PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SEMBILAN PULUH EMPAT


__ADS_3

Maafkan author ya lama banget up nya...


Ini ditolak terus reviwnya...


klo masih di tolak juga bakal author skip aja bab ini ya...


Nggak tahu dimana yang dianggap vulgarnya 😢😢😢


maaf ya klo rada nggak nyambung author lelah memperbaiki terus..


Semoga aja kali ini bisa lolos review.


Terima kasih buat yang masih setia 🙏🙏


Jangan lupa dukung author dengan


vote


like


koment


Makasih ya 🙏🙏


...---------------********---------------...


“Selamat sore, Nyonya Muda, maaf mengganggu Anda, saya ingin mengantar gaun-gaun yang akan Anda kenakan dalam acara nanti” asisten Vian menyapa sepasang manusia yang sedang menikmati senja di balkon apartemen mewah mereka.


Qiandra yang sedang berbaring di pangkuan


Dean, terkejut mendengar sapaan asisten Vian.  Dia ingin segera bangun, namun Dean menahan bahunya, “Letakkan saja di situ, nanti Qiqi mencobanya” sahut Dean dengan acuh tanpa menoleh ke arah asisten Vian.


“Baik, Tuan” sahut asisten Vian, lalu segera


berbalik dan meletakkan paper bag yang berisi gaun untuk Qiandra di ruang tamu.


“Love, mengapa kamu tidak bilang kalau Kak


Vian akan datang, dia pasti sudah minta ijin padamu” protes Qiandra pada sang suami yang masih asyik membelai rambut indahnya.


“Dia memang sudah ijin, tapi aku tak ingin


kamu menyambutnya dan meninggalkan aku disini sendirian, jadi biar saja dia yang sendirian” sahut Dean dengan santainya.


“Astaga, Love, masa aku tidak boleh menyambut Kak Vian sebentar saja, lagi pula aku tidak nyaman karena dia melihat kita seperti ini” ucap Qiandra dengan sedikit kesal pada kelakuan suaminya.


“Tidak masalah kamu menyambutnya jika kamu sedang tidak dalam suasana seperti ini, Honey, aku sungguh tidak ingin mengakhiri setiap waktu yang bisa kita lewati bersama” ucap Dean seraya mengecup kening istrinya dengan penuh kelembutan.  “Lagi pula apa salahnya dia atau siapapun melihat kemesraan kita, kita suami istri, jadi wajar jika kita selalu romantis kan, hmmm” lanjutnya lagi sambil mencubit lembut hidung mancung wanita yang


sangat dicintainya itu.


Qiandra hanya bisa mendesah pelan, dia tahu


kalau sudah seperti ini, suaminya tidak bisa dibantah lagi.  Qiandra sebenarnya sangat hapal kalau Dean memang tidak suka jika waktu kebersamaan mereka berdua diganggu.  Presidir tampan itu bahkan seringkali


mengabaikan panggilan di phonselnya jika dia sedang bermesraan dengan Qiandra.


“Love, apakah tidak masalah kalau kemesraan


kita dilihat orang lain, maksudku tentang posisimu, apakah kita tidak sebaiknya menjaga sikap kita, emmmm, atau apa ada aturan dalam keluargamu” ucap Qiandra dengan ragu.


Karena sejujurnya, Qiandra bukan tipe wanita


yang suka mengumbar kehidupan pribadinya apalagi kebersamaannya dengan sang suami.  Walaupun dia sangat tahu kalau suaminya seorang publik figure, yang semua tindak tanduknya akan direkam oleh media.  Tapi, Qiandra tetap menginginkan privacy dalam hal kehidupan pribadi mereka.


Dean tersenyum menatap istrinya, “Tidak ada


masalah, Honey, justru itu akan berdampak baik bagi keluarga besar Zacharias.  Karena keharmonisan rumah tangga keluarga kami akan mengangkat nama baik keluarga.  Jadi, semakin mesra kita berdua kan semakin baik” ucap Dean dengan menaik turunkan kedua alisnya.


“Ish, itu sich maunya kamu, Love” desis


Qiandra sambil mengerucutkan bibir seksinya dengan kesal.  Namun, sayangnya sikapnya itu malah membuat sang suami tidak tahan melihat wajahnya.  Secepat kilat Dean meraup wajah istrinya dan me*umat bibir seksi itu


dengan penuh kelembutan.


Seperti biasa, Qiandra selalu terkejut atas


perlakuan tiba-tiba sang suami, namun dia juga tahu bahwa dia tidak bisa menolaknya. 


Dean segera menghempaskan tubuhnya dari atas tubuh Qiandra, namun dia tetap berbaring menghadap wanita itu.  “Terima kasih, Honey, selalu indah dan nikmat, i love you” ucapnya dengan lembut di telinga Qiandra yang masih terpejam.

__ADS_1


Qiandra perlahan membuka matanya dan tersenyum lembut menatap wajah tampan sang suami yang masih dipenuhi peluh.  “I love you too” ucapnya dengan lembut seraya


membelai wajah suaminya.


“Terima kasih karena selalu bersedia hidup


bersama denganku dan selalu siap melayaniku” ucap Dean, jarinya menelusuri wajah cantik wanita itu dengan lembut.


“Sudah menjadi kewajibanku, Love, aku bahagia


dan selalu menikmati setiap waktuku bersamamu.  Terima kasih karena selalu memberiku saat-saat indah penuh kebahagiaan, semuanya begitu indah bagiku” ucap Qiandra.


Dean mengecup kening istrinya dengan lembut,


“Honey, bolehkah aku menanyakan hal yang sifatnya sangat pribadi” tanya Dean dengan ragu.


Qiandra mengernyitkan keningnya, “Tanyakan


saja, Love, kamu tahu aku tidak akan menyembunyikan apapun darimu” sahut wanita


itu.


“Emmm, dalam hal urusan ranjang, bagaimana


rasanya antara aku dan Charles” tanya Dean dengan sedikit ragu.  “Kamu tidak perlu menjawabnya jika kamu merasa keberatan” lanjutnya lagi.


Qiandra tersenyum mendengar pertanyaan Dean, wanita ini memang sudah menduga suatu saat Dean pasti akan menanyakan hal


tersebut.  “Yang pasti bagiku, saat ini hidupku berada dalam fase terbaik, semua yang aku dapatkan dan aku rasakan adalah hal-hal terbaik yang pernah aku dapatkan seumur hidupku.  Jadi, jika aku harus menjawab pertanyaanmu, maka aku hanya bisa mengatakan kamu yang terbaik” ucap Qiandra dengan lembut.


“Dan Daniel” desis Dean membuat Qiandra cukup terkejut walaupun ucapan itu diucapkan dengan perlahan.


“Love....” Qiandra menatap wajah suaminya, dia


bisa melihat jelas kemarahan di mata lelaki itu.  Tiba-tiba Qiandra merasakan sakit dihatinya


saat mendengar pertanyaan suaminya itu.  Dia merasa seolah sang suami kembali mengingatkannya pada saat yang paling menyakitkan dirinya.


Qiandra tidak berkata-kata lagi, dia tidak


menjawab pertanyaan Dean, wanita itu malah meraih jubah mandinya dan langsung turun dari tempat tidur mewah mereka.  Dean cukup terkejut melihat reaksi Qiandra, dia tidak menyangka wanita itu akan bersikap seperti itu.


Qiandra namun tidak sempat, karena wanita itu sudah berlari masuk ke dalam kamar mandi.  Dean meloncat dari atas tempat tidur dan segera menyusul Qiandra menuju kamar mandi.  Namun sayangnya saat dia tiba di pintu kamar mandi, pintu itu sudah dikunci dari dalam oleh Qiandra.


“Honey.... honey.... buka pintunya, kumohon,


maafkan aku” seru Dean seraya menggedor pintu tebal kamar mandi mewah itu.  Namun, jangankan terbuka, bahkn satu suara pun tidak terdengar dari dalam kamar mandi itu.


Dean terduduk di depan pintu kamar mandi, ada sesal yang dalam di hatinya karena telah merusak suasana indah mereka.  “Honey...., Qiqiku, kumohon maafkanlah kebodohan suamimu ini, kumohon jangan marah padaku, aku tidak sanggup menghadapi kemarahanmu” ucap laki-laki itu.  Walaupun dia tidak meliht Qiandra, tapi Dean yakin wanita itu mendengar


ucapannya.


Setelah terdiam selama beberapa saat, Dean


baru menyadari kalau dia masih belum mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya.  Dengan langkah lunglai, Dean berdiri dan mengambil jubah mandinya lalu menutup tubuhnya.  Setelah itu, laki-laki tampan ini kembali duduk di depan pintu kamar mandi, sambil berusaha mendengar suara dari dalam


kamar mandi itu.


Sementara itu, Qiandra yang berlari ke dalam


kamar mandi, masih duduk lunglai di pintu kamar mandi setelah dia mengunci pintu itu.  Qiandra bisa mendengar jelas setiap kata-kata suaminya, sebenarnya dia sangat tidak tega, tetapi dia juga tidak bisa menutupi rasa sakit dihatinya.


Peristiwa itu adalah peristiwa yang paling


melukai harga diri Qiandra sebagai seorang wanita.  Dan betapa terkejutnya Qiandra saat mendengar pertanyaan Dean yang ingin membandingkan kemampuannya dengan kemampuan Daniel diatas ranjang.  Qiandra merasa Dean seakan beranggapan kalau Qiandra menikmati kejadian itu.


Kejadian itu adalah hal yang paling menjijikkan dan sangat ingin dilupakan oleh Qiandra.  Dan Dean sendiri tahu bagaimana perasaan


Qiandra atas kejadian itu, tapi bagaimana bisa laki-laki itu bertanya tentang bagaimana rasanya.  Qiandra benar-benar merasa tersinggung dan sakit hati atas pertanyaan Dean kepadanya.


Air mata perlahan mengalir dipipi Qiandra, dia


menelungkupkan wajahnya diantara kedua lututnya.  Qiandra berusaha meredam isak tangisnya, dia tidak ingin Dean mendengarnya menangis.  Beberapa saat kemudian, Qiandra berdiri dan melangkah menuju bak mandi


besar di dalam kamar mandi itu.  Kemudian


dia mengisi air dalam bak mandi, bahkan Qiandra juga membiarkan shower menyala


sehingga suara gemericik air memenuhi ruangan itu.

__ADS_1


Setelah itu, barulah Qiandra kembali duduk dan


membiarkan tangisannya mengalir.  Wanita


itu menumpahkan semua sakit hati dan kepedihannya dalam air mata dan isak


tangisnya.  Dia hanya ingin mencari ketenangan dan berharap kepedihannya sedikit berkurang melalui air mata yang mengalir deras di pipinya.


Qiandra memang sudah terbiasa menyimpan semua kepedihan dan deritanya seorang diri.  Dan baru beberapa waktu terakhir ini dia belajar untuk berbagi dengan orang lain yaitu dengan Dean.  Tapi saat ini, Qiandra kembali menarik diri.  Tanpa sadar, wanita tegar ini kembali menutup dirinya dan menyimpan kepedihannya


hanya untuk dirinya sendiri.


Qiandra menghapus air mata di pipinya dengan


kasar, lalu melangkah masuk ke dalam bak mandi yang sudah terisi penuh.  Perlahan wanita ini menenggelamkan dirinya di


dalam air bak mandi itu untuk menenangkan dirinya.  Setelah beberapa saat, dia keluar dari dalam air dengan nafas terengah karena terlalu lama berada dalam air.


“Aku kuat, aku tidak akan membiarkan masalah sekecil ini merusak kebahagiaanku, biarlah aku menyimpannya dalam hati, aku tidak akan mengecewakan Dean.  Hah, ayo Qi, kamu pasti bisa, kamu pasti kuat dan sanggup menghadapi semua ini” bisik hati Qiandra berusaha memotivasi dirinya sendiri.


Setelah merasa cukup tenang, Qiandra perlahan


keluar dari bak mandi besar itu, kemudian dia membersihkan dirinya dibawah shower.  Saat akan menyentuh pintu kamar mandi, Qiandra sempat terhenti, beberapa kali dia menghela nafas panjang dan kemudian dengan perlahan dia membuka pintu kamar mandi itu.


Betapa terkejutnya Qiandra saat melihat di


depan pintu kamar mandi Dean sedang bersimpuh di kedua lututnya.  Tangan laki-laki itu mengangkat buket bunga mawar yang sangat cantik, namun dia sendiri menunduk seolah tidak berani menatap wajah Qiandra.


“Love....”desis Qiandra yang sangat terkejut


melihat sikap suaminya itu.


“Maafkan aku, Honey, maafkan suamimu ini yang terlalu bodoh” desis Dean tanpa mengangkat wajahnya.


“Love, sudahlah, jangan seperti ini, aku yang


salah, kumohon angkatlah wajahmu dan tatap aku” seru Qiandra.  Dia juga ikut bersimpuh di hadapan Dean, wanita itu bahkan tidak mampu lagi menahan air matanya.


“Tidak, Honey, aku tidak sanggup melihat


wajahmu bersedih karena aku, aku sudah mengingkari janjiku untuk tidak membuatmu menangis lagi” ucap Dean dengan suara berat.


Qiandra tahu kalau laki-laki itu sedang berusaha menahan air matanya, Qiandra segera memeluk tubuh kekar laki-laki itu dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang sang suami.  “Love, aku akan semakin bersedih jika kamu tidak mau menatapku, kumohon, tataplah aku” ucap Qiandra dengan terisak.


Dean merengkuh tubuh Qiandra dengan erat,


“Maafkan aku, Honey, maafkan aku Qiqiku, maafkanlah suamimu ini” bisiknya berulang kali di telinga Qiandra.


“Love, bukan salahmu, aku saja yang terlalu


sensitif, maafkan aku membuatmu merasa bersalah, kumohon jangn lagi meminta maaf padaku, karena kamu tidak bersalah” ucap Qiandra seraya menangkup pipi suaminya dan menatap mata elang yang terlihat berkaca-kaca itu.


“Honey, apapun alasannya, yang pasti aku telah


membuat air matamu mengalir, dan itu sangat menyedihkan bagiku, jadi kumohon maafkan aku” desis Dean yang tahu kalau Qiandra kembali menyembunyikan perasaannya.


“Sudahlah, Love, lupakan saja, daripada kita


terus berdebat tentang siapa yang salah dan siapa yang benar.  Aku lapar, apa boleh aku makan dulu, yah walaupun kamu yang telah bekerja keras, tapi aku sungguh kelaparan


sekarang.  Apa kamu akan membiarkan istrimu yang cantik ini harus menderita kelaparan di dalam pentahouse mewah ini” cicit Qiandra.


Dean kembali merangkul tubuh wanita itu, dia


semakin yakin kalau Qiandra kembali menutup perasaannya.  Ada sakit yang dirasakan laki-laki itu, namun dia tidak ingin memaksakan diri untuk memperbaiki semuanya.  Dean akhirnya mengalah, dengan perlahan dia mengangkat tubuh wanita itu dan membawanya keluar dari kamar mereka.


“Love, masa aku makan dengan tampilan seperti ini” protes Qiandra saat menyadari Dean membawanya langsung ke ruang


makan.  Dean tidak menghiraukan protes


Qiandra, dia tetap melangkah menuju ruang makan dan mendudukkan Qiandra di kursi meja makan yang ada di ruangan itu.


“Duduklah disini, aku akan menyiapkan makanan untuk kita” bisik Dean seraya mengecup kening Qiandra dengan lembut.  Setelah itu dia mulai mempersiapkan makanan


untuk mereka berdua.  Keduanya sama-sama


terdiam, hanya denting peralatan masak yang memenuhi ruangan itu saat Dean sedang mempersiapkan masakannya.


Qiandra menatap punggung kekar sang suami saat laki-laki itu sedang asyik dengan aktifitasnya.  “Ayolah, Qi, mengapa kamu tega

__ADS_1


menyakiti hatinya, lihatlah betapa besar kasihnya kepadamu.  Apakah hanya karena kesalahan sekecil itu kamu akan merusak kebahagiaannya” bisik hati Qiandra sambil menatap sendu pada punggung Dean.


__ADS_2