
“Jadi, itu yang kamu maksud dengan kamu ragu apakah ada hubungan antara Dika dan Bu Sum” tanya Dean lagi memastikan.
“Ya, Tuan, karena itu pula saya belum melaporkan apa apa pada Anda, saya belum memastikan karena sampai saat ini belum ada pergerakan apa apa dari mereka berdua. Seolah kejadian itu tidak pernah terjadi” sahut asisten Dika lagi.
Dean terdiam lagi, keningnya mengernyit dalam seolah berusaha memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Jika Dika mengenal Bu Sum, hal itu bukanlah hal yang aneh, karena memang Dika sudah lama bekerja bersama dengan Qiandra. Justru hal yang mengherankan saat melihat ternyata mereka berdua tidak pernah bertemu, dan di saat bertemu justru ada hala hal janggal yang terjadi.
“Selidiki dengan teliti, Vian, aku curiga, jangan jangan hal ini ada hubungannya dengan masa lalu Qiqi dan juga Dika” perintah Dean pada asisten Vian.
“Kalau masa lalu Nyonya Muda, bukankah sudah cukup jelas, Tuan, Nyonya Muda berasal dari panti asuhan, dia ditemukan setelah kedua orang tuanya tewas dalam sebuah kecelakaan maut. Kemudian dia di adopsi oleh ibu panti hingga akhirnya menikha dengan Charles” sahut asisten Vian menjelaskan asal usul Qiandra yan memang pernah diselidikinya.
‘Siapa orang tuanya, apa kamu pernah melacaknya” tanya Dean lagi.
Asisten Vian sempat terdiam, dia tersadar kalau dia memang belum melacak siapa orang tua Qiandra. Karena dalam data yang ada di panti asuhan itu juga tidak disebutkan siapa orang tua Qiandra. “Saya pernah bertanya pada ibu panti, tapi wanita paruh baya itu menjelaskan kalau identitas kedua orang tua Qiandra tidak diketahui, karena mobil mereka terbakar habis” sahut asisten Vian saat mengingat bagaimana penjelasan ibu panti padanya.
“Bagaimana bisa mereka tidak melacak semuanya dan tidak mencari tahu siapa tahu ada keluarga dari korban. Lalu bagaimana Qiqi bisa lolos dari kecelakaan yang begitu dahsyat seperti itu” seru dokter Albert. Sebagai seorang dokter, dokter Albert merasa sangat salah jika tidak menelusuri semua yang berhubungan dengan sebuah kecelakaan. Setidaknya pasti bisa diketahui siapa yang menjadi korban dan siapa keluarga korban yang bisa dihubungi.
“Saya juga sudah berusaha menanyakan hal itu pada ibu panti, tapi beliau hanya bisa terus menangis dan meminta saya untuk tidak mengungkit masalah itu lagi apalagi di hadapan Qiandra, karena itu bisa saja mengungkit trauma masa kecilnya” sahut asisten Vian.
“Trauma masa kecil?, kenapa begitu banyak trauma yang dialami oleh Qiqi” desis dokter Albert dengan nada penuh rasa sesal.
Dean melirik dokter Albert sesaat, kemudian mendesah kasar, “Hidup istriku memang sudah sulit sejak kecil, karena itulah dia selalu tegar menghadapi semua masalah. Kekuatan yang dimiliki olehnya itu juga yang membuat aku semakin mencintai dirinya” ucap Dean seolah berbicara pada diri sendiri.
“Lalu bagaimana Bu Sum bisa menjadi orang yang selalu berada di dekat Qiqi dan bahkan sekarang sudah dianggap sebagai ibu oleh Qiqi” tanya dokter Albert mengabaikan kata kata bucin Dean tadi.
“Bu Sum pada awalnya hanya sekedar membantu pekerjaan di panti tempat Nyonya Muda tinggal, tapi seiring berjalannya waktu sejak keberadaan Qiandra, Bu Sum malah semakin dekat dengan Nyonya Muda, sehingga Ibu panti meminta Bu Sum untuk menjadi pengasuh Nyonya Muda yang masih kecil. Demikianlah seterusnya, bahkan hingga Bu Sum memiliki anak, Nyonya Muda sendiri turut mengasuh anak anak Bu Sum. Dan entah bagaimana, Bu Sum justru lebih memilih mengikuti Nyonya Muda daripada mengikuti anak anak dan suaminya. Kalau penjelasan ibu panti, hal itu karena Nyonya Muda yang meminta agar Bu sum ikut dengannya setelah dia menikah dengan Charles” lanjut asisten Vian lagi.
“Bukankah Bu Sum juga memiliki anak dan suami, tapi bagaimana dia bisa selalu mengikuti Qiandra” tanya dokter Albert lagi dengan kening berkerut.
“Mungkin karena kesulitan ekonomi, rasanya Qiqi pernah cerita kalau suami Bu Sum juga sering berkunjung dan menemui Bu Sum” sahut Dean mengingat cerita Qiandra.
“Tapi tetap saja aneh rasanya jika Bu Sum sudah mempunyai keluarga, tapi tetaphidup bersama dengan Qiqi. Apalagi saat Qiqi harus pergi jauh dari kota ini, bagaimana dia bisa juga meninggalkan anak dan suaminya hanya untuk terus menemani Qiandra” masih dokter Albert merasa penasaran.
__ADS_1
Namun, pertanyaan dokter Albert itu ternyata membuat kedua laki laki yang lain juga ikut terdiam. Mereka akhirnya berpikir bahwa apa yang dikatakan oleh dokter tampan itu benar adanya. “Kamu benar Al, memang sungguh hal yang aneh jika seorang ibu rela meninggalkan keluarganya demi mendampingi orang lain yang bukan apa apanya. Tapi, bukankah sangat benayak sekarang wanita yang merelakan berpisah dengan keluarfanya demi mencari nafkah” tanya Dean juga.
Dean masih berusaha mencari alibi untuk membenarkan tindakan Bu Sum selalu beradadi sisi Qiandra. Tidak ada alasan lain yang lebih masuk akal dari masalah ekonomi yang membuat wanita paruh baya itu rela berpisah dengan keluarganya. “Apa kamu tahu dimana keluara Bu Sum” tanya Dean tiba tiba kepada asisten Vian.
Asisten Vian cukup terkejut dengan pertanyaan Dean, “Maafkan saya, Tuan, untuk hal itu saya memang belum melakukan penyelidikan lebih jauh untuk mengetahui dimana keluarga Bu Sum” jawab asisten Vian dengan sedikit gugup. Dia menyadari itu adalah keteledorannya, asisten Vian benar benar lupa untuk mencari tahu tentang keluarga Bu Sum.
Dulu, saat Dean mulai mendekati Qiandra, asisten Vian memang sempat menyelidiki latar belakang Qiandra. Namun, setelah bertahun tahun kehilangan Qiandra, asisten Vian berhenti menelusuri kehidupan Qiandra. Asisten Vian tidak menyangka kalau Dean benar benar akan berjodoh dengan wanita itu.
Selama pernikahan Dean pun, asisten Vian belum sempat melanjutkan penyelidikannya mengenai latar belakang keluarga Bu Sum. Berbagai masalah yang dihadapi membuat dia sama sekali tidak sempat untuk memikirkan masalah Bu Sum. Asisten Vian berfikir kalau tidak ada masalah dengan wanita paruh baya itu, hingga saat ini.
“Jika begitu, segera lakukan penyelidikan, aku mau tahu segala sesuatu tentang Bu Sum, kelaurganya, anak dan suaminya. Lakukan secepanya agar kita bisa mengetahui ada hubungan apa sebenarnya antara Dika, Bu Sum dan Qiandra. Aku tidak ingin membuat praduga praduga yang tidak jelas, kamu tahu kan Vian seberapa besar arti Bu Sum dalam kehidupan Qiqi. Jadi, jangan sampai kecurigaan kita melukai Qiqi lagi nantinya” ucap Dean.
“Baik, Tuan, aku akan segera memerintahkan anak anak untuk melakukan penyelidikan” sahut asisten Vian.
“Ingat, lakukan dengan diam diam, jangan sampai ada yang mengetahuinya. Kita tidak tahu apa ada bahaya atau tidak, tapi yang jelas kita harus menjaga perasaan Qiqi. Aku tidak ingin Qiqi merasa kecewa karean mengetahui kita mencurigai wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibunya” ucap Daniel lagi.
“Baik, Tuan” sahut asisten Vian.
“Segera laporkan apapun yang kamu temukan, jangan menahan dan menyembunyikan apapun dariku” ucap Dean dengan tegas.
Setelah asisten Vian selesai, dokter Albert tiba tiba berdiri, “baiklah, aku melanjutkan pekerjaanku dulu ya, sepertinya waktu istirahatku sudah selesai” ucapnya.
Dean hanya mengangguk samar dan tidak menganggapi ucapan dokter Albert. Dia masih berusaha memahami tentang masalah antara sang istri dengan ibu mertuanya dan Dika. Hingga tiba tiba dia berseru pada asisten Vian, “Vian, lakukan penyelidikan juga terhadap masa lalu Dika, pastikan apa benar dia memang ada hubungan dengan Bu Sum di masa lalu” ucapnya.
Asisten Vian menatap Dean ingin mengajukan protes tapi kemudian dia mengangguk, “Baik, Tuan” sahutnya, lalu dia kembali meraih phonselnya dan memberikan perintah lagi pada anak buahnya.
Sementara Dean masih terpekur, dia berusaha mengingat segala sesuatu yang berhubungan dengan Qiandra, Dika dan Bu Sum, “Apa semua ini juga ada hubungannya dengan perhatian yang diberikan oleh Dika pada Qiqi” desisnya tiba tiba yang membuat asisten Vian segera menoleh kepadanya.
Asisten Vian mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Dean, “Apa maksud Anda, Tuan” tanya asisten Vian. “Haish, jangan jangan dia kembali cemburu” bisik hati asisten Vian.
“Jangan selalu berprasangka buruk padaku, Vian” desis Dean membuat asisten Vian terkejut.
__ADS_1
“A apa maksud Anda, Tuan, saya tidak berpikir apa apa” seru asisten Vian.
“Heh, kamu pikir aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiranmu itu, hanya melihat tatapanmu saja aku sudah bisa menduga apa yang ada dalam pikiranmu” seru Dean, membuat asisten Vian gelagapan.
“Ma maafkan saya, Tuan” sahut asisten Vian dengan gugup.
“Hais, sudahlah, kamu ini seperti dengan siapa aja, dan mengapa juga kamu sampai sekarang tidak bisa bersikap biasa saja denganku sama seperti Albert kalau sedang berada di luar jam kantor” dengus Dean. Walaupun Dean sudah tahu jawabannya, tapi dia tetap saja menuntut asisten Vian agar bisa lebih santai saat bersama dengannya jika di luar jam kerja mereka.
“Maafkan saya, Tuan, mungkin memang sudah menjadi kebiasaan, jadi, kalau boleh saya tahu apa maksud ucapan Anda tadi yang mengatakan hubungan antara perhatian Dika pada Nyonya Muda” tanya asisten Vian berusaha mengalihkan arah pembicaraan mereka.
Dean mendesah sesaat, lalu dia menyandarakan unggungnya di sandaran empuk kursi yang saat ini didudukinya. “Kamu ingat saat Dika datang menemui kita kemaren di mansion” tanya Dean balik pada asisten Vian.
“Ya, saya masih mengingatnya, Tuan, saat itu kita masih belum menemukan keberadaan Nyonya Muda” sahut asisten Vian.
“Kamu ingat bagaimana sikap Dika yang begitu antusias untuk menemukan Qiqi, bahkan aku sempat kebingungan melihat sikap antusiasnya itu. Dia terlihat begitu bersemangat bahkan sangat bersemangat” ucap Dean dengan mata menerawang mengingat sikap Dika Ketika bertemu dengannya.
“Anda benar, Tuan, Tuan Dika saat itu bahkan belum membicarakan tentang perusahaannya, PT.Mahardika, padahal tujuan awalnya adalah untuk membicarakan perusahaannya. Saya sendiri juga bingung melihat sikap Tuan Dika saat itu” sahut asisten Vian. Asisten Dika juga tidak lupa bagaimana tatapan membunuh penuh kecembruan yang diperlihatkan Dean saat melihat sikap Dika waktu itu.
“Wajar kalau aku cemburu, dia memberikan perhatian yang terlalu berlebihan pada istriku” desis Dean seperti bisa membaca pikiran asisten Vian,membuat asisten Vian kembali melongo menatap ke arah sahabat sekaligus bosnya itu.
“Ini orang kenapa jadi seperti cenayang saja, bisa bisanya dia selalu membaca pikiranku” desis asisten Vian dalam hati. “Tapi hal yang lebih mengherankan adalah saat Tuan Dika juga tidak mengerti mengapa dia merasa begitu ingin melindungi dan menolong Nyonya Muda” ucap asisten Vian mengabaikan kata kata Dean yang seakan bisa membaca pikirannya.
“Kamu benar, Vian, Dika benar benar tidak bisa menjelaskan mengapa dia begitu perduli pada Qiqi” ucap Dean juga.
Dean kembali mengingat kata kata Dika saat itu Ketika dia merasa penasaran dengan sikap laki laki itu, “Jangan menanyakan alasannya pada saya, Tuan Dean, karena saya sendiri tidak tahu apa alasan saya merasa selalu harus melindungi Nyonya Qiandra. Jika Tuan berpikir saya mencintai Nyonya Qiandra, Anda salah besar. Walaupun pada awalnya saya berpikir demikian, tapi saya tidak pernah merasa takut kehilangan Nyonya Qiandra, kehilangan dalam artian jika dia dimiliki oleh laki laki lain. Bahkan saat mengetahui bahwa Anda sudah berhasil mempersunting Nyonya Qiandra, saya malah merasa sangat lega. Entahlah, saya malah merasa beban saya untuk menjaga Nyonya Qiandra sudah lepas” semua itu masih tercetak jelas di pikiran Dean.
Asisten Vian ikut terdiam sambil menatap raut wajah Dean dengan seksama, “Aku cemburu, memang benar, Vian, tapi lebih dari itu aku juga merasa curiga dan bingung dengan semua ucapan dan alasan yang disampaikan oleh Dika waktu itu. Alasannya sangat sulit diterima oleh akal sehat, bagaimana bisa dia selalu merasa bertanggung jawab pada kehidupan Qiqi, sementara dia bukan lah siapa siapa” ucap Dean.
Asisten Vian tidak berkata apa apa, karena dia juga sebenarnya merasa sangat heran dengan sikap Dika itu. Sebagai orang yang sangat dekat dengan Dean, asisten Vian juga tidak akan bersikap seperti Dika yang terlihat sangat antusias dalam hal yang berhubungan dengan Qiandra.
“Dika bahkan segera menjenguk Nyonya Muda saat dia telah mengetahui kalau Nyonya Muda sudah ditemukan. Saya menduga, Tuan Dika bahkan mungkin juga belum menemui Daniel saat datang dan menjenguk Nyonya Muda” ucap asisten Vian yang kembali mengingat kejanggalan sikap Dika.
__ADS_1
“Kamu benar sekali, Vian, segala sesuatu yang berhubungan dengan sikap Dika pada Qiqi terasa sangat mencurigakan dan janggal, apalagi dalam statusnya sebagai sahabat sekaligus saudara Daniel” sahut Dean. “Ya, sudah, sekarang kamu selidiki saja semuanya, dan segera laporkan padaku, apa saja yang kamu dapatkan tentang Bu Sum maupun Dika. Semakin kesini aku semakin yakin kalau ada hubungan diantara keduanya dan Qiqi” ucap Dean. “aku kembali ke ruang rawat Qiqi, siapa tahu dia sudah bangun sekarang” lanjutnya lagi seraya berdiri dan melangkah meninggalkan asisten Vian.
Asisten Vian hanya mengangguk seraya berdiri juga saat sang bos berdiri dan pergi meninggalkan dirinya. “Hah, kenapa masalahnya jadi semakin ribet, masalah perusahaan saja hampir tidak sanggup aku tangani. Dan sekarang harus ditambah lagi dengan semua masalah ini” desis asisten Vian.