
Di dalam sebuah bangunan yang tersembunyi ditengah hutan lebat, terdengar teriakan penuh kemarahan. Teriakan itu benar-benar bisa membuat semua orang yang mendengarnya bergidik ketakutan.
“Kurang a*ar..... kamu Dean, jangan harap aku akan membiarkanmu bahagia, aku akan selalu merebut apa yang seharusnya menjadi milikku”
seru laki-laki bermata biru itu dengan penuh kemarahan. Dalam kemarahannya, laki-laki itu melampiaskan dengan melemparkan beberapa belati kearah dinding. Pada dinding itu terpampang gambar seorang laki-laki lain yang sedang tersenyum ke arah laki-laki beemata biru itu.
“Bunuh bajingan itu, dan culik wanitaku,
bagaimanapun caranya, ingat, jngan pernah melukai wanitaku, bahkan jika sehelai rambutnya saja putus, aku akan membu*nuh kalian” serunya kepada beberapa lelaki sangar yang berdiri di belakangnya. “Dan jangan sampai hal ini diketahui oleh Dika, jika dia sampai mengetahui hal ini, maka nyawa kalian
tidak akan tinggal diam dalam tubuh kalian sampai esok hari” lanjutnya lagi sambil berpaling ke arah para lelaki yang bersiap di belakangnya.
“Baik, Tuan Daniel” sahut para laki-laki itu
dengan serempak. Namun, sebelum para lelaki itu pergi, tiba-tiba terdengar dering phonsel tang memvuat kening Daniel berkerut. Pasalnya, semua orang tahu kalau saat sanf presidir itu marah, tidak boleh ada bunyi apapun di sekitarnya. Jika ada yang membuat suara diluar perintahnya, maka sudah bisa dipastikan nyawa orang itu akan melayang seketika.
“Tuan, ada telepon masuk ke nomor pribadi
Anda” seorang laki-laki dengan tubuh
kekar dan besar, terlihat sedikit ragu dan takut menyerahkan sebuah phonsel kepada Daniel, membuat kening laki-laki itu semakin berkerut. Nomor pribadi Daniel hanya dimiliki oleh beberapa orang saja yang sangat dekat
dengannya. Dan saat Daniel melihat nama
yang tertera di phonselnya, keningnya semakin berkerut, “Risty...” desisnya.
“Ada apa kamu menghubungiku lagi” desis Daniel dengan suara penuh kebencian saat sudah tersambung dengan si penelpon.
“Hai, Niel sayangku, ternyata kamu masih menyimpan nomorku, apa kamu juga masih
menyimpan namaku di hatimu, hmmm” suara merdu yang begitu manja langsung menerpa telinga Daniel. Sesaat laki-laki itu tertegun mendengar panggilan namanya yang diucapkan oleh Risty, nama panggilan khusus dan hanya Risty yang memanggilnya seperti itu. Nama yang dulu selalu membuat semua kemarahan Daniel menguap seketika.
“Apa yang kamu inginkan lagi, katakan
secepatnya, aku tidak punya waktu untuk melayani basa basimu” desis Daniel dengan tegas. Entah mengapa saat mendengar panggilan khas Risty kepadanya saat ini, bukannya membuat amarahnya mereda tapi malah membuat luka lamanya menganga dan kemarahannya semakin besar pada seorang Dean Walt Zacharias.
“Aduh, Niel sayangku, jangan berbicara seperti itu padaku, kamu tahu aku selalu ketakutan saat mendengar nada suara kejammu itu. Tidak bisakah kamu sedikit melembutkan suaramu, JANGAN BILANG SEMUA
KELEMBUTANMU TELAH HABIS DIREBUT OLEH ISTRI ANAK TIRIKU ITU” ucap Risty
dengan menekankan pada beberapa kata terakhir yang diucapkannya.
Kata-kata Risty benar-benar menusuk tepat ke
jantung Daniel, membuat laki-laki itu mengepalkan tangannya dengan geram. Dia meraih dua buah belati sekaligus dan
melemparkannya secara bersamaan ke arah dinding dan menancap tepat di jantung Dean dalam gambar itu.
“Cukup, Risty, katakan saja apa yang kamu
inginkan sebelum aku menutup dan memblokir nomormu” geram Daniel dengan berdesis pada Risty.
“Cup cup cup, jangan terlalu suka marah-marah, Niel sayangku, kamu akan terlalu cepat menua jika selalu marah, dan kalau kamu menutup teleponku, aku jamin kamu akan menyesalinya seumur hidupmu, karena aku punya penawaran yang sangat menarik untukmu” ucap Risty masih dengan suara manja khas wanita itu yang dulu pernah membuat Daniel tergila-gila padanya.
“Penawaran apa yang ingin kamu berikan padaku, jika ini tentang uang, kamu harus tahu bahwa uangmu itu haram bagiku” ucap Daniel masih dengan suara dingin.
“Ha ha ha, ternyata kamu masih sangat mengingat diriku, Niel sayangku, kamu tahu
bagaimana aku begitu mencintai uang. Dan astaga, aku tidak menyangka kamu semudah ini tertarik saat mendengar aku akan memberimu penawaran, ck ck ck, ternyata aku masih ada dalam hatimu yang paling dalam, Niel sayangku” tawa renyah yang begitu manja dari Risty menerpa telinga Daniel.
Jika dulu, saat Daniel mendengar tawa manja
wanita ini, maka dia akan segera menyusul Risty dan mengurung wanita itu dimanapun mereka berada, untuk memuaskan hasrat dan gairah keduanya. Namun sekarang, tawa renyah wanita itu hanya membuat dada Daniel merasa perih. Tidak bisa dipungkiri, Risty memang cinta pertamanya dimana Daniel pernah mencurahkan seluruh cinta dan perhatiannya.
Daniel menghela nafasnya beberapa saat untuk
__ADS_1
menetralkan segenap rasa yang ada dalam hatinya. “Aku masih menghargaimu sebagai bagian dari masa laluku, jadi jangan sia-siakan kesempatan yang aku berikan padamu, katakan
saja apa yang ada dalam hatimu sekarang juga” desis Daniel, namun sekarang nada
suaranya sudah sedikit lebih lembut bahkan tanpa dia sadari.
“Oh, astaga, Niel Sayangku, inilah suaramu yang sangat aku sukai, dalam dan seksi,
ups, kamu membuatku meriding hanya dengan membayangkan kamu berbisik dengan
suara ini di telingaku saat kita berada diatas tempat tidur” desah Risty dengan suara sensual penuh godaan.
Daniel memejamkan matanya sesaat, sambil
memijit keningnya perlahan. Kata-kata
Risty tak urung membuat semua kenangan indah yang pernah terukir diantara keduanya kembali muncul dalam ingatan seorang Daniel Putra Mahardika. Hubungan mereka yang terjalin dan benar-benar bebas di masa lalu memang membuat Daniel begitu sulit untuk melupakan wanita itu.
Risty adalah wanita pertama yang sanggup
meruntuhkan segenap kesombongan dan kekejaman seorang Daniel. Daniel yang memang menyukai kehidupan liar dengan pergaulan bebas tanpa batasan, ditambah lagi kekayaan yang selalu melimpah dalam masa mudanya, bisa takluk dihadapan seorang Risty.
Lima tahun bukanlah waktu yang singkat bagi
keduanya untuk hidup bersama, berbagai hal telah mereka lewati walaupun mereka tidak mengikat diri dalam pernikahan. Bahkan hingga sekarang, lima tahun setelah perpisahan mereka, Daniel masih bisa merasakan getaran dalam dadanya saat medengar suara wanita itu.
“Risty.....” desah Daniel tanpa sadar seraya
menghela nafasnya dengan berat.
“Ha ha ha, ternyata kamu benar-benar tidak bisa melupakan aku, haish aku merasa sangat
tersanjung, Niel Sayangku, apa kamu ingin mengulangnya lagi, hmmm” tawa manja Risty yang menggema di telinga Daniel benar-benar membuat laki-laki itu merasa berat.
“Cukup, Ris, sekarang katakan saja apa yang
semakin tidak beraturan dalam dadanya.
“Oh, Niel Sayangku, kamu masih saja seperti dulu, moodmu begitu cepat berubah. Tahukah kamu, itu adalah salah satu penyebab aku lebih memilih Dean, karena dia laki-laki yang sangat tenang, tampan dan tentu saja kaya......” ucap Risty masih dengan suara manja.
Daniel mengepalkan tangannya saat mendengar wanita yang pernah begitu dekat dengan dirinya dan sangat dicintainya itu
dengan begitu santainya menyebut nama laki-laki yang begitu dibencinya. Bahkan Risty menyebut nama Dean dengan suara yang sangat memuja dan disertai dengan kata-kata pujian yang sanggup membuat darah Daniel kembali mendidih.
“Jaga mulutmu, Risty, jangan pernah menyebut
nama baji*gan itu lagi dihadapanku, atau aku akan menyuruh orang merobek mulutmu saat ini juga” seru Daniel penuh kemarahan. Tangannya yang memegang phonsel itu terkepal erat dan tanpa sadar melemparkan phonsel itu ke dinding hingga benda pipih itu hancur berantakan.
Masih belum puas hanya dengan melemparkan
phonsel itu, Daniel bahkan menginjak phonsel itu dengan keras. Wajah laki-laki bermata biru itu terlihat memerah karena menahan segenap kemarahan dalam dadanya.
“Tunggu saja, Risty, tidak akan lama lagi kamu
akan menangisi mayat baji*gan itu, aku Daniel Putra Mahardika, tidak akan membiarkan
laki-laki itu kembali merenggut wanitaku” desis Daniel penuh kegeraman. Matanya menatap tajam foto wajah laki-laki yang menempel di dinding ruangan itu dan sudah dipenuhi oleh pisau-pisau kecil yang menancap di seluruh bagian wajah itu.
Daniel terhenyak dikursinya sambil memijit
keningnya yang terasa berdenyut, kemarahan yang terus menerus memenuhi hatinya tanpa bisa dilampiaskan, benar-benar membuat Daniel merasa frustasi. Dia meraih sebotol wine yang ada diatas mejanya, lalu meneguk minuman yang masih berisi setengah botol itu seperti meneguk air mineral saja. Setelah
meneguk habis semua isi botol itu, Daniel langsung melemparkan botol itu ke arah foto Dean, hingga botol itu hancur berkeping-keping.
Beberapa orang anak buah Daniel yang mendengar keributan itu segera masuk ke dalam ruangan, dan saat mereka melihat keadaan tuannya yang kacau balau, mereka hanya bisa menundukkan kepala dan kembali
__ADS_1
keluar. Memang tidak ada satu orangpun
yang berani mengganggu Daniel saat dia berada dalam kondisi seperti itu. Mereka semua tahu, jika Daniel sampai sekacau itu berarti ada masalah yang sangat besar yang mampu membuat presidir tampan itu marah besar.
Tiba-tiba bunyi dering phonsel memecah suasana hening yang saat itu tercipta karena memang tidak ada seorangpun yang berani
mengeluarkan suara saat sang preisidr dalam keadaan seperti itu. Daniel yang merasa terganggu mendengar suara phonsel itu, memicingkan sebelah matanya yang sempat terpejam.
Salah satu anak buahnya dengan sedikit ragu
membawa phonsel yang terus berdering itu dan menyerahkannya pada Daniel. “Siapa” tanya Daniel tanpa menyentuh benda pipih itu. Daniel sungguh tidak ingin lagi menerima panggilan dari Risty, rasa kesal dan amarahnya masih belum reda akibat ucapan wanita itu.
“Asisten Dika, Tuan” sahut anak buahnya yang
walaupun bertubuh kekar tetap saja sedikit terbata saat menerima tatapan tajam dari Daniel.
“Terima..” ucap Daniel masih tanpa menyentuh
phonselnya. Anak buahnya segera menerima
panggilan itu dan mengubahnya ke dalam mode loudspeaker agar Daniel dapat tetap
berbicara tanpa harus menyentuh phonselnya. Setelah itu, anak buah Daniel ini membungkukkan bdannya dan segera
meninggalkan ruangan itu.
“Ada apa Dika” tanya Daniel dengan malas, dia
merasakan kalau kepalanya semakin berdenyut.
“Tuan, aku sudah pulih sekarang, dimana Anda, biar aku bisa segera menyusul Anda” ucap asisten Dika. Dari suaranya Daniel tahu kalau asisten Dika pasti sedang khawatir tentang keadaannya.
“Jangan khawatirkan aku, Dika, aku baik-baik
saja, lebih baik kamu tetap beristirahat dan jangan memikirkan yang lainnya dulu. Pulihkan kesehatanmu, akan ada banyak hal yang harus kita selesaikan setelah ini” ucap Daniel.
“Tapi, Tuan....” asisten Dika tidak sempat menyelesaikan kata-katanya, karena Daniel sudah terlebih dahulu menutup panggilan telepon itu.
Daniel mendesah sesaat, dia menatap wallpaper phonselnya, dimana terlihat dia sedang tersenyum dan asisten Dika berdiri di
belakangnya. “Hah, darah memang tidak
bisa berbohong, aku tahu kamu tidak akan pernah mampu untuk menyakiti Qiandra”
desis Daniel penuh misteri.
Daniel menyandarkan tubuh lelahnya di kursi
empuk tempatnya duduk, dia kembali memejamkan matanya. Daniel berusaha memusatkan fikirannya pada masalah yang dihadapinya saat ini, namun yang terbayang di pelupuk matanya justru asisten Dika.
“Aku tidak akan pernah melibatkanmu dalam masalah ini, aku tahu kamu tidak akan pernah mampu. Kamu bisa menyelesaikan berbagai masalah bahkan yang tersulit sekalipun, tapi jika menyangkut Qiandra, aku tahu kamu tidak akan pernah mampu. Bukan aku meragukan kesetiaanmu, atau tidak mempercayaimu, tapi aku tahu, kenyataan ini memang tidak bisa dipungkiri. Suatu saat, yah suatu saat kelak aku harap kamu akan mengerti, semoga pada saat itu kebahagiaan bisa berpihak padaku” bisik hati presidir tampan bermata biru itu.
Tanpa sadar, satu bulir air bening mengalir di
sudut mata laki-laki itu yang segera dihapusnya dengan kasar. “Maafkan aku sahabat, aku hanya ingin mendapatkan kebahagiaanku, apa aku salah, aku hanya berusaha mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milikku. Apa aku harus selalu membiarkannya merenggut setiap kebahagiaanku, tidak, aku tidak akan membiarkannya. Maaf jika kali ini aku benar-benar tidak akan melibatkanmu” desis Daniel lagi.
Daniel kembali menghembuskan nafasnya dengan berat, masalah yang dihadapinya saat ini memang cukup pelik. Saat dia berusaha
mati-matian merebut Qiandra dari tangan Dean, sementara wanita itu benar-benar tidak menginginkan dirinya. Daniel tetap tidak perduli dengan ketidakmauan Qiandra, baginya sepanjang wanita itu bisa berada disisinya itu sudah jauh lebih dari cukup.
Belum lagi rahasia besar yang selama ini disembunyikannya dari asisten Dika. Yah, sebuah rahasia dari masa lalu, yang hanya diketahui oleh Daniel saja. Daniel sangat mengetahui jika rahasia ini terbongkar maka tidak menutup kemungkinan Daniel akan kehilangan semua orang yang selama ini sangat dekat dengannya, terutama asisten Dika.
Daniel memijit kepalanya yang terasa semakin pening dan berat, dia tidak mau asisten Dika
mengetahui keadaannya saat ini. Karena
__ADS_1
asisten Dika sangat kecewa dan khawatir jika Daniel kembali menyentuh minuman keras. Dan pada kenyataannya, memang saat ini Daniel merasakan efek dari minuman keras yang diminumnya. Ditambah lagi berbagai masalah yang dihadapinya sendiri tanpa ada tempat untuk berbagi, membuat Daniel merasa
semakin lelah. Hingga akhirnya, laki-laki tampan itu terlelap dalam posisi masih duduk.