
"Keluarga Zacharias adalah keluarga bangsawan utama yang merupakan keluarga kerajaan pemimpin negri ini dulu, jadi kekuatan mereka tidak bisa dianggap sepele, Dika" sahut Daddy Putra lagi.
"Apa maksud Daddy dengan keluarga bangsawan" tanya Dika sambil mengernyitkan keningnya.
"Memang tidak banyak yang tahu, Dika, hanya kami golongan yang sudah lanjut usia ini saja yang sangat mengetahui hal itu. Zacharias, atau dikenal dengan King Zach, adalah raja terakhir yang meminpin kerajaan di negri ini sebelum pada akhirnya beliau setuju untuk mengubah bentuk kerajaan menjadi seperti sekarang ini. Namun, beliau juga menolak untuk menjadi pemimpin kerajaan, sehingga lama kelamaan nama keluarga ini sebagai keluarga kerajaan pun semakin tidak di kenal. Dean adalah generasi ketiga, dan mereka tetap tidak mau masuk dalam ranah politik, mereka lebih memilih bisnis keluarga" Daddy Putra menjelaskan dengan rinci.
"Jadi, mereka keluarga King Zach" desis Dika dengan suara ragu membuat daddy Putra heran mendengarnya.
"Iya, Dika, ada apa, apa kamu meragukan ceritaku, atau ada hal lain yang kamu pikirkan" tanya daddy Dika yang mendengar Dika berucap seolah meragukan ceritanya.
"Bukan, Dad, aku bukan meragukan cerita Daddy, aku hanya merasa terkejut mendengar hal ini. Aku kira keluarga King Zach sudah menyingkir dari negri ini karena keruntuhan kerajaan mereka. Aku hanya tidak menyangka kalau mereka masih ada sampai saat ini" sahut Dika segera memberi penjelasan pada sang Daddy walaupun jawaban itu tidak sepenuhnya memberitahukan apa yang ada di hati laki laki muda itu.
"Hemm, cerita tentang kehancuran kerajaan memang sengaja dibuat untuk menutupi keberadaan keluarga kerajaan. Karena Zacharias dan juga putranya Walt Zacharias ingin melindungi privacy keluarganya. Mereka tidak ingin orang terus menerus mengejar pemberitaan tentang kehidupan keluarga mereka. Jadi, seperti itulah opini yang terbentuk di tengah masyarakat dari dulu hingga saat ini. Tapi, semua bangsawan dan pengusaha yang ada pada masa itu sangat mengetahui kebenarannya" jelas daddy Putra lagi.
Dika hanya menganggukkan kepalanya memahami cerita daddy Putra. "Walaupun begitu, Dad, aku tidak akan menyerah begitu saja untuk menyelamatkan Daniel. Aku akan melakukan apapun untuk menolongnya, kalaupun dia harus mendapatkan hukuman, aku akan memperjuangkan agar dia mendapat hukuman seringan mungkin" sahut Dika lagi.
"Sekalipun dia lolos dari hukuman ataupun dia mendapat hukuman yang ringan, aku tidak yakin dewan komisaris bersedia menerima dirinya kembali. Jadi, aku harap kamu tetap menjadi presidir sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Aku percayakan perusahaan keluargaku padamu, Dika, tolong selamatkan perusahaan ini. Aku sangat yakin kalau pihak Zacharias tidak akan tinggal diam, mereka pasti akan berusaha menghancurkan Mahardika hingga jadi debu" ucap daddy Putra dengan suara berat.
"Dad, aku akan berusaha dengan segenap kemampuan yang aku miliki, doakan aku bisa menyelesaikan masalah ini, Dad" sahut Dika dengan suara tegas.
"Dan, maafkan kami, Dika, maafkan Daniel, kami memberikan beban yang begitu berat padamu. Seharusnya kamu bisa saja lepas tangan dan meninggalkan semua ini, tapi aku bersyukur kamu tidak melakukan hal itu. Sekali lagi, maafkan kami, Nak" ucap daddy Putra dengan tulus.
"Dad, jangan berkata seperti itu, jika Daddy menganggap aku sebagai putramu juga, maka jangan pernah berpikir seperti itu. Sebagai anakmu, sudah menjadi tugas dan kewajibanku untuk menyelamatkan perusahaan ini" sahut Dika tanpa ragu yang serta merta membuat bibir daddy Putra tersenyum puas.
Dika mengernyitkan keningnya melihat wajah cerah laki laki tua itu, "Ah, itu yang ingin kudengar, jadi sebagai putraku, kamu punya hak lebih lagi untuk menjadi presidir di PT.Mahardika menggantikan kakakmu yang lagi hilang ingatan itu" ucap daddy Putra.
Walaupun senyum puas terulas di bibir daddy Putra, namun itu tidak dapat menutupi kesedihan di matanya.
"Astaga, bukan begitu maksudku, Dad, aku ....." Dika tersadar kalau dia terjebak dengan perkataannya sendiri.
"Sudahlah, anakku, lakukan tugasmu, selesaikan masalah kakakmu, daddy mau kembali ke villa untuk beristirahat. Otak tua ku malas berpikir lagi, aku lebih senang melihat tanamanku berbuah dan memetik hasilnya nanti" seru daddy Putra dengan suara ceria.
Daddy Putra segera berdiri dan mulai melangkah meninggalkan ruangan Dika. "Tapi Dad, ...." seru Dika yang diabaikan oleh daddy Putra.
“Selamat bekerja, Dika, segera suruh Risha memindahkan label presidir dari ruangan Daniel ke ruangan ini" seru daddy Putra seraya menutup pintu ruangan Dika.
Dika hanya bisa melongo menatap pintu yang sudah tertutup itu, dia sadar bahwa daddy Putra berpikir sekarang dirinya telah menyatakan menerima sepenuhnya jabatan presidir.
__ADS_1
Belum selesai Dika memikirkan sikap daddy Putra, pintu ruangannya sudah langsung diketuk dari luar, "Masuk" seru Dika, dan tampaklah pengacara William diikuti oleh sekertaris Risha yang membawa setumpuk berkas di tangannya.
"Tuan, ..." sapa pengacara William dengan menundukkan kepalanya sedikit.
"Jangan bersikap sungkan begitu, Will, mulai sekarang aku minta kamu menjadi asistenku, dan Risha kamu tetap melaksanakan tugasmu sebagai sekertaris presidir seperti biasa. Tidak ada perubahan yang lain, dan Will, aku tidak menerima penolakan. Kamu tetap menjadi pengacara perusahaan juga, atau kalau kamu mau merekrut pengacara lainnya kurasa itu akan lebih baik lagi. Aku tidak punya waktu untuk mencari calon lain sebagai asistenku" ucap Dika tegas tanpa mau menerima bantahan.
Dika lebih memilih William yang akan menjadi temannya berjuang saat ini, karena memang dia sudah sangat lama mengenal William. Laki laki yang juga berhutang budi dengan keluarga Mahardika ini, pasti akan setia kepada keluarga Mahardika.
"Baiklah jika Tuan menghendaki seperti itu, saya bersedia Tuan" sahut William. Dia tahu dia tidak punya pilihan lain, lagi pula ini kesempatan yang baik untuknya belajar bisnis.
"Bagaimana dengan kamu Risha, apa kamu bersedia atau akan menolak karena tidak bekerja dengan Daniel lagi" tanya Dika membuat wanita cantik itu terkejut.
"Tuan, aku ....." sebelum Risha melanjutkan kata katanya, Dika sudah memotongnya lagi.
"Aku tahu cintamu yang begitu besar pada Daniel, Ris, jadi aku tidak akan memaksamu untuk tetap bertahan jika memang itu berat untukmu" ucap Dika.
Dika memang mengetahui kalau Risha tergila gila pada Daniel. Namun, wanita itu tetap bertahan dalam diam dan tetap setia menunggu Daniel tanpa melakukan hal hal licik seperti yang sering dilakukan sekertaris lainnya. Risha sudah cukup bahagia karena bisa selalu bersama dengan Daniel selama mereka bekerja.
"Tuan, perasaan saya tidak ada kaitannya dengan pekerjaan, saya sudah menjadi sekertaris Anda sejak awal saya bekerja. Dan jika saya bisa menjadi sekertaris Tuan Daniel, itu semua karena Anda yang meminta saya melakukannya. Jadi, jika sekarang Anda berkenan tetap mengijinkan saya untuk kembali menjadi sekertaris Anda, saya merasa sangat bersyukur sekali Tuan" jawab Risha dengan tenang.
Dika cukup kagum dengan sikap wanita itu, dia benar benar bisa membedakan yang mana perasaan dan dimana dia harus professional untuk pekerjaan. Dika juga tahu latar belakang kehidupan Risha yang berasal dari keluarga kurang mampu. Namun, sejak menjadi sekertaris Dika, kehidupan Risha dan keluarganya sudah menjadi jauh lebih baik.
"Tuan, saya sadar siapa saya Tuan, apa yang ada dalam hati saya sama juga seperti rasa yang ada di hati para wanita lain di luar sana. Tapi uintuk urusan pekerjaan, saya yakin saya bisa tetap professional, sama seperti selama ini. Atau apakah Tuan meragukan kemampuan saya" Risha malah balik bertanya membuat Dika cukup terkejut.
"Tentu saja aku tidak meragukan kemampuanmu, Ris, baiklah, jika begitu kamu boleh melanjutkan pekerjaanmu seperti biasa. Dan aku juga minta tolong kamu untuk membantu William, karena dia masih baru dan aku tidak punya waktu untuk mengajarinya, jadi kamu bantu ya. Sekarang tolong jadualkan pertemuan dengan wartawan agar kita bisa segera mengumumkan pengalihan kekuasaan PT.Mahardika saat ini" sahut Dika dengan sedikit rasa gugup yang menggelitik hatinya.
"Baik Tuan, ini berkas yang harus segera ditanda tangani Tuan, saya permisi" ucap Risha lagi dengan senyum manis yang mampu membuat kedua kaum adam di dalam ruangan itu tersihir.
Lalu wanita cantik itu segera melangkah keluar dengan tenang, namun gerakan tubuhnya cukup membuat Dika dan William terpana menatapnya.
"Will, fokus ...." desis Dika yang terlebih dahulu tersadar dari pesona Risha. Entahlah, Dika merasa tidak rela saat William menatap Risha dengan tatapan begitu memuja.
"Ehm, anu, maaf, maafkan saya Tuan" ucap Dika dengan tergagap. Laki laki muda itu berusaha menenangkan hatinya dari rasa malu karena kedapatan sedang menatap sang sekertaris dengan intens.
"Ya, sudah, sekarang kamu persiapkan semua berkas bukti serah terima jabatan presidir, berikut foto kegiatan tadi yang akan kita tunjukkan pada media. Ini menjadi salah satu langkah awal kita untuk menyelamatkan perusahaan ini dari amukan Zacharias. Kita harus bersiap, sementara mereka sedang dalam masa sekarang ini resah menanti kondisi Tuan Walt. Aku sangat yakin, apapun yang akan terjadi pasti akan berimbas pada perusahaan. Semoga saja kondisi Tuan Walt bisa membaik, setidaknya itu dapat mengurangi dendam mereka pada kita" ucap Dika.
Dika sangat tahu kekuatan Zacharias, ditambah lagi penjelasan dari Daddy Putra tadi. Yah, selama bertahun tahun mereka berusaha mengalahkan PT. Zacharias, bersaing dalam segala bidang. Namun, mereka tidak pernah mampu mengalahkan perusahaan itu, bagaimana pun mereka berusaha.
__ADS_1
Dari semua pengalaman itu, Dika menyadari kalau bukan hal yang mudah menghadapi PT. Zacharias. Dika memang tidak berniat melawan perusahaan itu, dia hanya akan berusaha menahan amukan kemarahan dari keluarga Zacharias. Dika sangat sadar, kekuatan Mahardika sekarang sedang jauh merosot akibat perbuatan Daniel.
Dalam kekuatan penuh saja Mahardika tidak pernah mampu mengalahkan Zacharias. Apalagi di saat seperti ini, dimana tidak ada Daniel bersama dengan mereka. Dika sangat tahu kalau hal ini tidak akan mudah, dia hanya berusaha mencari celah yang memberi dampak kerugian paling kecil.
"Semua berkas dan semua foto serta dokumen sudah siap, Tuan, apa ada lagi hal lain yang harus dilakukan" tanya William lagi.
"Sekarang kamu temui Risha, minta tolong padanya untuk memeriksa seberapa banyak proyek yang sedang akan tender dimana kita harus berhadapan dengan Zacharias" ucap Dika.
"Maaf, Tuan, apa Tuan merencanakan untuk mundur dari semua proyek yang berhadapan dengan Zacharias, karena sepengetahuan saya setiap tender dimana Mahardika dan Zacharias berhadapan selalu bukanlah proyek kecil" tanya William lagi.
"Asisten William kamu cek saja dulu seberapa banyak, di bidang apa dan berapa nilainya. Tentang apa yang akan aku lakukan, nanti akan aku putuskan setelah datanya lengkap" sahut Dika yang sedikit kesal karena William terlalu banyak bicara.
"Ba baik Tuan" ucap William dengan terbata.
"Dan satu hal lagi, pelajari juga dari Risha tentang apa yang harus dan apa yang tidak boleh kamu kerjakan atau kamu ucapkan" ucap Dika lagi membuat asisten William terdiam sesaat.
"Baik Tuan, saya permisi" sahut asisten William setelah sempat tercekat mendengar kata kata Dika.
"Hemmm" sahut Dika yang sudah mulai menekuni berkas berkas yang menumpuk di hadapannya.
Walaupun kesal, Dika juga tidak mau langsung marah pada asisten William, dia tahu kalau asisten William baru belajar jadi asisten. Sementara sebelumnya dia adalah seorang pengacara yang terbiasa hanya memberikan pendapat dan jalan keluar bagi kliennya. Jadi mungkin hal itu masih menjadi kebiasaannya, sehingga harus diubah secara perlahan.
Bukan karena Dika merasa sombong dan tidak memerlukan masukan dari orang lain. Namun, ada aturan yang harus diketahui oleh asisten William saat dia ingin memberikan pendapatnya kepada sang presidir. Seorang asisten tidak seharusnya mempertanyakan apapun yang dilakukan presidir apalagi memberikan masukan jika tidak diminta.
Apalagi jika di hadapan orang lain, jika dia melakukan hal seperti itu tentu akan membuat atasannya merasa malu.
Seorang asisten bertugas melaksanakan apa saja yang menjadi kebutuhan atasannya, dari masalah kantor sampai masalah pribadi. Apapun yang diperintahkan atasannya, seorang asisten hanya punya jawaban "Baik."
Tetapi seorang asisten juga harus siap memberikan masukan saat pendapatnya diminta oleh atasannya.
Dika sudah sangat hapal akan tugas dan kewajiban seorang asisten, karena dia sudah bertahun tahun menjadi asisten Daniel. Walaupun dia juga menjadi CEO di beberapa perusahaan lainnya, namun Dika memang lebih konsen pada tugasnya sebagai asisten Daniel. Karena Dika selalu merasa utang budi dan utang nyawanya pada keluarga Mahardika tidak akan pernah bisa dibalasnya tuntas.
Konsentrasi Dika kembali terganggu saat mendengar pintu ruangannya diketuk, "Masuk" serunya.
Risha melangkah masuk ke dalam ruangan itu dengan tenang, wanita itu memang selalu bisa bersikap tenang dan professional. Mungkin karena itulah, tidak ada orang yang tahu kalau dia menyimpan rasa suka pada Daniel. Dia begitu pandai menyembunyikan perasaannya sehingga tidak ada orang yang menyadarinya.
"Tuan, saya sudah menghubungi media, konfrensi pers akan dilaksanakan nanti siang, tepatnya setelah makan siang" lapor Risha kepada Dika.
__ADS_1
"Baik, apa asisten William sudah menyampaikan apa yang harus dipersiapkan" tanya Dika lagi.
"Maaf, Tuan, asisten William tidak menyampaikan apapun tentang hal yang harus dipersiapkan. Dia hanya minta tolong saya tentang bagaimana caranya agar bisa menjadi asisten yang baik" sahut Risha membuat Dika mendesah sesaat.