PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
ENAM PULUH ENAM


__ADS_3

Mohon maaf ya klo author sering telat update, soalbya bulan Desember ini author lg banyak acara cieeeew 😅😅😅


Btw, terima kasih banyak buat yang tetap setia menanti up dari author, semoga tidak bosan untuk bersabar ya 🙏🙏


Jangan lupa dukung author biar lebih semangat lagi dengan


Vote


Like


Koment


Terima kasih 🙏🙏🙏


...---------------*******---------------...


Dean membuka matanya dan menatap keluar jendela kamarnya, “Ternyata sudah pagi” desisnya.  Dia menatap wajah wanita yang masih tertidur pulas dengan berbantalkan lengannya itu, Dean tersenyum bahagia.  Perlahan dia menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah istrinya, dia tidak


ingin mengganggu tidur wanita itu.


Namun, gerakan lembut Dean ternyata cukup mengusik Qiandra, sehingga wanita itu perlahan membuka matanya.  Dan matanya langsung bertemu dengan mata elang sang suami, dan dia menemukan wajah tampan sang suami yang sedang menatapnya dengan mata berbinar penuh kebahagiaan.


“Morning, Honey, I love you” ucap Dean, dia mengecup lembut kening Qiandra dengan penuh kasih.


“Morning, Love, love you too, more and more” ucap Qiandra denga suara sedikit serak khas bangun tidur.  “Astaga, tanganmu pasti kebas karena semalaman aku tertidur dengan nyenyak berbantalkan tanganmu, Love, maafkan aku ya” lanjutnya lagi saat menyadari dia masih berbaring di lengan suaminya.


“Hei, jangan bicara begitu, Nyonya, aku justru sangat bahagia bisa membuatmu tidur pulas di lenganku” kekeh Dean, walaupun memang dia


merasa lengannya sedikit kebas.  Namun,


Dean memang sedang sangat bahagia, sehingga dia tidak ingin merusak pagi itu hanya untuk sebuah masalah kecil.


Qiandra segera bangun, namun sebelum dia turun dari tempat tidur, Dean telah menariknya kembali, sehingga dia kembali masuk dalam pelukan laki-laki itu.  “Love, ayolah, hari sudah


terang, aku bahkan belum membuatkan sarapan untukmu” protes Qiandra.


“Biasakanlah selalu memberikan vitamin untuk suamimu ini, Honey, baru aku akan melepaskanmu” ucap Dean dengan senyum smirknya.


“Ish, ada-ada saja” rungut Qiandra, namun tak urung dia mengecup kening suaminya.  Sayangnya, sebelum sempat dia menyentuh kening Dean, laki-laki itu telah bergeser.  Akhirnya, Qiandra malah mencium bibir sang


suami.  Keadaan itu langsung dimanfaatkan


oleh Dean, hingga beberapa saat kemudian barulah dia melepaskan ciuman panas


mereka.


“Hmmm, sepertinya kamu ingin memberiku vitamin yang lebih hot, Honey” desis Dean saat bibir mereka terlepas.


“Love, sudahlah, badanku benar-benar terasa lengket sekarang, aku sangat ingin membersihkan diri” sahut  Qiandra  tidak memperdulikan godaan suaminya.  Namun, sesaat kemudian Qiandra terpekik saat


merasakan tangan kekar Dean sudah mengangkat tubuhnya.  “Love, mau apa kamu” serunya.


“Bukankah kamu ingin membersihkan diri, maka aku akan membawamu untuk membersihkan diri tapi bersama denganku” sahut Dean dengan acuh, laki-laki itu


mengangkat tubuh polos istrinya ke kamar mandi.


Qiandra tak bisa berbuat apa-apa, dia sangat tahu niat laki-laki itu membawanya ke kamar mandi.  Dan memang seperti dugaannya, mereka berdua memerlukan waktu hingga


berjam-jam, barulah aktifitas membersihkan diri ala Dean itu selesai.


Jika Qiandra keluar dari kamar mandi dengan wajah lelah, berbeda dengan sang suami yang menyusul di belakangnya.  Wajah Dean benar-benar cerah dan ceria, senyuman tidak pernah lepas dari wajah tampannya.


Qiandra menyiapkan pakaian untuk Dean terlebih dulu, baru kemudian dia memakai pakaiannya.  Saat dia keluar dari ruang ganti, dia melihat suaminya masih belum memakai


pakaiannya.  “Ada apa Love, apa pakaian


yang aku sediakan tidak sesuai keinginanmu” tanya Qiandra pada suaminya.

__ADS_1


“Aku sedang menunggu istriku untuk membantuku memasang pakaianku” sahut Dean membuat Qiandra menggelengkan kepalanya melihat tingkah presidir tampan itu.


“Love, aku bahkan belum menyiapkan sarapan untuk kita berdua” sahut Qiandra, namun dia tetap membantu Dean memakai pakaiannya.


“Honey, kamu tidak perlu terus sibuk di dapur, aku membawamu ke sini bukan untuk menjadi juru masakku” ucap Dean dengan lembut.  “Dan masalah sarapan, sebentar lagi mereka akan mengantarnya kesini” lanjutnya lagi.


“Mereka?, mereka siapa, apa kak Vian dan kak Albert, Love” tanya Qiandra dengan kening


mengernyit.


“Haish, jangan harap kedua orang itu menyiapkan sarapan, yang ada malah mereka tang ikut sarapan" sahut Dean, "Di apartemen ini ada dapur khusus yang siap menyediakan


semua jenis makanan yang diinginkan oleh penghuni apartemen ini.  Jadi, kamu tidak perlu repot-repot memasak” lanjut Dean menjelaskan pada Qiandra.


Qiandra mengangguk paham, “Tapi, Love, sekali-sekali aku tetap memasak untuk kita berdua” sahut Qiandra setelah dia selesai memasang dasi suaminya.


“Tentu saja, Honey, aku pasti akan sangat merindukan masakanmu” sahut Dean, dia sangat mengerti keinginan wanita itu untuk


melayaninya.  Tak berselang lama, terdengar bel pintu pentahouse itu berbunyi, “Sepertinya mereka sudah datang, aku akan membuka pintu depan dulu, Honey” lanjutnya.


“Biar aku saja, Love” Qiandra akan melangkah keluar kamar mereka, namun di tahan oleh Dean.


“Aku saja, Honey, aku tak mau mereka melihat kecantikanmu, mereka pasti terpesona, para koki muda itu pasti akan berebutan untuk mengantar makanan kesini” ucap Dean, lalu dia segera melangkah meninggalkan Qiandra yang


melongo mendengar  alasan  suaminya itu.


Qiandra akhirnya mengalah, dia memilih duduk di depan cermin hias yang ada di kamar itu.  Wanita cantik itu kemudian mulai memberikan beberapa riasan di wajahnya dan mengeringkan rambutnya.  Beberapa saat


kemudia dia mendengar Dean memanggilnya, Qiandra bergegas merapikan rambutnya


lalu segera turun ke arah dapur.


Qiandra terkejut melihat di meja makan sudah ada asisten Vian dan dokter Albert, mereka berdua segera berdiri saat melihat Qiandra


datang.  Sementara, Dean memasang wajah


“Selamat pagi, Nyonya, maafkan kami kalau mengganggu sepagi ini” ucap asisten Vian dengan sopan.


“Ah, tidak masalah, Kak Vian, kebetulan sekali kalian datang saat kami akan sarapan, jadi kita bisa sarapan bersama” sahut Qiandra, dia


segera melangkah dan duduk di samping suaminya.


“Bukan kebetulan, Honey, memang sudah niatan itu” ketus Dean, membuat dokter Albert tertawa melihat wajah masam sahabatnya itu.


“Bisa dikatakan begitu, aku melihat para koki itu mebawa begitu banyak menu sarapan, jadi aku mengajak Vian, tidak ada salahnya kan kami


membantu menghabiskan makanan sebanyak ini” ucap dokter Albert tanpa rasa bersalah apalagi rasa malu.


“Tentu tidak salah, Kak Al, dan akan menyenangkan sekali bisa sarapan bersama, lebih banyak orang akan lebih ramai kan” sahut Qiandra yang membuat sang suami mebulatkan matanya menatap istrinya itu.  “Kalau begitu, ayo kita mulai sarapan, sebelum makanan ini menjadi dingin” lanjut Qiandra lagi.


Qiandra terlebih dulu melayani suaminya, dia menyediakan menu makanan untuk suaminya, baru setelah itu dia mengambil untuk dirinya


sendiri.  Tanpa dia sadari, ketiga pria itu menatap semua yang dilakukannya dengan penuh kekaguman.


Mereka kagum melihat ketulusan wanita karier seperti Qiandra yang tanpa ragu tetap melayani suaminya dengan sepenuh hati.  Seringkali seorang wanita yang sudah merasa sukses, tidak mau lagi melayani suaminya, malah menyuruh pelayan yang melayani suaminya.  Tapi, Qiandra benar-benar berbeda, tidak hanya melayani suaminya, dia juga tidak sungkan berbagi meja makan dengan asisten Vian dan dokter Albert yang hanya sahabat dan bawahan


suaminya.


Mereka akhirnya menikmati sarapan pagi bersama, walaupun waktunya sudah hampir lewat.   Mereka menikmati sarapan dengan tenang, hanya ada denting peralatan makan yang terdengar.  Setelah selesai sarapan, Qiandra langsung berdiri dan membersihkan meja makan, sementara Dean membawa kedua sahabatnya menuju ke ruang  tamu.  Asisten Vian dan dokter Albert sebenarnya ingin membantu Qiandra, namun dilarang oleh wanita itu.


Setelah selesai membereskan dapur, Qiandra meyusul suaminya ke ruang tamu, “Kemarilah, Honey, ada yang perlu kita bicarakan” Dean


melambaikan tangan pada istrinya.  Qiandra segera menghampiri suaminya dan duduk di samping laki-laki itu.


“Ada apa, Love” tanya Qiandra.


“Aku sudah menyuruh Vian dan Albert mempersiapkan resepsi khusus untuk kita, Honey” ucap Dean membuka pembicaraan mereka.

__ADS_1


“Resepsi khusus?, dalam rangka apa, Love” tanya Qiandra kebingungan, membuat dokter Albert dan asisten Vian menatap Dean lalu


menggelengkan kepala, karena ternyata Dean belum menceritakan apapun pada Qiandra.


“Resepsi untuk memperkenalkan kamu pada keluarga besarku, Honey, acara ini memang sudah menjadi tradisi keluarga kami, apalagi kita menikah tanpa dihadiri keluargaku, kecuali daddy.  Kita harus segera merencanakan acara ini sebelum iblis itu membuat acara serupa dengan berbagai rencana busuknya” jelas


Dean dengan panjang lebar, “Karena memang acara seperti ini seharusnya menjadi kewajiban Nyonya Besar untuk melaksanakannya, dan aku sungguh tidak rela hadir dalam acara apapun yang dibuat oleh iblis itu” geram Dean.


Qiandra baru mengerti keadaan yang akan dihadapinya, dia tidak menyangka secepat ini dia harus berhadapan dengan masalah akibat


pernikahannya dengan Dean.  Qiandra


menggenggam tangan suaminya itu berusaha meredakan emosi laki-laki itu.  Qiandra sudah terbiasa dengan emosi Dean yang bisa tiba-tiba berubah saat sudah membicarakan ibu tirinya.


“Sebenarnya, aku tidak masalah, sekalipun acaranya dipersiapkan olehnya, tapi kalau memang kamu tidak menginginkannya, aku juga tidak masalah.  Jadi, apa yang harus aku


lakukan” tanya Qiandra.  Sebenarnya, Qiandra memang sangat penasaran bertemu dengan wanita yang sanggup memporak porandakan keluarga suaminya.  Namun, dia tetap menghagai Dean, Qiandra tahu bagaimanapun, cepat atau lambat dia pasti harus berhadapan dengan wanita itu.


“Kami hanya ingin tahu, apa kamu punya konsep khusus yang ingin kamu laksanakan untuk acara ini, mengingat saat pernikahanmu semuanya tanpa peryndingan denganmu" tanya dokter Albert.


“Oh begitu, kurasa tidak ada, Kak Al, berhubung ini adalah tradisi keluarga, jadi buatlah sesuai dengan tradisi saja, jangan sampai menambah atau mengurangi dari yang biasa dilakukan oleh keluarga.  Aku yang harus bisa menyesuaikan diri dengan tradisi keluarga Dean, bukan malah memaksakan kehendakku” ucap Qiandra dengan santai.


Tanpa Qiandra sadari, kata-katanya kembali membuat ketiga laki-laki tampan itu semakin mengaguminya.  Karena sebenarnya bisa saja Qiandra meminta sebuah acara sesuai dengan


keinginannya, asisten Vian dan dokter Albert sangat yakin kalau Dean tidak akan menolak keinginan istrinya itu.


Tapi Qiandra lebih memilih mengikuti tradisi keluarga, hal yang selalu ditentang oleh Risty, karena dianggapnya sebagai tradisi kuno.  Berbeda dengan Qiandra yang sangat


menghormati tradisi keluarga, sepanjang itu tidak bertentangan dengan norma dan


keyakinannya.


“Baiklah, kalau begitu, Nyonya, kami akan mempersiapkan segala sesuatunya, sesuai dengan kebiasaan keluarga Zacharias” sahut asisten Vian.


“Iya, Kak Vian, maaf merepotkan kalian lagi, tapi aku sungguh tidak tahu bagaimana kebiasaan keluarga Zacharias, jadi sekali lagi


mohon bantuannya ya” ucap Qiandra sambil sedikit menundukkan kepalanya.


“Jangan sungkan, Nyonya, sudah menjadi kewajiban kami” sahut asisten Vian, dia cukup terkejut melihat  sikap Qiandra yang dengan begitu sopan meminta bantuannya.  Padahal, Qiandra bisa saja memerintahkan mereka tanpa bersikap ramah seperti yang dilakukan orang-orang yang merasa diri mereka berkuasa.


“Kalau bisa lakukan secepatnya, dan segera kirim undangan ke seluruh keluarga, sebelum iblis itu mulai bergerak” Dean berkata dengan suara tegas.


“Kami usahakan, Bro, kalau begitu kami permisi dulu, akan kami khabarkan semua perkembangan persiapan selanjutnya” sahut dokter  Albert.  Asisten Vian juga segera berdiri mengikuti dokter Albert, lalu mereka berdua keluar dari tempat tinggal Dean.


Qiandra menatap suaminya yang terlihat masih tenggelam dalam pikirannya sendiri, laki-laki itu termenung dan menatap jauh ke depan dengan


tatapan yang sulit dimengerti.  Qiandra dengan perlahan  menyentuh lengan suaminya dengan lembut, “Ada apa, Love” ucapnya perlahan.


Dean sedikit tersentak, “Tidak apa-apa, Honey, hanya teringat pada mamah saja, seandainya dia ada disini, aku yakin dia akan sangat


menyayangimu” ucapnya dengan lembut.


“Sudahlah, Love, jangan menyesali yang telah berlalu, sekarang, apakah kamu akan ke kantor” tanya Qiandra lagi.


“Tidak, Honey, aku ingin menunjukkan beberapa hal padamu hari ini, jadi apa kamu siap berangkat sekarang” tanya Dean.


“Apa tidak masalah dengan penampilanku seperti ini” tanya Qiandra, karena dia berpikir akan di bawa ke suatu pertemuan, berarti dia harus berganti pakaian.  Qiandra mengenakan


mini dress dengan motif bunga-bunga berwarna pink, dia merasa tidak cocok jika


berpenampilan seperti itu untuk menghadiri sebuah pertrmuan.


“Tidak masalah, Honey, kamu selalu terlihat sempurna dengan pakaian apapun, sekarang,  ayo kita berangkat” ucap Dean seraya meraih tangan istrinya dan membawanya keluar menuju ke arah lift yang akan membawa mereka ke lantai basement, tempat mobil-mobil


mewah milik Dean berada.


Qiandra segera berdiri dan mengikuti langkah suaminya, walaupun dia tidak tahu kemana presidir tampan itu akan membawanya.  Namun, genggaman tangan Dean yang begitu

__ADS_1


hangat, selalu mampu menghangatkan hati Qiandra, sehingga tanpa ragu dia akan melangkah, kemanapun laki-laki itu membawanya.


__ADS_2