
“Ayolah. Aku ingin melihat Qira.” Ucap Xian Lii.
“Besok pagi.” Ucap Leon dan langsung menutupi pintu mengabaikan rengekan keluarga Qira. Ia kembali keatas kasur dan pergi menemui mimpi yang sempat tertunda.
.... besok pagi....
Qira mengerjab-ngerjab matanya saat sinar matahari berperang kepada kantuk yang menguasainya. Ia membuka matanya, saat ingin bangkit ia dapat merasakan tangan seseorang melingkar diperutnya. Hal itu membuatnya menoleh kekanan dan mendapati Leon yang masih terpulas.
“Nampaknya Leon tak cukup tidur malam tadi.” Gumam Qira. Memang benar, Leon Selalu berjaga takut-takut Qira demam atau membutuhkan sesuatu. Qira bangkit dari kasur dan melangkah masuk kedalam kamar mandi. Shu Jin yang biasanya menyiapkan peralatan Qira sekarang berada dikedai milik Qira untuk mengatasi bisnisnya.
Saat ia telah selesai dengan urusan mandinya ia melangkah menuju pintu. Ternyata didepan pintu terdapat Leon yang menunggunya dengan raut wajah khawatir. “Qira. Apa kau masih sakit?” Ucapnya saat melihat Qira keluar dari kamar mandi.
Qira bahkan lupa jika dia terluka kemarin sore. Ia meraba lehernya, sama sekali tak merasakan apapun. “Tidak. Bersiaplah Leon, kita akan pergi pagi-pagi sebelum matahari bertandang besok. kau tidak lupa bukan?” Ucap Qira.
“Tapi. Tidak sebaiknya kita tinggal disini Sementara waktu saat lukamu sudah sembu.” Ucap Leon
.
Qira menggelengkan kepalanya dan melangkah melewati Leon. “Tidak Leon. Kita akan pergi menemui Chao dan Chio setelah ini. Pergilah bersikan tubuhmu.” Ucap Qira. Leon hanya mengangguk dan melangkah menuju pemandian.
Qira melangkahkan kakinya untuk menghirup udara segar didepan kediamannya. Ia melangkah kecil membuka pintunya. Tapi saat ia membuka pintu ada banyak orang yang tertidur didepan kediamannya. Ada Kaisar Alex. Kaisar Wey. Xian Lii. Guang Lii. Juang Lii. Zian Lii, Zain Lii dan juga Lian Lii dan Kenzi.
“Mereka pikir ini rumah singga apa ‘ Batin Qira.
“Heh bangun!. Sudah pagi tauk.” Ucap Qira cempreng. Sontak mereka mengerjabkan mata mereka. Tapi tidak dengan Juang Lii dan Zian Lii.
“Qira apa kau baik-baik saja?” Ucap Xian Lii secara terburu-buru dan bangkit dari tidur yang sama sekali tidaj nyenya.
“Hm. Apa yang kalian lakukan disini?” Ucap Qira.
“Kami menunggumu. Kami takut terjadi sesuatu padamu. Tapi kau benar-benar baik-baik saja bukan?. Lukamu kemarin terlihat sangat dalam.” Ucap kaisar Alex.
Qira menghelah napas. Ia sama sekali tak ingin melihat hal seperti ini saat-saat ia ingin pergi.” Aku tak apa-apa . kalian kembalilah kekediaman kalian dan bersikan tubuh kalian. Kalian sangat kacau. “ Ucap Qira.
“Tidak. Aku ingin bersamamu dan merawat mu.” Ucap Lian Lii dengan menatap Qira tajam.
“Aku yang tak ingin kau rawat dengan tubuhmu yang penuh dengan iler. Kau sangat berbau emm. Bau busuk...” Ucaap Qira dengan raut wajah yang seperti jijik.
“Cex. “ Ucap Lian Lii. Ia mengelap sudut bibirnya gusar. Ia menatap tajam Qira yang tertawa geli. “Aku akan mandi. Tapi setelahnya aku akan kembali.” Ucap Lian Lii.
“Kalian tidak ingin pergi?” Tanya Qira kepada yang lainnya. Mereka hanya cengengesan disana. “Kalian boleh didekatku dan makan siang bersamaku nanti jika kalian sudah selesai mandi.” Ucap Qira. Yang membuat mereka mengangguk patuh dan bergegas pergi. “Baiklah. Tapi kau yakin baik-baik saja?” Tanya kaisar Wey lembut. Ia mengusap kepala Qira dengan kasih sayang. Entah rasanya sangat berat meninggalkan ayah angkatnya satu ini dibandingkan dengan ayah kandungnya.
“Iya ayah, aku baik-baik saja. Kau juga harus istirahat yang cukup, Lihatlah matamu bahkan lebih hitam dari pada mata panda.” Ucap Qira setengah menggoda.
Kaisar Wey hanya tersenyum jenaka dan mengecup lembut puncuk kepala Qira. “Baiklah ayah akan membersikan diri. Kau harus istirahat juga.” Ucapnya dan pergi. Semua itu tak luput dari mata kaisar Alex. Ia ingin menjadi sangat manis seperti kaisar Wey, tapi entah mengapa ia merasakan benteng pertahanan Qira terlalu tinggi membuat ia menjadi pesimis dapat merobohkannya.
Mereka pergi meninggalkan kediaman Qira. Sehingga tersisa keheningan. Sesaat setelahnya Leon sudah kelur engan baju yang sudah diganti rapi. “ Apa kau sudah Leon?” Ucap Qira yang diangguki oleh Leon.
__ADS_1
Mereka melangkahkan kaki ringan menuju keluar gerbang. Mereka menggunakan ilmu pringan tubuh sehingga tak membutuhkan waktu lama untuk sampai kerumah yang sekarang ditempati oleh Chao, Chio dan Shu Jin.
“Salam nona muda...” Ucap Prajurit serentak yang menjaga kediaman Qira. Qira hanya tersenyum lembut dan melangkah masuk. Ia dapat melihat Eul dan Ele yang sedang bermain didekat kolam depan.
“Hay Eul, Ele. Apa kabar?” Ucap Qira tak jauh dari punggung mereka. Sontak mereka yang awalnya pokus dengan lukisan yang mereka pegang membalikkan tubuhnya untuk melihat asal suara yang tak asling baginya.
“Kakak” Ujar mereka serentak dan memeluk Qira. Qira membalas pelukan mereka tak kalah erat. “Mengapa kakak tak pernah mengunjungi kami lagi?, kami sangat menanti kehadiran kakak....” Ucap Ele.
“Benar kak. Kami sangat merindukanmu..” Ucap Eul.
“Maafkan kakak ya sayang. Hem kakak juga sangat merindukan kalian. Makanya kakak kesini mengunjungi kalian. Bagaimana kabar kalian em?” tanya Qira sambil melepaskan pelukannya. Ia menatap bergantian kepada Eul dan Ele.
“Kami sangat baik kak...” Jawab Eul.
“Benar. Kalian bahkan sekarang semakin tampan..” Ucap Qira dengajn nada menggoda.
Sebenarnya usia Eul danEle masih sangat muda tapi tak urung membuat mereka tersipu. “Kakak juga semakin cantik dengan rambut biru..” Ucap Ele sambil menggenggam rambut Qira yang panjang.
“Pasti dong” Jawab Qira sombong. “Kalian sudah sarapan?. Kakak sangat lapar, ayo kita makan bersama...” Ucap Qira.
“Kami sudah sarapan tapi kami akan menemani kakak untuk sarapan “ Jawab Ele polos. Qira tersenyum. Ia melihat kekiri dan kekanan seakan mencari sesuatu.
“Dimana Mommy Shu Jin, Chao dan Chio?” Tanya kepada Eul dan Ele.
“Mereka berada didalam Kak.” Ucap Ele.
“Sedikit.” Jawab Ele.
“Ya. Tidak sebanyak kepada kak Qiqi” Ucap Eul tak kalah polos.
Loen hanya berdecap sebal menatap mereka tapi tak urung memeluk mereka. Saat sudah acara peluk pelukan mereka masuk kedalam mencari Shu Jin, Chao dan Chio.
Saat mereka sudah berada di dapur bisa ia lihat Shu Jin yang menyiapi makanan. “ Ah kalian sudah sampai putri...” Ucap Shu Jin melihat Qira mendekat. Sebenarnya Qira sudah memberi tahu saat 3hari yang lalu. Karena itu Shu Jin tahu. Ia memerintahkan pelayan memanggil Chao dan Chio yang berada dikamar mereka dan mengajak Qira duduk dan sarapan bersama.
“Iya. Hm dimana Chao dan Chio gege?” Tanya Qira.
“Kami disini...” Ucap Chao yang berasal tak jauh dari sana. Yang disusul oleh Chio.
“Duduklah, aku ingin makan. “ Ucap Qira yang diangguki oleh mereka.
Disana terdapat orang-orang Qira. Mulai dari Ele, Eul, Shu Jin, Chao dan Chio. Jangan lupakan Leon.
“Mengapa lehermu diikat Qiqi?” tanya Shu Jin melihat kain yang menutupi leher Qira.
“Aku hanya merasa dingin mommy.” Jawab Qira bohong. Ia tak ingin Shu Jin dan yang lainnya khawatir. Shu Jin sebenarnya sama sekali tak percaya tapi memilih untuk bungkam.
“Bagaimana studymu Ele, Eul?” Qira menatap Ele dan Eul yang lagi meminum susu hangatnya. Sedangkan Qira masih bergelut dengan makanannya.
__ADS_1
“Baik. Bahkan kak Eul mendapatkan juara satu sastra.” Ucap Ele bangga.
“Kau berlebihan adik...” Ucap Eul malu.
“ Bagus. Adik-adik kakak memang sangat hebat.” Puji Qira yang membuat mereka bertambah tersipu.
“Lalu bagaimana bisnis kita Gege?” Tanya Qira menatap Chao dan Chio yang tak kalah lahap memakan sarapannya.
“Sangat baik. Bahkan kita bisa mendapatkan keuntungan dua kali lipat dari sebelumnya...” Ucap Chio tenang.
Qira meletakkan sumpitnya. Ia mendadak menjadi kenyang saat mengingat jika ia datang kesini untuk sebuah perpisahan.
Ia terdiam sejenak dan menatap mereka sendu. Ia sama sekali tak ingin meninggalkan kehidupannya yang sekarang, dipenuhi dengan orang-orang yang tulus dan sangat menyayanginya. Tapi ia harus pergi untuk menenangkan hatinya dan Menjelajahi dunia luar. Mungkin jika ia merindukan mereka ia akan kembali. Ia menarik nafas dalam dan berucap .
“Hm. Mungkin aku akan pergi sejenak.“ Ucap Qira berat. Hal itu membuat semua orang berhenti mengunya dan terpokus kepada Qira.
Chao meletakkan sumpinya dan menelan paksa makanan yang tersisa dimulutnya. “Kau mau kemana Qiqi?. Apa kami juga ikut?” Tanyanya serius.
“Aku hanya pergi sebentar kehutan kematian. Dan setelahnya akan kembali kesini.” Ucap Qira bohong, jika ia mengatakan sejujurnya jika ia kembali dalam waktu yang cukup panjang akan membuat mereka khawatir dan ngotot untuk ikut.
“Untuk apa?” Tanya Shu Jin.
“Ada yang harus ku lakukan Mom. Dan kalian aku tugaskan untuk menjaga Eul dan Ele ku.” ucap Qira menatap Eul dan Ele.
“Chao dan Chio gege. Kalian harus berjanji menjaga mommy Shu Jin dan adik-adikku...” Ucap Qira menatap Chao dan Chio serius.
“Kalian harus mengurus semua bisnisku. Kalian harus membuat rumah singga lebih banyak. Panti asuhan yang layak dan memperkerjakan orang-orang yang membutuhkan. Kalian juga harus saling menjaga satu-sama lain.” Ucap Qira sedikit serak. Ia ingin menangis tapi ditahan.
“Kami akan selalu menjaga satu sama lain dan menjagamu Qiqi.” Ucap Chio yakin.
“Benar...!” Ucap Chao.
“Dan ini. Aku akan pergi sedikit lama. Untuk kalian. Jika nanti kaisar bertanya tentangku, kalian harus memberi surat ini.” Ucap Qira sambil mengeluarkan gulungan kertas dari bilik bajunya.
Shu Jin menatap Qira dan mengambil surat itu. “Mengapa tidak putri langsung memberinya sendiri?” Tanya Shu Jin menatap Qira.
“Hm. Aku. Aku. Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya, jadi momy harus memberi ini ya.” Dan ah ya aku akan membawa uang sedikit banyak untuk perjalanan nanti.” Qira berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Ia tak tahu harus bicara apa.ia tak ingim berkata jujur.
Chao dan Chio memandang Qira curiga. Ia tahu Qira menyembunyikan sesuatu. Dari semua yang Qira tunjukan menunjukan ia akan pergi cukup lama
**hay semua **akk kasih 3epa yang punjangnya berkali-kali lipat.
apa kalian yakin masih ingin pelit Vote dan like?.
bahkan Qira aja tmbah sedih lihat usahanya nggak diberi semangat 😢.
ini jangan lupa Vote terus oke. salam sayang dari Qira para pejuang dan pendukung Qira 😇😇****
__ADS_1