Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
berangkat lagi.


__ADS_3

“Aku juga...” jawab Wolf cepat.


Kaisar Geourgue bangkit dari tahtanya. Ia menghampiri Qira. Qira hanya menatap kaisar Geourgue tanpa berucap apapun. Tangan kaisar terulur menyentu rambut Qira. Matanya senduh, ia tersenyum kecut. “Jika Shofi masih hidup. Mungkin ia sekarang sudah sebesar dirimu.” Gumamnya.


Qira tersenyum miris. Ia membiarkan kaisar memegang dan mengelus rambutnya. Kaisar emnatap Qira penuh kasih. “Apa aku boleh memanggilmu Shofia?” Tanyanya.


Qira tersenyum kecut. Ia menggelengkan kepalany pelan. Ia memegang tangan kaisar Geourgue. “Maaf. Aku tak suka dipanggil atau disamakan dengan orang lain hanya untuk mendapatkan kasih sayang!. Jika kau ingin menganggapku anakmu aku tak masalah. Tapi kau masih tetap menganggapku Qira!. Bukan Shopimu..! Dan aku akan menganggapmu ayahmu.” Jawab Qira jujur.


Kaisar Geourgue menatap Qira. Ada rasa sakit saat Qira menolak. Tapi ia juga tau jika Alasan Qira itu memang benar adanya. Siapa yang ingin disamakan dengan orang lain?, dan siapa yang ingin kasih sayang palsu?. “Terimakasih” Ucapnya pasrah.


Semua orang menatap hal itu sedih. Mereka tau jika kaisar adalah orang yang paling merasa bersalah akan kehilangan putrinya. Ia tau betapa sayangnya kaisar kepada keluarganya. Bahkan kaisar hanya memiliki satu istri. Karena memang klan serigala adalah mahluk setia dan penuh kasih akan keluarga. Jadi karena itu Wolf menyayangi Qira. Karena ia sudah menganggap Qira separuh dari dirinya...!


Acara peluk-pelukan untuk kepergian mereka sudah dilakukan. Qira dan lainnya sudah berangkat mengendarai kuda masing-masing. Tidak lupa Wolf membawa persediaan koin yang banyak Untuk mereka.


Mereka membelah jalan dengan kecepatan penuh. Sesekali mereka berhenti untuk istirat dan makan.


Saat malam tiba. Mereka memilih mencari penginapan dan pergi esok harinya. Perjelanan mereka sudah tak ada hambatan, hingga saat mereka sudah sampai digerbang menuju kota kerajaan Barat. Disana ada banyak prajurit yang menjaga dengan ketat.


Qira dan lainnya menatap itu dari atas kuda masing-maasing. Tak jauh dari gerbang. “Apa kita bisa masuk Wolf?” Tanya Qira.


“Entahlah. Tapi kita harus hati-hati.” Jawab Wolf.


Qira menggerakkan tali kekang kudanya. Ia memberanikan diri untuk masuk meskipun banyak penjaga. Ia tak ingin meninggalkan Black. Sebenarnya ia bisa masuk menggunakan ilmu peringan tubuh.


Para prajurit menatap Qira terkejut. Mereka menatap kuda Qira. Sontak membuat mereka menghalangi jalan Qira dengan tombak. “Siapa kalian?” Tanya salah satu prajurit.


Qira menatap mereka datar. Ia menghentikan kudanya. “Aku sepupu jendaral kerajaan. Kami diundang makan malam olehnya. Dan kami baru tiba dari kampung sebelah.” Ucap Qira berbohong. Ia memang sudah menyiapkan strategi, tidak mungkin ia pergi tanpa persiapan!. Ia bukan orang bodoh.


Para prajurit saling menatap. Dan tatapan mereka teralih kepada Leon dan Wolf myang menyusul dari belakang.


“Jendral mana yang kau maksud?” Tanyanya lagi.

__ADS_1


“Jendral Tamci Doken.” Jawab Wolf cepat. Ia memang mengenali jendral tersebut.. Qira menatap Wolf dan tersenyu... Untunglah Wolf mengenali salah satu jendtal, jika tidak, habis lah dia.


Para prajurit saling menatap. Mereka menganggukan kepala dan membolehkan Qira dan lainnya masuk. Qira tersenyum manis melihat hal itu. Ia menarik kekang kudanya dan membelah jalanan yang jauh lebih ramai dari desa-desa sebelumnya. Ia membawa Black pelan.


“Htai-hati. Disini banyak anak kecil dan orang-orang.” Teriak Wolf.


Qira membuka mulutnya tak percaya. Memang benar kerajaan ini sudah sangat berjaya. Jalanannya penuh dengan hiruk-piruk aktivitas. Ia mengingat beberapa hari ini. ia melewati sungai nan jerni, hutan yang masih asri dan sekarang ia menemukan kota yang sudah berkembang pesat. Disini sudah tak banyak para gelandangan. Banyak warga yang menjual hasil panen dan perhiasan. Ada yang menjual makanan dan lainnya.


“Wah. kota ini sangat luas Wolf.” Ucap Leon tak kalah tercengang.


“Iya. Lalu apa rencana selanjutnya.” Tanya Wolf.


Qira mentap Wolf. “Makan. Ayoo cari makanan.” Ucapnya cepat. “Aku sungguh penasaran dengan makanan disini. Apa makanannya sesuai selera.” Lanjutnya.


“Baiklah. Ayo kita cari kedai disekitar sini. “ Ucap Wolf. Ia menarik kekang kudanya lagi.


Semua orang menatap Qira menunduk hormat. Qira menjadi mengerutkan keningnya, ia baru sadar akan hal itu. Ia sibuk dengan suasana tanpa tau apa yang terjadi. Ia menatap disamping dan kanannya. “Mengapa mereka membungkuk sepeti itu?” Tanya Qira heran.


Kuda Qira meringik. “ Karena mereka mengira kalian adalah orang yang terhormat.” Ucapnya.


“Mengapa mereka mengira seperti itu?” Tanya Qira heran.


“Karena tak semua orang bisa menaiki ku. Dan setiap orang yang menaikiku, atau menjadi tuanku bisa dipastikan orang kuat dan berkuasa”


“Mengapa seperti itu...?”


“Karena itu tirun temurun. Apa kau tak tau aku kuda terhormat?.


Qira menggelengkan kepalanya. “Sudahlah. Kepalaku sakit memikirkannya”Black hanya meringik.


Memang benar. Semua orang mengira Qira bukan orang biasa, karena memang cerita dan fakta dari leluhur mereka.

__ADS_1


Qira dan lainnya mulai mencari kedai. Dan mereka berhenti disalah satu kedai yang besar, kedai itu memiliki 3tingkat. “Apa kau mau makan disini Qiqi?” Tanya Leon.


“Boleh. Ayoo.” Ucap Qira. Ia menuruni Black dan mengiringi Black ketempat penaruhan kuda. Begitu juga Leon dan Wolf.


Saat Qira sudah mengikat tali kudanya, ia menatap tempat penjual Aksesoris kepala. Ia memegang aksesoros rambutnya yang hanya pita kain polos. “Aku ingin pergi beli aksesoris dulu. Kalian masuklah dan pesan makanannya. Nanti aku akan menyusul.” Ucap Qira.


Wolf menatap Qira. “Apa kau masu kami menemanimu dulu Qira?”


“Atau kami menunggu saja sampai kau selesai membelinya?” Sahut Leon.


Qira menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku hanya sebentar. Pergilah masuk duluan.”


Wold dan Leon sama sekali tak ingin. Tapi dengan berat hati mereka mengiyakan dan meninggalkan Qira. Sedangkan Qira melangkah cepat menuju penjual Aksesoris itu.


Saat sampai didepan tempat itu Qira melihat-lihat aksesoris yang canti menurut baginya. Ia mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari mungilnya. Senyumnya mengembang saat melihat aksesoris rambut yang berbentuk bunga lili. Ia ingat jika bunga lili adalah bunga kesukaan ibunya. Aksesoris itu berwarna emas, dan ada permata yang berwarna putih. “Ini berapa paman?” Tanya Qira sambil menunjukan pilihannya.


Penjual pun menatap barang yang Qira minat. “Ini hanya 10koin perak saja nona, tapi jika nona mengambil satu aksesoris lagi, saya akan memberikan 15 koin perak saja”


Senyum Qira mengembang. Ia mengabil satu tusuk rambut yang disudut ujungnya ada rambaian manik-manik berwarna biru, itu sangat cantik, dan tak lupa jepit rambut bunga lilinya. “Ini paman.” Ucap Qira sambil memberi koinnya.


“Terimakasih nona.” Ucapnya.


Qira dengan semangat meletakkan jepiit itu di dekat ikatan rambutnya. Jepitan itu sangat cocok, karena rambut Qira yang biru diikat kuda olehnya Qira nampak seperti Lebih manis....


Qira melangkah menuju kedai. Matanya kesana kemari mengintip dimana keberadaan Wolf. Ia melihat penjaga yang menatap Qira heran. “Apa paman tau dimana sahabatku makan?” Tanya Qira polos.


2penjaga pintu itu mengerutkan keningnya. Mana ia tau, kedai ini bukan hanya satu atau dua orang yang makan. Tapi puluhan. “Maaf nona. Memangnya seperti apa teman nona tersebut?.” Tanya salah satu mereka.


Qira menatap mereka serius. Ia tak mau membuang waktu naik ketingkat atas atau bawah seperti kehilangan anak kucing. “Temanku dua orang pria. Mereka sangat tampan. Salah satu dari mereka menggunakan baju biru dan satunya lagi berwarna coklat paman. Rambutnya halus dan panjang, salah satu dari mereka menggunakan topi lebar” Ucap Qira panjang lebar.


Para penjaga mulai mengingat pengunjungnya. Ia menatap sekeliling ruangan. Ia tak dapat menemui ciri-ciri yang Qira maksud. Ia menatap Qira lagi. “Maaf nona. Sepertinya teman nona berada dilantai dua. Sebab lantai ini tidak ada, dan jika lantai 3itu untuk bangsawan kelas atas saja.” Jelasnya.

__ADS_1


Qira mangut-mangut mengerti. “Terimakasih paman.” Ucap Qira. Ia melangkah menjauhi para penjaga dan mulai menaiki tangga.


__ADS_2