
“Paman, bisakah aku meminta bantuanmu” tanya Qiandra dengan tiba-tiba.
“Tentu saja, Qian, katakan saja apa yang bisa aku lakukan” tanya Mang Ijal.
Qiandra mengeluarkan sebuah map dari tasnya, lalu meletakkannya diatas meja makan, “Bantulah aku untuk menjual ini” ucap Qiandra.
“Apa ini, Qian” tanya Mang Ijal, dia mengambil map itu lalu membukanya, Mang Ijal sangat terkejut, “Ini…ini… kamu yakin akan menjualnya, Qian” tanya Mang Ijal tak percaya.
“Iya, Paman, aku tidak ingin menyisakan kenangan apapun di kota ini, aku ingin menghapus semuanya” ucap Qiandra pelan.
“Tapi, Qian, bagaimana kamu bisa memilikinya lagi dan apa kamu benar-benar tidak merasa sayang menjual rumah peninggalan Tuan, eh maksudku suamimu ini” tanya Mang Ijal lagi. Bik Sum yang mendengar hal itu sangat terkejut, karena setahunya rumah itu sudah diambil alih oleh mertua Qiandra.
“Bosku di kantor yang berhasil mengambilnya lagi, aku ingin menolaknya, tapi memang ini rumah milikku. Tapi aku juga tahu, kalau aku menempati rumah itu, maka banyak masalah akan muncul dari keluarga mertuaku dan membuatku harus semakin bergantung pada bosku. Paman, kamu tahu aku ingin menghapus semua jejak kenangan hidupku di kota ini, termasuk rumah itu. Lagipula saat ini aku sangat memerlukan uang, aku mohon bantulah aku menjualnya” sahut Qiandra.
“Hah, baiklah, Qian, kurasa tidak akan sulit menjual rumah itu, kita tinggal memasang iklannya saja” ucap Mang Ijal.
“Tidak, tidak, Paman, jangan terbuka, aku ingin rumah itu dijual diam-diam saja, dan jangan ada yang tahu kalu aku yang menjual rumah itu, aku tidak ingin muncul masalah lagi karena penjualan rumah itu” sahut Qiandra.
“Hmm, baiklah, akan paman usahakan, Qian” sahut Mang Ijal, “Aku akan mencari beberapa orang yang bisa dipercaya untuk membantuku” lanjutnya lagi.
“Terserah Paman saja, aku percaya pada Paman” ucap Qiandra, “Kuharap, ini bisa cepat terjual, Paman, agar aku bisa segera meninggalkan kota ini” lanjutnya lagi.
“Tapi berapa harga yang kamu inginkan, Qian” tanya Mang Ijal lagi.
“Rumah itu senilai sepuluh miliar saat kosong, dan aku akan menjualnya lengkap dengan isinya, jadi paling tidak harganya lima belas miliar” ucap Qiandra.
“Hmm, aku rasa itu harga yang pantas, Qian, bahkan sedikit murah, aku akan coba menawarkannya di dua puluh miliar nanti” sahut Mang Ijal yang memang sangat tahu kondisi rumah Qiandra itu.
“Terserah Paman saja, tapi tolong secepatnya ya Paman, kuharap dalam minggu ini rumah itu sudah terjual, karena akhir pekan depan, aku sudah gajian, dan aku akan segera meninggalkan kota ini” ucap Qiandra lagi.
“Bagaimana pembayarannya, Qian, ini bukan uang yang sedikit” tanya Mang Ijal lagi.
“Tidak masalah dengan cara apapun, Paman, kalau dia dengan cek, maka kita bisa mencairkannya dan menyetorkan ke rekeningku yang lain” sahut Qiandra, dia tersenyum mendengar Mang Ijal yang kebingungan bagaimana membawa uang sebanyak itu.
“Oh, baiklah, kalau begitu, aku akan mengurus ijin dulu besok, dan akan menyelesaikan penjualan rumahmu dulu, Qian” ucap Mang Ijal.
__ADS_1
“Terima kasih, Paman, kalau begitu aku istirahat dulu ya, rasanya energiku belum pulih sepenuhnya” ucap Qiandra, lalu dia berdiri dan melangkah masuk ke kamarnya.
Saat yakin Qiandra telah masuk kekamarnya, Mang Ijal mengambil kartu nama asisten Vian dan menimang-nimang kartu itu. “Ada apa, Jal” tanya Bik Sum yang melihat sikap Mang Ijal.
Mang Ijal menghembuskan nafasnya sebentar, lalu dia melirik ke kamar Qiandra sebentar untuk memastikan wanita itu tidak keluar, “Bik, bagaimana kalau aku menjualnya kesini” ucapnya menunjukkan kartu nama asisten Vian, “Aku merasa dia sangat mencintai Nyonya, aku tidak tega melihat rumah itu jatuh ke tangan orang lain” lanjut Mang Ijal dengan suara rendah.
“Aku juga berpikiran begitu, Jal, tapi bagaimana caranya kamu menjualnya tanpa diketahui oleh mereka, mereka pasti akan melacak siapa penjualnya” ucap Bik Sum.
“Aku akan meminta bantuan teman-temanku, anggap saja mereka preman yang disuruh orang tua Tuan Charles” sahut Mang Ijal.
“Aku setuju saja, asalkan kamu bisa memastikan mereka tidak tahu kalau Qiandra yang menjual rumah itu, karena pasti akan mencari tahu, juga jangan sampai Tuan Daniel tahu, karena dia yang sudah mengembalikan rumah itu untuk Qiandra” ucap Bik Sum.
“Itu sudah pasti, Bik, ya sudah, sekarang kita beristirahat saja dulu, mulai besok aku akan mulai mencari cara menjualnya kepada mereka, aku berharap bisa secepatnya ini selesai, aku kasihan melihat Qiandra harus bekerja membanting tulang, belum lagi dia harus menghadapi orang-orang itu yang pasti akan senantiasa menguras emosi dan airmatanya” ucap Mang Ijal.
Bik Sum mengangguk membenarkan perkataan Mang Ijal, lalu dia berdiri dan masuk ke dalam kamarnya, demikian pula Mang Ijal dan istrinya. Mereka tidur malam itu dengan berbagai rencana yang akan mereka lakukan untuk hari esok.
Keesokan harinya, setelah sarapan pagi, Mang Ijal langsung berpamitan untuk segera mengurus penjualan rumah Qiandra. Karena kebetulan akhir pekan jadi Mang Ijal dapat libur bekerja, sehingga pria paruh baya itu bisa lebih fokus menyelesaikan tugasnya dari Qiandra.
Mang Ijal menemui beberapa temannya yang juga preman dan menawarkan kerjasama, dia memilih orang orang yang bisa dipercaya. Namun, Mang Ijal masih agak ragu, akhirnya dia berpikir akan melibatkan juga istrinya untuk melakukan transaksi jika memang pihak Dean bersedia nantinya.
Tiga orang preman kepercayaan Mang Ijal menghubungi nomor telepon asisten Vian, bersama dengan Mang Ijal yang juga ikut mendengarkan. Pada nada sambung yang ketiga, telepon itu diangkat oleh asisten Vian.
“Selamat pagi, Tuan, saya diminta oleh Tuan saya untuk menawarkan sebuah rumah untuk Anda, mungkin Anda akan berminat membelinya” ucap preman itu.
“Saya tidak berminat” ucap asisten Vian, dia ingin langsung menutup teleponnya karena menganggap itu hanya orang yang iseng saja.
“Tunggu, Tuan, rumah ini adalah rumah atas nama Nona Qiandra Zwetta Aldrich” ucap preman itu dengan cepat.
“Apa, tunggu sebentar, rumah yang mana yang kamu maksudkan” tanya asisten Vian.
“Rumah peninggalan Tuang Charles Ethan Demetrius yang terletak di di komplek XX, No.7” jawab preman itu dengan tegas.
“Anda ini siapa” tanya asisten Vian dengan sedikit curiga.
“Sudah saya katakan saya hanya perantara, Tuan, jika Tuan berminat saya bisa fotokan surat menyuratnya agar Tuan percaya bahwa saya tidak sedang main-main” sahut preman itu.
__ADS_1
“Baik, kirimkan sekarang” sahut asisten Vian.
“Tunggu sebentar, Tuan” ucap preman itu. Lalu mereka berempat mengambil gambar berkas-berkas kepemilikan rumah Qiandra dan mengirimkannya kepada asisten Vian.
Asisten Vian yang saat itu sedang bersama dengan Dean, segera memperlihatkan foto-foto berkas kepemilikan rumah Qiandra.
“Bagaimana, Tuan” tanya preman itu lagi.
“Berapa Tuanmu ingin menjual rumah itu” tanya asisten Vian.
“Dua puluh miliar, lengkap dengan semua perabotan yang ada di dalamnya” ucap preman itu lagi.
“Beri aku waktu, aku harus melaporkan pada atasanku dulu” ucap asisten Vian.
“Baik, tapi Tuan saya memerlukannya cepat, jika sampai nanti sore tidak ada khabar dari Tuan, kami akan menawarkan rumah itu untuk orang lain” sahut preman itu lagi.
“Sebentar, saya ingin tahu mengapa Tuanmu menawarkan rumah itu padaku” tanya asisten Vian.
“Oh, itu karena saya kebetulan mendengar kalau Tuan sedang mencari Nona Qiandra, jadi saya memberitahukannya kepada Tuan saya, makanya Tuan saya memerintahkan saya untuk menawarkan rumah ini untuk Anda, Tuan” jawab preman itu sesuai dengan petunjuk Mang Ijal.
“Hmmm, baiklah, aku akan mengabarkan secepatnya, dan kalau memang aku ingin membelinya, aku ingin bertemu langsung dengan Tuanmu itu” sahut asisten Vian.
“Baik, akan saya sampaikan, Tuan, terima kasih dan akan saya tunggu khabar dari Tuan” ucap preman itu, lalu dia menutup panggilan telepon itu.
“Terima kasih ya” ucap Mang Ijal pada ketiga preman itu.
“Itu sich gampang, Jal, jangan sungkan seperti itu, ini jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan pertolonganmu pada anakku dulu” jawab preman itu. Ternyata ketiga preman itu semuanya punya utang budi dengan Mang Ijal, karena Mang Ijal yang sering membantu keuangan keluarga mereka jika mereka sedang terdesak.
“Iya, Jal, kita akan bantu semampu kita, sampai saat ini akupun masih belum bisa membayar semua uang yang kamu pinjamkan saat istriku melahirkan kemarin” sahut preman yang lain.
“Ah, syukurlah kalau begitu, kita ini semuanya menolong Tuanku, beliaulah yang selama ini memberi aku uang dan secara tidak langsung juga membantu kalian semua” sahut Mang IJal.
“Nah, apalagi kalau begitu, kami akan dengan senang hati membantumu, Jal” ucap preman yang lainnya lagi.
“Tapi, kalian harus ingat, jika tuan yang membeli rumah ini bertanya, jangan pernah menyebutkan satu namapun, karena tuan ini juga mengenal aku, aku hanya tidak mau ada masalah baru lagi nanti” ucap Mang Ijal.
__ADS_1
“Okey, tenang saja” sahut mereka bertiga.
“Ya, sudah lebih baik sekarang kita makan siang dulu sambil menunggu mereka menghubungi lagi” ucap Mang Ijal seraya mengajak ketiga preman itu masuk ke sebuah warung makan.