
“Tidak, Bu, mereka hanya memberikan nomor ini yang bisa dihubungi, jika ada melihatnya” jawab istri Mang Ijal seraya menyerahkan sebuah kartu nama.
“Baiklah, nanti aku akan memberikannya kalau dia sudah bangun, dia terlihat sangat lelah sekali, kurasa selama empat hari ini dia pasti tidak tidur dengan cukup” ucap Bik Sum lagi.
“Hah, kasihan sekali nasibnya ya, Bu, sepertinya cobaan selalu menimpanya tanpa akhir” istri Mang Ijal merasa sangat iba pada Qiandra.
“Yah, begitulah kehidupan yang harus dijalaninya, ibu hanya bisa berdoa semoga kebahagiaan segera menghampirinya, dia masih muda, aku yakin jalan hidupnya masih panjang” sahut Bik Sum.
Kedua wanita beda generasi itu akhirnya sama-sama terdiam memikirkan kehidupan berat yang dijalani oleh Qiandra.
Saat mentari mulai terbenam dan mengistirahatkan dirinya setelah seharian menerangi bumi dan segala aktifitas manusia, seorang wanita cantik baru terbangun dari tidurnya. “Astaga, berapa lama aku tidur, mengapa Ibu tidak membangunkan aku” gumamnya seraya menggeliat untuk meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
Seorang wanita tua masuk ke dalam kamar itu, dia tersenyum melihat wanita cantik itu sudah bangun, walaupun masih berada dalam selimutnya. “Ah, sudah bangun kamu, Nak, baru saja ibu mau membangunkanmu” ucap Bik Sum.
“Jam berapa sekarang, Bu” tanya Qiandra.
“Sudah pukul enam sore, Nak, tadi Ibu ingin membangunkanmu, tapi tidurmu sangat lelap sekali, ibu jadi tidak tega” ucap Bik Sum.
“Iya, Bu, aku baru merasa tidurku sangat nyenyak, biasanya selalu saja aku bermimpi yang membuatku merasa sakit hati” sahut Qiandra.
“Ya, sudah, sekarang pergilah membersihkan dirimu, sebentar lagi waktu makan malam, Ibu tunggu di luar ya” ucap Bik Sum. Qiandra hanya mengangguk, dia mengambil handuk besar yang dipakainya tadi, kemudian membungkus tubuh polosnya dengan handuk itu dan berjalan menuju ke kamar mandi.
Setelah membersihkan diri di kamar mandi sederhana yang ada di kamarnya, Qiandra mengambil satu pakaian rumahan untuk dipakainya, kemudian dia keluar dari kamarnya. Di meja makan ternyata sudah berkumpul Bik Sum, Mang Ijal dan juga istrinya.
“Hai, Paman, Bibi, maaf aku belum menyapa kalian sejak datang tadi” ucap Qiandra dengan ramah, seakan semua orang itu benar benar keluarganya, padahal mereka semua hanya bekas pelayannya.
“Tidak apa-apa, Qian, jangan sungkan begitu, kamu pasti sangat lelah selama lima hari ini” ucap Mang Ijal, “Kemarilah, kita makan malam dulu, yah, biar hanya seadanya” lanjut Mang Ijal lagi yang sedikit merasa tidak nyaman karena menu sederhana di meja makan. Padahal Mang Ijal tahu, kalau Qiandra terbiasa hidup mewah dengan berbagai hidangan mewah yang selalu memenuhi meja makannya.
“Jangan berkata seperti itu, Paman, selama empat hari ini aku bahkan hanya membeli jajanan pinggir jalan untuk makan malamku, kalau sekarang tersaji makan malam seperti ini, ini sangat luar biasa untukku” sahut Qiandra. Selama lembur di kantor, Qiandra memang hanya membeli makanan seadanya saja untuk mengganjal perutnya, karena dia memang menghemat uang yang dimilikinya.
__ADS_1
Ketiga orang yang ada di meja makan itu langsung saling melirik, ada rasa iba yang sangat besar dalam hati mereka melihat kehidupan Qiandra. “Kalian tidak perlu merasa heran, hidup sulit sudah bertahun-tahun aku jalani, sedang kehidupan mewah hanya sesaat aku nikmati saat bersama Kak Charles, dan setelah itu, kalian semua tahu bagaimana aku menjalani hidupku. Hanya terlihat mewah diluarnya saja, namun didalamnya, aku sama saja seperti kalian, hanya saja kalian bekerja untuk sesuap nasi, sementara aku bekerja untuk mendapatkan kasih sayang” desah Qiandra.
“Sudah, sudah, tidak perlu mengingat masa lalu lagi, sekarang ayo kita nikmati saja apa yang sudah ada dihadapan kita dengan ucapan syukur” ucap Bik Sum mengalihkan pembicaraan, Wanita tua itu tidak ingin melihat Qiandra bersedih lagi.
Baru saja mereka menyelesaikan makan malam yang sederhana itu, pintu rumah Mang Ijal diketuk orang dari luar. Mereka berempat saling menatap, Bik Sum menarik tangan Qiandra dengan cepat dan mendorongnya masuk dalam kamar, “Sembunyi, Nak” bisik Bik Sum.
Mang Ijal segera berdiri setelah melihat Qiandra sudah bersembunyi, dia melangkah menuju pintu rumahnya. Saat Mang Ijal membuka pintu rumahnya, terlihat beberapa orang bapak-bapak penghuni komplek perumahan itu.
“Selamat malam, Bapak-Bapak, ada apa ya ini, kok malam-malam datang rame-rame ke rumah kami” tanya Mang Ijal dengan ramah.
“Mang, bukannya kamu kemaren ada melaporkan kalau ada kakak dan keponakanmu akan tinggal bersama denganmu disini” tanya salah satu dari bapak-bapak itu.
“Oh, benar sekali, Pak Ardi, memangnya kenapa, Pak” tanya Mang Ijal lagi.
“Kami ingin bertemu dengan mereka” sahut bapak yang disebut Mang Ijal dengan panggilan Pak Ardi yang juga merupakan ketua komplek itu.
“Oh, begitu, tapi kalau keponakan saya, dia tidak menetap disini, Pak, seperti yang aku bilang kemaren, hanya kakakku saja yang tinggal bersama kami disini” ucap Mang Ijal.
“Ini lho Pak, kakak saya” ucap Mang Ijal.
“Mana anakmu” tanya Pak Ardi pada Bik Sum.
“Oh,anak saya, Pak, dia kerja di rumah majikan saya yang dulu, Pak, menggantikan posisi saya, maklumlah saya sudah tua, tidak mampu lagi .bekerja dengan baik, karena itu anak saya yang menggantikan saya” ucap Bik Sum.
“Hmm, apa kamu punya foto anakmu itu” tanya Pak Ardi masih sedikit curiga.
“Oh, ada, Pak, sebentar saya ambil” ucap Bik Sum, lalu dia melangkah menuju kamarnya dan mengambil dompetnya, Bik Sum mengeluarkan foto seorang wanita muda yang memang anaknya namun sekarang masih tinggal di kampung. “Ini Pak” ucapnya seraya memperlihatkan foto putrinya itu.
Bapak-bapak itu segera melihat foto itu dan membandingkannya dengan foto yang ada di tangan mereka. Lalu serempak kepala mereka menggeleng dengan lemah seraya menarik nafas berat.
__ADS_1
“Sebenarnya ada apa ini, Pak” tanya Mang Ardi.
“Ah, tidak apa-apa, Mang, ya sudah, kalau begitu kami permisi dulu, maaf sudah mengganggu malam-malam begini” ucap Pak Ardi, lalu dia berdiri dan diikuti oleh bapak-bapak yang lain meninggalkan rumah Mang Ijal.
Mang Ijal hanya mengangguk, lalu menutup pintu rumahnya saat rombongan itu telah meninggalkan rumahnya. Mang Ijal mendesah sesaat, lalu menggelengkan kepalanya pelan. Bik Sum kembali memastikan kalau orang-orang itu telah pergi, barulah dia masuk ke kamar Qiandra.
“Keluarlah, Nak, mereka telah pergi” ucap Bik Sum pada Qiandra. Qiandra segera keluar dari kamar mandi dan menghampiri Bik Sum.
“Masih mencari aku, Bu” tanya Qiandra memastikan kedatangan orang-orang tadi. Bik Sum hanya mengangguk lemah, Qiandra menghembuskan nafasnya berat. “Sebenarnya siap sich yang mencari aku sampai segitunya” desah Qiandra, lalu duduk di ruang makan.
“Tadi para bodyguard itu meninggalkan ini, Nak, mereka menjanjikan uang tunai sebesar sepuluh juta bagi siapa saja yang bisa menunjukkan keberadaanmu” ucap Bik Sum seraya menyerahkan sebuah kartu nama, Qiandra mengambil kartu nama itu.
“Vian, PT. Zacharis, haish, ini kerjaan Dean, Bu, Vian ini kan asistennya” ucap Qiandra.
“Lalu bagaimana, Qian, kamu tidak mungkin terus bersembunyi seperti ini kan, parahnya lagi semua tetangga disini sudah memegang fotomu” keluh Mang Ijal, dia merasa tidak tega melihat Qiandra harus terus menerus bersembunyi seperti itu.
“Entahlah, Paman, aku ingin pergi, tapi uangku belum cukup untuk aku memulai hidup baru” desah Qiandra.
“Nak, apa kamu benar-benar tidak ingin memaafkan mereka, mereka melakukan semua itu karena mereka sangat mencintaimu” ucap Bik Sum yang berharap Qiandra akan memilih salah satu dari dua orang pemuda tampan dan mapan yang tergila-gila pada Qiandra itu.
Qiandra tersenyum getir, “Tidak, Bu, aku sudah memaafkan mereka, dan aku sudah mengatakan itu pada mereka, tapi mereka tetap meminta lebih dariku” ucap Qiandra lagi.
“Nak, tapi sebelumnya ibu minta maaf kalau pertanyaan ibu akan membuatmu tidak nyaman” ucap Bik Sum dengan ragu-ragu.
“Ada apa, Bu” tanya Qiandra.
“Bagaimana kalau, kalau kamu hamil” tanya Bik Sum pelan.
Qiandra terkejut mendengar pertanyaan Bik Sum, dia sama sekali tidak memikirkan hal itu selama ini. “Aku belum memikirkan itu, Bu, tapi kurasa walaupun aku hamil, aku tidak akan mau menikah dengan laki-laki itu. Biarlah aku membesarkannya sendiri, anggaplah dia sebagai anakku dan Kak Charles” ucap Qiandra dengan sendu.
__ADS_1
Ketiga orang yang mendengar jawaban Qiandra hanya bisa saling menatap, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Walaupun Qiandra sudah menganggap mereka seperti keluarga, namun mereka juga sadar batasan mereka. Mereka tidak berani mempengaruhi apalagi membantah keputusan Qiandra, yang mereka bisa hanya mendukungnya saja.