
Qiandra perlahan membuka matanya, sesaat
dia menyesuaikan matanya dengan keadaan di sekelilingnya. Qiandra sempat terkejut saat merasakan hembusan nafas lembut yang menerpa wajahnya. Dia mendongakkan kepalanya, dan seulas senyum hadir menghiasi wajah cantik wanita ini.
“Kamu begitu tampan, Love, semua kesempurnaan laki-laki ada padamu, sungguh sangat sulit aku mengerti, bagaimana bisa kamu jatuh cinta padaku. Hah, aku merasa seperti bermimpi, apa aku benar-benar layak menerima cintamu, Yang Mulia, aku hanyalah wanita biasa” bisik hati Qiandra sambil menatap wajah tampan sang suami yang masih terlelap.
“Apa kamu sudah puas berdialog dengan
hatimu, Honey, dan sekarang aku akan menjawabmu, kamu yang terbaik dalam
hidupku, kamu tidak hanya pantas tapi memang harus berada disisiku, menjadi
ratuku” desis Dean masih dengan mata tertutup membuat Qiandra benar-benar
terkejut.
“Love…..” seru Qiandra tertahan, perlahan
Dean membuka matanya dan tersenyum pada wanita yang masih ada dalam pelukannya itu.
“Tidak perlu terkejut, Honey, seumur-umur aku tidak pernah tidur di siang bolong, apalagi saat ada wanita cantik dalam pelukanku, menurutmu, bagaimana aku bisa tidur, hmmm” ucap Dean dengan lembut, lalu dia mengecup kening istrinya dengan penuh kasih.
“Tapi matamu tertutup rapat, bagaimana kamu
tahu aku sudah bangun” tanya Qiandra masih dengan penuh rasa penasaran.
“Selama kamu tidur, aku terus memelukmu,
Honey, jadi saat nafasmu berubah dan detak jantungmu berirama lebih cepat, aku sudah tahu kalau kamu sudah bangun” sahut Dean.
“Dan menebak pikiranku” Qiandra masih
penasaran.
“Dan menebak isi hatimu itu sangat mudah,
saat kamu menatapku dalam diam, aku yakin kamu pasti memujiku, dan saat kamu memujiku pada akhirnya pasti kamu akan bertanya apa kamu pantas atau tidak untukku” jawab Dean dengan yakin.
“Ish, kamu terlalu percaya diri, Love, belum tentu aku memujimu, bisa saja aku malah menghinamu” sergah Qiandra yang tidak ingin membenarkan kata-kata suaminya, walaupun dalam hati dia merasa kagum dengan pemikiran suaminya.
“Ha ha ha, jika kamu menghinaku, maka
bisakah kamu katakan sekarang apa penghinaanmu itu” kekeh Dean, dia tahu sangat
tidak mungkin wanita ini menghina dirinya.
“Aku mengucapkannya dalam hati supaya kamu tidak mengetahuinya, Love, nanti kamu tersinggung dan marah padaku” ucap
Qiandra dengan mengerucutkan bibirnya.
Cup, sebuah kecupan mendarat di bibir wanita cantik itu, membuatnya terkejut dengan gerakan cepat laki-laki yang masih memeluk tubuhnya dengan erat.
“Mana yang lebih mudah bagimu, menghina
suamimu atau mengakui kata-kata suamimu ini benar” tanya Dean dengan menaik turunkan kedua alisnya, dia menatap wajah cantik wanita yang sangat dicintainya.
“Ish…..” Qiandra tidak menjawab kata-kata
Dean, dia malah melepaskan diri dari pelukan laki-laki itu, lalu turun dari kasur big size mereka.
“Hei, mau kemana kamu, Honey, mengapa
meninggalkan suamimu sendiri, kamu juga belum menjawab pertanyaanku” seru Dean
saat melihat istrinya melangkah menuju ke pintu kamar mereka.
“Aku lapar” seru Qiandra, namun sebelum dia
sempat menyentuh pintu kamar, sepasang lengan kekar memeluknya dengan erat. Qiandra langsung tersandar pada dada bidang yang dipenuhi dengan bulu-bulu halus itu.
“Aku sudah menyiapkan makan siang kita,
Honey” ucap Dean dengan lembut di telinga istrinya, lalu dia menuntun wanita itu menuju ke arah balkon kamar mereka. Qiandra tersenyum melihat semua hidangan yang tersedia di atas meja, dia tahu pasti Dean akan menyediakan semua menu favoritenya.
Dean menarik satu kursi dan mempersilahkan
__ADS_1
istrinya untuk duduk, lalu dia mengambil satu piring dan mengambil beberapa menu makanan lalu memasukkannya dalam piring itu. “Love, aku bisa mengambil makananku sendiri, tidak perlu kamu yang melayani aku” seru Qiandra saat melihat perbuatan Dean.
“Aku hanya mengambil makanan, Honey,
setelah ini tugasmu lah untuk memasukkan makanan ini ke dalam mulutmu dan juga
mulutku” ucap Dean dengan santai, laki-laki itu sama sekali tidak merasa ragu saat harus mengambil makanan untuk istrinya.
“Tahukah kamu, Love, aku tidak pernah
merasakan seperti ini, aku selalu berada dibawah tekanan saat bersama Kak Charles dulu, setiap makanan yang masuk dalam perutku, serasa sesuatu yang harus aku bayar, karena tatapan dan perlakuan keluarga mertuaku” desah Qiandra dengan wajah sendu.
“Mengapa kalian tidak memilih tempat
terpisah dari keluarga mertuamu” tanya Dean, walau hatinya sedikit cemburu, namun dia teringat pesan dokter Tirta, agar dia membantu Qiandra untuk bisa mulai menceritakan masa lalunya.
“Kami sudah memisahkan diri, tapi mereka
selalu menyusul dan ikut tinggal dimanapun kami berada, hingga Kak Charles membeli mansion itu atas namaku, dengan harapan mereka tidak lagi ikut tinggal bersama kami, tapi mereka tetap tidak perduli. Akhirnya, aku sendiri yang meminta Kak Charles untuk mengalah, dan membiarkan keluarganya tinggal bersama kami” Qiandra mulai bercerita dengan senyum miris menghias wajahnya.
“Apa Charles tidak menyediakan tempat untuk
mereka dan membiayai hidup mereka” tanya Dean lagi, sebenarnya Dean sudah mengetahui semuanya karena dia sudah menyelidiki kehidupan Qiandra saat dulu Qiandra menghilang.
“Sudah, tapi selalu mereka jual, lalu mereka akan mengadu kalau mereka kehabisan uang” sahut Qiandra.
“Jadi, karena itu mereka begitu marah atas
kematian Charles, dan menjadi alasan mereka memperbudak kamu, Honey” tanya Dean lagi, ada kemarahan terselip dalam nada bicaranya, dan Qianda bisa merasakan itu.
“Mereka marah, memang karena mereka
kehilangan putra mereka yang menjadi tulang punggung keluarga, tapi mereka tidak memperbudak aku, akulah yang merasa bertanggung jawab atas kehilangan yang mereka alami, dan aku juga merasa bertanggung jawab atas kehidupan mereka
sama seperti Kak Charles yang selalu membiayai kehidupan mereka. Setidaknya, aku bisa menggantikan sebagian kecil peran Kak Charles dalam keluarganya” sahut Qiandra dengan senyum tulus.
Dean hanya bisa menatap istrinya dengan
tatapan takjub, dalam hatinya, laki-laki ini sungguh tidak percaya ada wanita seperti Qiandra. Wanita yang sanggup menjadi budak keluarga suaminya, yang bahkan selama suaminya hidup selalu mencaci maki dirinya. Wanita yang mau betanggung jawab atas kematian yang bahkan sempat mengancam nyawanya juga.
“Lalu, saat kamu pergi dari kota ini, apa
mereka cukup lama terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.
“Sebenarnya tanggung jawabku tidak pernah
berakhir, sama seperti seorang anak pada orang tuanya, tapi mereka telah mengusir aku, dan sejak saat itu aku tidak pernah tahu dimana mereka. Aku sendiri terlilit dengan masalahku sendiri, dan saat aku di pelarianku, sebenanya aku sangat ingin mencari tahu
tentang mereka, tapi aku juga khawatir kalau kalian bisa menemukan aku. Jadi, aku putuskan untuk bersembunyi, hingga kalian sudah menemukan pasangan dan sudah berumah tangga, baru aku akan kembali dan mencari mereka” jawab Qiandra dengan lugas.
“Kalian?, maksudmu siapa, Honey” tanya Dean
dengan kening sedikit berkerut.
Qiandra tersenyum masam, “Yah, kalian, Love, kamu dan Daniel, aku menunggu berita tentang pernikahan kalian, dan jika itu sudah terjadi, maka aku akan kembali kesini untuk mencari keluarga Kak Charles” sahut Qiandra.
“Ternyata kamu memang benar-benar tidak
pernah mengharapkan aku, Honey” desah Dean dengan sedikit kecewa.
“Bukan, Love, bukan tidak mengharapkan,
tapi aku tidak ingin berharap pada sesuatu yang tidak mugkin bahkan mustahil bagiku. Aku sudah menguburkan semua harapan itu, jauh dan sangat dalam, karena apa yang sempat kita jalani dalam dua hari itu, bagiku hanyalah mimpi indah di siang hari” sahut Qiandra.
Dean menghembuskan nafasnya dengan berat,
“Bagimu, dua hari itu hanya seperti mimpi, tapi bagiku, dua hari itu menjadi suatu hari terindah dalam hidupku, yang membuatku kembali memiliki semangat hidup bahkan harapan dan impian untuk meraih kebahagiaan. Tahukah kamu, Honey, sebelum bertemu dirimu, aku menjalani hidupku dengan sangat monoton, hanya bekerja dan bekerja, dengan dendam yang selalu memenuhi hari-hariku”
Qiandra menatap laki-laki tampan yang terlihat
sedih, mata elang laki-laki itu menatap jauh ke depan. Qiandra merasa bersalah, tapi dia tidak ingin menutupinya, karena memang itulah yang dia rasakan saat dia berada jauh dari Dean.
“Setiap orang hanya melihat betapa suksesnya aku, dan berpikir aku selalu bahagia, hanya Albert dan Vian yang tahu bagaimana hidupku dan bagaimana aku menjalaninya. Semuanya berubah drastis sejak pertemuanku denganmu, singkat tapi memberiku semangat untuk memperjuangkan kebahagiaanku lagi” lanjut Dean, presidir tampan itu mengalihkan pandangannya pada Qiandra. Perlahan dia meraih jemari lentik wanita cantik itu dan mengecupnya dengan lembut.
“Love…..” desis Qiandra, dia tidak bisa memberi komentar apapun atas kata-kata suaminya.
__ADS_1
“Honey, bahkan sejak pertama bertemu denganmu aku sudah tertarik padamu, dan dua hari kebersamaan kita, membuatku benar-benar
jatuh cinta padamu. Dan rasa itu tidak pernah berubah, walaupun sudah dua tahun kamu pergi, justru semakin subur dan semakin membuatku bersemangat untuk menemukanmu. Dan, saat aku telah menemukanmu bahkan bisa memilikimu, apakah menurutmu mungkin bagiku untuk membiarkan kamu pergi lagi. Tidak mungkin, Honey, aku rela kehilangan segala yang aku miliki, asal aku tetap bersamamu dan memiliki
dirimu” Dean menatap bola mata kecoklatan wanita cantik itu.
“Love, aku…..” Qiandra kehilangan kata-kata, dia bisa merasakan kejujuran dan ketulusan suaminya dalam setiap kata-kata yang mengalir dari mulut laki-laki itu.
“Jadi, apapun akan aku lakukan, agar kita tetap bersama, percayalah padaku seperti aku percaya padamu. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita lagi, aku akan menjagamu dan mengikatmu sehingga satu langkah pun aku tidak akan membiarkanmu jauh dariku” ucap Dean dengan penuh kesungguhan.
“Terima kasih, Love, bantu aku untuk menata
kembali hatiku, sehingga aku bisa memenuhi harapanmu, karena sejujurnya, aku pun sangat ingin hidup bahagia bersama denganmu. Namun, kekhawatiran dan ketakutanku seolah
membelenggu diriku” sahut Qiandra dengan bersungguh-sungguh.
“Pasti, Honey, kamu tahu aku akan melakukan
apapun juga untuk membahagiakan dirimu, aku hanya berharap kamu percaya padaku, percaya pada hatiku, pada cintaku. Mari kita berjuang bersama-sama, Honey, menghadapi semua rintangan bersama-sama, karena kamu adalah kekuatanku, dan hanya bersama denganmu aku bisa menghadapi hari esok” sahut Dean dengan lembut.
“Love…..” Qiandra benar-benar terpukau
mendengar kata-kata suaminya, hatinya begitu bahagia. Dia sangat berharap semua kata-kata yang terucap dari bibir suaminya akan menjadi kenyataan.
“Sekarang, apakah kamu akan kenyang hanya
dengan memadang wajahku, Honey, jika demikian maka kita tidak perlu menyantap
makanan ini, bukan” tanya Dean dengan senyum yang menghias wajah tampannya.
Qiandra memukul lengan suaminya dengan
perlahan “Bagaimana bisa Anda berpikir kalau wajah Anda bisa membuatku kenyang, Yang Mulia” rungutnya dengan manja, lalu wanita cantik ini mengambil piring yang sudah disiapkan oleh Dean dan mulai makan.
“Tentu saja aku berpikir demikian, karena
kamu lupa pada rasa laparmu saat kamu menatapku, dan sekarang, kuharap kamu
tidak lupa untuk memberi makan juga laki-laki tampan yang sudah menyiapkan makanan untukmu” ucap Dean yang tersenyum melihat sang istri makan dengan lahap.
Qiandra ingin mengajukan protes, karena dia
sangat lapar tapi Dean masih sempat-sempatnya meminta untuk disuapi juga. Namun, dia urung mengemukakan keberatannya saat melihat suaminya sudah membuka mulut menanti untuk diberi makanan.
Qiandra hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya lalu mulai menyuapi Dean yang terlihat sangat puas dan bahagia. “Dasar manja…” desis Qiandra setelah menyuapi suaminya.
“Hei, aku suamimu, Nyonya, ini bukan manja
namanya, tapi mengajari istri untuk melayani suaminya dengan baik, lagipula kalau bukan aku, siapa lagi yang akan kamu suapi, Honey” seru Dean saat mendengar istrinya bergumam.
“Ish, memangnya pelayananku masih kurang
ya” sahut Qiandra sambil kembali menyuapi makanan ke mulut suaminya.
“Bukan kurang, Honey, tapi perlu lebih intes lagi, hmmm, apalagi pelayanan di tempat tidur” desah Dean di telinga Qiandra dengan sensual.
“Loveeee…..” seru Qiandra yang terkejut karena suaminya tiba-tiba berbisik ditelinganya, “Astaga, bisa-bisanya kamu memikirkan hal itu saat kita sedang makan” ucapnya sambil menatap suaminya yang terlihat tersenyum bahagia.
“Aku bisa memikirkannya, dimanapun dan
dalam keadaan apapun, Honey, apalagi malam istimewa saat kamu memanjakan aku” sahut Dean dengan santai, namun dia begitu terkejut saat mendapatkan cubitan kecil di perut sixpacknya, “Auuu…..” seru Dean.
“Bisa nggak sich tidak membicarakan hal
mesum saat makan” desis Qiandra dengan wajah merah padam, dia masih saja merasa
malu jika suaminya membicarakan malam-malam panas yang mereka pernah lalui, apalagi malam special itu.
“Astaga, Honey, cubitanmu pedas sekali, bisa-bisa robek kulitku, hu hu hu kurasa kamu harus mengobati perutku ini” keluh Dean dengan wajah meringis.
Qiandra hanya bisa menggelengkan kepalanya
melihat tingkah suamiya, “Jangan harap aku tertipu dengan sandiwara Anda, Yang Mulia, Anda seorang actor yang buruk” sahutnya dengan bibir mencibir ke arah Dean.
Cup….
__ADS_1
Sebuah kecupan mendarat dibibir Qiandra,
membuat wanita itu kembali terkejut. “Hukuman untuk istri yang berani mencibir suaminya sendiri” ucap Dean dengan santai. Qiandra hanya bisa mendesah, namun dalam hatinya dia sangat bahagia dengan perlakuan Dean padanya.