
Kaisar Alex cepat-cepat mengambil surat itu. Semua orang mendekat untuk mengetahui isi surat itu.
“ Teruntuk kaisar Alex.
*Teruntuk ayahku. Kau tau mengapa aku meninggalkan hadia pertandinganku?. Karena itu adalah persembahanku untukmu. Itu hadia dariku. Aku mengucapkan sejuta terimakasih, kareka didikanmu yang keras, aku menjadi kuat. Aku hanya ingin mengatakan. Jika Aku bisa hidup dan menjadi kuat meskipun tanpa kasih sayangmu. Tapi cintuku padamu tak akan padam ataupun surut. Maka jangan bersedih karena diriku*. ...
Kaisar Alex menatap itu tak bisa menahan air matanya. Ia sangat menyesal semua hal yang terjadi. “Maafkan aku.” Gumamnya.
Teruntuk kaisar Wey...
*Aku tak tau harus menulis apa?. Aku tak bisa tidak bahagia karena bertemu denganmu. Dalam mimpiku, aku ingin sekali mendapatkan kasih sayang orang tua. Dan Dewa mengabulkannya. Ia mengirimkanmu untukku!. Adanya kau aku bisa merasakan kasih sayang seorang ayah. Aku menyayangimu sebagai gadis kecilmu*"
“Kau akan menjadi putriku selamanya.” Gumam Kaisar Wey lemah. Ia sangat menyayangi Qira. Ia tak memiliki seorang anak perempuan, semenjak kehadiran Qira. Ia bisa mendapatkan banyak perubahan. Bagaimana indahnya tertawa, bagaimana menjadi tegar, dan menjadi hangat!.
Teruntuk kakak-kakakku...
*“Aku menyayangi kalian. Jaga diri kalian. Aku tak ingin memiliki kakak yang lemah. Kalian bahkan kalah dariku dalam pertandingan. Kalian sungguh memalukan!. Kalian harus menjadi kuat untuk melindungiku nanti."*
“Dasar sombong.” Gumam Juang Lii diselah-selah menangis.
“Kau benar. Tapi kita memang kalah darinya.” Jawab Zain Lii
*“Aku menyayangi kalian semua. Aku tak pernah membenci kalian. Tapi hatiku masih terasa sakit disaat berada didekat kalian. Ingatan masa laluku membuatku lemah. Maka dari itu, aku akan mencari kekuatan diluar untuk menjadi lebih kuat. Jangan mencariku. Aku menyayangi kalian semua. Untuk Guang Lii dan Juang Lii. Aku akan memberikan Shu Jin ku kepada kalian. Untuk memasak makan kesukaan kalian. Aku tau kalian selalu mengusik hidupku karena mau makn makanan enak bukan?. Jaga diri kalian. semoga ditahun berikutnya kita berjumpa”*
__ADS_1
Semua orang menatap satu sama lain. “Aku tak ingin makan enak lagi. Aku hanya ingin adikku...” Juang Lii merengek seperti anak kecil. Padal ia adalah kakak Qira yang paling sombong.
“Hey. Tenanglah. Qira akan kembali.” Guang Lii menenangkan adiknya.
Semua orang larut dalam fikiran masing-masing. “Kita hentikan pencarian.” Ucap kaisar Alex.
“Iya. Qira akan kembali, meskipun itu akan lama jika dilihat dari suratnya.” Jawab kaisar Wey.
“Semoga Qira akan baik-baik saja.” Gumam mereka dalam hati.. mereka sedangkan Xian Lii dan Lian Lii larit dalam fikiran mereka tanpa mengata satu katapun.
....
Qira menunggang kudanya selama seharian penuh. Sesekali mereka berhenti untuk makan ataupun istirahat. Mereka masih melewati desa kecil dikerajaan ini. kerajaan ini memang sangat luas karena membutuhkan waktu cukup lama untuk sampai kekota. “ Sebentar lagi akan gelap. Tapi kita masih dihutan. Apa desa lainnya masih cukup jauh Wolf?” Tanya Qira. Mereka sudah sejak sore melewati hutan. Tapi sampai detik ini mereka bahkan tak melihat rumah satupun.
“Tidak Qiqi. Didepan itu hutan malam, tempat kerajaanku. Kita lebih baik menginap disana saja” Jawab Wolf.
“Apa tidak apa Wolf?” Tanya Leon.
“Apa kalian lupa aku calon rajanya?” Jawab Wolf sombong.
Mereka kembali membelah hutan. Saat sudah dimulut hutan malam, mereka terkejut. Karena hutan itu bahkan lebih gelap dari malam. Cahayanya sangat minim. “Apa ini hutan malam Wolf?” Tanya Leon.
“Benar. Ikut aku!” perintah Wolf. Ia mulai membawa kudanya. Kudanya terus meringik dan berjalan lambat. Hanya kuda Qira yang hanya santai. Jangan lupa ia menggunakan kuda iblis.
Wajar jika hutan ini dikatakan hutan malam. Dihutan ini sangat gelap. Bahkan suara lolongan serigala terdengar jelas. Leon meneguk ludah payah. Kuda Wolf dan Leon sama sekali tak ingin bergerak maju. Hanya tinggal Qira yang menunggagi Black. Terpaksa mereka berjalan kaki sambil mengiring kuda.
“Apa masih jauh Wolf?” Tanya Qira.
“Sebentar lagi” Jawab Wolf.
Saat mereka telah sampai dijantung hutan itu. Wolf mengayunkan tangannya, ada cahaya merah yang keluar dari tangannya. Qira dan Leon membelalakkan mata saat hutan yang gelap gulita seketika menjadi terang. Bahkan bak siang. Ditambah. Tempat yang awalnya hutan disulap menjadi sebuah bangunan besar, bahkan bangunan itu lebih besar dari istana kerajaan langit. Disana ada banyak seriga yang berkeliaran.
__ADS_1
“Apa ini kerajaanmu Wolf?” Tanya Leon.
“Iya. Ikuti aku.” Ucap Wolf dingin. Sikap Wolf seketika menjadi dingin nan angkuh saat memasuki portal itu. Ia berjalan tegap dan bijaksana. Semua serigala menunduk tak berani menatap Wolf tapi. Menatap Qira dan Leon dengan tatapan lapar, apalagi menatap kuda mereka.
Qira dan Leon celingukan menatap sekitar. Ada ratusan serigala yang tunduk hormat. Mereka seperti prajurit istana, mata mereka merah, air liur menetes diselah-selah taring tajam mereka.
Leon meneguk silva kering. Sedangkan Qira masih seperti mimpi. Ia tak menyangkah jika dunia lain itu memang benar-benar ada, ia fikir itu hanyalah dongeng atau khayalan semata. Tapi sekarang ia melihat nyata.
“Hormat kepada my Lord.” Ucap seorang pria memakai baju berbulu hitam lebat. Rambutnya panjang dan diwajahnya ada luka panjang yang melintang dipadukan dengan wajah kejam. Untunglah ia tak terlalu jelek.
“Dimana Ayah dan Ibu Fou?” Tanya Wolf penuh karisma.
“Mari Ikuti saya my Lord” jawabnya sopan pria yang dipanggil Fou sambil membungkuk. Sesaat matanya menatap Qira dan Leon. Tapi ia tak banyak tanya. Ia langsung mengiring Qira dan lainnya masuk kedalam sebuah ruangan besar.
Sedangkan kuda mereka diambil alih oleh prajurit yang berwujud manusia.
Ruangan itu sangat luas, semua dinding berlapis emas. Prabotan dihiasi berwarna hitam pekat. Qira menatap sekeliling hingga lupa jika didepannya ada satu orang yang berdiri. “Putra ku. Ternyata kau masih mengingat rumahmu.” Ucap suara penuh wibawa itu menyedot perhatian Qira.
Saat ia menatap didepan. Ia melihat jika Wolf sudah menunduk hormat dan Leon mengikuti Wolf. Mata Qira bertemu dengan ayahnya Wolf, Qira tersenyum lembut.
“Hormat kepada ayahanda. Maafkan putramu ini ayah.” Ucap Wolf
“Hahah. Bangunlah. Siapa yang kau bawa ini?” Tanyanya sambil melirik Qira dan Leon. Matanya terhenti dimata Qira cukup lama. Wolf adalah serigala yang dingin, ia tak pernah mempunyai teman kecuali Fou sejak kecil. Dan sekarang ia membawa teman? Itu dari bangsa manusia!
“Perkenalkan ayah. Ini teman-temanku. Ini Qira dan ini Leon. Mereka akan menginap disini karena kami akan pergi kekerajaan Barat.” Jawab Wolf.
“kami?” Beonya.
“Ya. Aku akan ikut. Tapi aku akan sesekali kembali tenanglah.” Jawab Wolf cepat.
Matanya kembali menatap Leon. Ia tahu jika Leon adalah singa. Matanya kembali melihat Qira. “Apa kau tak ingin memperkenalkanku kepada temanmu?” Tanya ayahnya tegas.
__ADS_1
Wolf membulatkan matanya. Ia bahkan lupa hal itu. “Oh aku lupa. Perkenalkan ini ayahku.”
“salam paman.” Ucap Qira sopan..