
Qiandra menatap ketiga orang itu dengan sedikit ragu, “Nyawa kita semua menjadi taruhannya, Feli, jika benar masih ada orang yang tidak menginginkan kita di sekitar Dean dan Dean tidak bisa memenuhi permintaanmu, maka kita hanya bisa bersiap menerima akhir dari keluarga kita” ucap Chris yang mengandung ancaman.
Kata kata Chris kembali terngiang dalam pikiran Qiandra, entah mengapa hatinya menjadi gundah. Bagi Qiandra jika hanya nyawanya yang menjadi taruhan, itu bukanlah
masalah dan dia tidak akan terlalu merasa khawatir. Tapi kalau harus mempertaruhkan nyawa keluarganya, Qiandra harus berpikir ulang dulu.
Qiandra mendesah sesaat, seluruh keluarganya telah keluar dari kamar itu. Mereka memberikan kesempatan pada Qiandra untuk membuat keputusan. “Kami tidak akan memaksamu untuk memilih
sesuai keinginan kami, tapi buatlah keputusan sesuai hati nurani dan
kepercayaanmu pada suamimu” ucap Clayandra sesaat sebelum dia keluar dan
meninggalkan Qiandra di kamar itu.
“Hah, kenapa hatiku meragu, apa aku tidak percaya pada suamiku sendiri” bisik hati Qiandra. “Tapi jika aku tidak mempercayai dirinya, mengapa aku mau menjadi istrinya dan bersedia bertahan sampai saat ini dan bahkan bersedia mengandung darah dagingnya” lanjutnya lagi.
Qiandra duduk di kursi ibu hamil yang memang khusus disiapkan oleh Dika untuk dirinya. Wanita cantik ini menatap keluar jendela kamarnya dimana terhampar taman
bermain yang begitu indah. Seulas senyum
tiba tiba terukir di bibirnya saat kilasan kenangan masa lalu melintas dalam alam
pemikirannya.
Seiring dengan senyum itu, air mata juga mengalir tanpa disadari olehnya. Sebuah kerinduan tiba tiba merasuk hatinya saat teringat wajah kedua orang tuanya yang dulu begitu memanjakan dirinya. “Mommy, daddy,
tolong bantu Feli, bantu Feli untuk membuat keputusan terbaik. Kalian tahu kalau Feli selalu bergantung pada kalian dan Kak Dika untuk membuat keputusan” desah Qiandra lagi.
Qiandra sudah biasa hidup sendiri dan membuat keputusan apapun untuk dirinya sendiri. Tapi semua itu dilakukannya tanpa memikirkan kalau dirinya masih mempunyai keluarga. Karena seringkali Qiandra membuat keputusan yang terbilang berani, karena memang dia tidak memperdulikan nyawanya.
Berbeda untuk kali ini, Qiandra punya beban moral dimana ada keselamatan keluarganya yang bergantung pada keputusannya. Qiandra tahu kalau Dika juga punya kekuatan
yang cukup besar saat ini untuk melindungi diri. Tapi tidak bisa Qiandra pungkiri kalau kekuatan dan kekuasaan Dika itu masih jauh berada di bawah kekuasaan Dean.
__ADS_1
Qiandra mendesah sesaat, sebelum akhirnya dia menekan interkom yang ada disisinya, “Kak Dika, bisakah kakak kemari sebentar” ucapnya.
Tidak berapa lama pintu kamar Qiandra dibuka dengan tergesa dan muncullah sosok Dika yang terlihat khawatir. “Ada apa, Feli, apa kamu baik baik saja” tanya Dika yang sedikit berlari menuju ke arah Qiandra.
Qiandra mengulurkan tangannya dan langsung di raih oleh Dika, “Aku baik baik saja, Kak, terima kasih sudah mencemaskan aku” ucapnya dengan suara sendu.
“Sudah tugasku, Feli sayang, jangan berkata seperti itu” ucap Dika seraya bersimpuh dengan satu lututnya di hadapan Qiandra. Dika menatap lekat wajah sang adik, lalu
mengulurkan satu tangannya yang terbebas untuk membelai wajah Qiandra.
“Kenapa Kak” tanya Qiandra yang merasa agak heran dengan tatapan intens dari Dika.
“Ah, bodohnya aku, kenapa mataku tertutup selama ini” desah Dika yang masih menatap wajah Qiandra dengan lekat.
Kening Qiandra berkerut, “Apa maksud Kakak” tanya wanita itu dengan rasa heran yang semakin besar.
“Saat memandang wajahmu seperti ini, aku baru menyadari kalau kamu sangat mirip dengan Mommy, kecuali rambutmu. Ah iya aku baru ingat kalau Mommy memang suka
mengubah gaya rambutnya, mungkin itulah yang membuat aku jadi tidak menyadari
“Begitukah, aku memang hampir tidak pernah mengubah gaya rambutku karena sebenarnya, walau sangat kecil, ada harapan dalam hatiku bahwa suatu saat ada orang yang mengatakan aku mirip seseorang yang merupakan bagian dari keluargaku di masa lalu” desah Qiandra.
“Maafkan aku yang terlambat menemukan dirimu, Dek” desah Dika dengan penuh penyesalan.
“Ah, sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, itu adalah masa lalu dan kita sudah bertemu saat ini, itulah yang harus kita syukuri” ucap
Qiandra. Dika tersenyum lalu mengangguk
menyetujui perkataan sang adik.
“Baiklah, sekarang katakan pada Kakak, ada apa kamu memanggil Kakak kemari, apakah ada sesuatu yang kamu perlukan, hmmmm, katakan saja pada Kakak, atau ada yang kamu inginkan. Kata orang ibu hamil selalu punya keinginan yang unik, dan kakak akan
memenuhi semua keinginanmu itu” ucap Dika sambil menepuk kedua tangan Qiandra.
__ADS_1
“Terima kasih, Kak, tapi saat ini Feli sedang tidak menginginkan apapun, mungkin semua masalah ini membuat Feli sedikit kehilangan
selera menyibukkan orang lain” sahut Qiandra dengan senyum usil di wajahnya.
“Jangan coba menggoda kakak, Feli, kamu tidak pernah tahan kalau kakak membalasmu” kekeh Dika.
“Iya, iya, tapi Feli serius sekarang Kak, maukah kakak membantu Feli” tanya Felicia dengan mata penuh permohonan.
“Hei kamu tidak perlu memasang wajah seperti itu, kamu tahu kakak akan melakukan apapun untukmu. Sekarang katakan apa yang kamu inginkan” ucap Dika.
Qiandra menghela nafas sejenak, “Kak, menurut kakak, apakah aku bisa mempercayai Dean” cicit Qiandra dengan suara sedikit ragu.
“Feli, .....” desis Dika yang merasa hampir tidak percaya kalau sang adik akan menanyakan hal itu padanya. “Maaf, kakak sedikit kaget mendengar kamu bertanya tentang suamimu, padahal kamu sendiri tahu bagaimana hubungan aku dengan Dean” buru buru Dika menyambung kata katanya saat melihat wajah Felicia yang sedikit berubah saat mendengar jawaban Dika.
“Aku hanya merasa perlu mendengarkan pendapat kakak, walau bagaimana pun, kakak tetap adalah kakakku satu satunya wakil Mommy dan Daddy” cicit Qiandra lagi.
Dika tersenyum mendengar ucapan Qiandra, “Terima kasih mau meminta pendapat Kakak, Kakak merasa sangat dihargai olehmu” ucap Dika. “Tentang Dean, kakak memang tidak tahu banyak kepribadiannya, secara kakak hanya mengenal dia dalam pertarungan bisnis saja. Tapi, yang kakak yakini, dia
sangat mencintai kamu, sama seperti keyakinan kakak pada cinta Daniel padamu”
ucap Dika.
“Ish, Kakak, kenapa juga harus menyebut nama Daniel lagi” sungut Qiandra sambil melepas genggaman tangan Dika.
Dika kembali tersenyum walau ada sedih di sudut hatinya, “Sepertinya memang tidak ada sedikit pun celah di hatimu untuk Daniel, maafkan aku, Daniel” bisik hati Dika. “Jangan marah, kan kamu minta pendapatku tadi, maka itulah pendapatku” lanjut Dika.
“Maksudku bukan masalah perasaannya, tapi masalah kepercayaan, apakah menurut kakak Dean bisa dipercaya” tanya Qiandra lagi.
Dika perlahan berdiri lalu memasukkan tangannya dalam kantong celana bahan yang dipakainya. Laki laki tampan itu melangkah perlahan menuju jendela yang ditatap
Qiandra sejak tadi, “Apa kamu ingat semua yang pernah terjadi di taman itu, Feli” tanya Dika tiba tiba tanpa menjawab pertanyaan Qiandra.
Qiandra mengangguk seraya ikut mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah taman itu. “Sebagian kecil saja, Kak, tapi kenangan itu benar benar membuat hatiku menghangat” sahut Qiandra.
__ADS_1
“Yah, kehangatan itu, kehangatan yang berawal dari kasih sayang yang tulus. Kamu akan tetap merasakannya bahkan saat itu sudah sangat lama berlalu dan hanya tertinggal dalam kenangan saja” ucap Dika lagi.
Qiandra mengernyitkan keningnya dan menatap Dika berusaha memahami perkataan sang kakak. “Maksud kakak” tanya Qiandra pada akhirnya.