
“Kita berangat sekarang.” Ucap kaisar Zauhan tegas.
“Baik yang mulia.” Jawab orang-rang disana.
Qira pikir mereka akan datang dengan embel-embel pahlawan yang seperti ia inginkan. Datang dengan wajah angkuh lalu menolong semua orang hingga wabah itu hilang. Tak butuh orang lain dan hanya mereka bertiga bagaikan novel-novel lainnya. Ternyata salah besar. Disini ada 5 orang. Ada Taotao dan Yaoyao sebagai tabibnya. Ada Ren sebagai pelindung dan ada kaisar Zauhan dan Qira pastinya. Jangan lupakan jika ada dua orang asing yang Qira tak tau namanya, mereka diutus membawakan umpeti menuju desa tersebut.
Qira menerima uluran tangan kaisar Zauhan yang hendak membantunya menaiki kuda, sebenarnya ia bisa, namun kaisar Zauhan itu jiblakan dirinya sendiri. Yaitu keras kepala.. lalu disusul dirinya menaiki kuda dibeakang Qira.
“Loh... Kok Ren Ehh, Sun tak menaiki kuda? Malah membawa gerobak seperti itu? Mengapa tidak pakai kuda seperti lainnya?’ Tanya Qira heran. Alisnya terangkat saat ini.
Saat ini ren yang sudah menyamar sebagai Sun itu menunduk lemah. Ia sekarang memegang kayu disisi-sisi kanan dan kiri grobak, globak itu ada roda besi yang membuat ia bisa ditarik, tapi tetap saja itu sangat berat. Sedangkan yang lain, membawa umpeti dengan mengiringi kuda. Mengapa mereka tidak menaiki kuda saja? Mengapa sampai mengeringi saja?
Kaisar Zauhan hanya diam tak menjawab. Matanya masih saja tajam.
“Tidak apa-apa Qiqi.” Ucap Ren hormat.
“Hey suruh mereka menunggangi kuda saja. Bukankah disana masih ada kuda.” Qira menunjukan kuda yang terikat dipohon samping rumah.
“Mereka aku hukum.” Jawab kaisar Zauhan.
“Memangnya mereka melakukan kesalahan apa sampai sampai kau menghukum mereka? Bukankah desa Hujan masih cukup jauh?” Tanya Qira heran.
Kaisar Zauhan membuang mukanya. Ada rasa gengsi saat mau mengatakannya. “Karena mereka hanya menghormatiku saja. Kau tak dihargai oleh mereka, kau itu ratuku, permaisuriku. Jadi seharusnya mereka juga memberi salam padamu. Dan biarkan saja mereka jalan kaki sampai desa Hujan.” Jawabnya tegas.
Ahh..
Jadi ini gara gara dirinya?
Kok rasanya degdegan ya saat mendengar penuturan dari kaisar Zauhan.
__ADS_1
Qira menggelengkan kepalnya, jangan sampai pipinya merah. “Aku tak membutuhkan hormat. Hormat itu datangnya dari hati, bukan dari ucapan. Percuma jugakan jika mereka hormat dan membungkuk didepanku, sedangkan dihati mereka menghujatku.” Bela Qira.
“Tapi jika dimulit dan diluar saja tidak menghormati, lalu bagaimana dengan hati mereka? Kau harus tau, jika sifat dan prilaku itu cerminan dari apa yang kita rasakan dari hati.” Sangga kaisar Zauhan tegas.
Lah.
Benar juga?
“ Kaisar benar yang mulia. Kami salah, maafkan kami.” Ren bersujud dengan kaki satu menekuk ketanah dan kepala ditundkkan. Sedangkan yang lain mengikuti apa yang Ren lakukan.
Qira mengibaskan tangannya.” Angkat kepala kalian, jangan panggil aku yang mulia. Yang mulia itu hanya pantas disebutkan kepada sang pencipta. Bukan diriku, aku juga manusia biasa. Sama seperti kalian.”
“Tapi kau ratu kami.” Jawab Ren penuh penyesalan.
Qira menghela nafas saat melihat kaisar Zauhan masihs aja diam. apakah kaisar Zauhan ini memang marah hanya karena hormat menghormati. Tapi jujur hai Qira hangat. Baru kali ini ia dibela dan diminta dihormati bagi rakyat selain ayah Wey nya. “Iya. Karena itu, bangunlah. Kita sudah kesiangan ini.” Ucap Qira.
Kaisar Zauhan tetap diam tak menjawab. Ia bahkan mau membawa kuda, tadi Qira menahan tangannya.” Jika kau mau menghukum mereka, maka aku juga akan jalan kaki saja. Sepertinya menyenangkan.” Ucapnya santai. Tapi bukannya selama ini ia jarang jalan kaki. Jalan sebentar, capek lalu digendong oleh Wolf dan Leon. Ahh, Qira baru sadar prilaku buruknya.
“Baiklah. Kalian bisa membawa kuda untuk membawa umpeti.” Putus kaisar Zauhan tegas. Membuat Qira tersnyum menang
Sedangkan yang lain hanya menatap satu-sama lain, rasanya mreka menyesal tak memberi hormat dan menatap Qira. sebenarnya bujan tak mau memberi hormat, namun mereka tak tau jika Qira itu ratu. Tapi tidak berlaku untuk Ren. Ia tau jika Qira adalah ratunya. Tapi ia tadi tak melihat Qira membuat kaisar Zauhan murka dan memberi hukuman. Mulai detik ini ia pasti akan menyapa Qira dengan hormat.
...
Sudah 30menit Qira dan lainnya membela jalan menuju des Hujan, jika mereka tak membawa umpeti, bisa diprediksi jika mereka sudah sampai saat ini. Qira bahkan kembali menguap diatas kuda. Ia cukup bosan kerena hanya duduk dan melihat kedepan
Qirapun tertidur duatas kuda membuat sang kaisar terkejut, karena Qira merunduk. Ia memelankan laju kudanya lalu memeluk Qira.” Hey... kau kenapa?” Tanyanya heran.
Ia sedikit merabah wajah Qira membuat sang empu menggeliat. Kaisar Zauhan terkekeh, bagaimana bisa ia tidur diatas kuda? “Kau tidur ternyata.” Gumamnya, karenanya ia memperkanbat laju kuda, setiap menitnya ia tak berhenti mencium puncuk kepala Qira sayang. Ia juga memeluk Qira erat supaya tak jatuh, ia meletakkan kepala Qira didada bidangnya untuk bersandar. Merepotkan memang, namun ia biasa saja. Bahkan ia bahagia, karena apa? Karena jika seseorang mudah tidur disisi kita itu tandanya ia percaya dan nyaman. Dan ia berpikir jika Qira itu nyaman, meskipun sebenarnya Qira itu lelah karena perjalanan mereka yang sedari kemarin.
__ADS_1
“Serahkan umpeti itu..!” Perintah salah satu pria yang menghadang jalan, dipipinya ada bekas luka yang sangat besar, tangan kanannya memegang pedang tajam.
Kejadian itu membuat yang lainnya berhenti. Qira mendengarkan suara itu, tapi ia memilih tetap menutup matanya dan tertidur, toh apa gunanya kaisar Zauhan kuta jika dirinya turun tangan. Sedangkan kaisar Zauhan tetap memeluk Qira dengan santainya.
“Siapa kalian?” Tanya kaisar Zauhan dingin, sedangkan yang lainnya sudah turun dari kuda masing-masing dengan memegang pedang.
“Siapa kami itu tidak penting yang penting itu serahkan umpeti itu..!” Bentaknya.
Qira menggeliat tak nyaman, apa-apaan dia berteriak. telinganya itu sensitif. Membuat sang kaisar menepuk-nepuk lengan Qira bagaikan menenangkan bayi yang tertidur. Ahh, Qira rasanya mau tertawa. Tapi ia tak mau membuka mata.
“Jika kami tak mau?” Tanya kaisar Zauhan menantang.
"Maka kalian harus mati..!” Teriaknya.
Cap..
Cap..
Ternyata dia tak sendirian. Ada beberapa orang disemak-semak yang sudah Qira rasakan dimana mereka. Mereka menggunkan panah. Kaisar Zauhan memeluk Qira untuk melindunginya. Ia melompat dari kuda untuk menghindar beberapa anak panah. Sedangkan yang lain sudah mulai menyerang pria perapok itu.
“Kau tidak apa-apakan?” Kaisar Zauhan memandang wajah Qira yang masih pura-pura tidur. ia mencium pipi Qira menyalurkan rasa kekhawatirannya. Lalu matanya menatap kedepan yang sudah bertarung. Matanya memerah marah.” Kalian sudah mengganggu tidur ratuku...” Gumamnya oelan, namun masih didengar jelas oleh Qira. ia meletakkan Qirra diatas umpeti yang berjenis pakaian pelan.
.
.
.
.
__ADS_1