
Hari ini Qiandra dan Dean kembali ke rumah Qiandra, setelah menikmati beberapa hari yang panas di villa mewah. Qiandra langsung mendatangi Bik Sum yang saat itu sedang asyik membersihkan berbagai peralatan di dapur. “Selamat malam, Bu” sapa Qiandra seraya memeluk wanita tua itu dari belakang punggungnya.
“Nak, kamu sudah pulang, kenapa tidak memanggil ibu” seru Bik Sum yang terkejut mendapatkan pelukan hangat dari Qiandra. Bik Sum sangat hapal, kalau setiap kali wanita cantik ini pulang dan Bik Sum tidak menyambutnya, maka dia akan segera mencari Bik Sum dan memeluk Bik Sum seperti ini.
“Ibu terlalu asyik sich, jadi tidak mendengar panggilanku” ucap Qiandra dengan lembut pada wanita tua itu.
“Ah, maafkan ibu, Nak, dan dimana suamimu, apa dia sudah kembali ke kota” tanya Bik Sum karena tidak melihat keberadaan Dean.
“Aku disini, Bu, mana mungkin aku meninggalkan istriku ini lagi” Dean tiba-tiba muncul dan langsung meraih pinggang istrinya dengan mesra. Bik Sum cukup terkejut karena kemunculan Dean yang tiba-tiba.
“Oh, eh Tu, eh maksudku Nak Dean, maaf, ibu kira tadi kamu sudah kembali” ucap Bik Sum dengan gugup, dia memang masih belum terbiasa memanggil Dean tanpa embel-embel “tuan”. Qiandra dan Dean tersenyum melihat wanita tua itu salah tingkah dan gugup.
Qiandra meraih tangan Bik Sum lalu membawanya untuk duduk di meja makan, “Bu, Dean memang akan kembali dalam beberapa hari ke depan, tapi tidak sendiri, aku juga akan ikut pergi bersama dengannya. Karena itu, aku ingin menanyakan pada ibu, apa ibu bersedia untuk ikut bersama denganku kembali ke sana” tanya Qiandra pada Bik Sum.
Bik Sum menatap Qiandra dan Dean dengan bergantian, kemudian dia menghembuskan nafas berat, “Nak, ibu akan ikut kemanapun kamu akan pergi, kamu tahu bagaimana hati ibu, namun untuk saat ini jika boleh, ibu memohon ijinkan ibu untuk tinggal di sini dulu. Ibu tidak tega meninggalkan Jossie dalam keadaannya sekarang ini” Bik Sum berbicara dengan wajah tertunduk di hadapan Qiandra dan Dean.
Satu minggu setelah pernikahan mereka, Dean dan Qiandra memutuskan untuk segera kembali ke kota metropolitan. Qiandra menanyakan kesediaan Bik Sum untuk tetap bersama dengannya kembali ke kota metropolitan. Qiandra sangat berharap Bik Sum mau ikut bersama dengannya, karena memang Bik Sum yang selalu mendampinginya selama ini.
“Lagipula sekarang sudah ada Nak Dean bersama denganmu, ibu yakin dia jauh lebih mampu menjagamu daripada ibu yang hanya bisa merepotkanmu saja” lanjut Bik Sum masih dengan tertunduk.
Wanita tua itu sungguh menyayangi Qiandra, dan sangat berat baginya untuk berpisah dengan wanita cantik yang sudah mengganggap dirinya sebagai ibunya. Namun, Bik Sum juga tidak tega meninggalkan Jossie yang masih belum pulih keadaannya. Bik Sum sadar kalau Jossie tidak memiliki siapapun lagi, kecuali orang-orang yang ada di rumah Qiandra.
Qiandra menatap Bik Sum lalu tersenyum, “Tidak mengapa, Bu, aku juga sangat berharap ibu mau tetap menemani Jossie, tapi kalau ibu ingin ikut denganku juga tidak masalah. Semua keputusannya ada di tangan ibu, jadi jangan khawatir, Bu, dimanapun ibu mau, ibu boleh tinggal. Kalaupun ibu ingin tetap disini mendampingi Jossie, aku tidak akan melarang, dan jika nanti saat Jossie sudah pulih, ibu ingin menyusul aku, aku akan senang sekali” ucapnya seraya bersimpuh di kaki Bik Sum.
Bik Sum terkejut melihat Qiandra duduk dan bersimpuh di kakinya, walaupun sudah sering Qiandra seperti itu. Namun, saat dilakukan di hadapan Dean, Bik Sum sungguh merasa canggung, bagaimanapun Dean adalah seorang sultan muda, sementara Bik Sum menyadari siapa dirinya.
“Qiqi benar, Bu, apapun yang ibu inginkan, ibu bisa melakukannya, jangan pernah merasa ragu ataupun sungkan” Dean tersenyum pada
wanita tua itu, membuat Bik Sum hanya bisa menundukkan kepalanya penuh haru.
“Terima kasih, Nak, kalian berdua mau mengerti keinginan orang tua ini, aku akan siap menyusul jika Jossie sudah pulih” sahut Bik Sum.
“Bu, jangan khawatirkan aku, pergilah bersama Nona Andra, aku disini sudah punya Paman Lev dan Bi Ona, juga ada Kak Immy yang akan
menjagaku” ucap Jossie yang baru masuk ke dalam ruangan itu.
“Hei, Nona Muda, seandainya Kak Immy mu itu sudah jadi suamimu maka aku tidak akan mengkhawtirkan apapun juga. Tapi, sampai saat itu tiba, kurasa kamu jauh lebih memerlukan ibu bersama denganmu” ucap Qiandra. Qiandra memang sudah mengetahui hubungan adik angkatnya dan dokter muda itu.
“Apa itu berarti aku boleh secepatnya melamar Jossie, Nona, eh maksudku Nyonya” ucap dokter Jimmy yang segera memperbaiki kata-katanya saat melihat mata Dean yang seolah memperingatkan dirinya.
“Ha ha ha, bersabarlah dulu, Dok, bisa-bisa ibu terkena serangan jantung kalau harus secepat itu menikahkan kedua putrinya” Qiandra
__ADS_1
tertawa renyah mendengar pertanyaan dokter Jimmy.
“Betul, lagi pula, apa kamu tidak memberikan kami kesempatan untuk berbulan madu, kalau kalian mau menikah maka kami terpaksa harus menunda bulan madu kami” ucap Dean tanpa ragu.
“Love…” desis Qiandra dengan wajah merah padam, bagaimana bisa sang suami membahas masalah bulan madu di tengah semua orang saat itu.
Semua yang ada di ruangan itu hanya bisa mengulum senyum melihat tingkah sepasang pengantin baru yang memang sedang mesra-mesranya. “Baiklah, saya mengerti, Tuan Dean, saya akan menunggu waktu yang tepat, mungkin sampai Jossie sudah benar-benar pulih dan sudah bisa berjalan lagi” sahut dokter Jimmy.
“Astaga, Kak Immy, bagaimana bisa Kakak sudah memikirkan pernikahan padahal kita masih baru bertemu” desis Jossie saat dokter Jimmy berdiri di sampingnya.
Dokter Jimmy tersenyum, “Apa kamu tidak menginginkannya Si, lihatlah pasangan itu betapa bahagianya mereka bukan, tidak perlu waktu lama, jika kita sudah merasa sangat yakin dengan pilihan kita” bisik dokter Jimmy
sambil menatap Qiandra dan Dean yang terlihat sangat bahagia.
“Tapi cerita mereka jauh berbeda dengan cerita kita, Kak, ya nggak mungkinlah disamakan” protes Jossie.
Dokter Jimmy tersenyum, “Apa kamu kira aku tidak tahu cerita mereka, Si, tapi buat aku, tak perduli apapun jalan ceritanya, keputusan untuk
melangkah bersama dalam membina bahtera rumah tangga yang sudah diambil keduanya dalam waktu singkat, benar-benar menganggumkan” ucapnya.
“Hei, hei, apa kalian berdua sedang membicarakan kami” tiba-tiba Qiandra sudah berdiri di depan kedua orang yang sedang asyik berdebat itu.
“Eh, ti… tidak kok, aku cuma heran karena Kak Immy sudah memikirkan masalah pernikahan, Nona eh Nyonya” sahut Jossie yang terkejut.
“Tapi….” Jossie tetap ingin menolak merubah panggilannya.
“Jossie, Jimmy, mulai sekarang kalian harus memanggil kami dengan sebutan Kakak, tidak ada bantahan lagi” Dean memutuskan kata-kata Jossie.
Dokter Jimmy dan Jossie saling menatap, dan akhirnya mereka berdua mengangguk dengan pasrah, “Baik, Kak” sahut keduanya bersamaan.
“Ha ha ha, kalian jadi kaya anak sekolahan yang dimarahin bapaknya” Qiandra tertawa melihat kedua orang muda itu tidak berani membantah
ucapan Dean.
“Honey…” desis Dean, membuat Qiandra segera menutup mulutnya, walaupun dia masih mengulum senyum melihat tingkah dokter Jimmy dan Jossie. “Ya, sudah, sekarang saatnya kita beristirahat, besok akan jadi hari yang sibuk, Jimmy, Jossie, kalian harus bersiap, karena Qiqi akan menyerahkan semua kendali perusahaan di sini pada kalian berdua” lanjut Dean lagi.
“Baik, Kak, kalau begitu kami permisi dulu, aku akan mengantar Jossie ke kamarnya” sahut dokter Jimmy yang dibalas dengan anggukan
kepala oleh Dean dan Qiandra.
“Pergilah beristirahat, Bu, ibu pasti sudah lelah” Qiandra menepuk-nepuk lembut bahu Bik Sum.
__ADS_1
“Ah, iya, baiklah, Nak, ibu ke kamar dulu ya” ucap Bik Sum yang memang sudah merasa sangat lelah karena memang umur wanita ini sudah cukup lanjut.
Setelah Bik Sum masuk ke dalam kamarnya, Dean segera merengkuh tubuh istrinya, “Apa kita akan ke kamar juga, Honey” bisiknya dengan suara yang membuat Qiandra merinding.
“Love, maukah kamu menemaniku jalan-jalan di taman samping dulu, aku merindukan mawar-mawar putihku” ucap Qiandra saat dia berbalik dan membelai wajah sang suami.
“Kemana pun kamu mau, Honey, aku akan selalu bersamamu, ayo” ucap Dean seraya menggenggam tangan istrinya dan melangkah menuju pintu samping yang mengarah ke taman mawar putih yang terletak tepat di samping rumah itu.
Kedua sejoli itu melangkah dengan bergandengan tangan, menikmati malam yang romantis ditengah taman mawar putih. Dean menuntun Qiandra ke sebuah kursi taman yang terletak di tengah taman itu, dia menarik tubuh sang istri dan membawanya duduk di atas
pangkuannya.
“Honey, mengapa kamu begitu menyukai taman ini, aku dengar kamu selalu menghabiskan waktu luangmu di sini” tanya Dean, tangannya membelai lembut rambut panjang Qiandra.
“Benar, Love, aku sangat menyukai taman ini, semuanya kurancang sedemikian rupa sehingga bisa menjadi tempat yang menyenangkan buatku. Saat aku merasa lelah dan bahkan saat ada rindu yang merasuk dalam hatiku, aku membawanya ke sini,
menenggelamkan semua pikiranku diantara keharuman mawar putih benar-benar
memberiku ketenangan” sahut Qiandra.
“Rindu?, siapa yang kamu rindukan, Honey” tanya Dean dengan wajah serius.
“Haish, apa hal itu perlu dipertanyakan lagi, Love” desis Qiandra.
“Tentu saja, Honey, aku perlu tahu siapa yang diridukan oleh istriku ini saat dulu dia jauh dariku, apakah….” ucap Dean.
“Kak Charles, yah, aku tidak menutupinya, Love, aku memang selalu merindukannya. Namun, aku juga merindukanmu, tapi rasa rindu itu selalu kubuang sejauh mungkin, karena sama
dengan kerinduanku pada Kak Charles, kerinduanku padamu saat itu, terasa
hanyalah sesuatu yang sia-sia. Aku sungguh tidak berani berharap kalau kamu masih menyimpan rasa padaku, bahkan mengingatku saja rasanya mustahil, sementara ada begitu banyak wanita cantik dan hebat yang ada di sekelilingmu” ucap Qiandra dengan panjang lebar.
Qiandra sangat tahu kalau Dean pasti akan kesal kalau mendengar Qiandra menyebut nama Charles lagi. Namun, Qiandra juga tidak mau menutupi, kalau memang dulu dia masih sangat sulit melepaskan diri dari bayang-bayang Charles.
Dean menarik nafas sesaat, lalu dia tersenyum menatap wajah istrinya, “Terima kasih atas kejujuranmu, Honey, pada saat itu, aku tidak akan menyalahkanmu dengan pemikiranmu itu, namun mulai sekarang, kuharap kamu bisa
melepaskan diri dari bayang-bayangnya” ucapnya dengan sendu.
Qiandra tersenyum, dia membelai wajah laki-laki tampan itu, “Tentu saja, Love, saat ini hanya kamu yang ada dalam hati dan pikiranku, Kak
Charles adalah masa laluku, aku tidak mungkin melupakannya, tetapi kamu adalah masa depanku, I love you” sahutnya dengan yakin.
__ADS_1
Dean menatap wajah istrinya, lalu perlahan dia mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri, “I love you, too, Honey, more and more” ucapnya
seraya mulai ******* bibir ranum yang terlihat begitu menggoda. Qiandra menyambut ciuman sang suami dengan bahagia, dan kedua insan itupun tenggelam dalam suasana romantis yang begitu syahdu di tengah keheningan taman mawar putih itu.