PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
DUA RATUS DELAPAN


__ADS_3

“Lalu mengapa kamu memutuskan untuk membuka kasus ini untuk umum” tanya asisten Vian.


Dean menatap kedua sahabatnya sesaat, lalu menghembuskan nafasnya dengan berat, “Aku tidak mungkin secara tiba tiba hanya memeriksa kasus orang tua Qiqi, kan, semuanya adalah keputusan yang sulit.  Tapi aku menyadari kalau diluar sana mungkin ada banyak orang yang menderita seperti Qiqi, orang orang yang sampai saat ini belum berani menunjukkan wajah dan identitas aslinya pada dunia.  Aku menyadari kalau aku tidak bisa terus menerus menyembunyikan kasus ini, walau banyak hal yang menjadi resiko dan harus dipertaruhkan jika aku membukanya, termasuk mempertaruhkan nama baik kerajaan dan juga hubunganku dan Qiqi.  Tapi menutupi kasus ini juga akan menjadi bom yang terus menerus menggerogoti hati dan pikiran.  Oleh sebab itu, aku memilih untuk membuka semuanya tanpa ada yang ditutupi, semoga saja ini menjadi keputusan yang terbaik untuk semua orang” desah Dean seraya menyandarkan bahu kokohnya di kursi.


Dokter Albert yang semula mulai merasa kesal dan sedikit tersinggung dengan sikap Dean yang sudah menyembunyikan hal sebesar ini dari mereka berdua, akhirnya hanya bisa mendesah.  Dokter Albert sangat memahami posisi Dean saat ini, dan demi apapun dokter Albert merasa kalau sahabatnya itu benar benar telah siap menjadi seorang raja.  Dokter Albert sendiri ragu kalau dirinya bisa mengambil keputusan


seberani keputusan Dean.


“Kamu memang pantas menyandang status barumu sekarang, sobat, aku benar benar kagum dengan keberanianmu mengambil keputusan sebesar ini” ucap dokter Albert dengan bersungguh sungguh.


“Ini tidak mudah, Al, resiko terbesarnya belum muncul saat ini.  Jika masalah harta, aku tidak perduli, aku bersedia memberikan kompensasi sebesar apapun.  Tapi masalah Qiqi, hah, entah bagaimana keadaan hubungan kami nanti saat keputusan sudah dibacakan” desah Dean.


“Kami akan selalu bersama denganmu, apapun yang terjadi, kami akan tetap mendukungmu” ucap asisten Vian yang sejak tadi berdiam diri.


Dean tersenyum sendu, mendengar kata kata asisten Vian yang memang selalu berdiri


disisinya.  Dean sangat bersyukur memiliki kedua sahabatnya itu, mereka memang selalu mengutamakan dirinya dan rela melakukan apapun untuk melindungi dirinya.  Dean sebenarnya tidak ingin mereka seperti itu, namun keduanya tidak pernah perduli pada pendapat Dean.  Oleh sebab itu, Dean tidak pernah lagi berdebat dengan kedua sahabatnya itu.


“Terima kasih, sobat, terima kasih mau menerima penjelasanku, aku tahu kalian akan selalu berada di pihakku, sungguh aku tidak akan tahu apa yang bisa aku lakukan tanpa


kalian berdua” ucap Dean.  Saat menyelesaikan kata katanya, Dean terkejut saat merasakan sebuah gumpalan kertas


mendarat tepat di wajahnya.


“Haish, baru saja aku berpikir kamu memang pantas menjadi raja, lalu mengapa kamu tiba tiba kembali menjadi anak kecil” seru dokter Albert, karena sebenarnya dia juga

__ADS_1


menyembunyikan rasa sendu yang menghampiri hatinya.


Sebagai seorang raja, dilempari kertas seperti itu tentu merupakan sebuah penghinaan, namun Dean hanya terkekeh menanggapi tingkah absurd sahabatnya itu.  “Aku juga baru kali ini mendengar kamu memuji diriku, rasanya sangat aneh dan menggelikan di telingaku” kekeh Dean.


“Hei, aku tidak memujimu, itu hanya kata kata agar kamu terhibur saja” seru dokter Albert.


Dean kembali tertawa melihat dokter Albert yang menjadi salah tingkah, “Apalagi sebuah hiburan, rasanya sangat sangat langka.  Astaga, Vian bagaimana menurutmu, apakah ini sebuah pertanda” seru Dean masih dengan


senyum mengejek di wajahnya.


Asisten Vian hanya menggelengkan kepalanya, dia tahu kalau kedua orang itu akan meneruskan perdebatan absurd itu jika dia tidak segera menengahinya.  “Maafkan saya, Tuan, sepertinya beberapa berkas harus Anda periksa sekarang, karena memerlukan verifikasi dari Anda secepatnya” ucap asisten Vian.


Dean dan dokter Albert seketika saling melirik dan dengan senyum smirk keduanya secara


Asisten Vian yang sedang merapikan berkas berkas di hadapannya terkejut luar biasa melihat kedua orang itu sudah terlibat baku hantam.  “Shit, oh ayolah, apa kalian tidak berpikir kalau lebam di wajah kalian akan menjadi pusat perhatian semua orang, Dean, kamu raja, bagaimana bisa kamu ...... akhhhh” seru asisten Vian tertahan.


Bagaimana tidak asisten Vian berteriak, saat dia berusaha melerai kedua sahabatnya itu, dia malah mendapatkan pukulan di pipinya.  Mau tidak mau, asisten Vian akhirnya terlibat juga dalam baku hantam yang justru tidak jelas asal muasalnya itu.  Ketiga pria gagah nan tampan itu terus saling memukul dan saling menendang tanpa memperdulikan keadaan ruangan yang sudah porak poranda.


“Hei, .....” seruan suara merdu yang walau tidak terlalu nyaring seketika menghentikan


kegiatan ketiga orang pria itu.  Dean,


dokter Albert dan asisten Vian seketika menoleh dan langsung terdiam saat melihat seorang wanita yang berdiri di ambang pintu ruangan itu.  “Astaga, apa yang terjadi, mengapa kalian sampai terlibat baku hantam, apa masalah kalian tidak bisa diselesaikan dengan baik baik, sampai harus baku hantam seperti ini” wanita itu mengomel dan


menghampiri ketiga pria itu.

__ADS_1


“Ho .... Honey” desis Dean yang begitu terkejut melihat kehadiran sang istri.  Yah, wanita yang mengomel itu adalah Qiandra,


dia datang karena mendengar pelayan yang mengatakan kalau ada keributan di ruang rapat.


“Akh, aku lupa kalau aku ada janji dengan pasienku, aku permisi dulu, Qi, percayalah aku tidak bersalah” desis dokter Albert saat melewati Qiandra yang membuat Dean seketika melotot tajam.  Setelah itu, dokter Albert segera meraih jasnya dan melangkah meninggalkan ruangan yang sudah tak berbentuk.


Sementara asisten Vian kembali mengambil berkas berkas yang sudah berhamburan di atas meja, merapikannya dengan cepat, “Saya akan kembali ke perusahaan, jika sudah


selesai, Anda bisa menghubungi saya, Tuan, saya permisi, Tuan, Nyonya” ucapnya sambil sedikit menundukkan kepala.


“Kak Vian, ......” seru Qiandra ingin mencegah laki laki itu, namun kali ini asisten Vian


tidak perduli.  Laki laki tampan itu


meneruskan langkahnya meninggalkan ruangan itu, meninggalkan sepasang suami


istri yang saat ini saling berhadapan dengan tatapan berbeda.


Jika Qiandra menatap sang suami dengan tatapan tajam penuh intimidasi, berbeda dengan Dean yang menatap sang istri dengan tatapan sendu, “Maaf, Honey, kami hanya sekedar bermain” cicit laki laki yang baru saja menyandang status raja itu.


“Bermain?” tanya Qiandra dengan sedikit mengangkat satu alisnya, membuat Dean seketika menggangguk seperti anak kecil yang ketahuan berbuat salah.  “Oh, astaga, Love, kamu itu sudah dewasa bahkan sudah menjadi seorang raja, bagaimana bisa kamu masih bermain main sampai menciderai diri seperti ini” omelan panjang lebar pun mulai berkumandang dalam ruangan itu.


Namun, tidak urung Qiandra tetap mengambil kotak obat di ruangan itu dan mulai mengobati beberapa luka memar di wajah sang suami.  Walaupun meringis karena lebam di wajahnya di tekan sedikit keras oleh


sang istri, Dean tetap tersenyum menikmati sentuhan wanita yang sangat dicintainya itu.

__ADS_1


__ADS_2