Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
pergi kepasar bersama 2


__ADS_3

Putri Tea mencoba membuka matanya. Rambut panjangnya terbang dibawah angin. Ralat, bukan terbang, ini rambut asli ya. Maksudnya melayang dan menari-nari. Untunglah Putri Tea jauh lebih pendek dari Leon. Jika tidak rambut ini akan menutupi mata Leon.


“Wah..” Gummnya merasakan terpahan angin. Ia reflek mengendur tangannya menyebabkan kepalanya menabrak dada bidang Leon.


Untunglah tangan Leon yang kiri memeluk perut putri Tea erat. “Pegang yang erat. Nanti kita kalah dengan yang lain.” Ucapnya smabil memfokuskan kedepan.


“Hm... “ Ucap Qira menyusul Leon. Ia melihat tangan Leon yang melingkar diperut putri Tea. Lalu ia melaju dengan senyum menggoda.


Leon sama sekali tak menghiraukan Qira. Ia melepaskan pelukannya diperut putri Tea. “Pegang lebih erat. “ Ucapnya.


Putri Tea sedari tadi hanya diam bagaikan patung. Ia tak pernah sedekat ini kepada pria. Ini bahkan pelukan pertamanya dengan pria asing. Tapi ia tetap mengeratkan pegangan tangannya sambil menggumam kagum akan hutan yang mereka lewati. Ada rumah warga, sungai dan lereng-lereng yang menampakkan sungai bebatuan. Ini adalah pertama kali baginya.


“Aku menang..” Ucap Wolf sambil turun dari kudanya. Mereka sudah sampai dipasar.


Qira menuruni kudanya. “Kau curang..”


“Tidak curang. Hanya menggunakan sedikit taktik..” Ia menaik turunkan alisnya.


“Ayo turun..” Ucap Leon yang baru sampai. Ia melompat terlebih dahulu tanpa mempedulikan putri Tea. Ia sangat kesal karena kalah jauh.


“Tetap saja curang. Jika tidak pasti aku yang menang.” Jawb Qira. Wolf terkekeh sambil mengusap kepala Qira sayang.


Merasa tidak ada yang membantu dan memperhatikan dirinya. Putri Tea menatap kebawah cemas. Ini sangat tinggi. “Ma maaf. Bisakah kalian membantuku?” Tanyanya takut.


“Lompat saja.. jangan menyusahkan orang.” Jawab Wolf dingin.


Putri Tea menatap Wolf dengan mata yang berkaca-kaca. Ia adalah seorang putri, tak pernah mendapatkan perlakuan dingin dan tajam. Wajar saja ia sakit hati.


“Jika kau lompat. Kau tak akan mati.” Sahut Leon tak kalah dingin. Tepat saat ini juga air mata putri Tea jatuh, namun cepat-cepat ia hapus. Ia tak mau dianggap lemah.


“Leon. Wolf.... Jangan seperti itu. Biarkan aku yang membantunya.” Ucap Qira dingin.


“Cik.. biarkan aku saja.” Sahut Leon. Ia tau jika Qira sudah berbicara ingin berarti Qira marah. Dan kemaran Qira sangat mereka hindari, selama berteman, Qira sangat jarang berbicara dingin. Karena itu mereka takut jika Qira yang baik menjadi marah.

__ADS_1


Leon melangkah sambil mengulurkan tangannya. Putri Tea malas menerimanya.


Hup..


Ia melompat tanpa mau menerima uluran tangan Leon. Tapi bukannya turun dengan sempurnya. Bajunya menyangkut ditali kekang kuda. Yang lebih paranya kaki kirinya juga masih menyangkut ditubuh kuda.


Untunglah Leon menangkap tubuhnya kedalam pelukan. Jika tidak pastilah jatuhnya sama sekali tidak elit.


Mata putri Tea menutup erat. Tapi merasa tak jatuh, ia membuka matanya melihat didepannya dada bidang Leon. “Jika tidak bisa. Jangan sok bisa. Jika kau jatuh aku tak membantu bagaimana? Bisa-bisa otak keculmu yang tidak bisa digunakan itu makin rusak.” Ucap Leon kesal. Ia menurunkan putri Tea lembut. tapi sebelumnya Qira membantu melepaskan baju dan kaki putri Tea yang menyangkutr.


“Menyusahkan..’ Batin Leon malas.


“Ayoo...” ucap Qira sambil menarik tangan putri Tea yang masih kaku.


“Kalian mau beli apa?” Tanya putri Tea ditengah jalan, hiruk-piruk pasar sudah mereka rasakan. Panas yang menyengat menerobos masuk dikulit. “Kami mau makan, ayoo..” Ucap Qira sambil membawah putri Tea kesebuh kedai. Sedangkah Leon dan Wolf hanya diam.


“Kau mau beli apa Qira?” Tanya Wolf lembut kepada Qira.


“Baiklah. Aku juga.” Jawab Wolf.


“Aku kambing panggang saja..” Sahut Leon.


Tapi mereka melupakan putri Tea yang sedari tadi diam. ia menunggu pertanyaan lembut untuk dirinya, tapi tak juga ada yang menanyakan kecuali.


“Kau pesan apa putri?” Tanya Qira pelan. Ia menatap mata putri Tea.


“Aku mau ayam bakar dan teh panas saja.” Jawabnya pelan. Ia sangat canggung sekaligus iri kepada Qira. Qira memiiliki teman yang begitu baik dan lembut terhadap dirinya. Qira mengangguk dan meminta Wolf memesan juga.


“Silahkann tuan, nona..” Ucap pelayan membawa makanan, ia melirik Leon dan Wolf lama. Tak lama kemudian wajahnya penuh dengan senyum malu. Cek, Qira sangat benci akan hal ini. lebih tepatnya bukan Qira tapi sang pemilik wajah.


“Bukannya kita hanya memesan ayam bakar dan kambing bakar?” Tanya Qira polos.


Faktanya didepan matanya sekarang ada ikan bakar, sayur rebus. Ada lobster tumis pedas alah rakyat kuno dan telur rebus. Ada juga kacang hijau rebus. Banyak lainnya.

__ADS_1


“Ini untukmu. Biar kau tidak sakit, bukannya dikerajaan kau tak bisa memakannya. Jadi kau harus makan banyak.” Jawab Wolf lembut. ia mulai menaruh nasi dipiring yang dijalin dari bambu, namun dialaskan daun pisang. Ia juga menaruh banyak lauk, mulai dari kacang hijau rebus, ayam bakar. “Makanlah.” Ucapnya smabil menaruh piring kepada Qira.


Qira sudah biasa kan kelembutan Wolf. Ia tersneyum, “Terimakasih..” Ucap Qira.


Sedari tadi Leon membuka kulit lobster dan memisahkan tulang dari ikan, setelah selesai ia menaruh dipiring Qira pelan. “Makanlah.” Ucapnya lembut sambil tersenyum.


Qira tersenyum lagi. “Terimakasih..” Ucap Qira.


Barulah Wolf dan Leon mengambil nasi untuk diri mereka sendiri dan menaruh lauk mereka sendiri.


Tanpa mereka sadari mata putri Tea rasanya ingin meleleh. Perlakuan mereka kepada Qira membuat ia semakin iri. Bagaimana bisa ada pria yang begitu lembut kepada gadis? Sungguh Qira sangat beruntung. Rasanya ia ingin berteriak. ‘Aku juga mau diperhatikan. Aku mau seperti itu’ Tapi apalah daya ingin memeluk gunung namun tangan tak sampai.


Putri Tea tak pernah dekat dengan pria. Katanya seorang putri harus menjaga kehormatan. Ia hanya boleh dekat dengan pria sekekandung ayah atau ibu saja. jika tidak maka ia sudah mencemarkan kehormatan keluarga.


Qira sadar jika putri Tea belum mengambil nasi dan memperhatikan perlakuan Leon dan Wolf terhadap dirinya. Ia menghembus nafasnya, ia mengambil piring dan mengisih nasih dan lauk. “Makan lah..” Ucapnya lembut sambil menaruh makanan itu didepan putri Tea.


Putri Tea mengangguk. “Terimakasih kakak ipar.” Jawabnya lembut.


Qira tak lupa mengambil ayam dan lauk lain, ia meletakkan dipiring Leon dan Wolf. Ia tau jika mata mereka menyala karena cemburu. “Makan yang banyak ya..” Ucapnya dengan semangat. Wolf dan Leon tentu saja langsung memakan makanan yang Qirra beri terlebih dahulu. Rasanya apa yang Qira beri itu sangat berharga.


Sesekali mereka bercanda dan tertawa. Wolf dan Leon sesekali menyubit pipi Qira gemes. Sedangkan putri Tea hanya tersenyum dan menunduk. Sunggu perlakuan Leon dan Wolf membuat iri alam semesta. Didalam kedai saja menatap Wolf dan Leon penuh binar. Pria tampan namun lembut kepada Qira yang mereka kira adiknya. Siapa yang tidak mau berdampingan dengan pria seperti mereka? Cih bahkan putri Tea sekarang menghayal jika diposisi Qira sekarang adalah dirinya.


Setelah makan mereka memilih untuk mencari makanan lain, baju dan lainnya. Ya itu menyenangkan.....


**Allhamdulilah bisa update....


Author rada nggak punya fantasi hikshiks....


maafin yaa rada nggak bagus up yang ini...


jangan lupa Vote. komen dan Like. biar dapat vitamin dibulan romadhon hehe....


Jangan lupakan bacaan yang wajib..😇**

__ADS_1


__ADS_2