Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
Part Wolf


__ADS_3

Hari demi hari dilewati oleh Wolf begitu mennyakitkan, karena kehilangan sosok yang ia sayangi, dulu ia yang tak pernah menyentuh anggur ataupun arak sekarang suka meminumnya hanya untuk melepaskan penaknya dan kegundaan dhatinya, dulu ia yang dingin searang tambah dingin dan acuh, sebenarnya ia benci akan hidup seperti ini. hanya saja inilah yang bisa ia lakukan untuk menghilangkan bayangan Qira dihadapannya.


“ Wolf.... apakah kau mabuk?” Tanya putri Thea saat melihat Wolf yang berjalan sedikit terpincang pincang dan juga tak sadar. Sudah lama ia memperhatikan akan kelakukan Wolf setelah Qira meningal, hanya saja ia tak berani mendekat, ia takut Wolf akan melakukan hal yang jahat terhadapnya, ia hanya takut saja.


“ Pergi...!!” Ujar Wolf mengibaskan tangannya. Ia berjalan dengan sempoyongan akibat dari minuman yang ia minum itu. Pikiranya sudah terbang diawang awang dan ia menyukainya, setidaknya ia tak merasakan hilangnya masalah meski hanya sesaat. Sebenarnya bukan menghilang masalah sii, menambah masalah iyaa... Arak bisa merusak organ tubuh dan membuat kita merasa tenbag dan hilang masalah hanya sesaat, bukan selamanya.


“Tapi kau mabuk Wolf...” Jawab putri Thea sedikit serak karena takut pada Wlf, sebab Wolf mengatakan dan mengusirnya itu dengan nada keras dan membentak.


Wolf mengerang namun tak membalas ucapan Putri Thea mengendus kesal saja lalu memijit kepadanya karena merasakan pening. Ia berjalan dengan putri Thea yang selalu mengikutinya dari belakang. Ia malas untuk meladeni putri Thea saat ini, mana ia memang sudah pusing dan mabuk, hanya saja ia sudah setengah sadar dan masih didalam batas wajar.


“Wolf.. kau tidak apa-apa?” tanya putri Thea sedikit, ralat, bukan sedikit tapi sangat-sangat khawatir pada Wolf yang mengerang sembari memijit pelipisnya, ia mau memegang tangan Wolf namun ragu, biasanya Wolf selalu menepis tanganya dikalah ia lancang ingin memegang tanganya.


“ Aku bilang pergi bodoh..!!” Teriak Wolf keras dikalah putri The memberanikan memegang tangannya. Ia menepisnya kasar karena marah.


Sedangkan putri Thea gemetar ketakutan, ia takut Wolf akan memukulnya dikalah keadaannya seperti ini, namun nyatanya Wolf masihlah sosok Wolf yang baik hati dan juga bertanggung jawab, ia tak mungkin menyakiti seserang yang tak bersalah.


Wolf berjalan dengan sempoyongan, ia meningalkan putri Thea sendiri dan memasuki kediamannya, ia tak peduli dengan orang lain, bahkan hidupnya saja ia tak peduli, rasanya ia terlalu gagal untuk melindungi Qira yang selalu mampu melindungi dia, selalu bisa mengorbankan kebahagianaya untuk dirinya,


Sedangkan putri Thea mengikutinya dari belakang, Wolf tak sadar akan hal tu. Selalu saja putri Thea menunggu Wolf pulang dikalah mabuk, ia selalu mengintip dan memastikan jika Wolf tidak kenapa-napa sampai ia pulang. Wolf memang masih diistana waktu itu. Karena Zauhan yang masih menjabat sebagai raja. Ia ingin menjaga anak Qira. apa lagi kediamannya dengan putri Thea sangat dekat.


Sebenarnya putri Thea memang sudah menyukai Wolf sedari awal mereka bertemu, apalagi saat Wolf memberikan perhatianya pada Qira, ia iri namun ia tak jahat, hanya iri kepada Qira yang bisa mendapatkan kasih sayang yang begitu besar dari Wolf dan juga Leon,bukan hanya Leon dan Wolf tapi juga kaisar Zauhan yang kejam dan jahat, kaisar Zauhan yang sadis dan juga iblis.


Ia terlau iri karena ia kesepian, tak punya teman dan banyak kasih sayang. Keluarganya selalu saja membatasi dirinya supaya dia tak selalu keluar dan memilik teman. Katanya, teman itu munafik, yang datang hanya membutuhkan dan mendekat dikalah kau punya sesuatu. Jadi tak ada yang tulus dimuka bumi ini, kecuali dirimu sendiri. Padahal apa salah denga kata teman?


Keuarga kerajaan itu memang selalu menatasi, apalagi putri Thea seorang putri dan satu sataunya perempuan dikerajaan Barat. Ia yang cantik dan polos. Dulu ia pernah hampir diculik saat dipasar dulu ia pernah ceritakan dibab sebelumnya kan?


Lalu dia juga pernah hampir dibunuh menggunakan racun oleh temannya dari sekolah, namun ia tak kenapa-napa karena putri Thea segera diobatkan oleh tabib, namun semua itu membuat orang tuanya jera, bukan hanya orang tuanya, tapi juga dengan kekek dan kakaknya Zauhan. Zauhan memang dingin, hanya saja ia orang yang penyayang dan juga keras. Jadilah putri Thea tak sekolah ditempat umum, ia skeolah dari istana saja, akan ada guru yang datang setiap harinya nanti.


Namun kehidupan semacam itulah yng membuat ia bersedih dan kesepian. Diibaratkan untuk apa burung disarang dalam sangkar emas? Sedangkan kebahagiaannya yang sebenarnya ada diluar sana. Semua orang menyukai kebebasan, bukan kekangan. banyak yang introvert dan pendiam, tapi bukan berarti ia tak suka kebebasan. Ada banyak yang suka kesunyian, namun pada kenyatananya mereka lebih menyukai kenyamanan, bukan sunyi, sepi dan gelap. Setiap manusia memiliki tempat ternyaman masing masing.

__ADS_1


Jika kamu? Tempat kenyamananmu seperti apa? Ditepat sunyi? Gelap? Sendiri atau keramaian? Jika Aku author si lebih suka tempat yang sepi dan tak sunyi, tak menyukai keramaian dan tak menyukai kemunafikan. Jujur saja, banyak manusia yang munafik dimuka bumi ini, dan disinilah yang membut aku menyukai nyanyian malam, meski tak pernah terlihat peduli, namun nyatanya aku sangat peduli. lebih baik tak terlihat ditengah malam, dari pada menjadi yang paling terlihat. Namun dibungks dengan sifat kemunafikan dan juga haus akan kekuatan.


Aku selalu pernah mendapatan seseorang sahabat tapi hanya sebentar, sahabat yang selalu berbagi dan selalu bersama, namun nyatanya sahabatku hanya sementara atau sebentar. Kalian tau kenapa mereka pergi dari hidupku? Karena mereka dihasut oleh orang lain dan bodohnya mereka percaya akan perkataan mereka, dan aku kembali sendiri, sakit? sangat sakit sii, tapi kembali bangkit dan mencari teman baru. banyak yang nyaman dan akhirnya kami dekat, tapi lagi dan lagi mereka menjauhiku dan mencari teman dan sahabat lagi. Dan aku kembali sendiri.


Ingin menangis? Aku hanya bisa menjerit dalam hati. Kalian tau alasan apa yang selalu mereka pakai dikalah aku punya sahabat? Faktanya sahabat dan teman dekatku selalu saja yang royal, baik dan bisa diajak bercanda bareng, seru dan humoris. Siapa yang tak suka akan teman seperti itu?


Mereka bilang jika dengan kebaikan dengan kerolayanku ataupun dengan semua yang aku lakukan munafik, hanya mau menjadi sok baik atau sok pahlawan. Aku hanya cari perhatian. Hahah sumpah aku ngin ketawa... apakah semua kebaikan munafik? Apakah semua perhatian itu Cari perhatian atau palsu? Tapi terkadang kita yang tulus memang selalu disakiti dan kembali sendiri.


Haaaa,, dan pada akhirnya aku tak pernah percaya akan adanya teman yang tulus. Menjadi pribadi yang selalu Friendle. Atau main sana sini, tak punya sadaran yang memang untuk disandarkan, dan tak punya pinjakan selain Tuhan. So sekarang hidupku tenang dan hanya tingal satu kata. Pembuktian jika aku bisa dan lebih baik.


Sorry curhat yey,, jika menganggu skip aja, tapi kalo bisa ambil pembelajaran ambil pembelajarannya ya... soalnya itu ada pembelajarannya ya yang punya teman, so yang punya ikat dan jaga baik baik soalnya dizaman sekarang susah banget punya temen dan sahabat yang baik dan tulus, yang bisa melindungimu dan kasih saran positip.


Back topick


“Selamat malam Wolf.. kapan kau bisa melihatku, aku ada disini Wolf. Aku ada, bukan hanya Qira..!”! Gumam putri Thea dikalah melihat Wolf yang sudah memasuki kediamanya, sudah kebiasaan putri Thea bersembunyi diantara bunga bunga disamping kediaman Wolf. Akh, dia memang sudah gila dan terlalu berharap, tak salahkan?


Dia memang sealu mengucapkan selamat malam pada Wolf ditempat ini, namun hanya diucapkan, namun tak didengarkan oleh Wolf.


Hari masih berlalu dan seperti itu seterusnya, ditengah malam putri Thea selalu menungu dan menanti Wolf, namun malam ini Wolf pulang sangat larut dan juga lama, ia mengantuk tapi rasa kantuk itu terkalahkan dengan rasa khawatir dan takutnya akan keadaan Wolf. Ia selalu mondar mandir dikamarnya, ia mengintip dijendelahnya namun Wolf masih juga belum pulang. Ya, dia selalu menungu Wolf didepan jendela, dengan ditemani angin malam dan taburan bintang, jika tak ada bintang maka ia hanya akan memejamkan mata, merasakan kedamaian malam dtemani suara serangga yang memekakan telinga. Jangkrik dan kodok.


Matanya membelalak dikalah melihat Wolf yang memeluk tubuhnya erat dan juga berjalan seperti orang yag kesakitan, orang yag menahan sesuatu membuat ia khawatir dan panik. Ia berjalan keluar dan mendekati Wolf, sedikit mengangkat rok supaya bisa loncat dari jendela. Didepan kediamanya ada prajurit dan itu artinya ia tak akan bisa bebas bertemu dengan Wolf. Ia memang selalu melakukan hal semacam ini saat ingin menemui Wolf diluar.


“Wolf. kau tidak apa kenapa ka pulang sangat malam? ini sudah hampir pagi asal kau tau..!!” ujarnya gemetar sembari menatap Wolf dengan mata yang sangat khawatir. Ia memilin jemari kejemarinya yang lain untuk mengurangi rasa gugup. Riasan kepalanya sudah ia lepaskan. Masa ia tidur megunakan rias kepala? Yang ada sekarang hanya baju tidur berwarna putih yang sedikit tipis, karena dua lapis, lalu rambut yang dikuir setengah saja, sedikit poninya ia uraikan membuat ia masih saja cantik meski gelap.


“Pergi Theaaa..!”! Suara Wolf mengigil seperti menahan sesuatu. Ia mengeratkan jaketnya karena sesak didalam dirinya, ia terlalu sesak dan ingin dilampiaskan.


Namun putri Thea masih tak pergi.. Ia mengikuti jalan Wolf dan memasuki kediaman Wolf. Ia khawatir dan ia takut Wolf sakit, bibir Wolf yang pucat membuat pikiranya melayang entah kemana. Namun Wolf tak sadar putri Thea mengikutinya, ia hanya berjalan sesekali meremas sisi sisi baju kanan dan kirinya, kakinya gemetar dan tak kuat menyangga tubuh.”Wolf kau benar benar tak apa?” Tanya putri Thea dikalah Wolf mengerang.


Wolf yang mendengar suarai Thea menjadi marah sekuat tenaga ia menahan supaya ia tak menyerang putri Thea. “Pergi Aku bilang pergi.. aku tak mau kau menjadi pelampiasanku. Cepat pergi dari sini...!!!’ Teriaknya parau lalu menggerang kesakitan.

__ADS_1


Putri Thea tak mengerti situasi, ia semakin takut dan juga khawatir akan Wolf, Sangat nampak Wolf menahan sakit dan juga frustasinya. Ia mendekat lalu memegang dahi Wolf. Sangat panas membuat ia takut ia menarik tanganya lalu memandang mata hitam Wolf yang memandangnya sendu. Wolf meremas tanganya sendiri supaya tak mencium bibir terbukanya putri Thea.


Putri The semakin mendekat dengan Wolf lalu memeluk Wolf karena takut. Ia sangat takut dan khawatr ia bahkan menangis karena melihat bibir pucat Wolf. “ Biarkan aku disini.. Hiks hiks.. Ak aku tak mau kau sakit Wolf..” Ujarnya sendu.


Wolf yang dipelukpun menjadi gelisa apalagi putri Thea yang tak mengunakan pelindung dada, ia mengenakan baju tipis dan itu mampu membuat ia panas dingin, sentuhan kulit putri Thea yang menyentu kulitnya membuat ia terasa terbakar. Akal sehat yang telah ia bina tadi sekarang sudah rusak dan juga runtuh.


“Maaf..” Gumam Wolf llau menarik dagu putri Thea, ia memiringkan kepalanya lalu mengecup bibir ranum itu dengan nafsu sedangkan putri The lemas dan juga membelalakkan mata, otaknya mendadak tak berfungsi ia bahkan lupa bagaimana caranya ia bernafas, ia menahan nafasnya lalu tak tau harus apa dan berfikir apa.


Sedangkan Wolf dengan rakusnya ia mengencup bibir manis putri Thea, ia menjadi gila, akal sehatnya sudah hilang entah kemana, ia menekan tengkuk putri Thea untuk memperdalamnya lalu mengangkat tubuh putri Thea yang kecil itu, tubuh mereka sekarang sangat menempel dan tak ada jarak diantara mereka. Bukan hanya itu, satu tangannya sudah mengerayani pungung mulusnya putri Thea saat ini.


Putri Thea mendorong dada bidangnya Wolf karena takut. “Wolf.. sadarlah,, Wolf..” Gumanya melawan, namun Wolf tak sadar lagi, ia bahkan mengambil kesmepatan dikalah putri Thea membuka mulutnya ia menyelusukkan lidahnya dan menjelajahi seluruh isi mulutnya putri Thea yang terasa manis dan berbau teh itu. Ia semakin bernafsu dan lupa akan dunia. Ia bahkan memejamkan matanya seakan otaknya sudah tak berfungsi.


“Sudahku bilang, kau harus pergi Thea... dan sekarang bukan aku yang salah..!”! Ujar Wolf bergumam, ia menahan namun tubuhnya seakan bergerak sendiri membuat ia semakin gencar, ia membawa tubuh mungil putri Thea keatas ranjangnya, tanpa melepas ciumannya ia membuka satu persatu baju putri Thea.


Sedangkan putri Theq pun sudah dibutahkan dengan cinta, ia menikmati ciman penuh nafsu itu, ia tau jika Wolf saat ini melakukannya bukan karena cinta, tapi ia menikmatinya dan measakan indahnya ciuman itu. Tanpa ia sadari bajunya sudah berserakan dilantai meningalkan kain tipis yang menerawang.


Ia gelisa dan takut, “Wolf.. Jangan..!”! Ujarnya. Ia memang mau berciuan, tapi jika melakukan itu ia tak mau, ia dan Wolf belum menikah, akal sehatnya masih berjalan dan sehat. Sedangkan Wolf bagaikan serigala lapar saat ini, ia mengela bibirnya lalu mencium setiap centi leher mulusnya putri Thea.


Putri Thea menangis karena merasa sesak didadanya, namun ia tak bisa melawan, kekuatanya Wolf lebih besar darinya, ia hanya diam dan menangis tentang apa yang Wolf lakukan padanya, ia merasa gagal dalam menjadi seorang perempuan yang berharga. Ia merasa gagal.


Kalian taulah ya apa kelanjutannya maaf nggak gambarkan secara jelas, soalnya dosa author banyak, belum tentu bisa dihapus, masa mau nanggung dosa para reader pulak.. hehe,,


Setelah Wolf melakukan itu ia terkapar dengan tertidur diatas tubuhnya putri Thea yang sudah tertidur juga, karena kelelahan, atau jangan jangan putri Thea pingsan? Ia tak tau, yang pasti ia tak sadarkan diri saat ini. mereka melewati malam yang panjang.


Paginya Wolf mengerjab dikalah mendengar suara sesegukan disampingnya, ia merasakan pening melanda kepalanya membuat ia mengerang, ia merasakan memori yang mengilas dikelapanya namun buram, ia berusaha membuka matanya dan melihat siapa yang ada disampingnya. Betapa terkejutnya ia dikalah melihat punggung mulus seorang perempuan yang ditutupi rambut panjangnya. “Siapa kau?” Tanyanya serak sekaligus membentak karena terkejut, ia bahkan melompat, namun ia kembali dikejutkan dikalah ia sadar jika saat ibi ia tak mengenakan sehelai benangpun.


Ia menelan saliva keringnya saat ini menatap tubuhnya, llau ia menatap seseorang disampingnya itu, “Ki kita. kita tak melakukan apapun malam ini bukan? “ Tanyanya gugup.


Sedangkan yang ditanya masih menangis sembari menelungkup wajahnya . Bahunya bergetar pertanda ia mangkan Putri Thea kembali menangis, bahkan tangisannya lebih keras dari sebelumnya. “Jawab..!!” Bentak Wolf keras sembari memungut bajunya, ia gugup dan takut. Nafasnya naik turun saat ini, ia berusaha memakai bajunya lalu menghadap sosok peremuan yang membuat ia serangan jantung pagi pagi..

__ADS_1


dia...


__ADS_2