
“Sudah berapa lama kau menikah dengan Zao?” Yuan memecahkan pikiran Qira.
Qira tersentak dari lamunannya. Ia menatap Yuan sebentar lau menatap kedepan lagi.”Entahlah.”
Yuan melipatkan dahinya.” Maksudmu?”
Qira menghela nafas.” Kau sudah berapa lama tingal disini? Mengapa tidak kabur saja?” Qira mengalihkan pembicaran. Tidak mungkin kan ia mengatakan jika ia menikah saat tidur bukan?
“Sejak lahir.” Yuan tersenyum. Namun senyumnya ada keganjaran yang menalam.
“Berarti kau dilahirkan disini oleh orang tuamu?” Beo Qira.
Yuan menggeleng.” Entahlah.”
Qira memundurkan kepalanya dan mendelik.” Maksudmu?”
“Ya aku asli disini. Entah dilahir di mana, mungkin dijalan atau dimana kan? “ Ia tersenyum jenaka. Namun memang ia tak tau, tak tau harus menjawab apa-apa. Namun sesaat setelahnya.
Slap..
Qira menarik tangan Yuan. Untunglah ia cepat. Jika tidak jantungnya sudah tertusuk oleh pisau tajam. Mata Yuan membelalak terkejut. Apa-apaan ini?
Sap.
Slap..
Lagi-lagi ada beberapa anak panah. Dengan cepat Qira dan Yuan yang sudah sadar mengelak serangan itu. Dengan cepat Qira mengeluarkan pisau dibajunya.
Slap..
Slap..
Argh..
Bug.
Bugh..
Slurhh..
__ADS_1
Dua orang jatuh dari pohon besar. Mereka adalah penyerang Qira dan Yuan. Tapi belum cukup disitu. Qira berlari meeninggalkan Yuan.
“Qira... Bahaya..!” Teriaknya melihat Qira lari dengan kecepatan penuh.
Yuan memegang dadanya yang bergemuru.” Siapa mereka?” Gumanya.
Sedangkan Qira dengan cepat ia berlari menendang apapun yang membuat pengganggu. Hinga saat Qira sudah bisa menghalangi seseorang itu. Pria berbaju hitam dengan wajah tertutup cadar. Bisa Qira tebak ia pria karena tubuhnya. Dan juga ia tak punya buah dada. “Siapa kau?” Tanya Qira dingin.
Pria itu mengeluarkan pedangnya menatap Qira tak kalah tajam.” Pergi dari desa ini jika kau ingin selamat..!” Mutlak ia memerintah Qira, namun sayangnya Qira sang gadis keras kepala dan sombong.
“Jika kami tak mau bagaimana?” Qira mendekati pria itu tanpa Takut. Bahkan matanya menyiratkan keangkuhan kental.
Pria itu menarik sudut bibir kirinya. Dengan cepat ia menyerang Qira dengan dengan pedangnya. Qira berbelok kekanan, dengan seringaian yang kejih. “Sudah lama aku tak bermain-main. Ahh, sepertinya aku butuh latihan dan merenggangkan ototku.” Qira menggertakkan lehernya kekanan dan kekiri menyebabkan suara berkerak...
Pria itu menahan emosi setengah mati saat meihat seringaian Qira. “Kau cantik, tapi sayangnya kau harus mati ditanganku.”
Qira terkekeh sinis.” Sudah ribuan kali oang berkata seperti itu padaku, tapi tak satupun yang mampu. Emmm, aku penasaran bagaimana rasanya mati ditanganmu.” Qira menjentikkan tangannya untuk menantang pria itu.
Pria itu berdecih didalam cadarnya. “Mari aku ukir lukisan diwajah cantikmu.” Pedangnya dengan cepat menyerang kepala Qira.
Dengan cepat Qira menghindar. Qira sama sekali tak menggunakan pedang atau apapun, ia menggunakan tangan kosong. Dengan cepat ia berbelok kekanan dan kekiri. Ia juga berputar dan berhenti dibelakang pria itu. Kakinya menginjak tanah dengan keras menyebabkan tanah itu mengeluarkan api dan bergelombang. Mata pria itu membelalak serta melompat, tapi sayangnya ia terpental dan menabrak pohon berduri. Pohon itu adalah pohon kapuk berduri. Membuat punggung sang pria sakit an juga berdarah. Darah itu juga keluar dari mulut an hidung sang pria itu. Namun sayangnya tertutup cadar.
Qira mendekati pria itu dan menarik cadarnyya. Namun tertahan karena pria itu masih bisa mengangkat pedangnya dan menyerang Qira, meskipun ia sudah tak bisa bangun.
Sontak Qira mundur dengan senyum mengejek. “Ternyata kau masih bisa bernafas.” Ia terkekeh.
Pria itu mencoba berdiri dembari menancapkan pedangnya ketanah, dan tangan kirinya memegang dadanya. Matanya terpejam meresapi rasa sakit yang ada. “Pergi dari desa ini.” Ucapnya lemah.
Qira terkekeh.” Kalin siapa? Yang bisa mengaturku? Dasar hama sampah.” Qira meludahi pria itu tepat kewajahnya.
Pria itu menatap Qira tajam dengan sisa tenaganya ia kembali melayangkan pedangnya kewajah Qira. dengan sigap Qira mundur dengan tsedikit terbang menggunakan ilmu angin, rambutnya diterpa angin membuat kecantikannya berlipat ganda. Pria itu terhipnotis dan tak menyadari jika Qira melayangkan satu pisau dan mengenai tepat disamping sanjungnya.
Cap..
Arghh.
Erangan kesakitan dari pria itu terdengar. Qira mendekat dengan pria itu.” Siapa yang menyuruhmu membunuhku?” Tanya Qira.
Pria itu mejamkan mata tanpa niat menjawat. Ia merosot ketanah dengan darah yang membanjiri tubuhnya. “ Bunuh saja aku. Aku lebih baik mati dari pada mengakuhi tuanku.”
__ADS_1
Qira tersenyum tipis.
Srakk
Argghh
Pisau itu Qira cabut dari tubuhnya. Qira kembali menancapkan pisau itu dijantung pria itu.
Cap..
Arghhh.
Kebali tersengar erangan kesakitan yang menggema dihutan itu. Mata Qira dingin dan juga kejam.” Lebih baik mati bukan? Aku hanya mengabulkan keinginanmu.” Ia berkedip-kedip polos.
Pria itu menahan sesak dijantungnya.” Ka ka kau pas-pasti ak-akan dibu-bu-nu ol—oleh-ke-ketu-tu-a ka-kamm-i.” Darah mulai keluar dari mata pria itu karena Qira menarik kembali pisau itu dan menancapkannya dimata pria itu.
Katakanlah Qira kejam. Tapi Qira membuat itu karena sesuatu.” Kalian lihat...! Jika kalian berani macam-mavam terhadapku. Maka kalian akan mati seperti ini..! Bahkan lebih kejam dari ini..!” Teriak Qira tegas menggema dihutan itu. Qira sadar jika permainannya ditonton oleh seseorang. Ya,, seseorang itu berada tak jauh dari sana. Sejak Qira bertarung hingga detik ini.
Sudut bibirnya seseorang itu tertarik dibalik topeng peraknya. Ia menggunakan setengah wajah saja. Entah karena setengah wajahnya rusak, atau karena apa Qira tak tau. Tapi dari setengah wajah itu saja bisa menjamin jika pria itu sangat tampan, Qira seperti merasa jika ia mengenan mata hitam pria itu. Mata elang itu membuat ia mengingat seseorang.
Tapi siapa? Ia tak tau. Mengapa ia menggunakan topeng hanya setengah? Jika ia ingin menyamar, mengapa ia tak menggunakan diseluruh wajahn ya bukan?
“Ayoo kita main-main...!” Ucapan itu dibawa angin seiring seseorang yang menghilang dibawah angin. Qira mau mengejarnya, namun ia tak bisa melacak dan mengikutinya. Pergerakannya sangat cepat.
“Sial...!” Qira mengumpat kejam. Ia tau jika ini adalah permainan seseorang. Ia yakin jika desa ini hanya pancingan untuk kaisar Zauhan. Ini musuh atau mata-mata kaisar Zauhan. Yang pasti desa ini dirusak oleh seseorang.
Dari mana Qira tau? Sejujurnya Qira mengira jika kabut asap itu berasal dari gunung itu, gunung aktiv yang masih mengeluarkan asap dan larva. Tapi ia tak bisa menemukan dan merasakan inti api sebagaimana gunung yang aktiv biasanya. Gunung ini sudah mati, hanya saja masih mengelola lahar dan larva kecil. Tak seperti gunung aktiv lainnya.
Seseorang yang tadi Qira ancam memilihi aurah sama dengan kabut asap ini. bisa disimpulkan jika seseorang itu penyebab dari desa ini. Qira memilih berbalik dan.
Bugh,,
.
.
.
.
__ADS_1