
Kaisar Zauhan mulai mencari ikan dengan cepat. Ia menombak kesana kemari.ia menatap wajah serius kaisar Zauhan. Mulai dari tadi hingga sekarang yang sama sekali tak ada prubahan, mulai dari mendapatkan ikan paling kecil sampai yang paling besar, wajahnya tetap datar.
Saat kaisar Zauhan sudah mendapatkan ikan yang menurutnya cukup. Qira membuka lapisan hanfu atasnya lalu menceburkan diri diaris.
Byur..
Kaisar Zauhan kaget. Ia baru saja menyisikkan ikannya. “Qiqi..” Teriaknya. Ia takut Qira tergelincir membuat ia juga menceburkan diri diair. Ia mencari dan mendekat dimana tempat Qira menceburkan diri.
Qira merasakan jika pinggangnya dipeluk erat membuat ia membuka matanya, matanya bertemu manik mata kaisar Zauhan membuat ia melotot. Mengapa ada kaisar Zaugan dalam air? Apakah ia mati? kaisar Zauhan menarik Qira untuk menepih kesungai.” Apakah kau tidak apa-apa?” Saat sudah dipermukaan air.
Qira mengeleng.” Aku tidak apa-apa”
“Lalu mengapa kau bisa jatuh? Kau tidak seceroboh itukan?” Tanya kaisar Zauhan mengelap wajah Qira yang basah.
“Aku hanya mandi, lagipula aku hanya ingin Membersikan diri, sejak sore aku belum mandi.” Jujur Qira membuat kaisarZauhan melotot.
Kaisar Zauhan menyentil dahi Qira.” Kau membuatku khawatir tiga kali hari ini.” Ia bergegas keluar dari air membuat Qira menganga tak mengerti.
Mengapa kaisar Zauhan sebucin ini?
Kaisar Zauhan memilih membersikan ikannya lagi dengan mata sesekali melirik Qia yang merendamkan rubuhnya diair. Kadang ia tersenyum dengan memainkan air.” Cepatlah naik. Nanti kau skait, hari sudah sangat larut.” Teriak kaisar Zauhan.
Qira tersenyum kecil sembar melihat kaisar Zauhan yang mencoba menghidup api dengan batu. Ia mendekat dengan mengelap tubunnya dengan baju yang tak basah tadi. Ia duduk disamping kaisar Zauhan.
Takk.
Dengan mendelik tangan Qira. api sudah hidup didepan matanya membuat kaisar Zauhan menghentikan tangannya diatas batu. Ia menatap Qira dengan datar. Qira hanya acuh.
__ADS_1
“Dari mana kau belajar ilmu api?” Tanya kaisar Zauhan. Ia tak peduli dengan baju basahnya. Lagipula ia menghadap api. Pastilah nanti bajunya akan kering sendiri.
“Kau tau itu ilmu api?” Tanya Qira dengan menggosok rambutnya yang basah.
Kaisar Zauhan mengangguk.” Jangan gunakan didepan orang lain. Itu bahaya.” Ucapnya pean.
“Kenapa?” Tanya Qira. ia tau, karena dulu kakek Liu juga melarangannya mengguankan sembarang tempat, ia takut Qira menjadi incaran semua orang karena kemampuannya.
“Apakah kau masih dingin?” Alih alih menjawab, kaisar Zauhan mengalihkan perkarah.
Qira medelik tapi tetepa mengangguk. Ia lebih merapatkan diri didekat api ungun. Kaisar Zauhan hanya diam. ia juga dingin. Bajunya basah karena kesalah pahaman Qira tadi. Tapi sama sekali tak ada penyesalan didadanya.. Ia senang bisa merasakan dingin yang sama dengan Qira rasakan..
“Ini makan ah..” Kaisar Zauhan memberi ikan yang paling besar yang usai ia bakar.
Dengan senang Qira menerimanya. Tapi sebelumnya ditarik lagi oleh kaisar Zauhan membuat Qira menyatukan daihinya.” Kenapa diambil lagi?” Tanyanya sembari mengulas perut datarnya.
Kaisar Zauhan mendekati Qira yang tak jauh darinya. “Bukannya kau tak bisa makan ikan yang ada tulangnya, sini aku suapi saja.” Ia menyuir daging ikan itu, tapi sebelumnya ia mengelap tanganya dengan ujung bajunya. Lalu meniup ikannya.
Emangnya dia gadis manja?
Kaisar Zauhan menjauhkan ikan yang hampir Qira ambil” Aku tak mau kau ketulangan. Bukannya kau bilang sendiri dulu jika kau tak bisa makan ikan tanpa tulang? “ Ketus kaisar Zauhan.
“Tidak. Aku bisa kok..!,” Qira merebut lagi ikannya tapi kali ini dibiarkan saja oleh kaisar Zauhan.
Qira memakan ikannya tampa ba bi bu lagi. Ia sangat lapar.”Enakk..” Gumam Qira sembari memakan lahapan pertama, meskipun tak diberi banyak bumbu, tapi ini tidak anyir ataupun pahit. Pas dilidahnya.
Uhuk uhukk..
__ADS_1
Qira terbatuk beberapa kali karena tertelan tulang karena terlalu terburu-buru makan membua kaisar Zauhan menaruh kembali kan yang ia bakar.” Kan sudah ku bilang. Kau sangat keras kepala,” Ucapnya sembari mengelus tengkuk Qira.
“Min minnum..” Ucap Qira. matanya telah berair saat ini.
Dengan cepat kaisar Zauhan menuju sungai dan mengambil air ditanganya. Ia menampung dua tangan sekaligus lalu membawanya kedepan Qira. air semakin lama semakin sedikit membuat kaisar Zauhan mengarahkan tangannya langsung kemulut Qira.” Minumlah..”
Tak tau air apa Qira langsung meminumnya. Bibir tipisnya menyentu telapak tangan kaisar Zauhan membuat kaisar Zauhan menahan nafas. Ia takut jantungnya jatuh didepan Qira.
Qira mengurut tenggorokannya setelahnya karena masih merasakan tulang itu masih nyangkut membuat ia tak nyaman.” Sini aku bantu.” Dengan tangan yang masih basah itu menguruti tengorokan Qira membuat manik matanya bertemu dengan manik mata kaisar Zauhan.
Ini tidak baik untuk dua jenis kelamin yang berbeda ini. mati muda lama-lama jika harus sedekat ini lama-lama, tapi tengorokan Qira terasa nyaman dan enak diuruti oleh kaisar Zauhan.”Apakah masih sakit hm?” Tanya kaisar Zauhan lembut.
Qira mengeleng membuat ia salah tingkah sendiri. Lintasan ingatan kaisar Zauhan menciumnya dulu terngiang dikepanaya membuat ia mengelengkan kepala pelan untuk mengusir pikiran kotornya itu.
Kaisar Zauhan mengambil ikan yang Qira makan tadi lalu mencuilnya. Ia memberikan daging yang sudah ia jauhi durinya, sebenarnya tidak lebay... tapi memang ikan sungai itu banyak tulangnya dari pada ikan lautan. Apalagi tulangnya itu berada didalam daging dan tersembunyi.” Biar aku menyuapimu, aku tau kau masih sangat lapar.” Ucap kaisar Zuhan lembut. meskupun wajahnya datar.
Qira mengigit bibir bawahnya lalu menatap ikan yang digoyangkan didepan mulutnya. Ia menerima saja lalu mengunya kecil.” Terimakasih. Tapi aku bukan gadis manja. Ingat itu.” Ketus Qira sembari menyingkirkan rasa dag dig dug der didadanya.
Kaisar Zauhan tersneyum tipis melihat Qira masih dengan keangkuhannya.” Kau bukan gadis manja ya..” Ia mengangguk membenarkan.
“Emang..” Tutur Qira mengangkat dagunya tanpa tau jika kalimat kaisar Zauhan tadi itu adalahasih mengunya makanannya. godaan.”Kau tak makan?” Ia masih memakan makannya, sedangkan kaisar Zauhan menipis bibirnya lalu mengelap ujung bibir Qira yang ada daging ikannya. Ia memperkakukan Qira sangat lembut.
“Jika kau sudah kenang maka aku juga akan kenyang.” Ucap kaisar Zauhan.
“Mengap begitu? Perut kitakan terpisah.” Qira bercicit.
“Kita memang ditakdirkan beda tubuh, tapi asal kau tau, jika bahagiamu adalah bahagiaku, senyummu adalah senyumku. Karena itu, jika kau kenyang maka aku akan merasakan apa yang kau rasakan.” Kaisar Zauhan membicarakan hal seperti itu saja masih dengan wajah biasa saja. Bagaikan hal yang biasa baginya.
__ADS_1
Wajah Qira memerah. Ia mau tersenyum tapi gengsi.” Kau gombal..” Gumamnya.
“Gombal?” Beo kaisar Zauhan. Bahasa apakah itu? Batinya.