PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
ENAM PULUH DUA


__ADS_3

Readers kesayangan maaf ya, author sudah update, cuma kayanya harus revisi dulu katanya tertalu vulgar 😊😊


Semoga yang kali ini nggak harus revisi lagi, jadi author bisa lanjutin ceritanya


Jangan lupa tetap sukung author ya dengan


Vote


Like


Koment


Terima kaaih banyak 🙏🙏


...-------------------######-------------------...


Pesawat mewah itu akhirnya mendarat dengan selamat di kota metropolitan yang menjadi tempat semua cerita berawal.  Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh,


semua penumpang dalam pesawat itu terlihat sangat lelah, sekalipun dalam pesawat


itu tersedia berbagai fasilitas mewah.


“Selamat datang kembali, Tuan, Nona, mohon maaf jika perjalanan Anda terasa kurang nyaman” sang pilot kembali menyapa Dean dan


Qiandra, laki-laki muda itu membungkukkan badannya dengan penuh hormat pada kedua oang itu.


“Kamu sudah melaksanakan tugasmu dengan sangat baik” ucap Dean dengan wajah datarnya, tanpa menunjukkan ekspresi apapun , berbanding terbalik dengan sikap istrinya,  Qiandra.


“Terima kasih banyak, karena sudah membawa kami dengan selamat menempuh perjalanan yang sangat panjang” sahut Qiandra dengan ramah dan sopan, dia memberikan senyum manis kepada sang pilot muda itu.  Hal ini membuat Dean sedikit kesal, dia segera meraih pinggang sang istri dan membawanya melangkah keluar dari pesawat itu.


Sang pilot segera memberikan jalan untuk keduanya dan menundukkan kepalanya saat keduanya lewat dihadapannya.  “Sungguh


beruntung, Tuan Dean, mendapatkan istri yang cantik dan baik hati, serta tidak sombong, pantas saja Tuan Dean rela mengejarnya sejauh ini” bisik hati sang pilot, yang merasa kagum dengan keramahan Qiandra, walaupun dia sekarang sudah menyandang status sebagai Nyonya Dean Walt Zacharias.


Qiandra yang menyadari kalau sang suami kesal padanya, hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.  “Love, apa aku tidak boleh hanya sekedar mengucapkan terima kasih pada beliau” desisnya.


“Hah, tentu saja boleh, tapi tidak harus seramah itu kan, bukankah kamu tahu, Honey, tanpa harus kamu beramah tamah saja, pesonamu sudah membuat banyak pria tertarik padamu, Nyonya, apalagi jika kamu bersikap ramah


dan menebarkan senyummu itu, aku sangat yakin,  sekalipun mereka tahu kamu sudah bersuami, mereka tetap akan mengharapkanmu” sahut Dean dengan acuh.


“Ish, ada-ada saja, mana ada laki-laki yang mau denganku, apalagi kalau mereka tahu siapa suamiku, aku yakin tidak akan ada seorangpun


yang berani” ucap Qiandra dengan manja, dia mengalungkan tangannya pada lengan kekar suaminya.


Dean berhenti melangkah, dia melepaskan pinggang Qiandra, namun segera membalik tubuh wanita itu untuk menghadap ke arahnya.  Dean memegang kedua bahu Qiandra dan menatap ke dalam bola mata wanita itu yang ditutupi dengan kaca mata hitam, “Honey,


sekalipun mereka tahu kamu istriku, pesonamu akan mampu membuat mereka bertindak nekat, apalagi jika kamu seolah memberi mereka lampu hijau dengan keramahanmu.  Jadi, mulai sekarang, aku mohon, kurangilah sikap ramahmu itu, agar tidak membuat orang lain salah menilai perhatianmu” ucapnya dengan tegas.

__ADS_1


“Baiklah, baiklah, aku akan belajar, Love” sahut Qiandra dengan cepat, dia tidak ingin membantah perkataan Dean, karena mereka sedang berdiri  diantara para bodyguard yang


sudah menanti kehadian mereka.  Qiandra


merasa malu kalau harus berdebat dengan suaminya untuk hal yang tidak penting,


bahkan pada saat mereka baru sampai.  Karena


Qiandra sangat yakin jika dia tidak menyetujui keinginan suaminya itu, maka laki-laki itu akan terus mendebatnya.


“Bagus, kurangi senyum dan belajarlah memasang wajah datar” lanjut Dean lagi, lalu dia kembali meraih pinggang istrinya dan melanjutkan langkah mereka menuju mobil mewah yang sudah menunggu mereka.


Qiandra hanya berdiam diri, namun dalam hatinya dia mendengus kesal, “Masa senyum saja tidak boleh, memangnya aku harus memasang wajah tembok beton seperti dia, ish


amit-amit dech, macam tidak punya ekspresi saja, seperti hidup penuh dengan tekanan lahir dan batin” gerutu Qiandra dalam hati, tapi dia tetap berusaha tersenyum pada Dean.


“Jangan biasakan menggerutu dan mengatai suamimu dalam hati, Honey, tidak baik itu” ucap Dean saat dia melihat  senyuman Qiandra, seakan mengetahui isi hati sang istri.  Qiandra menatapnya dengan kening berkerut, dia bingung bagaimana Dean bisa mengetahui isi hatinya, padahal dia sudah memasang senyum di wajahnya.


“Kamu itu tidak pernah bisa menerima permintaan suamimu ini tanpa bantahan, jadi kalau kamu berdiam diri apalagi memasang senyum terpaksa seperti itu, maka aku yakin pasti bantahan itu memenuhi hatimu” ucap Dean yang sangat hapal dengan kelakuan istrinya.


Qiandra merengut mendengar jawaban sang suami yang benar-benar tepat sasaran, namun tanpa di duga, Dean justru mengecup bibir istrinya itu.  Qiandra terpekik mendapat perlakuan mengejutkan dari suaminya, bahkan itu dilakukannya di hadapan para bodyguard


yang sudah membuka pintu mobil mereka.


“Astaga, bisa-bisanya kamu melakukan itu, Love, dihadapan mereka lagi” protes Qiandra dengan wajah merah padam, saat keduanya sudah duduk dalam mobil.  Dia benar-benar merasa malu pada para bodyguard Dean, walaupun mereka semua membungkukkan badan, tapi Qiandra yakin pasti ada yang melirik kearah mereka.


“Hmmm, berarti kalau tidak dihadapan orang lain, aku boleh melakukan lebih kan” desis Dean, dia menarik tubuh Qiandra agar masuk dalam pelukannya sambil menatap istrinya dengan senyum smirknya.


Namun, bukan Dean namanya jika mau menggagalkan niatnya.  Laki-laki tampan itu menekan tombol kaca pembatas di mobil mewah itu, sehingga asisten Vian yang membawa mobil tidak melihat apa yang dilakukan dua sejoli itu.  Dean langsung menyambar bibir seksi istrinya dan ********** dengan penuh gairah.


Asisten Vian hanya bisa mendesah, “Haish, sepertinya aku harus terbiasa membawa mobil dalam keadaan seperti ini.  Dean benar-benar maniak ternyata, tidak kusangka dia bisa seperti ini, padahal dia sanggup menahan


godaan banyak wanita cantik selama ini.  Tapi dihadapan Qiandra, sepertinya, dia tidak bisa bertahan, bahkan lupa dengan rasa malu” desis asisten Vian dalam hati.  Tanpa melihat sekalipun, asisten Vian sudah bisa menduga apa yang akan dilakukan oleh sepasang sejoli


itu.


Sementara di kursi penumpang, sepasang pengantin baru itu benar-benar tenggelam dalam kemesraan.  Qiandra yang pada awalnya berusaha menolak perlakuan Dean, akhirnya luluh juga.


Qiandra mendesah merasakan sentuhan suaminya yang benar-benar membuatnya melayang.  Namun, wanita ini masih bisa menyadarkan dirinya tentang dimana mereka berada saat ini.  “Love, hentikan, kita masih di


mobil” desisnya diantara gairah yang mulai terpancing karena sentuhan Dean.  Padahal, tubuhnya memberikan respon yang berbeda, dia berusaha menahan Dean dengan kata-kata, tapi tubuhnya menerima setiap sentuhan laki-laki itu.


“Aku tidak perduli, Honey, aku sudah menahannya sejak kita di pesawat” desah Dean, dia mulai membuka kancing gaun istrinya.


Qiandra menahan tangan suaminya, “Apa kamu akan membiarkan tubuh istrimu dilihat oleh orang lain” sahut  Qiandra sambil melirik kaca mobil yang memang tidak tertutup dengan kaca gelap.


“Haish, aku akan menyuruh Vian mengganti semua kaca mobilku, semuanya harus benar-benar gelap” kesal Dean, dia melepaskan istrinya dan merapikan pakaian Qiandra dengan wajah kesal.

__ADS_1


Qiandra hanya tersenyum melihat wajah kesal suaminya, “Kita punya banyak waktu, Love, aku milikmu, dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi” ucapnya sambil membelai wajah kesal suaminya.


“Itu harus, Honey, kamu tidak boleh pergi lagi, bahkan memikirkan untuk pergi meninggalkan aku pun kamu tidak boleh, aku melarangmu”


ucap Dean dengan tegas, dengan sedikit rasa sesak yang masih mengganjal karena gairah yang tidak bisa disalurkan.


“Pasti, Love…” ucap Qiandra, dia menyandarkan kepalanya di dada suaminya.  Qiandra berusaha mencari ketenangan dalam pelukan suaminya.  Entah mengapa, perasaannya sangat tidak enak saat dia mulai menginjakkan kakinya di kota ini.  Hati wanita ini terasa sangat gelisah dan tidak tenang


“Hah, mungkin ini hanya pengaruh kelamnya masa laluku, atau juga karena mimpiku, apapun itu, semoga saja tidak ada hal buruk yang akan menimpa kami” desis Qiandra dalam hati.  Beberapa kali dia menghembuskan nafas panjang, berusaha mengusir rasa yang ada di hatinya.


Namun, hal itu disalah artikan oleh Dean, “Hmmm, sabarlah, Honey, sebentar lagi kita akan sampai di apartemen, dan aku akan memberimu kepuasan” bisiknya di telinga Qiandra, membuat wanita itu menggidik karena


merasa geli.  Dean menyangka, Qiandra


menghembuskan nafas panjang karena menahan gairah seperti yang dirasakannya, yang memang tidak sempat mereka tuntaskan.


Qiandra hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya, dia tidak ingin membantah agar Dean tidak merasa khawatir.  Qiandra tahu kalau Dean akan sangat kecewa jika Qiandra terus menerus merasa khawatir, karena baginya hal itu menunjukkan kalau istrinya belum percaya padanya.


Mobil mewah itu tiba di basement sebuah apartemen super mewah, dan sebelum Qiandra sempat menyentuh pintu mobil, dia terpekik karena tubuhnya terasa sudah melayang.  Dean


mengangkat tubuh istrinya dan menggendongnya ala bridal style.  Asisten Vian yang melihat hal itu, segera berlari membuka pintu lift, lalu menekan nomor pentha house yang terletak di lantai teratas apartemen mewah itu.


Saat Dean yang sedang menggendong Qiandra masuk ke dalam lift, asisten Vian segera keluar dan membungkukkan badannya saat pintu lift


tertutup.  Asisten Vian hanya bisa


menggelengkan kepalanya melihat pasangan yang seakan tak bisa terlepas sama sekali.  Dia benar-benar tidak mengerti pada sikap Dean yang selama ini sangat dingin terhadap wanita, tapi sekarang tiba-tiba berubah.


Di dalam lift, wajah Qiandra benar-benar merah padam menahan malu, dalam hati wanita ini dia sungguh  tidak habis pikir terhadap sikap sang suami.  Presidir  tampan yang terkenal dengan wajah datar dan dinginnya ini, ternyata bisa semesum ini, tanpa rasa canggung sama sekali.  Dan bahkan, Dean tidak perduli dengan keadaan sekitarnya jika dia ingin bermesraan dengan Qiandra maka dia akan melakukannya.


Qiandra tidak ingin mengajukan protes atas sikap sang suami, wanita itu hanya berpikir akan mencari waktu yang tepat.  Qiandra tahu kalau Dean sudah menahan gairahnya sejak mereka masih berada di pesawat.  Karena itulah, Qiandra tidak menolak perlakuan Dean, dia bahkan menerima setiap sentuhan Dean dengan pasrah, dan dia juga membalas setiap perlakuan lembut suaminya.


Kedua sejoli itu terus berciuman dengan begitu intim, ciuman yang awalnya lembut semakin lama semakin panas.  Saat pintu lift terbuka, Dean menggendong istrinya dalam posisi seperti koala, dengan kedua kaki Qiandra terangkat dan menggapit pinggang Dean.  Untung saja, pentahouse Dean merupakan kamar satu-satunya di lantai teratas apartemen itu.  Sehingga tidak akan ada orang lain yang melihat kelakuan sepasang pengantin baru ini.


Dean bahkan tidak mau melepaskan istrinya saat dia membuka pintu kamarnya, sehingga dia cukup kesulitan membuka pintu kamar dengan menekan pin kamar itu.  Hingga tanpa sengaja, layar monitor menangkap sidik jari Dean, dan secara otomatis pintu kamar itu


terbuka.


Kedua sejoli yang sudah benar-benar terbakar gairah itu, terus melanjutkan aksi mereka.  Pintu kamar yang tertutup dengan otomatis membuat mereka leluasa melanjutkan


kemesraan mereka.  Dean bahkan membuka


gaun istrinya dengan paksa sehingga beberapa kancing gaun terlempar.  Demikian pula Qiandra, dia menarik kemeja suaminya dengan cepat  sampai kemeja itu terlepas dan memperlihatkan perut six pack Dean. 


Pintu kamar langsung dikunci oleh Dean dengan menggunakan remote control, lalu dia membawa istrinya dan membaringkan tubuh sang istri dengan perlahan di atas kasur big size yang ada di tengah kamar itu.  “Aku sangat merindukanmu, Honey” desisnya yang


disambut dengan tatapan sendu sang istri, sehingga membuat Dean benar-benar tak

__ADS_1


mampu lagi untuk menahan gairahnya walau hanya sesaat.  Hingga penyatuan mereka lakukan berulang kali agar dapat memuaskan gairah keduanya.  Pergulatan penuh gairah itu baru berakhir saat keduanya terkapar kelelahan dan tenggelam dalam pelukan diantara keringat yang mengucur deras.


“I love you, Honey, terima kasih mau kembali bersamaku” desis Dean diantara nafas yang masih memburu, dia meraih tubuh polos istrinya untuk masuk dalam pelukannya.  Qiandra hanya membalas ucapan suaminya dengan menenggelamkan wajahnya dalam pelukan hangat laki-laki itu. Tangannya melingkar erat di pinggang laki-laki yang sudah mampu merubuhkan gunung es hatinya.


__ADS_2