
Kaisar Zauhan mengelus Wajah Qira. “Kenapa? Kenapa kau sama sekali tak menyukai kerajaan? Mengapa?” Tanya kaisar Zauhan sedikit membentak.
Qira diam. ibu? Kakak? Kenangan? Semuanya membuat ia benci kerajaan. Karena tahta ibunya meningga. Karena tahta ia difitnah dan diasingkan seumur hidup, karena tahta pula ia dibenci seluru keluarga. Bagaimana jika nanti ia yang mati dan melahirkan anak? Apakah anak itu juga diasingkan? Dibinci dan dicaci. Katakanlah Qira pesimis. Tapi Qira butuh itu bukan kerajaan. Tapi hidup bahagia bersama orang yang ia cintai secara damai. Bukan seperti ini.” Kau tak akan mengerti aku. Jadi tolong lepaskan aku.” Jawab Qira dingin.
“Sudahku bilang bukan. Jika kau pergi dan tak memilihku. Maka kau lebih baik mati..!” Jawab kaisar Zauhan memberikan tatapan yang membunuh.
"Kau egois....! Aku tak pernah yakin kata cinta dari seorang raja yang banyak aelir seperti kalian....!"
Kaisar Zauhan mendekatkan kepalanya ditelinga Qira. Membisikkan sesuatu. "Satu langkah kau berpaling dariku, Maka aku akan membunuh siapa yang membuatmu berpaling dariku. Jika kau pergi dariku, Maka aku akan mematahkan kakimu. Jika kau menatap pria lain. Maka aku akan mencongkel matamu. Dan jika kau masih ingin pergi dariku. Maka tak akan ada yang bisa memilikinum Lebih baik kau mati di tangan ku..!"
Deru nafas itu menerpa anak rambut Qira. membuat Qira merinding kaku, Rasa geli dan rasa aneh bercampur baur. Jantungnya mendadak mendobrak dadanya. Seakan-akan maraton jauh.
Apa ini ungkapan cinta? atau pengancaman?
Mati?
Ahh. Itu bukan pilihan yang tepat. Masih ada yang harus ia selesaikan. Bukan cinta yang ia butuh saat ini. tapi membantu kerajaan awan dan langit. Yaa, mereka sekarang sedang dilanda bencana.
Flashback...
Qira duduk gazebo kediaman Wolf dan Leon. Disana juga ada kaisar Zauhan yang tengah bermain dengan Zuzu . jika dilihat, memang kaisar Zauhan itu sangat menyukai Zuzu. Qira saja sampai berfikir jika Zuzu itu adalah anak kaisar Zauhan asli. Dengan wajah mereka yang hampir mirip. Bola mata hitam kelam nan pekat kentara dengan kulit putih bersih, bulu mata lentik melebihi perempuan, ditambah Zuzu itu anak yang sombong, tak mau disentu sembarangan orang. Ia bahkan tak mau disentu para pelayan yang tak ia kenali.
Makanan Zuzupun selalu yang terbaik. Baju mahal dan lainnya. Apa sebelumnnya Zuzu adalah adak seorang raja atau bangsawan? Jika benar, mengapa ia dibuang begitu kejam. Enak jika dibuang dipinggir kota. Tapi ini dihutan dengan keadaan hujan.
__ADS_1
Aneh ketika Qira menatap mata itu, mata itu kosong tak memiliki petunjuk sesuatu. Padahal Qira baru sadar jika ia masih bisa membaca fikiran meskipun ia masih kecil. Kecuali seorang bayi. Tapi Zuzu itu sudah 3tahun, tentunya sudah memiliki pikiran. Meskipun itu sebatas makanan dan lainnya.
“Qiqi..” Panggilan dari Wolf membuyarkan lamunan Qira. Ia menatap tangan yang menepuk pundaknya dan menatap Wolf yang berada didepannya.
“Ada apa?” Tanya Qira.
Wolf menatap Qira heran. Sudah dua hari semenjak ia kembali dengan kaisar Zauhan Qira sering Temenung. Bagaikan banyak fikiran. Ia sudah tau jika Qira kembali tak bisa berjauhan dari kaisar Zauhan membuat ia murka setengah mati. Membuat ia dan Leon belajar beladiri secara tersembunyi. Ia menyembunyikannya pada Qira. Ia berjanji akan menjadi lebih kuat supaya bisa membebaskan Qira dan melindunginya. Ia tak akan rela kaisar Zauhan yang egois menjadi suami Qira. Mereka bahkan rela menjadi suami Qira meskipun itu tak akan terjadi. Bagaimana bisa seorang perempuan mempunyai dua suami dan semuanya siluman.
Meskipun seperti itu, dizaman ini tak terlalu berpengaruh jika manusia menikah dengan kaum bangsawan siluman. Maka anak mereka akan menjadi setengah manusia dan siluman. Ia bisa menjadi manusia sekaligus singa ataupun serigala. Ibu Wolf saja seberanya dari klan manusia. Ayahnya menemukan ibu Wolf dulu ketika ibunya hampir diterjang puluhan serigala. Salah satunya ayahnya membuat ia tertalir dan menikahinya dalam kurun satu pinggu. Tapi mereka harus melakukan penyatuan pada bulan purnama sebagaimana mereka melakaukan peratuan dari kaum serigala, begitu juga singa. Mereka memiliki masing-masing hukum dan aturan. Berbeda jika singa. Singa boleh menikahi manusia, tapi tak boleh menampakkan kaki lagi diarea perbatasan singa, mereka diasingkan dan tak dianggap lagi menjadi kaum singa. Termasuk jika ia seorang pangeran sekalipun. Tapi apa peduli Leon pada semua itu? Bukankah selama in inia sudah mengasingkan diri?
“Apa kau tak mau bermain dengan Zuzu? Ku lihat beberapa hari ini kau tak mau bemain dengannya. Bahkan kau tak menggendongnya sama sekali.” Wolf mengarahkan pandangannya pada Zuzu yang sudah berada di gendongan kaisar Zauhan tak jauh dari mereka.
Kaisar Zauhan tak ada kerjaankah? Jawabnya banyak. Hanya saja saat ini ia meluangkan waktu untuk bermain bersama Zuzu. Selama berhari-hari Qira selalu bersama dengan kaisar Zauhan, baik diruang kerja maupun dimana-mana. Bukankah begitu repon? Tapi kaisar Zauhan lebih nyaman seperti ini, setidaknya ia lebih tenang jika Qira berada disisinya.
Qira mengusap wajhnya kasar. Bayangan ramalan itu selalu membuat dirinya pusing. Ia tak mau bertemu Zuzu. Semakin hari semakin ada pirasat buruk dirinya pada Zuzu. Tapi ia tak mendapatkan satupun jawaban membuat ia buntu. Kaisar Zauhan terlalu egois membuat ia tak bisa bergerak leluasa.”Tidak apa-apa Wolf. Dimana Leon?” Qira mengalihkan pembicaraannya saat ini.
“Tidak ada.” Jawab Qira. Ia kembali menghela nafas melihat teman-temannya. Apa ia harus pergi sebagaimana peramal itu ucapkan? Atau ia memang pembawah kehancuran?
Wolf dan Leon saing bertatapan. Alis mereka berkerut bingung. “Kau ada masalah apa Qiqi?” Tanya Leon tak tahan.
Apakah Qira harus bercerita? Atau ia simpan sendiri. Tapi itu tak akan memecahkan masalah. Lagian juga bukankah ramalan itu tak boleh diceritakan? Tapi bukankah Qira tak mempercayai hal itu. Semua sangat membingungkan Qira. “Aku pusing Wolf, Leon.” Qira menghela nafas. Pikirannya terpecah bela.
“Coba kau ceritakan pada kami. Mungkin kami bisa membantumu. Apkah ini masalah kaisar Zauhan?” Tanya Wolf pelan.
__ADS_1
“Atau jangan-jangan kaisar Zauhan macam-macam padamu? Ia melakukan apa? Katakan padaku.” Ucap Leon cepat.
“Emang jika ia melakukan apa padaku kau mau apakan dia?” Qira menaik turunkan alisnya dua kali.
Leon sedikit tercengir masam. Benar juga. Jika ia bisa melakukan apa-apa pada kaisar Zauhan, mengapa tidak sedari pertama. “Ya. Aku,, aku akan membunuhnya meskipun aku yang terbunuh duluan.” Ia menggaruk pipinya yang sedikit gatal.
Wolf dan Qira tertawa akan hal itu. Sungguh tak menyenangkan menjadi lemah seperti ini terlebih lagi untuk Qira. Ia tertekan. Cara kaisar Zauhan itu membuat dirinya semakin tak menyukai kaisar Zauhan. Sama sekali tak menyukainya sungguh. “Dia tak melakukan apapun padaku. Tapi ada hal lain.” Gumam Qira.
Qira mulai menceritakan ramalan itu pada Wolf dan Leon. Ia menceritakan semua hal, termasuk kakak Kim yang jalan-jalan padanya. Membuat Wolf tak percaya. Bagaimana bisa kakaknya tak menemuinya tapi menemui Qira.
Tentang Zuzu yang aneh dan menyeramkan. Kakaknya dan Wolf. Leon yang mati sambil memeluk Qira. Semuanya begitu nampak nyata membuat Qira dan kakak Kim tak sadar jika melalui tiga hari tanpa makan.
Tentu saja semua penjelasan Qira membuat Wolf dan Leon tertegun. Mereka cukup paham dan takut. Bukan takut karena Qira penyebab mereka mati. tapi karena mereka takut jika akan terjadi sesuatu yang besar dihari kedepan. Ditambah Qira sudah menceritakan hal ini, padahal Qira tak boleh menceritakannya.
Tapi mereka cukup bersyukur. Andai Qira pergi dan menjauh sebagaimana nenek itu perintahkan. Maka Wolf dan Leon lebih memilih gila. Ya,, mereka tak akan mau kehilangan Qira. Qira itu bagian dari hidup mereka. Qira itu oksigen yang mereka butuhkan. Qira itu Special...
Qira tak tau apa yang akan terjadi. Tapi ia yakin jika kedepannya ia akan hati-hati.dan percaya jika semua akan berlau begitu saja tanpa harus ada yang ia pikirkan.
Wolf menatap Qira sendu. Ia tau apa yang QIRA TAKUTKAN. BUKAN KARENA TAKUT MATI. TAPI TAKIT JIKA ORANG-ORANG YANG IA SAYANGI AKAN MATI KARENA DIRINYA. YA Qira itu takut menjadi sumber masalah. “ Qiqi...” Wolf memegang bahu Qira pelan. “ Kau tak peru memikirkan hal itu. Karena, apapun yang akan terjadi kedepannya. Kita akan tetap bersala selamanya.” Ucapnya..
.
.
__ADS_1
.
.