Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
kisah Miris


__ADS_3

Setelah mereka selesai makan, mereka melanjutkan perjalanan menuju kedesa hujan. Dengan Ren yang selalu mengikuti dari belakang dan Qira masih berkuda dengan kaisar Zauhan.


Tapi saat diperjalanan Qira melihat ada banyak anak kecil yang merintih dibawah pohon. Ada sekitar14orang disana. Baju mereka kumal dan compang-camping membuat Qira kasihan. “Berhenti..” Ucap Qira cepat kepada kaisar Zauhan.


Kaisar Zauhan mendadak menarik tali kekang kudanya untuk berhenti. Keningnya berlapis menjadi tiga kerutan. “Ada apa?”


Qira meminggirkan tangan kaisar Zauhan yang masih mengurungnya disela-sela tali kekang kuda. Tapi kaisar Zauhan Masih setia dengan ketetapannya tak mau melepaskan Qira begitu saja. “Aku mau kesana sebentar.” Ucap Qira setidik sebal.


Kaisar Zauhan melihat arah bibir Qira yang ia majukan seakan menunjukan arah tujuannya. Ia melihat beberapa anak yang tak terawat. “Memangnya kenapa? Apa mereka adik-adikmu?” Tanyanya heran.


Qira berdecih pelan tak percaya kaisar Zauhan begitu apatias. Qira menepis tangan kaisar Zauhan lalu melompat untuk pergi. Tentu saja kaisar Zauhan tak mampu menahannya. “Jika aku bilang kesana ya mau kesana. Tak ada alasan bagiku untuk kesana.”


Kaisar Zauhan berdecap sebal sebentar. Ia terpaksa turun dari kudanya lalu mengikuti Qira yang sedikit jauh darinya. Ia malas untuk mendengarkan kata-kata pemberontakan Qira. bisakah Qira sedikit lembut kepadanya? Karena dari pertemuan pertama sampai sekarang Qira tak pernah bercap lembut dari hati. Tapi ia suka.


Qira mendekati anak-anak itu. Tapi sebelumnya ia membelikan roti pada penjual yang tak jauh dari sana. Ia membeli puluhan roti yang dibungkus dengan keranjang ayaman daun pandan. Disini memang tak ada plastik. Ia mendekati anak-anak yang sudah beringsut ketakutan saat melihat Qira. “Hallo.. “ Ucap Qira ramah.


Anak-anak itu saling memeluk satu sama lain membuat Qira tak mengerti. Mengapa mereka sangat takut. “ Jangan takut. Kakak bawa makanan lo.” Qira berusaha berkata lembut dan ramah. Memaklumi anak-anak ini, ia jadi teringat pertemuannya dengan Ele dan Eul. Ahh, apa kabar mereka ya?


“Kakak jangan jual kami. kami nggak mau dijual..” Suara itu dari anak laki-laki yang paling besar.umurnya sekitar 15ahun berselisih satu tahun dibawah Qira membuat Qira tercengang. Tubuh mereka kurus dan memiliki banyak luka.

__ADS_1


Qira menatap anak itu sebentar. Lalu menatap anak-anak lainnya. Ahh, ia bari sadar jika mereka itu sudah berumur diatas 11tahun semua, hanya saja tubuh mereka tak terawat, ditambah mereka sangat kurus dan kurang gizi membuat Qira bersyukur akan kehiupannya. Setidaknya meskipun ia tak memiliki kasih sayang orang tua. Ia masih memiliki harta yang berlimpah ruah. “ Kakak nggak mau jual kalian. kakak Cuma mau makan bareng kalian.” Qira mengedipkan mata beberapa kali dengan wajah polosnya. Dengan sedikit senyum tulus supaya mereka luluh.


Mata mereka berkedip penuh binar, tapi rasa takut mereka menguasai diri mereka. Mereka saling pandang untuk meminta persetujuan satu sama lain. Qira sadar apa yang mereka lakukan membuat dirinya sedikit tersinggung. Apakah wajahnya seram? Bukankah wajahnya cantik? Tapi bukan itu yang membuat mereka takut, tapi kenangan dan tragedi yang mereka alami yang membuat mereka berhati-hati dalam mempercayai orang lain. “Beneran kok. Ini nggak ada racunnya.” Qira mengambil satu roti dan memakannya dengan kasar. “Tidak adou racounnyou kan?” Mulutnya penuh dengan roti membuet pipinya gembung.


Mereka tertawa kecil menatap Qira yang menggemaskan. “Tapi mungkin kakak menaburnya dimakanan lain.” Ucap salah satu aak yang masih belum percaya.


Qira menghembus nafas pelan lalu menelan roti yang ia kunya. “Apakah wajah kakak seperti penjahat?” Qira berkedip diedit beberapa kali.


Mereka menggeleng kompak. “Lalu apa yang kalian takutkan? Tak semua orang itu jahat kok. Aku Cuma mau makan bersama kalian, aku tau kalian laparkan?” Tanya Qira. sepertinya sedikit sulit memenangkan hati yang terlanjur tak mempercayai orang lain.


“Aku mau. Aku lapar kak, kakak cantik kok.” Salah satu anak perempuan maju dengan santainya, tanpa mempedulikan anak lain yang menatapnya tajam. “Meskipun itu ada racunnya, aku akan mati dengan cepat. Setidaknya aku tidak mati kelaparan.” Ucapnya pasrah.


Qira terkekeh sembari memberi roti kepada anak itu. Anak itu menerimanya, dan langsung memakannya. Matanya membulat dan kembali memakannya secara kasar. “Enak sekali rotinya kak.” Ucapnya disela-sela makan. Sepertinya ia sangat kelaparan.


Dengan senyum tulus Qira membagikan roti pada mereka satu-satu. Tak lupa ia memakan roti yang ia gigit tadi. Mereka makan penuh khidmat. Ahh, mata mereka bahkan menunjukan penuh syukur dengan tulus. Bahkan mereka menelan roti itu dengan kasar, dapat dilihat dari tenggorokan mereka yang mengalirkan makanan yang besar. Ahh, mereka kelaparan ternyata. “Enak. Makasih kak.” Ucap anak perempuan lainnya.


Anak laki-laki yang paling besar itu berhenti memakan roti. Ia menatap Qira penuh penyesalan. “Ma maafkan kami kak. Kami bukannya tak mau menerima kebaikan kakak. Tapi kami takut jika kebaikan kakak memiliki maksud tertentu.” Ia menunduk penuh penyesalan. Ia cukup bahagia menatap teman-temannya yang sudah ia anggap adik itu memakan roti penuh khidmat.


“Iya ka” Anak perempuan yang paling besar, mungkin usianya juga 14 tahun. Ia menatap Qira dengan raut bersalah. “”Kami takut kakak dari rumah budak. Kami tak mau kembali kesana.” Lanjutnya.

__ADS_1


Qira menatap mata anak itu. Ia membaca pikirannya. Disana terlintas tragedi anak itu diperkosa beberapa orang setiap hari. ia dicambuk dan juga ditendang. Mereka diculik dari rumah orang tuanya dari berbagai daerah oleh orang lain, kemudian dijadian budak sahaya yang harus nurut dan patuh. Mereka bisa pergi dari penyekapan itu karena rumah itu kebakaran. karena kebakaran itulah mereka bisa kabur. Untunglah mereka bisa kabur, ada ratusan anak lainnya yang maish tertingga dirumah itu mati dengan mengenaskan membuat mereka meradang dan ketakutan. Sampai pada hari ini sudah lebih dari dua hari mereka belum menemukan makanan dan tempa tinggal. Ahh, Qira rasanya mau menangis saat ini. apakah dunia sebegitunya tidak adil. Bagaimana bisa anak kecil didepannya ini sudah hancur lebur, bahkan para anak pria dijadikan bahan mainan para penjaga disana. Ya kalian taulah maksud dari mainan mereka, dengan cara bermain sesama laki-laki membuat para pria tak lagi memiliki harga diri. Sunggu psikis mereka sudah terganggu.


Qira menelan air liur serta mengaihkan pandangannya ketempat lain. Sunggu ia tak sanggup melihat kenangan buruk mereka. Bayangkan saja dengan umur dibawah 14tahun mereka sudah rusak bak fikis maupun fisikis. Qira berdiri dari duduknya sembari mengeluarkan sekantung emas dari balik bajunya. “Ini untuk kalian. kalian bisa mencari rumah dan membuat usaha dengan koin ini.” Ucapnya. Ia tak mau membuat suasana hatinya menjadi buruk, ia sudah lama tak menangis.


Mereka mengerjap menatap Qira. “Tidak usah kak. Kami tak bisa mengembalikannya nanti.” Jawab pria yang paling besar.


Qira menggeleng.” Kalian cukup mengembalikan koin ini dengan cara hidup lebih baik lagi. Kalian ukup hidup dengan lebih baik dan lebih layak.”


Mereka memandang satu sama lain lagi. Ahh, mereka menyesal telah membuat Qira menyesal. “Ta-“


Qira memberi kantung itu pada pria yang paling besar. “Ini harus diterima.” Potongnya.


Mereka tersentumm diblik rintik hujan dimata mereka. “ Makasih ya kak.”


Qira tersenyum lembut. “Iya.” Ia tak berani mengelus kepala mereka sayang. Padahal tangannya sudah gatal.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2