PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
TIGA PULUH TUJUH


__ADS_3

Jauh dari kota kecil itu, di sebuah kota metropolitan yang sangat besar, tiga orang laki-laki tampan sedang menikmati waktu santai mereka di akhir pekan.  Masing-masing mereka  asyik dengan kegiatannya, hingga salah satu diantara mereka berseru mengejutkan kedua pria lainnya.


“Hei, bukankah itu Nona Qiandra” seru dokter Albert yang sedang asyik menonton berita di televisi.


Dean yang mendengar nama wanita yang begitu dirindukannya itu segera berlari dan meraih remote televisi.  Dia mengulang berita itu dan memfokuskan matanya pada seorang wanita dengan rambut panjangnya yang dicepol asal.


Wanita itu terlihat menonjol diantara para lelaki kekar yang ada disekitarnya, namun sangat terlihat para lelaki itu sangat menghormati  wanita itu.  Wanita itu sedang berkomonikasi  melalui phonselnya, dan saat dia membuka kacamatanya dan menghadap ke arah


kamera, Dean terlonjak kegirangan.


“Qiqiku, ah, akhirnya aku menemukanmu, Vian, segera siapkan jetku, aku akan segera berangkat ke kota itu” seru Dean dengan wajah berbinar penuh kebahagiaan.


“Baik, Tuan” sahut asisten Vian, dia tahu kebahagiaan Dean tidak akan bisa ditahan lagi, sudah bertahun-tahun mereka mencari informasi keberadaan Qiandra.  Namun, tak satupun jejak yang bisa mereka telusuri.


“Al, kamu ikut aku, kurasa Qiqi pasti memerlukanmu sekarang, biar Vian yang tinggal dan menghandle segala sesuatunya disini, dan tolong rahasiakan semua ini, aku tidak mau bajingan itu mengetahuinya” ucap Dean.


Asisten Vian dan dokter Albert sangat paham dengan siapa yang dimaksudkan oleh Dean, pastilah Daniel.  Karena selama dua tahun ini keduanya sudah bersaing dalam segala hal  termasuk dalam usaha untuk menemukan keberadaan Qiandra.


Empat puluh lima menit kemudian, jet pribadi Dean sudah terbang menuju ke kota kecil tempat Qiandra berada.  “Berapa lama waktu yang diperlukan untuk sampai di kota itu” tanya Dean pada kru peswatnya.


“Sekitar dua puluh jam, Tuan” sahut kru jet pribadi Dean.


“Astaga, sejauh itu kamu berlari Qi, bagaimana bisa kamu menemukan kota itu, pantas saja kami semua tidak bisa menemukanmu” desis Dean dalam hati.  Dokter Albert yang menyertai Dean hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat laki-laki tampan itu yang sering tersenyum sendiri.


“Dean, kurasa kamu harus mempersiapkan hatimu, dua tahun bukan waktu yang sebentar lho” ucap dokter Albert.  Terus terang dalam hati dokter tampan ini dia merasa khawatir kalau harapan Dean akan sia-sia.


“Tidak, Al, aku tahu Qiqiku, dia tidak akan mudah tergoda, hanya aku satu-satunya laki-laki yang mampu masuk ke dalam hatinya yang beku” sahut Dean, dia mengerti kekhawatiran sahabatnya itu.


“Bagaimana kamu bisa seyakin itu” tanya dokter Albert.


“Kamu tahu bajingan itu, berapa tahun dia bersama dengan Qiqi, dan terakhir kali dia bahkan menjebak Qiqi, namun, semua itu tidak menggoyahkan hati Qiqi.  Sealin itu,  naluriku sendiri mengatakan kalau Qiqi masih menunggu aku, hanya aku” sahut Dean dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


“Kalau dia menunggumu, mengapa dia tidak mengabarimu” tanya dokter Albert lagi.


“Qiqi telah berpesan, agar membiarkan waktu yang menjawab hubungan kami, dia sangat percaya takdir akan membawa kami bertemu karna kami memang berjodoh” sahut Dean dengan senyum kebahagiaan.


Dokter Albert hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah absurd sang presidir yang terlihat selalu angkuh, dingin dan kejam.  “Semoga saja harapanmu jadi kenyataan, sobat, karena kalau tidak, bisa-bisa aku harus mencari therapis khusus untukmu.  Menghadapimu dua tahun ini saja sudah membuat aku dan Vian pusing tujuh keliling.  Haish, seandainya aku bisa bertemu Qiandra lebih dulu, maka aku akan memastikan apakah dia bersedia menerima laki-laki ini atau tidak, jika tidak, kuharap dia bisa bersembunyi di lubang gunung saja” desah hati dokter


Albert.


Dean memejamkan matanya, namun senyum terus menghias wajah tampannya.  Senyum yang sangat jarang terlihat selama dua tahun terakhir ini.  Dokter Albert dan asisten Vian adalah dua orang yang selalu ada bersama


dengan laki-laki tampan ini, tidak ada yang tahu jatuh bangunnya Dean menjalani hari-harinya, selain dari kedua sahabatnya itu.


Sejak kematian ibunya dan pengkhianatan kekasihnya, Dean memang menjadi pribadi yang sangat tertutup.  Jangankan mempunyai kekasih, didekati oleh wanita saja sudah membuat Dean seperti orang yang alergi.  Oleh


sebab itu, jika ada wanita yang mengaku dekat dengannya, maka Dean tidak segan-segan mempermalukan wanita itu, bahkan memberi mereka sedikit pelajaran yang cukup berharga.


Dua puluh jam berlalu dengan sangat lambat bagi Dean, bahkan saat jet pribadinya itu berhenti hanya untuk mengisi bahan bakar, Dean sudah kasak kusuk seperti cacing kepanasan.  Jadilah dokter Albert yang harus berusaha menenangkannya.


Dan sekarang saat pagi hari menjelang, bersamaan dengan itu jet pribadi Dean mendarat di Bandar udara kota kecil tempat Qiandra bersembunyi.  Dean keluar dari pesawatnya dengan kaca mata hitam yang menghias wajah tampannya.  Sesaat Dean menghirup udara segar di pagi hari yang cerah itu.


Seorang laki-laki muda membawa sebuah mobil mewah dan datang menghampiri mereka, “Selamat datang, Tuan-Tuan, selamat datang di kota kecil kami” ucapnya dengan ramah.


Dean mengernyitkan keningnya, “Siapa kamu” tanya Dean menatap laki-laki itu.


“Oh, perkenalkan, nama saya Ady, saya diutus oleh pemimpin kota ini untuk menyambut kedatangan Tuan” sahut laki-laki itu lagi.


“Darimana kalian tahu kedatanganku” tanya Dean dengan curiga.


“Asisten Anda yang menghubungi atasan saya Tuan, dan dia meminta kami mempersiapkan segala sesuatunya untuk Tuan, mari Tuan, pemimpin kota ini sudah menanti untuk menjamu Anda” sahut Ady.


“Tidak, aku ingin segera bertemu Qiqiku” sahut Dean tegas.

__ADS_1


“Maaf, Tuan, siapa yang Tuan maksudkan” tanya Ady dengan kening berkerut.


“Qiqi, Qiandra, dimana dia, jangan bilang kamu tidak mengenalnya” sahut Dean dengan nada sedikit tinggi.


“Maaf, Tuan, saya tidak tahu yang namanya Qiandra” sahut Ady masih dengan suara yang ramah.


“Wanita yang ikut dalam evakuasi saat kecelakaan di arena motor cross kemarin” dokter Albert yang memberi penjelasan, karena dia melihat Dean sudah mulai gusar.


“Maksud Tuan, Nona Andra, kalau itu saya kenal Tuan, bahkan anak kecilpun pasti kenal, dia primadona kota kami” sahut laki-laki itu dengan mata berbinar, membuat kecemburuan seakan ingin meledak di mata Dean.


“Bisa kamu antarkan kami pada wanita itu” tanya dokter Albert lagi, dia tidak ingin membiarkan Dean berbicara, karena dia sudah melihat gelagat laki-laki posesif itu.


“Kalau tidak salah, Nona Andra masih berada di rumah sakit, adik angkatnya, Nona Jossie yang mengalami kecelakaan kemarin, masih belum  sadarkan diri” sahut Ady lagi.


“Antarkan kami ke rumah sakit” seru Dean seraya melangkah masuk ke dalam mobil mewah itu.


“Tapi….” Ady tidak sempat berbicara lagi, karena para tamu agung yang disambutnya itu malah sudah meninggalkan dirinya dan masuk ke dalam mobilnya.


Di dalam mobil, Ady kembali menawarkan agar mereka menemui pemimpin kota itu terlebih dulu, namun dengan tegas di tolak oleh Dean.  Akhirnya, Ady terpaksa mengikuti kemauan tamu agungnya ini, dengan mengabarkan kepada atasannya kalau mereka langsung ke rumah sakit.


Di rumah sakit, Qiandra terlihat sangat lelah, dia sama sekali belum beristirahat dengan benar sejak kemarin siang.  Dia menatap wajah Jossie yang terlihat masih sangat pucat, tanpa terasa airmata jatuh dipipinya yang putih. 


Qiandra membelai wajah Jossie dengan penuh kasih, “Bangunlah, Jos, masih banyak yang belum kita selesaikan, kamu tahu aku  tidak bisa apa-apa tanpa kamu” bisik Qiandra ditelinga Jossie.


Bik Sum yang selalu setia menemani Qiandra hanya bisa menghembuskan nafasnya berat.  Dia juga merasa sangat sedih atas musibah yang menimpa Jossie, namun dia merasa lebih sedih lagi saat melihat Qiandra kembali berduka.  Sudah dua tahun ini, Bik Sum tidak pernah lagi melihat air mata di mata wanita yang sudah dianggapnya sebagai anaknya itu.


Pintu ruang VIP itu, tiba-tiba diketuk dari luar, Bik Sum segera membuka pintu dan dia melihat dokter beserta dengan para perawatnya datang untuk memeriksa keadaan Jossie.  “Maaf, Nona Andra, kami akan memeriksa keadaan Nona Jossie dulu” ucap dokter itu penuh hormat pada Qiandra.


Qiandra segera berdiri dan memberi tempat untuk dokter itu memeriksa keadaan Jossie.  Setelah selesai, dokter itu kembali menghembuskan nafas berat.  “Bagaimana, Dok” tanya Qiandra pelan.


“Saranku sebaiknya dia segera dibawa ke rumah sakit yang lebih besar dan lebih lengkap, Nona, agar dia bisa mendapat perawatan yang terbaik” ucap dokter itu dengan wajah pasrah.

__ADS_1


“Rencananya, aku memang akan membawanya hari ini, Dok, tapi masih menunggu jadual penerbangan dulu” sahut Qiandra.


“Kita bisa membawanya sekarang juga” sebuah suara bariton yang sangat familiar di telinga Qiandra, mengejutkan mereka semua.


__ADS_2