
Mata Qira menatap mereka tajam, tangannya memegang pedang erat, sangat erat. “Siapa kalian sebenarnya?” Tanya Qira tegas.
“Hahah. Manis. Aku tak menyangkah jika kau sangat hebat... puk puk puk. Tapi sayangnya kau harus mati ditangan ku.” Pria asing itu bertepuk tangan mengejek. Ia bahkan menatap Qira dengan tatapan sinis dan sombong. Padahal Qira tau jika pria didepannya ini sangat takut.
“Siapa kalian?” Tanya Qira lagi saat tidak menemukan jawaban.
“Kau tak perlu tau siapa kami. Yang perlu kau tau, kau terlalu masuk kedalam lingkara hitam kami. Dan itu artinya. MA-TI.” Ia meneken kalimat terakhir disini.
Qira menatap pria asing itu. Ia fikir perdana mentri laknat itu kepala mata-mata. Ternyata ia salah, pria didepannya ini sepertinya memiliki kasta yang lebih tinggi. Ia juga berfikir jika mata-mata dikerajaan ini bukan hanya satu tapi lebih, jumlahnya? Belum bisa dipastikan. “Baiklah....” Jawab Qira tenang, tapi tetap siaga satu. “Maka sebelum kalian membunuhku. Aku akan pastikan jika tangan kalian putus.” Lanjutnya datar.
“Ayo kita mulai...” Lanjut Qira menantang.
Sudut bibir pria itu tertarik keatas. Ia mengangkat tangan kanannya isyarat untuk maju. Semua orang disana mengangkat pedang masing masing dan mulai maju untuk menyerang Qira.
Qira tak bisa melawan tanpa menggunakan ilmu angin atau ilmunl apinya. Lawannya bukan hanya satu tapi puluhan. Akan memakan banyak waktu. Ia mulai menghentakkan kakinya untuk mengambil ancang-ancang mengeluarkan ilmu angin. Tapi tak ia sangka ada seseorang yang melompat entah dari mana dan langsung memeluknya.
Mata Qira membulat. Siapa dia? Apa dia salah satu dari pembunuh?, tubuhnya dibawah untuk berputar disana. Tangan kekar itu memeluk pingang rampingnya erat.
Saat ia sudah berada didaratan kembali, seseorang itu hanya mengibaskan baju kebesarannya dan membuat beberapa dari mereka terpental, bahkan ada yang terkapar dengan tubuh yang penuh dengan darah. Tak hanya disitu, ia juga mengambil salah satu pedang dari perajurit mati dan mulai menebas para pembunuh itu secara berutal. Sekali tebas akan menghabiskan beberapa dari mereka. Dengan mengerahkan aurah semua terpental beberapa meter. Ada satu pria juga yang membantunya.
Qira hanya mentap seseorang itu datar tanpa niat membantu. Siapa yang menyuruhnya membantu? Bukannya ia tak mau berterimakasih, tapi ia sangat malas yang namanya berhutang budi. Tak semua orang baik dan menganggap hal itu bukan hutang budi. Tapi ada banyak juga yang akan memintah lebih bukan?
“Kau tidak apa-apa?” Tanya seseorang itu saat semua terkapar dan menyisahkan perdana mentri Hiyuang bergetar hebat dan satu pria asing yang tak kalah ketakutan. Tubuh mereka sma sekali tak bisa bergerak saat ini. Ditambah luka dimana mana.
Qira hanya bergumam dingin. Tanpa mau berdebat atau mengucapkan terimakasih, Qira memilih untuk mendekati perdana mentri Hiyuang. Qira menepuk pelan pipinya dan tersenyum. “Terimakasih karena sudah mengeluarkanku dari penjara ini.”
Seseorang yang membantu Qira itu menatap Qira murka. Bagaimana bisa ia tak menghargai usahanya. Tapi bukan itu yang terpenting saat ini. Ia mengikuti langkah Qira. “Beraninya kau memata-matain kerajaanku.” Ucapnya dingin dan tajam.
Perdana mentri Hiyuang bergetar hebat. “Am ampun yang mulia. Ham hamba bukan mata-mata ini salah paham. Putri Ming Zu lah mata-mata sebenarnya.” Jawabnya membalikan fakta.
Ya seseorang itu kaisar Zauhan. “Berani kau melempar batu pada istriku? “ Teriaknya. Ia mencengkram erat pedang penuh darah ditangannya. “ Ren...” Teriaknya lagi.
Seseorang pria yang tak asing dimata Qira mendekat. Dia adalah pria yang membantu kaisar Zauhan tadi. “Ampun yang mulia. Apakah ada yang bisa hamba bantu?” Tanyanya.
“Bawah dia ketahanan beserta keluarganya. Cambuk menggunakan Lumburan garam sampai mati.” Perintahnya tampa hati.
“Ma maafkan hamba yang mulia. Hamba tidak bersalah, ampuni hamba...” Sungguh tubuhnya saat ini bagai diterjang badai dikalah keluarganya harus mati secara mengenaskan.
“Siapa yang memerintahkanmu?” Tanya kaisar Zauhan lagi. Rahangnya semakin mengeras menatap perdana mentri Hiyuang.
“Yaa---“
“Hiyuang.... tutup mulut busukmu itu.” Teriak pria asing yang berada disana. Matanya merah menatap perdana mentri Hiyuang.
Kaisar Zauhan mendekatp pria asing itu dan.
Clap...
Arhh..
Ia memotong satu tangannya. Sontak pria itu meringis perih dan terduduk ditanah. “Siapa yang menuruh kalian?” Bentaknya lagi.
“Yang mul---“
“Hiyuang diam...!” Teriak pria asing itu disela-sela meringis pedih. Cih ia sungguh setia terhadap tuannya bukan.
Clap...
__ADS_1
Clap..
Argh...
Dibalik pohon besar ada beberapa anak panah yang menancap ditubuh perdana mentri Huyang dan pria asing itu, sehingga membuat mereka mati ditempat.
“Siall...” Umpat kaisarZauhan saat melihat kedua orang itu meninggal. Sedangkan Ren tanpa disuruh pun telah mengejar orang dibalik kematian mereka. Sedikit saja, kaisar Zauhan tau, dugannya benar atau salah. Lagi-lagi ia harus menahan.
Qira menghela nafas menatap kaisar Zauhan. Seharusnya ia membunuh pria sialan itu dulu baru menegosiasi dengan perdana mentri Hiyuang. Ia menggelengkan kepalanya dan berjalan pegi meninggalkan kaisar Zauhan yang frustasi.
Mata kaisar Zauhan memancarkan emosi. Saat melihat Qira hendak pergi tangannya dengan cepat mencekal tangan mungil Qira. “Kau mau kemana?” Tanyanya tegas.
Qira membalikan badannya serta mendongak menatap wajah kaisar Zauhan yang jauh lebih tinggi darinya. “Pergi.” Jawabnya singkat, padat dan jelas.
Kaisar Zauhan menatap Qira dalam, lalu matanya beralih menatap lengan Qira yang bajunya sobek karena tebasan pedang membuatnya tak suka. “Kau mau pergi kemana? Dan kau sedang terluka.”
Qira menepis tangan kaisar Zauhan yang mau menyentu kulit berdarahnya. “ Urusan kita sudah selesai. Aku sudah mengungkapkan mata-mata sebenarnya dan aku bukan mata-mata. Jadi aku akan pergi dari sini.” Ucapnya dingin.
Pergi?.
Kaisar Zauhan tak menyukai kalimat itu. Ia tak mau kalimat itu kembali terngian difikirannya. Cukup satu orang yang paling ia sayang dulu saja mengatakan hal itu, jangan lagi...! tapi siapa dia? Orang yang menuduh seorag gadis sembarangan dan memintanya ada disisinya dalam satu minggu terakhir.
Tepat jika digabungkan dengan pertemuan saat dikedai hanya dua minggu. Dari pertama mereka bertemu membuat kaisar Zauhan memikirkannya setiap malam. Qira bahkan dengan lancangnya terus mengusik ingatannya. Mengapa ia memikirkannya? Lalu mengapa ia tak ingin gadis dingin ini pergi? Gadis ini terlalu dingin jika dibandingkan gadis lain. Bukankah ia tak menyukai seorang perenpuan seperti rumor beredar? Cek, fikirannya bercabang kemana-mana membuat ia membisu.
Tapi tangannya kembali merangkul tubuh mungil Qira kedalam pelukannya. “Jangan pergi.” Ucapnya secara sepontan.
Qira memutar bola mata malas. Ia melrtakkan tangannya didepan dan menumpukkan tangannya didepan dada untuk memisahkan jarak antara dirinya dan kaisar Zauhan. Kaisar Zauhan adalah orang yang ia hindari, karena apa? Karena ia tidak tau apa isi kepalanya dan tak tau seberapa kuat pria ini. ia tak mau jatuh dilubang yang sama. “Lepaskan aku. Aku bukan istrimu. “ Ucapnya serta menggeliat untuk terlepas.
“Kau masih memiliki tugas untukku.” Ucap kaisar Zauhan .
Kaisar Zauhan tak mau lagi menjawab. Ia menarik tangan Qira paksa untuk pergi. “Kau mau membawaku kemana?” Tanya Qira disela meronta untuk melepaskan cekalan tangan kaisar Zauhan ditangannya.
Sayangnya tangan kaisar Zauhan terbuat dari baja. Sangat kuat, apalagi tangan mungil Qira sangat mudah digenggam dalam taangan lebar nan kokoh kaisar Zauhan. “Tanganmu terluka. Biarkan kita mengobatinya terlebih dahulu.” Jawabnya lembut.
Qira mendadak tersenyum sinis mendengar kaisar Zauhan selembut itu. Ia hanya menggelengkan kepala. Bukan.. bukan karena ia sudah jatuh cinta. Tapi bukankah selama ini kaisar Zauhan selalu berbicara kasar dan tegas terhadap dirinya?
Sesaat mereka dijalan menuju kuda hujan melanda mereka. Membuat kaki kaisar Zauhan tercekat. “Hujan....” Gumamnya. Ia melirik Qira yang hanya memasang wajah dingin sedari tadi. Jika ia nekat untuk menerobos hujan ia berfikir . pasti Qira akan merasakan tangannya yang kuka sangat perih. “Kita kembali gubuik.” Lanjutnya.
Qira memberontak. “Tidak mau. Aku harus pergi.” Ucapnya tegas.
“Aku tidak suka dibantah!” Bentak kaisar Zauhan.
“Dan aku tidak suka diperintah.” Bentak Qira tak kalah tegas.
Kaisar Zauhan menatap mata dingin Qira. Apa yang dilewati gadis ini sehingga tembok pelindungnya begitu tebal? Apakah kekuasaan dan tathnya tak merobohkan kekuatannya? Atau ketampanan dirinya yang selalu menjadi buah bibir bagi kaum hawa? Kehebatannya yang membuat semua orang bersujud didepannya? Mengapa semua itu tak berlaku dan membuat semua itu semakin kokh untuk gadis kecil didepannya ini? tapi dengan sifatnya seperti ini membuatnya tertarik peda perempuan. Ya perempuan ini sangat kuat, beda dengan perempuan yang lemah dan mudah tergiur atas tahta dan ketampanan dirinya. “Aku tak memerintahmu. Aku hanya memberimu peringatan.” Jawab kaisar Zauhan.
“Aku tak butuh itu semua. “ Jawan Qira.
Hujan mengguyuri tubuh mereka ditengah mayat yang bergeletak ditanah. Air hujan membasahi tubuh mereka. Bulir-bulir suci hujan memenuhi wajah Qira menyebabkan wajahnya semakin mempersona. Sedangkan kaisar Zauhan masih mencekal tangan Qira erat dengan sorot mata tak bisa diartikan. Dengan menggunakan jubah kebesarannya dan mahkota kecil yang mengikat rambut panjangnya. Membuat pemandangan itu sangat manis sekaligus mengerikan.
Tangan kaisar Zauhan bergerak mengelus wajah Qira yang dipenuhi air hujan. “ Dasar gadis keras kepala.” Gumamnya.
Lagi-lagi Qira menepisnya. “ Sudahlah. Jangan mengangguku.”
Kaisar Zauhan tanpa banyak berucap merangkul tubuh mungil Qira kedalam pelukannya dan berlari memasuki gubuk tempat Qira membunuh para rombongan perdana mentri Hiyuang tadi. “Diam lah. Kau basah, nanti kau sakit lagi.” Ucap kaisar Zauhan sembari melepaskan jubahnya dan meletakkan ditubuh Qira. QIra tentu saja menolak, tapi mata kaisar Zauhan menyiratkan ancaman yang mendalam.
“Kau harus menurutiku. Jika tidak teman-temanmu lah yang akan menerima akibatnya.” Ancam kaisar Zauhan.
__ADS_1
“Kau mengancamku?” Qira menaikan satu alisnya sembari bertanya.
Kaisar Zauhan terkekeh.” Sepertinya dengan begitu kau menurutiku.” Jawabnya. Intinya ia tak mau Qira pergi sebelum ia memutuskan gadis ini pergi.
Qira hanya diam jika menyangkut teman-temannya. Apa yang harus ia lakukan jika mereka diserang? Mungkin Qira bisa melawan menggunakan ilmu api atau angin. Tapi bagaimana teman-temannya? Cih, ia tak mau semua hal buruk menggerogoti teman-temannya.
Kaisar Zauhan tersentum tipis saat Qira tak menjawab atau menolak. Ia baru tau jika kelemahan Qira adalah teman-temannya. Kaisar Zauhan mulai merobek baju bawahnya dan mengikatnya ditangan Qira. Saat Qira ingin menjawab ia segera memotong. “Diam dan angkat tanganmu.” Ucapnya dingin.
“Tidak perlu. Ini sama sekali tak sakit.” Jawab Qira santai.
Kaisar Zauhan mengangkat satu alisnya. Tanpa mau mendengarkan ucapan tak masuk akal Qira. Siapa yang tak sakit jika terluka? Siapa yang tak merasa perih saat terkena sayat? Hanya dewa saja tau..! Ia tak tau jika Qira mengembangkan ilmu api dan angin.
Qira hanya memutar bola mata malas saat kaisar Zauhan masih mengangkat tangannya dan mengikat kain disana. “haha. Jangan menyentu tekiakku. Geli..” Ucap Qira merasa geli saat kaisar Zauhan menyenggol tekiaknya dan berniat mengikat kain disana.
Kaisar Zauhan menatap Qira terperangah. Ia baru kali ini melihat tawa begitu lepas. Ia bahkan lupa jika ingin mengkat luka Qira. Sungguh tawa Qira snagat mengusik hatinya.
“Hey jangan memegang tekiakku.” Teriak Qira sembari menahan geli. Ia sangat geli jika area sensitif. Seperti ketiak, paha, perut.
Kaisar Zauhan tersenyum lagi. Ia baru tau suatu hal untuk membuat Qira tertawa. Setidaknya ia bisa marasakan bagaiamana rasanya jika Qira tertawa karena dirinya. Sungguh konyol bukan?
“Qira.... apa kau disana?” Suara seseorang dari seberang pintu membuat Qira maupun kaisar Zauhan menatap kearah pintu yang sudah rusak.
“Hey. Leon, aku disini..” Teriak Qira. Ia sangat tau suara itu meskipun ditutup suara hujan.
Leon masuk dengan baju yang basah. Matanya membelalak saat melihat banyaknya mayat. Ia memasuki gubuk ini karena ia melihat didepan banyak mayat. Ia sangat khawatir akan Qira. Sungguh ia sangat khawatir.
“Apa kau baik-baik saja Qira?” Tanya Leon lembut. ia memegang bahu kanan dan kiri Qira lembut.
Qira tersenyum lalu mengangguk. “Aku baik-baik saja. Kau tak lupa bukan jika aku kuat. “ Qira terkekeh kecil.
Leon tersenyum manis lalu mengusap wajah Qira. Qira tak sadar jika diwajah Leon yang banyak air hujan terselip air matanya. Siapa yang tak takut kehilangan ketika melihat dihutan ada mayat yang hangus saat ia tau jika satu-satunya orang yang bisa melakukan sahabatnya? Siapa yang tak akan jantungan ketika melihat mayat berserakan dengan tebasan yang sangat sadis?
Dada Leon terasa sangat sesak melihat itu semua. Fikiran kotornya menjalar kemana-mana. Ia sangat merasa bersalah karena membiarkan Qira menghabisi mereka sendirian. Sungguh ia sangat sakit dan khawatir. Air matanya turun mengalir deras. “Jangan pergi lagi dari kami. Aku sangat mencemaskanmu Qiqi.” Gumamnya sambari mengusap wajah Qira dengan jempolnya. Air matanya bersatu dengan air hujan yang masih melekat diwjahnya.
Qira tersenyum lembut. “Tentu... Akuu menyayangi kalian.” Ucap Qira.
Leon seakan lupa jika ada orang lain disana. Ia sangat merasa bahagia saat tau jika Qira baik-baik saja. Majukan bibirnya dipelipis Qira.
Cip..
Ia mencium pelipis Qira. Tapi sayangnya telapak tangan kokoh kaisar Zauhan menutupi pelipis Qira saat bibir itu hampir menyentuhnya. Mata kaisar Zauhan membolah merah menatap Leon. Sungguh ia tak suka akan hal ini.
Leon dan Qira menatap kaisar Zauhan kaget. Apa-apaan ini? Begitulah pertanyaan yang tersirat dimata mereka.
.
.
.
.****Yuhuuu Qira Come Back. Eh jangan.marah hanya 2eps. isinya bahkan lebih dari 3eps sebenarnya. tapi memang disengaja dibuat 2eps karena males memakan banyak eos hehe.
jujur author kok...
jangan lupa Like. komen dan vote okay....
semangat beruasanya ya...,😇**
__ADS_1