PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS DUA PULUH DUA


__ADS_3

Sementara itu, di malam penculikan Qiandra, Dean yang selalu didampingi oleh asisten Vian dan dokter Albert, masih diliputi dengan kecemasan dan kegelisahan.  Informasi yang berupa dugaan yang disampaikan oleh asisten Vian dan dokter Albert terkait kondisi


Qiandra, semakin membuat laki-laki itu khawatir.


“Apa keberadaan mereka benar benar tidak terdeteksi sekarang, Vian” tanya Dean pada asistennya itu.


“Sementara ini memang belum, Tuan, karena seluruh pelacak yang kita pasang di tubuh Nyonya Muda sudah dibuang oleh mereka, bahkan saat mereka ada di atas kota ini” sahut asisten Vian.


“Vian, bukankah kalian juga memasang pelacak hingga ke tempat yang sangat tersembunyi” tanya Dean dengan mata nyalang saat mengingat pelacak bahkan dipasang di pakaian dalam sang istri.


“Benar, Tuan, dan sepertinya semuanya telah dilepaskan” sahut asisten Vian lagi.


“Bagaimana bisa mereka menemukannya dengan cepat Vian, padahal aku sudah memerintahkan agar kalian memasangnnya dengan hati hati” seru Dean lagi.


“Ma maaf, Tuan, mereka emmm ….” asisten Vian ragu melanjutkan kata katanya.


“Lanjutkan, Vian” desis Dean dengan mata memerah.


“Anak buah kita sudah menemukan tempat pakaian Nyonya Muda dibuang, termasuk semua emmmm, semua pakaian dalamnya, Tuan, maafkan saya” ucap asisten Vian dengan suara rendah diakhir kalimatnya.


Tangan Dean kembali terluka saat kemarahannya tersalur dengan memecahkan gelas yang ada dalam genggamannya.  Perih di tangannya sama sekali tidak laki laki itu rasakan, hanya kemarahan yang begitu besar yang dirasakannya.  Dean bisa membayangkan bagaimana keadaan di


dalam helicopter itu dan pada saat itu wanita yang sangat dicintainya itu ditelanjangi oleh para penculiknya.


“Mereka harus membalas semua ini, semua mereka yang sudah menyentuh tubuh wanitaku, harus merasakan penderitaan yang jauh lebih kejam dari kematian.  Daniel, dan semua orang yang menyertainya juga mendukungnya akan kuhancurkan hingga jadi debu” desis Dean dengan kemarahan yang begitu besar.


Dokter Albert yang melihat darah menetes  dari tangan Dean, hanya berdecak kesal,


“Haish, tidak bisa ya kalau tidak melukai diri sendiri” desis dokter Albert dengan kesal.  “Vian, panggil Dewi kemari agar mengobati luka itu” serunya lagi pada asisten Vian sambil melirik pada tangan Dean.


Asisten Vian segera berdiri dan memanggil dokter Dewi yang memang selalu siaga di luar ruangan mereka.  “Obati dia” seru dokter Albert pada dokter Dewi saat dokter cantik itu


sudah masuk ke dalam ruangan itu.


“Mau apa, jangan menyentuhku, maaf, dok, aku tidak bisa di sentuh oleh wanita lain selain istriku”  seru Dean seraya menyentak tangannya yang hampir di raih oleh dokter


Dewi, membuat wanita itu terkejut. “Al ….” seru Dean lagi pada dokter Albert.


“Oh, astaga Dean, bahkan saat Qiqi tidak ada disini pun kamu masih bersikap begitu.  Ini darurat, aku masih terlalu lemah untuk merawatmu” seru dokter Albert yang kesal dengan sikap Dean.


“Jika begitu, biarkan saja, luka ini tidak akan membuatku kehabisan darah” sahut Dean dengan acuh.


“Haish, kamu benar benar yah ….” desis dokter Albert yang akhirnya perlahan bangun dari posisinya dan melangkah pelan mendekati


Dean.  Dokter Albert masih merasa belum


pulih sepenuhnya, namun dia juga tidak bisa membiarkan luka sahabatnya itu tidak segera diberi perawatan.


Dokter Albert meminta peralatan untuk membersihkan luka dari dokter Dewi yang segera diserahkan oleh dokter cantik itu.  “Terima kasih, Dewi, keluarlah dulu, aku akan


memanggilmu jika aku memerlukan bantuanmu nanti” ucapnya dengan lembut pada dokter cantik itu.


Dokter Dewi mengangguk dan segera berdiri dan melangkah meninggalkan ruangan itu.  “Mengapa juga kamu harus mencari asisten cewek, memangnya tidak ada dokter laki laki yang pantas jadi asistenmu” tanya asisten Vian setelah dokter Dewi meninggalkan


ruangan itu.

__ADS_1


“Dokter laki laki ada banyak, tapi yang bisa berkompeten seperti Dewi  itu tidak ada.  Kamu bisa lihat sendiri kecakapan dan


kedisiplinannya dalam bekerja, tanpa banyak bantahan” sahut dokter Albert yang mulai mencabut beling yang menancap di genggaman Dean.


“Hah, bilang saja karena kamu memang kesulitan berjauhan dari mahluk yang namanya wanita apalagi cantik” seru asisten Vian tak mau kalah.


“Itu kamu tahu alasan utamanya, kenapa masih bertanya, aku kan laki laki tulen, tidak seperti dirimu” sahut dokter Albert dengan acuh.


“Apa maksudmu seperti diriku, jangan bilang kamu mau mengatakan kalau aku bukan laki laki tulen” sengit asisten Vian.


“Yah, siapa tahu kan, kurasa sampai saat ini aku belum pernah melihatmu dekat dengan wanita”  sahut dokter Albert masih dengan gaya santainya.


“Hei, kamu …..” kata kata asisten Vian terhenti saat mendapat lirikan tajam dari Dean.


Walaupun dokter Albert sedang mencabut beling yang melekat di telapak tangan Dean, laki laki itu sama sekali tidak mengeluh atau merasakan sakit.  Hanya karena perdebatan absurd kedua sahabatnya itu saja dia baru bereaksi dengan memberikan lirikan tajam pada asisten Vian.  Dean tahu kalau dia


memperingatkan dokter Albert, laki laki itu tidak akan memperdulikannya.


Sebenarnya dokter Albert dan asisten Vian hanya sedang berdebat untuk mengurangi kemarahan Dean saja.  Dan Dean sangat memahami hal tersebut, sehingga dia juga tidak memarahi kedua sahabatnya itu.  Namun, dia juga tidak ingin mendengar perdebatan keduanya terus berlanjut, Dean hanya merasa memerlukan ketenangan saja.


“Lain kali, jangan melukai diri untuk menyalurkan emosimu, carilah cara yang lebih aman, kamu bisa memukul siapa saja, asal bukan aku” ucap dokter Albert asal sambil membersihkan luka di telapak Dean.  Dokter Albert juga memperhatikan dengan


teliti kalau kalau masih ada serpihan kaca yang menempel di situ.


Dean hanya membisu, tidak menanggapi ucapan dokter Albert, namun dia juga tidak lagi semarah saat mendengar kondisi Qiandra.  Dia hanya menghela nafas dengan berat selama beberapa kali, berharap bisa mendapatkan ketenangan yang bisa membantunya untuk berpikir lebih jernih.


“Jadi, benar benar tidak ada informasi mengenai keberadaan Qiqi sekarang ini” desis Dean lagi.


“Sementara masih belum ada, Tuan, tapi saya sudah memerintahkan anak anak untuk menghubungi pihak otoritas yang selalu memantau jalur transportasi udara.  Mudah mudahan mereka punya data yang akurat untuk melacak kemana helicopter itu berangkat” sahut asisten Vian.


Setelah itu, ketiga orang laki laki tampan itu sama sama terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing masing.  Mereka sama sama berusaha mencari cara untuk dapat melacak keberadaan Qiandra saat ini.  Namun, tiba tiba keheningan itu dipecah oleh bunyi ketukan di pintu ruangan itu.


“Permisi, Tuan Dean, operasi Yang Mulia sudah selesai” seru seseorang di luar kamar mereka.


Asisten Vian segera berdiri dan melangkah dengan cepat membuka pintu ruangan itu.  Di luar dia melihat salah satu dari tim dokter yang menangani Daddy Walt sudah berdiri di


depan pintu kamar mereka.  Asisten Vian


segera mempersilahkan dokter yang lumayan berumur itu untuk masuk ke dalam ruangan lalu kembali menutup ruangan itu.


“Bagaimana kondisi Daddy, dok” tanya Dean begitu melihat sang dokter telah duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan itu.


“Kami telah mengeluarkan peluru dari tubuh Yang Mulia, untungnya tidak ada organ vital yang terkena.  Walaupun demikian, kondisi beliau yang sudah cukup lemah karena usia,


tentunya tidak terlalu bagus bagi proses penyembuhannya.  Jadi, untuk saat ini, kami sudah berhasil menyelamatkan Yang Mulia, tetapi untuk pemulihannya, mungkin akan memerlukan waktu yang lebih lama” sahut sang dokter dengan wajah lelah.


“Apa maksudmu, Dok” tanya asisten Vian dengan suara gusar, “Apa kalian tidak bisa melakukan usaha lainnya untuk menyelamatkan Yang Mulia” lanjutnya lagi.


Dokter itu hanya bisa terdiam dan melirik ke arah dokter Albert yang baru saja selesai membalut luka di telapak tangan Dean.  Dokter Albert mendesah dengan suara berat,


dia sangat paham dengan perkataan rekan kerja sekaligus bawahannya itu.


“Daddy sudah tua, tubuhnya tidak lagi sekuat dulu saat harus menerima serangan seperti ini.  Dan tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini, selain berharap tubuh Daddy sanggup


bertahan dan bisa pulih lagi.  Untuk saat

__ADS_1


ini hanya itu yang bisa kita lakukan, dan sepanjang kondisi beliau stabil, aku yakin Daddy pasti akan segera membuka matanya dan kembali pulih” sahut dokter Albert  tetap berusaha optimis untuk kesembuhan Daddy Walt.


“Aku ingin melihat Daddy sekarang” tiba tiba Dean berdiri membuat ketiga orang lainnya juga ikut berdiri.


“Ta ta tapi Tuan, ….” dokter senior tadi ingin melarang tapi segera menghentikan ucapannya saat melihat dokter Albert mengangkat tangannya.


“Aku akan mendampingimu, tapi tolong kendalikan emosimu, jangan sampai memicu emosi bawah sadar Daddy yang dapat membahayakan jiwanya” sahut dokter Albert yang tidak dijawab oleh Dean sama sekali.


Dean segera melangkah menuju pintu ruangan, dimana asisten Vian sudah membukanya untuk dirinya.  Dokter Albert bersama dengan dokter senior tadi juga segera melangkah mengikuti Dean.  Pintu ruang operasi darurat sudah dibuka oleh salah satu bodyguard yang berjaga di luar ruangan itu, sehingga Dean bersama dengan dokter Albert bisa langsung masuk ke dalam


ruangan itu.


Dean menatap wajah sang Daddy Walt yang tertutup oleh alat bantu pernafasan, betapa terasa seperti tercabik rasa hati laki laki itu.  Dean merasa benar benar berdosa karena


melindungi dirinya lah maka ayahnya harus berkorban dan mengalami hal seperti ini.  Harusnya Deanlah yang terbaring saat ini dan bukan sang ayah.


Dean menggenggam tangan Daddy Walt dengan hati yang pedih, “Maafkan aku,Dad, demi menjagaku Daddy mau menderita seperti ini.  Maafkan aku yang selalu mengabaikanmu, tetaplah bertahan, Dad, aku akan menyelamatkan menantu kesayanganmu, tapi berjanjilah kamu akan menunggunya datang.  Daddy belum mengenalnya lebih jauh kan, kalau Daddy melihatnya dan mengenalnya, aku yakin Daddy akan semakin mencintainya.  Dia bidadari yang turun ke bumi, Dad, dengan


segala kecantikan dan kebaikan hatinya.  Dan lihatlah ini, semuanya terjadi karena aku harus memperebutkan wanita ini dengan laki laki lain” desah Dean dengan suara berbisik.


Dean tahu sang Daddy tidak akan mendengar suaranya, tapi dia ingin memberitahukan semuanya pada ayahnya itu.  “Tapi Daddy jangan khawatir, aku akan menyelamatkannya dari bajingan itu, karena wanita itu hanya boleh menjadi milikku, menantu keluarga


Zacharias.  Hah, aku mencintainya, Dad,


sangat mencintai dirinya, bahkan sejak pertama aku bertemu dengannya.  Kesalahanku di masa lalu membuat aku harus kehilangan dirinya selama bertahun tahun.  Dan sekarang, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi, Dad”


Dean kembali menghela nafas beratnya.


Rasa sakit kembali mendera hati presidir tampan itu bahkan berkali kali lipat.  Di satu sisi dia melihat sang daddy yang terbaring tidak berdaya, dan di sisi lain dia harus


kehilangan wanita yang sangat dicintainya yang saat ini entah dimana keberadaannya.  Setitik air mata mengalir di pipi tirusnya,


pedih dan rasa khawatir membuatnya merasa sangat tidak berdaya.


Tepukan lembut di bahu Dean membuatnya tersadar dari lamunannya.  Saat Dean mengangkat wajahnya, terlihat dokter Albert yang tersenyum dan menganggukkan kepala


padanya.  “Kami akan memindahkan Daddy ke rumah sakit pusat, semuanya telah disiapkan” ucap dokter Albert sedikit berbisik pada Dean.


“Baiklah, lakukan semua yang terbaik, Al, aku percayakan Daddy padamu.  Aku dan Vian akan mulai fokus pada pencarian Qiqi.  Khabarkan padaku secepatnya tentang setiap perkembangan Daddy” ucap Dean dengan suara sendu.


“Nyawaku jaminannya, Bro, kamu tahu, Daddy juga ayah kedua bagiku, tidak akan aku biarkan hal buruk terjadi padanya” sahut Dokter Albert.  “Konsentrasi saja pada pencarian Qiqi, dia jauh lebih memerlukan dirimu saat ini.  Dan ingat pesannya padamu, tolong tetap fokus, karena hanya dengan itu kamu bisa mendengar  panggilan dari Qiqi” lanjutnya lagi memberi semangat pada Dean.


Dean hanya terdiam, dia selalu ingat pesan Qiandra yang memintanya untuk tetap sabar dan selalu percaya padanya.  Yah, Dean sekarang mengerti kenapa Qiandra meminta hal itu padanya, saat ini Dean memang benar benar harus berkonsentrasi dan mencari petunjuk sekecil apapun untuk menemukan keberadaan Qiandra.


Setelah mengecup kening sang Daddy dengan lembut, akhirnya Dean melangkah meninggalkan ruangan itu.  Di pintu ruangan, Dean sudah ditunggu oleh asisten Vian yang dengan setia siap mendampingi dan menunggu perintahnya.  “Ke ruang kendali, Vian” ucap Dean dengan suara dingin.


Wajah sendu dan hangatnya seketika berubah saat dia sudah berada di luar ruang perawatan sang Daddy.  Sekarang ini, wajah presidir tampan itu terlihat sangat dingin dengan mata yang dipenuhi kemarahan dan dendam.  Namun, Dean tetap bersikap tenang dan melangkah dengan tegas menuju ke


ruang kendali.


Asisten Vian mengikuti langkah bosnya juga dengan tenang, dia tidak berbicara atau memberikan penjelasan apapun.  Asisten Vian tahu kalau Dean tidak suka berbicara saat sedang melangkah seperti itu.  Dia hanya mengiringi langkah Dean menuju ke ruang kendali, ruang yang saat kejadian tadi diserahkan sepenuhnya pada Rio, asistennya.


Mereka berdua tiba di ruangan itu, dan disana mereka disambut langsung oleh beberapa ahli IT yang sedang bekerja dengan konsentrasi penuh.  “Laporkan semuanya dengan singkat” seru Dean tanpa basi basi kepada salah satu dari tim IT yang tidak


lain dari Rio, asisten  dari asisten

__ADS_1


Vian.  Rio segera berdiri menghadap Dean,


membungkukkan badannya sebentar memberi hormat pada sang atasannya.


__ADS_2