
Readers kesayangan maaf ya, author sudah update, cuma kayanya harus revisi dulu katanya tertalu vulgar đđ
Semoga yang kali ini nggak harus revisi lagi, jadi author bisa lanjutin ceritanya
Jangan lupa tetap sukung author ya dengan
Vote
Like
Koment
Terima kaaih banyak đđ
...-------------------######-------------------...
Pesawat mewah itu akhirnya mendarat dengan selamat di kota metropolitan yang menjadi tempat semua cerita berawal. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh,
semua penumpang dalam pesawat itu terlihat sangat lelah, sekalipun dalam pesawat
itu tersedia berbagai fasilitas mewah.
âSelamat datang kembali, Tuan, Nona, mohon maaf jika perjalanan Anda terasa kurang nyamanâ sang pilot kembali menyapa Dean dan
Qiandra, laki-laki muda itu membungkukkan badannya dengan penuh hormat pada kedua oang itu.
âKamu sudah melaksanakan tugasmu dengan sangat baikâ ucap Dean dengan wajah datarnya, tanpa menunjukkan ekspresi apapun , berbanding terbalik dengan sikap istrinya, Qiandra.
âTerima kasih banyak, karena sudah membawa kami dengan selamat menempuh perjalanan yang sangat panjangâ sahut Qiandra dengan ramah dan sopan, dia memberikan senyum manis kepada sang pilot muda itu. Hal ini membuat Dean sedikit kesal, dia segera meraih pinggang sang istri dan membawanya melangkah keluar dari pesawat itu.
Sang pilot segera memberikan jalan untuk keduanya dan menundukkan kepalanya saat keduanya lewat dihadapannya. âSungguh
beruntung, Tuan Dean, mendapatkan istri yang cantik dan baik hati, serta tidak sombong, pantas saja Tuan Dean rela mengejarnya sejauh iniâ bisik hati sang pilot, yang merasa kagum dengan keramahan Qiandra, walaupun dia sekarang sudah menyandang status sebagai Nyonya Dean Walt Zacharias.
Qiandra yang menyadari kalau sang suami kesal padanya, hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya. âLove, apa aku tidak boleh hanya sekedar mengucapkan terima kasih pada beliauâ desisnya.
âHah, tentu saja boleh, tapi tidak harus seramah itu kan, bukankah kamu tahu, Honey, tanpa harus kamu beramah tamah saja, pesonamu sudah membuat banyak pria tertarik padamu, Nyonya, apalagi jika kamu bersikap ramah
dan menebarkan senyummu itu, aku sangat yakin, Â sekalipun mereka tahu kamu sudah bersuami, mereka tetap akan mengharapkanmuâ sahut Dean dengan acuh.
âIsh, ada-ada saja, mana ada laki-laki yang mau denganku, apalagi kalau mereka tahu siapa suamiku, aku yakin tidak akan ada seorangpun
yang beraniâ ucap Qiandra dengan manja, dia mengalungkan tangannya pada lengan kekar suaminya.
Dean berhenti melangkah, dia melepaskan pinggang Qiandra, namun segera membalik tubuh wanita itu untuk menghadap ke arahnya. Dean memegang kedua bahu Qiandra dan menatap ke dalam bola mata wanita itu yang ditutupi dengan kaca mata hitam, âHoney,
sekalipun mereka tahu kamu istriku, pesonamu akan mampu membuat mereka bertindak nekat, apalagi jika kamu seolah memberi mereka lampu hijau dengan keramahanmu. Jadi, mulai sekarang, aku mohon, kurangilah sikap ramahmu itu, agar tidak membuat orang lain salah menilai perhatianmuâ ucapnya dengan tegas.
__ADS_1
âBaiklah, baiklah, aku akan belajar, Loveâ sahut Qiandra dengan cepat, dia tidak ingin membantah perkataan Dean, karena mereka sedang berdiri diantara para bodyguard yang
sudah menanti kehadian mereka. Qiandra
merasa malu kalau harus berdebat dengan suaminya untuk hal yang tidak penting,
bahkan pada saat mereka baru sampai. Karena
Qiandra sangat yakin jika dia tidak menyetujui keinginan suaminya itu, maka laki-laki itu akan terus mendebatnya.
âBagus, kurangi senyum dan belajarlah memasang wajah datarâ lanjut Dean lagi, lalu dia kembali meraih pinggang istrinya dan melanjutkan langkah mereka menuju mobil mewah yang sudah menunggu mereka.
Qiandra hanya berdiam diri, namun dalam hatinya dia mendengus kesal, âMasa senyum saja tidak boleh, memangnya aku harus memasang wajah tembok beton seperti dia, ish
amit-amit dech, macam tidak punya ekspresi saja, seperti hidup penuh dengan tekanan lahir dan batinâ gerutu Qiandra dalam hati, tapi dia tetap berusaha tersenyum pada Dean.
âJangan biasakan menggerutu dan mengatai suamimu dalam hati, Honey, tidak baik ituâ ucap Dean saat dia melihat senyuman Qiandra, seakan mengetahui isi hati sang istri. Qiandra menatapnya dengan kening berkerut, dia bingung bagaimana Dean bisa mengetahui isi hatinya, padahal dia sudah memasang senyum di wajahnya.
âKamu itu tidak pernah bisa menerima permintaan suamimu ini tanpa bantahan, jadi kalau kamu berdiam diri apalagi memasang senyum terpaksa seperti itu, maka aku yakin pasti bantahan itu memenuhi hatimuâ ucap Dean yang sangat hapal dengan kelakuan istrinya.
Qiandra merengut mendengar jawaban sang suami yang benar-benar tepat sasaran, namun tanpa di duga, Dean justru mengecup bibir istrinya itu. Qiandra terpekik mendapat perlakuan mengejutkan dari suaminya, bahkan itu dilakukannya di hadapan para bodyguard
yang sudah membuka pintu mobil mereka.
âAstaga, bisa-bisanya kamu melakukan itu, Love, dihadapan mereka lagiâ protes Qiandra dengan wajah merah padam, saat keduanya sudah duduk dalam mobil. Dia benar-benar merasa malu pada para bodyguard Dean, walaupun mereka semua membungkukkan badan, tapi Qiandra yakin pasti ada yang melirik kearah mereka.
âHmmm, berarti kalau tidak dihadapan orang lain, aku boleh melakukan lebih kanâ desis Dean, dia menarik tubuh Qiandra agar masuk dalam pelukannya sambil menatap istrinya dengan senyum smirknya.
Namun, bukan Dean namanya jika mau menggagalkan niatnya. Laki-laki tampan itu menekan tombol kaca pembatas di mobil mewah itu, sehingga asisten Vian yang membawa mobil tidak melihat apa yang dilakukan dua sejoli itu. Dean langsung menyambar bibir seksi istrinya dan ********** dengan penuh gairah.
Asisten Vian hanya bisa mendesah, âHaish, sepertinya aku harus terbiasa membawa mobil dalam keadaan seperti ini. Dean benar-benar maniak ternyata, tidak kusangka dia bisa seperti ini, padahal dia sanggup menahan
godaan banyak wanita cantik selama ini. Tapi dihadapan Qiandra, sepertinya, dia tidak bisa bertahan, bahkan lupa dengan rasa maluâ desis asisten Vian dalam hati. Tanpa melihat sekalipun, asisten Vian sudah bisa menduga apa yang akan dilakukan oleh sepasang sejoli
itu.
Sementara di kursi penumpang, sepasang pengantin baru itu benar-benar tenggelam dalam kemesraan. Qiandra yang pada awalnya berusaha menolak perlakuan Dean, akhirnya luluh juga.
Qiandra mendesah merasakan sentuhan suaminya yang benar-benar membuatnya melayang. Namun, wanita ini masih bisa menyadarkan dirinya tentang dimana mereka berada saat ini. âLove, hentikan, kita masih di
mobilâ desisnya diantara gairah yang mulai terpancing karena sentuhan Dean. Padahal, tubuhnya memberikan respon yang berbeda, dia berusaha menahan Dean dengan kata-kata, tapi tubuhnya menerima setiap sentuhan laki-laki itu.
âAku tidak perduli, Honey, aku sudah menahannya sejak kita di pesawatâ desah Dean, dia mulai membuka kancing gaun istrinya.
Qiandra menahan tangan suaminya, âApa kamu akan membiarkan tubuh istrimu dilihat oleh orang lainâ sahut Qiandra sambil melirik kaca mobil yang memang tidak tertutup dengan kaca gelap.
âHaish, aku akan menyuruh Vian mengganti semua kaca mobilku, semuanya harus benar-benar gelapâ kesal Dean, dia melepaskan istrinya dan merapikan pakaian Qiandra dengan wajah kesal.
__ADS_1
Qiandra hanya tersenyum melihat wajah kesal suaminya, âKita punya banyak waktu, Love, aku milikmu, dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagiâ ucapnya sambil membelai wajah kesal suaminya.
âItu harus, Honey, kamu tidak boleh pergi lagi, bahkan memikirkan untuk pergi meninggalkan aku pun kamu tidak boleh, aku melarangmuâ
ucap Dean dengan tegas, dengan sedikit rasa sesak yang masih mengganjal karena gairah yang tidak bisa disalurkan.
âPasti, LoveâŚâ ucap Qiandra, dia menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Qiandra berusaha mencari ketenangan dalam pelukan suaminya. Entah mengapa, perasaannya sangat tidak enak saat dia mulai menginjakkan kakinya di kota ini. Hati wanita ini terasa sangat gelisah dan tidak tenang
âHah, mungkin ini hanya pengaruh kelamnya masa laluku, atau juga karena mimpiku, apapun itu, semoga saja tidak ada hal buruk yang akan menimpa kamiâ desis Qiandra dalam hati. Beberapa kali dia menghembuskan nafas panjang, berusaha mengusir rasa yang ada di hatinya.
Namun, hal itu disalah artikan oleh Dean, âHmmm, sabarlah, Honey, sebentar lagi kita akan sampai di apartemen, dan aku akan memberimu kepuasanâ bisiknya di telinga Qiandra, membuat wanita itu menggidik karena
merasa geli. Dean menyangka, Qiandra
menghembuskan nafas panjang karena menahan gairah seperti yang dirasakannya, yang memang tidak sempat mereka tuntaskan.
Qiandra hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya, dia tidak ingin membantah agar Dean tidak merasa khawatir. Qiandra tahu kalau Dean akan sangat kecewa jika Qiandra terus menerus merasa khawatir, karena baginya hal itu menunjukkan kalau istrinya belum percaya padanya.
Mobil mewah itu tiba di basement sebuah apartemen super mewah, dan sebelum Qiandra sempat menyentuh pintu mobil, dia terpekik karena tubuhnya terasa sudah melayang. Dean
mengangkat tubuh istrinya dan menggendongnya ala bridal style. Asisten Vian yang melihat hal itu, segera berlari membuka pintu lift, lalu menekan nomor pentha house yang terletak di lantai teratas apartemen mewah itu.
Saat Dean yang sedang menggendong Qiandra masuk ke dalam lift, asisten Vian segera keluar dan membungkukkan badannya saat pintu lift
tertutup. Asisten Vian hanya bisa
menggelengkan kepalanya melihat pasangan yang seakan tak bisa terlepas sama sekali. Dia benar-benar tidak mengerti pada sikap Dean yang selama ini sangat dingin terhadap wanita, tapi sekarang tiba-tiba berubah.
Di dalam lift, wajah Qiandra benar-benar merah padam menahan malu, dalam hati wanita ini dia sungguh  tidak habis pikir terhadap sikap sang suami. Presidir  tampan yang terkenal dengan wajah datar dan dinginnya ini, ternyata bisa semesum ini, tanpa rasa canggung sama sekali. Dan bahkan, Dean tidak perduli dengan keadaan sekitarnya jika dia ingin bermesraan dengan Qiandra maka dia akan melakukannya.
Qiandra tidak ingin mengajukan protes atas sikap sang suami, wanita itu hanya berpikir akan mencari waktu yang tepat. Qiandra tahu kalau Dean sudah menahan gairahnya sejak mereka masih berada di pesawat. Karena itulah, Qiandra tidak menolak perlakuan Dean, dia bahkan menerima setiap sentuhan Dean dengan pasrah, dan dia juga membalas setiap perlakuan lembut suaminya.
Kedua sejoli itu terus berciuman dengan begitu intim, ciuman yang awalnya lembut semakin lama semakin panas. Saat pintu lift terbuka, Dean menggendong istrinya dalam posisi seperti koala, dengan kedua kaki Qiandra terangkat dan menggapit pinggang Dean. Untung saja, pentahouse Dean merupakan kamar satu-satunya di lantai teratas apartemen itu. Sehingga tidak akan ada orang lain yang melihat kelakuan sepasang pengantin baru ini.
Dean bahkan tidak mau melepaskan istrinya saat dia membuka pintu kamarnya, sehingga dia cukup kesulitan membuka pintu kamar dengan menekan pin kamar itu. Hingga tanpa sengaja, layar monitor menangkap sidik jari Dean, dan secara otomatis pintu kamar itu
terbuka.
Kedua sejoli yang sudah benar-benar terbakar gairah itu, terus melanjutkan aksi mereka. Pintu kamar yang tertutup dengan otomatis membuat mereka leluasa melanjutkan
kemesraan mereka. Dean bahkan membuka
gaun istrinya dengan paksa sehingga beberapa kancing gaun terlempar. Demikian pula Qiandra, dia menarik kemeja suaminya dengan cepat sampai kemeja itu terlepas dan memperlihatkan perut six pack Dean.Â
Pintu kamar langsung dikunci oleh Dean dengan menggunakan remote control, lalu dia membawa istrinya dan membaringkan tubuh sang istri dengan perlahan di atas kasur big size yang ada di tengah kamar itu. âAku sangat merindukanmu, Honeyâ desisnya yang
disambut dengan tatapan sendu sang istri, sehingga membuat Dean benar-benar tak
__ADS_1
mampu lagi untuk menahan gairahnya walau hanya sesaat. Hingga penyatuan mereka lakukan berulang kali agar dapat memuaskan gairah keduanya. Pergulatan penuh gairah itu baru berakhir saat keduanya terkapar kelelahan dan tenggelam dalam pelukan diantara keringat yang mengucur deras.
âI love you, Honey, terima kasih mau kembali bersamakuâ desis Dean diantara nafas yang masih memburu, dia meraih tubuh polos istrinya untuk masuk dalam pelukannya. Qiandra hanya membalas ucapan suaminya dengan menenggelamkan wajahnya dalam pelukan hangat laki-laki itu. Tangannya melingkar erat di pinggang laki-laki yang sudah mampu merubuhkan gunung es hatinya.