang tertutup, namun setiap orang yang melihat keduanya, selalu berpikir kalau mereka memang pasangan yang serasi dan bahagia.