Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
Hanfu permaisuri


__ADS_3

Qira mengikuti jalan kaisar Zauhan. Matanya menatap kediaman didepannya. Ia hanya mengangkat bahu acuh.


Mereka masuk kedalam kediaman tersebut. Dapat dilihat oleh Qira sepasang paru baya disana. Satu pria yang meskipiun sudah tua masih terlihat gaga, dan satu wanita yang sudah berusia tapi kecantikannya masih terjaga.


"Salam kepada ayahanda dan ibunda.” Ucap kaisar Zauhan kepada orang tuanya.


Sedangkan Qira masih berdiri didepan pintu tanpa minat masuk lebih dalam.


“Hey menantu. Mengapa kau masih disana?” Tannya wanita paru baya, ibunya kaisar Zauhan lembut.


Qira berdecak pinggang. “Aku bukan menantumu.” Jawabnya kesal.


“Hey. Turunkan nada bicaramu. Kau seorang perempuan. Kau harus lembut dan anggun.” Sahut ayah kaisar Zauhan lantang.


Qira menatap mereka malas. Ia melipatkan kedua tangannya didada dan bersandar didekat pintu.


“Kau bisa dengar bukan jika istriku tadi menyuruhmu mendekat?” Tanya kaisar terdahulu yakni ayahnya kaisar Zauhan.


Qira melangkah mals kepada mereka. “Ada apa?” Tanyanya malas.


“Bisakah kau sedikit sopan kepada mertuamu?” Tanya ayah kaisar Zauhan. Ia menatap Qira tajam.


Qira menatap kaisar Zauhan tak kalah tajam.


“Aku belum menikah dengan ankmu..! kapan aku menjadi menantu, kakak ipar, permaisuri. Lagipulah semua itu menyebalkan.” Jawab Qira malas.


Ayah kaisar Zauhan menggelengkanh kepalanya. ‘gadis aneh’ Batinnya. “Mengapa kau tak begitu menyukai kerajaan dan pernikahan?” Tanyanya. Ia tak habis pikir akan sifat Qira. Siapa yang tak kau jadi permaisuri? Tapi gadis ini dengan mudahnya mengatakan semua itu menyebalkan.


Kaisar Zauhan menatap Qira datar. “Sudahlah. Mari kita bicarakan hal yang lebih penting.” Ucapnya memotong ucapan Qira yang belum terucap, terpaksa Qira menelan lagi penjelasannya.

__ADS_1


“Menantu. Mengapa bajumu sobek?” Tanya ibu kaisar Zauhan lembut. Memang benar. Sesudah kaisar Zauhan merobek bajubQura. Qira belum menggantinya. Ia juga tak mempermasalahkan nya.


“Ini semua gara-gara dia. Dia yang menyobeknya.” Jawab Qira sambil memanyunkan bibirnya mengarakan kepada kaisar Zauhan.


“Apa aku?” Mata kaisar Zauhan menatap Qira bertanya.


“Memang kau yang menyobeknya tadi.” Jawab Qira kesal...


Wajah ayah dan ibu kaisar Zauhan entah mengapa tersenyum malu. Mereka menatap kaisar Zauhan menggoda. “Em, putraku. Mengapa kau begitu kasar? Apa kau begitu tidak tahannya?” Tanya ayahnya.


“Tidak. Aku hanya menunjukan suatu hal kepada nya.” Jawab kaisar Zauhan datar.


“Ternyata kau sangat kasar putraku.” Sahut ibundanya.


“Memang, anakmu sangat kasar. Bajuku sobek tanpa diganti.” Sahut Qira kesal.


Ibu dan ayah kaisar Zauhan tersenyum malu menatap anaknya. Mereka mengirah jika putranya berbuat macam-macam terhadap Qira.


Qira menatap ibu Ning tajam melihat apakah dia tulus atau tidak, ternyata ibu Ning memang tulus. Qira pun tersenyum dan menurut saja. Ia tak mungkin kan menggunakan baju sobek?


Qira pergi meninggalkan kaisar Zauhan dan ayahnya. Wajah kaisar Zauhan tetap saja datar bagaikan dataran...


“Istrimu lebih cocok jadi pria anakku.” Ucap ayah kaisar Zauhan kaisar terdahulu Xienji sambil tertawa masam.


“Hm. Bahkan ia tak pantas disebut perempuan.” Jawab kaisar Zauhan.


...


Sedangkan Qira didalam kemar tersenyum masam. Ia dipakaikan gaun hanfu mewah. Tepatnya gaun permaisuri, gaun itu berwarnah merah marun bersulam emas, ada corak hitam dijubah belakang. Qira sangat memberontak awalnya, tapi ia tak tega melihat ibu Ning memelas.

__ADS_1


“Wah kau sangat cantik rupanya menantu.” Ucap ibu Ning antusias. Ia menggerai rambut Qira dan membuat jalinan rumit. Wajah Qira hanya diberi make up tipis, karena Qira selalu menolak menggunakan warna mencolok. Wajahnya sangat cantik. Hanya saja baju yang ia gunakan sedikit kebesaran.


Qira tersenyum masam menatap ibu Ning. “Hn...” gumamnya malas.


“Ayo. Suamimu sudah menunggu.” Jawab ibu Ning semangat.


“Tunggu. Aku ingin bertanya. Kapan aku menikah sebenarnya?” Tanya Qira to the pont.


Ibu Ning mengelus pipi Qira lembut. “Dua hari yang lalu. Lebih tepatnya, kau masih pingsan saat itu. Kau dinikahi putraku, karena ia sangat mencintaimu katanya.” Jawabnya. “Aku sangat berterimakasih kepadamu. Kukira putraku tak akan pernah menyukai perempuan. Ternyata aku salah.” Lanjutnya.


Qira mengaga Tak percaya. ‘What? Nikah saat pingsan? Maksudnya apa coba?’ tapi sebelum ia menjawab. Ibu Ning telah memeluknya hangat dan erat. “Ibu harap kau dapat membahagiakan putraku. Ini semua salahku, sehingga ia sangat keras dan tak menyukai perempuan.” Lanjutnya.


Qira mengernyit tambah bingung. Ia sama sekali tak mengerti jalan hidupnya saat ini. saat ia ingin menjelaskan lagi. Ia mendengar isak tangis ibu Ning pecah. “Hey. Mengapa bibi menangis.” Ucapnya.


"Jangan panggil aku bibi, panggil ibu." Jawab ibu Ning.


“Dan. Ayo kita kedepan bertemu dengan suamimu.” Ucapnya sambil melepaskan pelukannya.


Qira yang ingin menyanggah lagi, tapi tangannya ditarik paksa dan dirangkul oleh ibu Ning lembut. Qira bagaikan orang bodoh sungguhan saat ini. matanya membulat tak mengerti jalan cerita saat ini. tapi kakinya mengikuti langkah ibu Ning.


sesaat setelahnya.


“Putraku. Lihatlah istrimu sangat cantik bukan?” Tanya ibu Ning dan memamerkan Qira disampingnya.


H**ay para perindu Qira hhehe. maaf ya kakak baru bisa up. soalnya banyak kerjaan dan lagi musim uts.


karena kakak banyak liat kalian komen kangen. kakak usahain buat up. Kalian jangan lupa like, komen dan vote ya. biar kakak tambah semangat.


dan maaf karena komentar kalian nggak kakak balas. tapi kakak baca kok, bahkan komentar kalian yang bikin kakak semangat buat nulis.

__ADS_1


selamat Membaca tanpa melupakan bacaan yang wajib**....


__ADS_2