
“Bro, apa ada rencana untuk rumah besar” tanya dokter Albert tiba-tiba pada Dean, saat mereka melangkah menuju pintu keluar.
“Maksudmu apa, Al, kamu tahu aku tidak akan membiarkan iblis itu berdekatan dengan Qiqi” sahut Dean dengan ketus.
Dokter Albert menghentikan langkahnya, “Kamu tidak bisa menghindari pertemuan keduanya, wanita itu pasti akan menggunakan opa dan oma untuk membuatmu membawa Qiandra padanya” sahut dokter Albert.
“Dan jangan lupa, tradisi keluarga, apalagi kamu tidak menikah disini, sudah menjadi kewajibanmu untuk memperkenalkan Nyonya pada keluarga besar Zacharias” asisten Vian ikut memberi komentar.
“Jadi, apa maksud kalian” tanya Dean dengan kening berkerut.
“Dari pada kamu dan Qiqi hadir pada acara yang dirancang dan dibuat oleh wanita itu, bukankah lebih baik jika kalian sendiri yang membuat acara serupa, tentunya dengan konsep kalian” sahut dokter Albert yang diangguki oleh asisten Vian.
Dean memandang kedua sahabatnya dengan intens, dalam hati presidir tampan ini mengakui kalau apa yang dikatakan oleh kedua sahabatnya itu memang benar adanya. Dia menghela nafas sejenak, lalu dia merangkul kedua sahabatnya. “Terima kasih, kalian benar-benar sahabat terbaikku, aku benar-benar
lupa kalau aku memang harus memperkenalkan Qiqi pada seluruh keluarga, baiklah, aku setuju dengan usul kalian, dan aku
mohon bantuan kalian untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Untuk konsep, kurasa kami tidak menginginkan konsep khusus dan kalian juga tahu apa saja yang harus disiapkan untuk acara itu bukan?” ucapnya setelah melepas pelukan pada kedua sahabatnya.
“Baiklah, jika kamu mempercayakan pada kami, kami akan mempersiapkan segala sesuatunya. Dan tolong secepatnya kamu menghubungi daddy, katakan saja pada beliau bahwa kami
sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari” sahut dokter Albert.
“Aku akan segera menghubungi daddy, dan jika dia bertanya pada kalian, katakan bahwa persiapan sudah 80%, kita tepaksa harus berbohog pada daddy, karena aku sangat yakin jika iblis itu pasti akan menggunakan alasan
kalau dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya dan ini sudah menjadi hak dan kewajibannya” ucap Dean dengan wajah kesal.
“Kamu benar, dan kita harus sepakat untuk mengatakan bahwa konsep acara kali ini adalah konsep yang diinginkan oleh Nyonya, karena dia tidak terlibat dalam persiapan pernikahannya, maka kamu memberinya kesempatan untuk menuangkan konsepnya dalam acara ini, tentunya tanpa menghilangkan hal-hal yang wajib ada dalam acara ini” asisten Vian ikut menimpali.
“Baiklah, tapi jika ada yang menanyakan detilnya, semuanya harus tetap dirahasiakan, jangan sampai iblis itu dan mata-matanya mengetahui rencana kalian” ucap Dean dengan tegas.
“Kami akan berusaha melakukannya dengan baik, harap kamu mempersiapkan Qiandra, kamu tahu lidah wanita itu sangat berbisa. Jangan sampai Qiandra terkejut apalagi termakan mulut manis penuh balutan racun wanita itu” ucap dokter Albert lagi.
“Tentu, akan kupastikan Qiandra bisa menghadapi iblis itu, dan sekali lagi terima kasih, sobat, sungguh aku benar-benar tidak tahu bagaimana jadinya jika kalian tidak bersamaku” ucap Dean pada kedua sahabatnya
itu.
“Sudah menjadi kewajiban kami, Bro, sebagai saudaramu, bukankah sudah seharusnya kita saling mengingatkan dan saling mendukung. Baiklah, kalau begitu kami kembali ke bawah
dulu, atau kamu ingin kami menginap disini” tanya dokter Albert dengan mengedipkan sebelah matanya. Dean terkekeh mendengar candaan sahabatnya itu, dia memukul lengan dokter Albert dengan pelan.
“Pergilah, apa kalian tidak tahu kalau sejak tadi aku sudah ingin mengusir kalian, hah” ucap Dean dengan wajah yang dibuatnya menjadi datar, membuat kedua sahabatnya itu tersenyum. Mereka bertiga kembali berpelukan sebelum akhirnya asisten Vian dan dokter Albert benar-benar pergi meninggalkan pentahouse mewah itu.
Setelah kepergian kedua sahabatnya, Dean ingin kembali melangkah ke dapur untuk menemui Qiandra. Namun, dia tertegun saat melewati dan melihat foto keluarganya, Dean
melangkah mendekati foto berukuran besar itu, mata laki-laki tampan itu tertuju kepada wajah ibunya.
“Mah, aku belum memperkenalkan menantumu padamu, aku yakin kamu pasti akan menyukai dan menyayanginya. Aku mohon, bantulah dia, jagalah dia dari sana saat dia harus berhadapan dengan iblis betina itu” gumam Dean.
Dean tercenung selama beberapa saat, ada kerinduan yang terselip dalam hatinya pada pelukan kasih sang ibu. Namun, sesaat kemudia kerinduan itu malah membangkitkan kemarahan dalam dirinya, saat dia mengingat penyebab kematian ibunya. Masa lalu yang begitu menyakitkan kembali menghujam dalam hatinya, membuat amarah dan kebencian
__ADS_1
meluap-luap dalam diri presidir tampan ini.
Dean menghembuskan nafasnya dengan kasar, mengusir semua amarah yang tiba-tiba memenuhi rongga dadanya. Sungguh, Dean tidak ingin merusak kebahagiannya dengan mengingat masa lalu yang menyakitkan itu. Dia segera berbalik dan kemudian kembali
melanjutkan langkahnya menuju ke dapur, dimana Qiandra tadi berada.
Namun, saat Dean tiba di dapur, dia tidak menemukan istrinya, bahkan meja makan pun terlihat sudah bersih. Dean mengernyitkan keningnya, “Honey….” serunya, namun tidak ada jawaban sama sekali.
“Kemana dia, apa dia kembali ke kamar” benak Dean, dia melihat ke sekeliling dapur, namun saat dia tidak menemukan Qiandra disana, dia segera melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke arah kamar utama. “Honey…..” serunya lagi.
“Love, aku di balkon” sahut sebuah suara yang sangat dikenali oleh Dean, membuat Dean
bernafas lega. Kekhawatiran sempat mengusik hatinya, ketakutan kalau wanita yang sangat dicintainya itu tiba-tiba menghilang lagi, membuat raut cemas tidak bisa disembunyikan di wajah tampannya. Walaupun dia tahu
kekhawatirannya kalau Qiandra akan pergi lagi, sama sekali tidak beralasan. Namun, tidak bisa dipungkiri kalau kekhawatiran itu tetap ada dalam hatinya.
Dean segera menyusul ke arah balkon kamar mereka, dan saat dia membuka pintu ke arah balkon yang memang sedikit terbuka, Dean terpana melihat pemandangan yang terpampang dihadapannya.
Qiandra berdiri membelakangi pintu balkon, dia sedang menikmati matahari yang sedang terbenam. Cahaya senja yang menerangi tubuh wanita itu, membuat Dean menelan salivanya dengan kasar. Qiandra memakai sebuah gaun malam, dengan bagian belakang yang terbuka hingga ke pinggangnya. Gaun itu terlihat menempel dengan pas di tubuh Qiandra dan membentuk seluruh lekuk tubuh wanita itu dengan sempurna.
Ditambah lagi belahan panjang di bagian samping gaun hitam itu, membuat kaki mulus Qiandra terpampang dengan jelas hingga diatas lututnya. Rambut panjang bergelombang wanita itu disampirkannya ke bagian depan, sehingga seluruh punggung dan
bahunya terekspose dengan jelas.
Dean melangkah mendekati wanita yang telihat sangat seksi itu, tangannya langsung memeluk pinggang ramping sang istri. Dean mengecup lembut bahu Qiandra dan memberikan gigitan ringan yang membuat si pemiliknya menjerit kecil.
“Kamu benar-benar menggodaku, Honey, jangan salahkan jika aku tidak akan melepaskanmu walau hanya sesaat malam ini” desisnya dengan suara serak karena menahan gelora dalam dadanya.
“Hmmmm, begitukah, apa kamu yakin akan mampu menaklukkan aku, Love” desah Qiandra, dia malah mengalungkan tangannya ke arah belakang kepala suaminya. Hal ini membuat Dean bisa melihat dengan leluasa belahan dua buk*t kembar yang sek*l mengintip dan
seakan menantangnya.
“Honey, apa kamu masih meragukan kemampuanku, hmmm” bisik Dean, tangannya mulai menelusuri kaki mulus sang istri yang sudah diangkatnya dengan kakinya sendiri. Sementara bibir laki-laki itu terus menelusuri leher jenjang sang istri.
“Akhhh…..” desah Qiandra saat merasakan sentuhan laki-laki yang begitu dicintainya itu, “Aku tahu kemampuanmu, Love, tapi aku tidak yakin kamu akan mampu bertahan jika aku
yang memimpin” ucapnya diantara ******* yang terlepas dari bibir seksinya.
Dean segera mengangkat tubuh sang istri dan membawanya duduk di sofa panjang yang tersedia di balkon kamar itu. Dean duduk dengan memangku istrinya, namun, Qiandra segera mengubah posisinya. Wanita itu duduk dengan posisi berhadapan dengan Dean namun tetap diatas pangkuan laki-laki itu.
Kaki mulus Qiandra benar-benar terbuka karena gaun yang dikenakannya memang mempunyai belahan panjang di kedua sisinya. Rambutnya yang indah tergerai dengan bebas menutupi punggungnya yang terbuka, namun juga
menyebabkan d*danya terbuka sempurna. Belahan dua buk*t kembar yang kenyal dan cukup besar itu tepat berada di hadapan Dean.
“Honey…..” desis Dean yang cukup terkejut dengan keberanian istrinya kali ini. Biasanya, Deanlah yang selalu menggoda dan merayu sang istri, sementara Qiandra selalu malu-malu
dan bahkan terkesan sangat pasrah. Baru
kali ini, wanita ini berani menggoda suaminya dimulai dengan gaun super seksi serta kata-kata menantang yang benar-benar membuat gairah Dean terbakar sempurna.
__ADS_1
Belum habis keterkejutan laki-laki itu, dia kembali tersentak saat bibir Qiandra tiba-tiba menyerang bibirnya dengan ganas. Walaupun terkejut, Dean tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dia segera membalas perlakuan sang istri, sehingga keduanya tenggelam dalam ciuman panas yang penuh gairah.
Jari lentik Qiandra perlahan menelusuri dada bidang di balik kemeja sang suami, dan dengan perlahan dia mulai membuka kancing kemeja
suaminya. Setelah semuanya terlepas,
Qiandra segera menanggalkan kemaja itu dari tubuh suaminya. Jari-jarinya semakin intens membentuk pola abstrak di seluruh permukaan kulit Dean.
“Akhhhh, honey…..” desis Dean yang semakin tidak mampu menahan gejolak dalam dirinya.
Qiandra tersenyum, sesaat dia melepaskan ciumannya dari bibir sang suami, “Biarkan aku yang melayanimu kali ini, Love” bisiknya dengan suara sensu*l. Dean tersenyum, lalu dia segera mengangkat tubuh istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Dean meletakkan Qiandra dengan perlahan diatas tempat tidur besar mereka. Namun, saat dia akan mengukung tubuh wnita itu, Qiandra tiba-tiba bangun dan membalik keadaan. Hingga saat ini, Deanlah yang berada di bawah
dan Qiandra yang mengukung tubuhnya.
“Aku yang akan memuaskanmu malam ini, Love” ucap Qiandra dengan suara seksinya.
“Aku menantikannya, Honey” sahut Dean, suaranya terdengar serak karena gairah yang sudah menguasainya.
Dan malam itu, Qiandra benar-benar memuaskan suaminya dengan pelayanan yang luar biasa. Bahkan Dean mengalami beberapa kali pelepasan sebelum mereka melakukan penyatuan. Dan saat penyatuan pun Qiandra tetap tidak membiarkan Dean mendominasi. Laki-laki itu hanya bisa mendesah saat merasakan bagaimana sang istri memanjakan senjatanya.
Malam itu dilalui oleh sepasang sejoli itu dengan nuansa yang jauh berbeda dari yang biasa mereka lakukan. Pergumulan mereka berakhir saat waktu sudah melewati tengah malam dan keduanya sudah terkulai lemas.
“Honey, kamu benar-benar mengejutkan kali ini” bisik Dean tangannya membelai punggung istrinya yang terbuka.
“Semoga kamu puas, Love” sahut Qiandra, dia berbaring di lengan suaminya.
“Aku sangat, sangat puas, ini luar biasa, Honey, aku benar-benar tidak menyangka kamu punya kemampuan seperti ini, secara biasanya kamu selalu terlihat malu-malu dan pasrah padaku” ucap Dean yang memang sangat terkejut
dengan sikap istrinya kali ini.
“Aku hanya ingin memberikan variasi untukmu, Love, dan aku tidak ingin kamu sampai merasa bosan padaku” sahut Qiandra.
Dean mengangkat wajah istrinya, dia menatap kedua bola mata indah Qiandra dengan mata elangnya, “Jangan pernah berpikir sepeti itu, Honey, aku tidak akan pernah bosan padamu, kamu tahu cintaku ini bukan hanya sebatas
se*s saja, tetapi jauh lebih dalam dari itu” ucapnya dengan tegas.
“Terima kasih, Love, inilah aku apa adanya, keseluruhan diriku yang sebenarnya, dan hanya kamu yang mengetahuinya. Hanya kamu yang pernah kulayani seperti ini” ucap Qiandra lagi, “Ya, bahkan pada Kak Charles pun aku tidak pernah melakukan hal ini” lanjutnya lagi saat dia melihat tanda tanya di mata suaminya.
Dean tersenyum bahagia, dia merasa sangat puas, perkataan Qiandra menunjukkan bahwa wanita itu benar-benar telah menempatkan Dean sebagai penguasa hatinya. Dean segera memeluk tubuh pol*s Qiandra, “Terima kasih, Honey, pengakuanmu benar-benar melegakan
hatiku, karena selama ini aku memang masih khawatir kalau aku hanya mampu mengisi sudut hatimu. Tapi, malam ini aku tahu, kalau kamu sudah memberikan aku tempat teristimewa di hatimu” ucapnya.
Qiandra membalas pelukan suaminya, dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang yang sangat disukainya itu. “Aku sangat, sangat mencintaimu, Love” bisiknya perlahan namun didengar jelas oleh Dean.
“Akupun sangat mencintaimu, Honey” ucap Dean, dia mempererat pelukannya dan tak berselang lama keduanya tenggelam dalam lautan mimpi indah mereka. Rasa lelah akibat pergulatan yang mereka lakukan sejak pagi bahkan berlanjut di malam hari ini, membuat
tidur keduanya benar-benar pulas.
__ADS_1