Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
Putri Tea


__ADS_3

“Cih..” Decap Qira kesal. Ia memilih pergi dari sana dan meminta baju kepada pelayan, ternyata eh ternyata, bajunya sudah disediakan dikamar tersebut. Bukankah ini sebuah rencana yang sudah dipersiapkan kaisar Zauhan?


“Apakah kau sudah sembuh?” Tanya kaisar Zauhan heran.


“Hm..” Gumam ira sambil memilih-milih baju yang paling ringan, ya dia harus memakai hanfu. Mengebalkan bukan? Karena itu ia harus mencari yang paling ringan dan tidak merepotkan.


Kaisar Zauhan meenatap Qira datar. Bagaimana bisa sakit hanya satu malam? bukannya jika sakit butuh beberapa hari? Qira terlalu ajaib untuk ia fikirkan. Iya, dia gadis uang paling ajaib untuk ia pikirkan.


Tanpa mempedulikan pandangan kaisar Zauhan. Qira memilih pergi kekamar mandi, ia memilih mandi dan menjalankan tugasnya mencari mata-mata dan pergi dari neraka ini.


Qira membersikan tubuhnya hingga bersi, tak lupa menggunakan shampo buatannya sendiri dan sabun buatan sendiri. Ya jangan lupa, jika ini zaman kuno! Untunglah saat didunia modern belajar dengan sungguh-sungguh, jika tidak bisa dibayangkan bagaimana hidupnya disini!


Beberapa saat kemudian Qira keluar dengan baju berwarna hitam bercampur merah. Itu adalah sutra halus yang berbentuk polos namun sangat cantik ditubuh Qira. Saat sudah didepan pintu, ia melihat kaisar Zauhan sudah berdiri didepan pintu. Qira malas untuk berdebat, dan menuduh jika kaisar mengintip. Toh ia mandi menggunakan baju! Qira adalah tipekal gadis yang tak suka mandi dalam keadaan tanpa sehelai benang. Ya, karena hidup dihutan membuatnya selalu berhati-hati.


Kaisar Zauhan sedari tadi menggedor-gedor pintu. Tapi tak mendapatkan sahutan, tak berselang lama ia melihat Qira keluar dengan rambut panjang basah nan kusut. Bercak air diwajahnya bahkan bagaikan embun suci dipagi hari. Tak lama kemudian, Qira melewatinya meninggalkan bau bunga Lavender yang menenangkan. Ia juga mencium bau bunga mawar yang sangat segar dihidungnya. Tapi cepat-cepat ia menggelengkan kepala atas kenyamanan aroma ini dan berlalu untuk mandi.


Qira mengikat rambutnya tinggi menggunakan seutas kain hitam yang dijadikan seperti pita panjang, tak lupa menyisipkan pisau dibalik bajunya sebanyak dua buah. Lalu pergi meninggalkan kaisar Zauhan yang masih didalam kamar mandi.


Saat ia keluar, ia melihat ada Wolf dan Leon yang sudah menunggu. “Hm..” Dehem Qira memanggil temannya yang memunggunginya.


Wolf dan Leon berbalik menatap Qira dengan senyum. “Ayo kita pergi..” Ajak Wolf.


Qira menganggukkan kepalanya. “Kita kemana?” Tanya Qira.


“Kita kepasar saja. Aku sudah lama tak pergi bersamamu.” Sahut Leon.


“Benar. Sepertinya menyenangkan.” Cicit Wolf.

__ADS_1


“Kalian sudah mendapatkan kabar tentang mata-mata itu?” Tanya Qira diperjalanan.


Leon dan Wolf saling memandang sejenak lalu menggeleng. “Maafkan kami Qira. Kami belum bisa menemukan apapun.” JawabLeon.


“Tapi kami berjanji akan menemukan bukti-bukti itu.” Sahut Wolf cepat an meyakinkan.


Qira tersenyum manis. “Tenanglah, kita masih punya waktu.” Jawabnya. ia tau jika Wolf dan Leon merasa tak enak hati. “Ayoo...” Ucapnya cepat dan menarik tangan kekar Wolf dan Leon.


Tentu saja senyum Qira menular kepada sahabat-sahabatnya ini. entahlah, rasanya senyum itu sangat hangat dan menenangkan bagi mereka. Tapi langkah mereka terhenti ketika bertemu dengan perdanan mentri Wouncu. “Pak tua...” Panggil Qira tanpa segan.


Perdana mentri Wouncu terkejut menatap Qira. Bagaikan tubuhnya mematung ditempat. Tapi cepat-cepat pula ia membungkuk dan memberi hormat kepada Qira. ”Salam ke ke kepada yang mulia permaisuri. Semoga umur panjang dan sejahtera.” Ucapnya gugup.


Qira menatap perdana mentri Wouncu tajam. “Aku butuh bicara kepadamu. Bangunlah.”


Perdana mentri melirik mata tajam Qora sebentar, tapi tak sengaja bertemu mata kaisar Zauhan tak kalah jauh dari mereka. Cepat-cepat ia menunduk seakan sangat ketakutan, ia bahkan berkali-kali meneguk liur kering. “Ma maaf yang mulia, ham hamba sedang sibuk.” Ucapnya terbata-bata. “Hamba permisi yang mulia.” Lanjutnya cepat dan pergi meninggalkan Qira dengan raut tanda tanya.


“Mengapa dia pergi dan ketakutan.” Tanya Wolf heran. Beberapa detik berikutnya ekspresinya berubah menjadi sok tau. “Jangan-jangan dia mata-mata yang kita incar Qira.” Hipotesisnya.


Qira menghembuskan nafasnya eras lalu menggeleng. “Sepertinya ia bukan mata-mata. Hanya saja ia menyembunyikan sesuatu.”Wolf dan Leon mengangguk menyetujui. “Bisa jadi.” Sahut Leon.


“Sudah. Aku sudah sangat lapar. Ayo kita kepasar,disini aku tak pernah dikasih makanan. Dasar kerajaan yang sangat miskin dan pelit.” Ucap Qira sedikit kencang. Ia tau kaisar Zauhan tak jauh dari mereka dan berjalan mendekat.


“Apa kaisar itu tak memberimu makan?” Tanya Leon.


Qira memberikan wajah manjanya kepada teman-temannya. Dan itu membuat teman-temannya kasihan. “Yasudah. Aku pastikan kita akan cepat-cepat pergi dan tinggalkan suami gadunagnmu itu.” Ucap Wolf sambil memegang bahu Qira.


“Ayoo kita makan.” Leon menarik tangan mungil Qira lembut. senyum Qira melebar dan mengandeng tangan Leon dan Wolf disisi-sisinya. Dan melangkah pergi bagaikan anak kecil dan kakak-kakaknya.

__ADS_1


Tak jauh dari sana, tepatnya dibelakang Qira ada kaisar Zauhan. Fikirannya dipenuhi dengan pertanyaan. Mengapa perdana mebtri Wouncu sepertinya sangat takut kepada Qira? Dan mengapa ia merasa lebih takut dengan dirinya tadi? Apa Qira ada hubungannya dengan semua ini.


“Qiqi..” Gumamnya heran. “Bukankah namanya Zhu Qira Han. Apa dia membohongiku.” Gumamnya heran.


Matanya lekat menatap Wolf dan memegang bahu Qira dan Leon menggenggam tangan mungil Qira. “Cih. Bahkan kau tak pernah tersenyum bersamaku.” Gumamnya. Tapi saat Wolf dan Leon mengatakan akan membawah Qira pergi sunggu saja ia tak terimah. Apa haknya? Dia yang menyeret Qira kesini mengapa pula dia yang menjadi linglung.


“Yang mulia...” Pangil kasim Diau beberapa kali, sedari tadi kaisar Zauhan berdiri menatap Qira tanpa bicara membuatnya sedikit bingung. ‘Apa kaisar Zauhan cemburu?” Pertanyaannya dalam hati.


Kaisar tersasar ketika suara kasim Diau memangggilnya. Ia hanya mengibaskan tangannya dan pergi meninggalkan kasim Diau..


_________


Hup...


“Akh....”


Seorang gadis imut nan polos itu bersusah patah ingin memanjat pohon. Dia bagaikan maling yang ingin kabur.


Mata Qira dan lainnya menatap gadis itu lucu meski hanya Wolf yang berwajah datar. Ya Wolf adalah orang yang sangat dingin kepada orang lain. Qira dan Leon kompak tertawa saat gadis itu terjatuh lagi.


Gadis itu berbalik sambil menggosokkan punggungnya. Terkejut, ya kalimat itu yang ia rasakan saat ini. tapi entah mengapa ia memberikan senyum lebar nan konyol kepada Qira dan lainnya. “Hallo kakak ipar.” Ucapnya polos dan mendekat.


“Kau mau kemana?” Tanya Qira. Gadis itu adalah putri Tea.


Putri Tea mengibas-ngiaskan hanfunya seperti anak kecil. “Aku mau pergi dari istana tapi tak bisa.” Ucapnya tanpa takut ketahuan. Cek, tapi wajahnya sangat menggemaskan.


Putri Tea sangat berbeda dengan Qira. Mulai daris sikaf dan wajah. Jika sifat Qira sangat keras namun bijaksana, putri Tea bersikap polos dan menggemaskan.

__ADS_1


__ADS_2