
Kemesraan yang di tampilkan oleh Dean di
hadapan semua tamu undangan memang cukup mengejutkan semua orang. Dan semua orang yang ada dalam ruangan itu
bertepuk tangan seakan turut merasakan kebahagiaan kedua sejoli ini. Bahkan ada diantara para tamu yang bersiul dan berseru “Bravo Yang Mulia” dan disambut dengan gelas minum yang diangkat keatas sebagai bentuk sukacita mereka.
Namun di salah satu sudut ruangan yang agak tersembunyi, seorang pria dengan setelan jas mewah terlihat menggeram menahan amarah. Laki-laki tampan penuh charisma dengan bola mata biru itu menatap tajam ke arah pelaminan dimana Qiandra dan
Dean terlihat masih saling tersenyum penuh kebahagiaan.
“Tunggu sebentar, Qiandra, aku akan segera
memberimu kebahagiaan dan keceriaan serta kemewahan jauh melebihi yang bisa diberikan olehnya. Apa yang kamu dapatkan sekarang tidaklah sebanding dengan apa yang bisa aku berikan kepadamu. Aku bisa memenuhi segala keinginanmu jauh melebihi laki-laki itu, dan aku akan membuatmu menjadi ratu yang sesungguhnya” desis laki-laki itu dengan geram.
Laki-laki yang tak lain dari Daniel itu akhirnya mengalihkan pandangannya pada Risty, seolah menunggu kode dari wanita itu. Namun, dia kembali mendesah kesal karena melihat Risty menggeleng pelan saat melihat ke arahnya. Dia tahu berarti dia belum diijinkan bertindak apapun saat ini.
Daniel kembali mendesah dengan kesal,
“Sialan wanita ****** itu, apa dia sengaja ingin menyiksaku dengan terus melihat kemesraan Qiandra dan laki-laki itu. Haish, harus berapa lama aku menunggu, aku sungguh tidak sabar ingin segera membawa Qiandra sejauh mungkin dari sini, terutama dari baji*gan itu” desis Daniel dengan gusar.
Walaupun merasa kesal dan gusar, Daniel
tetap bersedia bersabar menunggu kode dari Risty. Dia sangat menyadari kalau mereka benar-benar harus bertindak di saat yang tepat jika tidak ingin semuanya gagal. Mereka saat ini berada di tengah orang-orang Dean, secara jumlah tentu meraka kalah jauh. Jadi, jika salah melangkah dan salah bertindak, sudah bisa dipastikan kekalahan di pihak mereka akan menjadi hasil akhir hari ini.
Dan Daniel tidak menginginkan hal seperti
itu terjadi. Baginya bagaimana pun caranya, hari ini dia harus berhasil membawa Qiandra. Dia tidak perduli lagi apapun yang menjadi taruhannya, Daniel sudah bertekad harus bisa mengambil Qiandra dengan cara apapun.
Daniel sudah membawa orang-orang terbaik
yang dimilikinya, kecuali asisten Dika. Asisten Dika sendiri saat ini sengaja dikirim ke luar negeri untuk menghadiri dan menandatangani kontrak kerja di sana. Sehingga mau tidak mau laki-laki itu pergi
melaksanakan perintah sahabat sekaligus atasannya itu. Karena itu Daniel sangat yakin sekalipun hanya sedikit orang yang
dibawanya tapi mereka adalah yang terbaik dan menguasai berbagai teknik bela diri.
Tidak hanya itu, orang-orang Daniel juga
sudah dilengkapi dengan berbagai senjata mematikan sesuai dengan keahlian mereka. Sehingga dalam situasi darurat, mereka bisa menyelamatkan Daniel juga Qiandra dan membawa keduanya. Daniel sangat yakin kalau mereka pasti akan berhasil kali ini.
Di pihak lain, asisten Vian sedang gelisah
memantau dan terus memperhatikan orang-orang yang menjadi pelayan atas perintah
Risty. Dari sepuluh orang yang masuk,
asisten Vian hanya bisa menemukan sembilan orang. Dia sudah berulangkali memperhatikan setiap pelayan yang ada, namun tidak menemukan lagi satu orang lainnya.
“Al, aku tidak bisa menemukan satu orang
pelayan lagi, aku sudah berusaha melacaknya, tapi dia benar-benar tidak ada”
asisten Vian melaporkan hal itu pada dokter Albert yang berada di ballroom mewah tempat pesta sedang berlangsung.
“Apa kamu sudah bisa memastikan dengan
kepala pelayan bahwa memang ada sepuluh orang yang masuk” tanya dokter Albert
kepada asisten Vian.
“Ya, dia mengatakan demikian, bahkan sekarang dia kami bawa untuk menunjukkan orang orang itu. Tapi kami tetap belum menemukan satu orang lagi” sahut asisten Vian.
“Tanyakan padanya seperti apa ciri-ciri
orang yang tidak ditemukan itu” tanya dokter Albert lagi.
“Aku sudah menanyakannya, dan kepala
pelayan memang bisa menjelaskan dengan rinci, karena menurutnya orang yang satu ini terlihat sangat berbeda dengan yang lain. Matanya biru, dan sangat tampan, kepala pelayan berusaha mengingat siapa orang itu” sahut asisten Vian lagi.
__ADS_1
“Daniel” desis dokter Albert dengan geram.
“Sepertinya memang begitu, aku sudah
memastikan dengan menunjukkan foto Daniel padanya, dan kepala pelayan baru tersadar kalau itu memang benar Daniel” sahut asisten Vian lagi. “Sayangnya sampai saat ini kami masih belum menemukan posisi Daniel berada, dia sepertinya menghilang dalam ballroom itu” lanjutnya lagi.
“Shit, sekarang fokuskan pada Dean dan
Qiandra saja, serta perhatikan setiap orang yang akan mendekati mereka. Juga Risty, aku yakin wanita ular ini yang memegang komando atas semuanya. Mereka pasti bertindak sesuai dengan perintahnya, karena hanya dialah yang mengetahui semuanya” ucap dokter Albert.
Rasa khawatir mulai menghampiri kedua pria
muda ini, mereka sungguh tidak menyangka kalau Risty bisa dengan begitu mudah memasukkan Daniel dan anak buahnya. Padahal asisten Vian sudah melakukan pemeriksaan dengan ketat, tetap saja Risty bisa membawa orang-orang itu masuk ke dalam ballroom.
Jika Risty bisa dengan mudah memasukkan
orang-orangnya, maka itu berarti dia sudah punya rencana yang sangat matang. Ditambah lagi saat ini mereka tidak menemukan dimana keberadaan Daniel, padahal semua sudut ruangan itu dipenuhi oleh kamera CCTV. Seharusnya tidak ada satu orangpun yang tidak bisa mereka temukan.
“Vian, siagakan semua orang kita diluar,
apapun yang terjadi jangan biarkan ada yang bisa meninggalkan lokasi pesta malam ini. Tutup semua jalur keluar dan jaga dengan ketat, segera cek kendaraan yang mereka gunakan untuk datang tadi. Dan peringatkan semua orang agar jangan lagi mengikuti perintah Risty tanpa konfirmasi terlebih dahulu denganmu” ucap dokter Albert.
“Sudah, semuanya sudah aku lakukan, Dan untuk kendaraan yang mereka gunakan, aku
juga sudah menyuruh orang menyabotase kendaraan mereka dengan membocorkan ban kendaraan itu sehingga mereka tidak akan bisa pergi” sahut asisten Vian.
“Baguslah, jadi sekalipun mereka berhasil
membawa Qiandra keluar dari ballroom, mereka tidak akan bisa membawanya
meninggalkan lokasi ini” ucap dokter Albert. Dokter Albert bersyukur karena memiliki asisten Vian yang memang cukup tanggap dan tangkas dalam mengatasi berbagai hal yang terjadi.
“Yah, sementara ini hanya itu yang bisa aku
lakukan, sebenarnya bisa saja kita segera mengamankan orang-orang Daniel, namun, aku tidak mau menentang perintah Qiandra. Dia sudah bersedia berkorban menantang maut, tidak mungkin aku menggagalkannya dengan mengacaukan rencana Qiandra” desah asisten Vian.
“Kamu benar, Vian, tidak ada yang bisa kita
melangkah dengan penuh kepercayaan diri setelah semua kata-kata Qiandra dan perlakuan Dean juga daddy Walt kepadanya” ucap dokter Albert.
“Tapi aku rasa, dia cukup merasa terpukul,
aku bisa melihat dengan jelas bagaimana dia melangkah sendiri tadi saat mengikuti Qiandra, Dean dan daddy Walt. Jika dia masih tetap bertahan dalam sandiwaranya saat ini, aku yakin dia bertahan untuk sebuah rencana besar yang sudah disusunnya” sahut asisten Vian masih dengan mata waspada terus memperhatikan seluruh bagian ballroom mewah itu.
“Sudah pasti, Qiqi sudah berhasil mengalahkan dirinya bahkan saat pertama kali mereka berdua berhadapan. Prediksi kita ternyata tidak salah, Qiqi mampu menghadapi ular betina itu dengan sangat mudah. Dan hal ini pasti akan membuat kemarahannya semakin besar pada Qiqi. Kita benar-benar tidak bisa lengah sedikitpun saat ini” ucap dokter Albert.
Sementara itu di atas pelaminan mewah
tampak Dean dan Qiandra sudah duduk di kursi kebesaran yang berlapis emas murni
dan dihiasi Kristal swaroski yang sangat mahal. Saat keduanya telah duduk, barulah seluruh tamu undangan juga duduk di
tempat mereka masing-masing.
Seorang pembawa acara berdiri di salah satu
panggung yang terpisah dari pelaminan utama itu. “Hadirin yang berbahagia, malam ini adalah malam yang sangat istimewa bagi keluaraga Zacharias, karena pada malam ini,
keluarga Zacharias akan memperkenalkan secara resmi anggota baru keluarga kerajaan ini, menantu keluarga Zacharias yang beberapa bulan lalu telah melangsungkan pernikahan mereka. Untuk itu, kami persilahkan Yang Mulia Walt Zacharias memperkenalkan anggota baru keluarga ini” ucap pembawa acara mengawali acara malam itu.
Daddy Walt segera berdiri dan melangkah ke
arah podium dengan tenang, “Selamat malam, hadirin sekalian yang berbahagia,
terima kasih untuk kesediaan kalian semua meluangkan waktu untuk menghadiri ritual sederhana keluarga kami. Suatu kebahagiaan luar biasa bagi kami karena putra tunggal kami, Dean Walt Zacharias, pada akhirnya menemukan wanita yang menjadi tambatan hatinya. Kami sangat bersyukur karena Dean bisa memulai kehidupan berumah tangga dengan wanita terbaik yang dicintainya. Tanpa berpanjang lebar lagi, saya akan
memperkenalkan menantu keluarga Zacharias, Nona Qiandra Zweta Aldrich, dan
mulai sekarang akan dikenal dengan nama Nyonya Qiandra Dean Walt Zacharias,
__ADS_1
kemarilah putriku” ucap daddy Walt seraya mengulurkan tangannya kepada Qiandra.
Qiandra tersenyum kepada daddyu Walt, namun dia tidak segera menerima uluran tangan pria paruh baya itu. Qiandra terlebih dahulu menatap ke arah suaminya seolah meminta ijin kepada laki-laki yang selalu menggenggam tangannya itu. Dean yang mengerti arti tatapan sang istri segera mengganggukkan kepala memberi ijin kepada wanita itu.
Tidak hanya itu, Dean bahkan lebih dulu
berdiri dan membantu Qiandra untuk berdiri. Lalu dengan begitu lembut dia menuntun istrinya untuk melangkah ke arah daddy Walt. “Astaga, ternyata aku pun dicemburui oleh anakku, sampai-sampai dia tidak percaya kalau bidadarinya ini datang sendiri kepadaku” ucap daddy Walt dan mengundang tawa semua hadirin.
Qiandra hanya bisa tersenyum menahan rasa
malu mendengar candaan ayah mertuanya itu. Karena memang Dean tidak hanya membantunya berdiri, tetapi laki-laki itu
terus menggenggam tangannya dan menuntunnya melangkah menuju ayah mertuanya. Sementara Dean, seperti biasa tetap pada wajah datar tanpa ekspresi, wajah itu hanya akan berubah jika dia menatap wajah sang istri.
Bahkan saat Qiandra ingin mengulurkan
tangan menyambut uluran tangan daddy Walt, Dean tetap tidak melepaskan genggaman tangannya. Dean baru melepaskan genggaman tangannya saat merasakan Qiandra meremasnya dengan sedikit kuat. Namun, hal itu tidak berarti laki-laki itu melepaskan sang istri begitu saja, dia malah meraih pinggang ramping sang istri
dan merangkulnya.
Qiandra cukup terkejut dengan sikap posesif
sang suami, namun dia tidak ingin memprotes sikap suaminya itu. Qiandra tidak ingin membuat Dean merasa malu jika dia menolak diperlakukan seperti itu. Jadi, walaupun merasa heran, Qiandra tetap tersenyum dan menerima perlakuan sang suami. Karena sebenarnya, Qiandra pun merasa bahagia melihat bagaimana sang suami memperlakukan dirinya dengan begitu romantis.
Daddy Walt hanya bisa tersenyum dan
menggelengkan kepalanya melihat sikap posesif putranya itu. Tidak ada yang tahu mengapa Dean melakukan hal itu, semua orang berpikir itu adalah sikap posesif dari sang suami yang sangat mencintai sang istri. Hanya dokter Albert dan asisten Vian yang tahu, bahwa Dean sedang mengkhawatirkan sang istri, sehingga laki-laki itu sama sekali tidak ingin terpisah dengan istrinya.
“Kemarilah, Nak, mari sapalah para tamu
undangan, mereka tentu sangat ingin mengenal dirimu” ucap daddy Walt dengan
senyum tulus kepada Qiandra.
Qiandra mengangguk, lalu kembali menatap
pada sang suami, saat Dean memberikan kode setuju dengan anggukan kepalanya,
barulah Qiandra berdiri di podium menggantikan posisi daddy Walt tadi. “Terima kasih Yang Mulia, atas kesempatan
baik yang Anda berikan pada saya” ucap Qiandra seraya membungkuk hormat kepada
daddy Walt.
Daddy Walt kembali tersenyum, ada rasa
kagum dalam hatinya saat mendengar bagaimana Qiandra menyebutkan dirinya. Walaupun sebenarnya Qiandra bisa saja
langsung menyebutnya daddy untuk menunjukkan bahwa dia sangat dekat dengan
daddy Walt. Tapi wanita itu lebih memilih memanggil mertuanya dengan sebutan Yang Mulia seperti yang seharusnya saat berada di hadapan orang banyak.
“Selamat malam hadirin yang berbahagia”
Qiandra mulai memperkenalkan dirinya dengan terlebih dahulu menyapa semua tamu
undangan.
“Perkenalkan, nama saya Qiandra Zweta
Aldrich, saya asli penduduk kota ini, hanya sempat hijrah ke kota lain untuk mencari sesuap nasi. Mohon maaf saya tidak bisa memperkenalkan kedua orang tua saya, karena sampai saat ini saya masih belum menemukan identitas mereka. Saya dibesarkan di sebuah panti asuhan kecil di kota ini dan hidup sebatang kara. Saya sangat bersyukur karena keberadaan saya bisa diterima dalam keluarga besar Zacharias, walaupun saya menyadari saya sangat tidak pantas” ucap Qiandra sambil menghela nafas sesaat menahan rasa haru di dalam dadanya.
Dean merangkul pinggang istrinya dengan
lebih erat, bahkan tangannya membelai punggung wanita itu dengan lembut. Dean berusaha memberikan kekuatan dan
ketenangan untuk wanita yang sangat dikasihinya itu. Dean tidak menyangka kalau Qiandra memperkenalkan dirinya sebagai yatim piatu dan bukan sebagai seorang wanita karir yang sukses.
Namun, Dean juga merasa bangga karena
__ADS_1
Qiandra memang bukan type wanita yang berusaha menutup masa lalunya. Qiandra juga bukan wanita yang suka membanggakan dirinya sendiri. Wanita ini lebih suka merendah dan membiarkan orang lain yang mencari tahu bagaimana dirinya. Sikap yang membuat Dean semakin jatuh cinta pada wanita ini.